Masnan dan Basri manggut-manggut membenarkan perkataan Kahar. Mereka melihat
uda mereka merasa kebingungan dengan permintaan mereka, karena itu mereka
mempertegas maksud mereka untuk tidak membuat uda mereka susah dalam
mengambil keputusan. 

 

”Kahar, uda sangat berterima kasih kepada kalian yang mau membantu uda untuk
mendidik Aswin, uda yakin seyakin-yakinnya bahwa maksud kalian murni selain
mempunyai pewaris ilmu kalian, juga kalian ingin membantu aku mendidik
anakku. Kalian sendiri sudah lihat kan tadi tingkah laku anakku, aku hanya
kuatir nanti dia akan sangat merepotkan kalian saja.”

 

Siti dan Aswin diam saja mendengarkan pembicaraan ini, jauh dalam lubuk hati
Siti tidak bersedia dipisahkan dari Aswin tapi dia tidak bisa menentangnya
juga karena dia bukan ibu kandung Aswin semua merupakan keputusan ayahnya
sebagai orang tua kandung Aswin, selain itu semua ini untuk kebaikan Aswin
juga. Jadi dia lebih memilih untuk diam saja menunggu keputusan kakak
iparnya itu karena dia tahu pasti uda Bumi tidak akan mengambil keputusan
yang akan mengecewakan semua orang. 

 

”Baiklah adik-adikku, beri aku waktu untuk berpikir yang terbaik bagi kita
semua, bagaimana ?”

 

"Tidak masalah uda, ambilah waktu untuk berpikir, kami percaya uda pasti
bisa memberikan keputusan yang baik untuk semuanya. Hanya sementara kami
menunggu, kami akan merepotkan uda sekeluarga dengan kehadiran kami, apa uda
tidak keberatan ?” tanya Masnan. 

 

”Aduh, kalian ini seperti orang yang tidak kenal uda saja, kami sudah biasa
kedatangan tamu, jadi tidak pernah merasa repot dengan semua ini, apalagi
kalian jadi tamu, aku malah tambah senang karena ada teman ngobrol dan
latihan silat... yah siapa tahu nanti malah ada yang bisa menetap di
sini...” jawab Bumi sambil tersenyum simpul dan melirik Kahar.

 

Kahar yang merasa tersindir pura-pura ambil gelas kopinya untuk menutupi
mukanya yang semburat merah karena malu. Cepat-cepat dia berusaha membelokan
arah pembicaraan agar dia tidak merasa terpojok dengan sindiran sang uda. 

 

”Oya mengenai masalah tadi uda, mungkin uda perlu menyelidiki siapa gerangan
kakek Inal menurut Aswin itu. Karena terus terang saja walau dia tidak
bermaksud jahat tapi aku tetap penasaran siapa gerangan dia, aku merasa
semua ini mempunyai latar belakang yang tidak biasa.”

 

”Apa yang kamu katakan itu benar Kahar, aku juga merasakan hal yang sama, di
dunia ini tidak ada yang terjadi tanpa sebab, pasti ada latar belakangnya.
Apa uda tidak merasakan keanehan yang terjadi di sekeliling uda selama ini ?
Atau keanehan yang terjadi pada anak uda ?” 

Terlihat wali Bumi berpikir sambil mengelus-elus dagunya, terus dia
mengambil kopinya seperti sedang mencari-cari jawabannya di dalam hirupan
kopi itu. Tiba-tiba dia menggebrakan gelas kopinya ke meja...bruk... kopinya
berceceran di atas alas meja.

 

”Basri, karena kamu bicara begitu aku baru teringat, kira-kira sebulan yang
lalu, pagi hari sebelum aku mengajarkan kuda-kuda kepada Aswin, aku pernah
mencoba menyalurkan tenaga dalamku ke tubuhnya, maksudku untuk membantu dia
memperlancar jalan darahnya sebelum dia mulai latihan ilmu silat. Kamu tahu
Basri, terjadi sebuah keanehan...” terdiam sejenak Bumi setelah mengatakan
hal ini. 

 

”Apa yang terjadi uda?, jangan bikin kami mati penasaran dengar cerita uda.”
kata Masnan dengan tidak sabar.

 

”Sabar Masnan, aku lagi mencoba mengingat kejadian aneh itu, tadinya aku
pikir ini kejadian yang biasa terjadi makanya aku melupakannya. Tapi setelah
dipikir-pikir lagi hal ini tidak merupakan hal biasa terjadi.” 

