Pariwisata Sumbar Bak Keong Berjalan    
 
Jumat, 22 Februari 2008         

Sumbar masuk ke dalam 10 daerah destinasi Visit Indonesia Year 2008. Ini tentu 
merupakan kebanggaan bagi masyarakat daerah ini. Tapi, peluang ini justru 
kalangan praktisi pariwisata merasa gamang dan agak pesimis, apakah Sumbar 
mampu menyongsong peluang besar ini!. Bicara pariwisata, memang tidak pernah 
ada habisnya. Selalu ada saja hal menarik untuk diperbincangkan, baik soal 
pengembangan pariwisata maupun sarana prasarana pendukungnya. Semua tahu kalau 
potensi pariwisata Sumbar begitu besar dan banyak jumlah objeknya. Meski 
begitu, pengemasan dan promosi pariwisata yang dilakukan selama ini belum mampu 
mengangkat sektor pariwisata berkembang signifikan. Bahkan, daerah yang miskin 
potensi wisatanya menjadi saingan Sumbar dalam menggaet wisatawan. Seperti Riau 
yang mengemas pariwisatanya dengan sangat apik, dan Sumatera Selatan yang sejak 
beberapa waktu belakangan julukan "kota kriminal" itu perlahan menghilang 
seiring  banyaknya pihak yang menggelar iven di sana. Pariwisatanya juga 
ditunjang kebersihan kota. 

Bagaimana dengan pariwisata Sumbar? Inilah yang sering mengganjal di benak 
berbagai pihak, termasuk Asita dan stackhoders pariwisata daerah ini. Bahkan, 
mereka mengibaratkan pariwisata Sumbar seperti keong berjalan. Majunya lamban 
dan seolah menahan nafas terlebih dahulu untuk sampai menuju ke arah 
pengembangan yang menggembirakan. Masuknya Sumbar dalam 10 destinasi wisata 
dalam Visit Indonesia Year 2008 tahun ini bisa dikatakan baik kalau pembangunan 
wisata sudah berjalan maksimal. Sebab, tahun-tahun sebelumnya, Sumbar justru 
masuk dalam lima daerah destinasi Visit Indonesia. "Pola promosi yang dilakukan 
pemerintah dalam menggaet wisatawan selama ini tidak tepat sasaran. Seharusnya 
orang dari luar daerah atau luar negeri yang kita undang ke sini. 

Bukan sebaliknya kita yang ke sana dengan melihat potensi yang ada di sana," 
ujar Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (Asita) Sumbar Asnawi Bahar 
bersama jajaran pengurus Asita periode 2007-2011, di Carano Room Padang 
Ekspres, kemarin. Selama ini, katanya promosi pariwisata dilakukan dengan 
mengunjungi negara yang bukan menjadi pasar wisata Sumbar secara beramai-ramai, 
seperti Timur Tengah. Padahal cara tersebut tidak efektif dan tidak akan 
mendongkrak dunia pariwisata Sumbar. Dalam hal ini peran media dalam memajukan 
pariwisata tidak bisa diabaikan begitu saja. "Promosi yang ada dengan 
mendatangi negara yang dituju dengan membawa serta wartawan. Dan dalam hal ini 
wartawan yang dibawa tentu akan menceritakan apa yang dilihatnya di negara yang 
dituju tersebut," ungkapnya.

Pola ini menurutnya seharusnya diubah, dengan mengundang wartawan yang ada di 
daerah luar, bahkan kalau perlu dari negara lain dan membawa mereka mengunjungi 
objek wisata yang ada di Sumbar. Praktis, ketika mereka kembali ke daerah dan 
negara asalnya, pariwisata di Sumbar akan dipublikasikan di tempat mereka 
masing-masing. Dalam pertemuan yang dimoderatori Redaktur