 

Kembali wali Bumi terdiam sambil berpikir keras, yang lain berusaha sabar
menunggu Bumi meneruskan ngomongnya. Cukup lama juga dia terdiam sambil
serius memandang anaknya, ini membuat yang lain mulai tidak sabar lagi.
Sedangkan Aswin yang dipandang ayahnya seperti itu malah membalas menatap
dengan mata yang bersinar tenang dan berkilauan jernih. Tapi akhirnya
anaknya tidak tahan ditatap seperti itu oleh ayahnya.

 

”Ayah, kenapa ayah menatap aku seperti itu, apa di hidung Aswin tumbuh
tanduk ?” kata anak itu sambil mulai memandang hidungnya. 

Semua yang mendengar tersenyum, dan suasana mencair menjadi lebih santai.

 

”Bukan hidung kamu tumbuh tanduk, tapi di kepala kamu tumbuh dua tanduk.”
kata Bumi menggoda anaknya. 

Buru-buru Aswin meraba-raba kepalanya untuk memastikan ucapan ayahnya itu.

 

”Ah ayah, mana ada tanduk di kepalaku, emangnya aku setan makanya punya 2
tanduk di kepala?” rengek manja Aswin kepada ayahnya. 

Sebenarnya Aswin sudah tidak betah duduk diam-diam mendengarkan ayahnya
berbincang-bincang dengan teman-temannya, tapi seperti anak-anak lain seusia
dia, dia juga mau tahu apa yang dibicarakan para orang-orang yang lebih tua.
Oleh karena itu dia membetahkan dirinya dengan cara melatih mengatur
pernafasannya sesuai petunjuk kakek Inal. Ilmu pernafasan yang diajari kakek
Inal memang berbeda dari yang diajarkan ayahnya, dia dapat melakukannya di
mana saja dalam keadaan apa saja tanpa harus dalam posisi tertentu,  karena
itu dia lebih menyukai latihan yang diberikan oleh kakek Inal dibandingkan
oleh ayahnya.

 

Tetapi kakek Inal tetap menyuruh dia melatih ilmu pernafasan yang diajarkan
ayahnya, karena itu sangat bagus untuk melatih kesabaran dan ketenangan. Dia
tidak mengerti maksud kakeknya itu, tapi dia tetap melakukannya karena
merasa nyaman setelah melakukan semedi. 

 

Maka sekarang dalam keadaan duduk di kursi bundar di samping Bundanya dan
mengambil sikap duduk tegak lurus, sedangkan kedua tangan dilemaskan dan
diletakan di atas lutut. Perlahan-lahan dia menarik nafas melalui hidung dan
mengeluarkannya melalui mulut, kemudian lama kelamaan dia mulai mengatur
peredaraan hawa murni tubuhnya mengikuti gerakan pernafasannya. Lalu dia
mulai menarik nafas bertambah pelan dan jarak tarikan nafas pertama dengan
berikutnya lebih lama, seperti pernafasan orang yang lagi tidur dengan
tenang, ini dilakukannya perlahan-lahan dan terus menerus.

 

Menurut kakek Inal, kalau dia rajin melatih ilmu pernafasan ini, dia akan
bisa lama menyelam di air, karena dia bisa menahan dan menyimpan nafas
dengan waktu yang lebih panjang dari orang normal lainnya. Hal inilah kenapa
dia mau mempelajari ilmu pernafasan, karena ilmu ini awalnya cukup susah
dibutuhkan konsentrasi yang baik untuk melakukannya. Apalagi untuk anak
kecil lebih terasa susah, melatihnya dengan mata terbuka sehingga bisa
melihat sekelilingnya, belum lagi masalah jika dia terburu-buru atau
konsentrasinya buyar, dadanya akan terasa sakit sekali. Oleh karena itu dia
sangat berhati-hati melatih ilmu pernafasan ini. 

 

Saat ini dia bisa melakukan karena tidak ada kejadian atau pembicaraan yang
menarik ditambah lagi orang-orang dewasa yang berbincang-bincang sepertinya
tidak memperdulikannya sehingga dia merasa enak untuk melatih ilmu
pernafasan ini. Tapi sekarang karena sang ayah sedang memperhatikan dia,
makanya sebelum dia bertanya tadi dia sudah mulai menarik hawa murninya
kembali ke perut dan dengan santainya bicara pada sang ayah tanpa takut ada
akibat sampingan karena sudah melakukan ilmu pernafasan tadi.

 

”Uda, kami menunggu apa yang aneh pada Aswin.” kata Masnan. 

 

”Begini, waktu uda salurkan tenaga dalam uda kepada Aswin, awalnya uda tidak
merasakan apa-apa tapi lama kelamaan uda merasa tenaga dalam uda seperti
tersedot tapi pelan-pelan sekali atau lebih tepatnya kalau diberikan
perumpaan seperti kendi yang tiba-tiba airnya habis, padahal kalau dilihat
sepintas kendi tersebut tidak ada lubang yang mengakibatkan kebocoran, tapi
jika kamu memasukan air ke dalam kendi baru kamu akan bisa melihat ternyata
ada lubang yang sangat kecil yang mengeluarkan air, semakin banyak kamu
masukan air maka semakin deras pula air yang keluar di lubang yang kecil itu
tadi. Nah, aku merasakan hal yang sama terjadi pada tenagaku pada saat
kualirkan ke Aswin. ”

 

Maksud uda bagaimana, kami tidak mengerti, sudah jelas tenaga dalam uda
tersedot keluar kan uda sedang mengalirkan tenaga dalam ke tubuh Aswin ?”. 

 

”Benar Masnan, bagaimana ya cara menjelaskannya ?” kata Bumi sambil
menggaruk-garuk kepala.

 

”Maksud uda Bumi itu begini uda Masnan, Uda bumi menyalurkan tenaga dalamnya
tiga bagian tapi sepertinya tenaga yang tersedot keluar bukan tiga bagian
lagi tapi malahan lebih banyak. Bukan bagitu maksud uda Bumi ?” kata Basri. 

Memang diantara mereka berempat, Basrilah yang paling cerdik dan pintar
melihat keadaan, mungkin karena dia mempunyai kehidupan dan latar belakang
pedagang, karena itu dia harus bisa dengan cepat memahami keinginan orang
lain supaya barang dagangannya laku.

 

” Benar seperti itu maksudku Basri, aku merasa tenagaku merembes keluar
lebih dari yang aku salurkan, seperti ada yang menyedot keluar tenagaku
memang awalnya tidak terasa sekali karena kecil sekali rembesan itu tapi
deras dan terus menerus, makanya lama kelamaan aku merasakannya juga.” 

 

”Pada waktu itu apa uda tidak memikirkan keanehan ini ?” kata Basri.

 

”Tadinya aku tidak memikirkannya lebih lanjut karena aku tidak merasakan
sekali pengaruhnya, hanya setelah aku menarik tenaga dalamku aku merasa
kelelahan dan tenagaku berkurang, aku pikir lumrah hal itu terjadi karena
kebetulan saat itu aku baru habis bertempur melawan perampok. Tapi ketika
aku mengulangi proses ini keesokan harinya, aku mulai merasa aneh dan ini
berlangsung terus setiap aku menyalurkan tenagaku padanya.” 

 

”Aneh juga ?! Aku belum pernah mendengar  ada orang yang bisa menyedot
tenaga dalam orang lain seperti yang uda alami.” kata Kahar.

 

”Selain merasa kelelahan apa uda merasakan hal lainnya, tidak ?”  kata
Masnan. 

Kembali Bumi mengingat-ingat kejadian setelah itu, pelan-pelan dia
menggeleng-geleng kepalanya sambil mengerutkan keningnya, ”hanya ... tapi
entah ini dapat dikatakan ada hubungannya dengan tersedotnya tenaga dalamku
atau tidak ?” gumam Bumi.

 

”Maksud uda ? ” kata Basri ikut-ikutan mengerutkan keningnya. 

 

”Uda, katakan saja, kita sama-sama bahas apakah itu aneh atau bukan ?” kata
Masnan.

 

”Kira-kira sebulan yang lalu, waktu aku tidur, antara sadar dan tidak sadar
aku merasa didatangi oleh seorang pria yang gagah dengan wajah yang
berwibawa dan berkumis tebal didampingi seekor harimau yang gadang (besar)
sekali dan terlihat angker. Mereka datang dan mengajak aku bicara, yang aneh
adalah harimau itu juga bisa bicara, aku sempat kaget dan takut, tapi saat
itu rasanya aku tidak bisa bergerak untuk melarikan diri.” kata Bumi, lalu
dia terdiam. 

 

Bersambung…….


No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition. 
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.8/1288 - Release Date: 19/02/2008
20:47
 

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian yg tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Agar dapat melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke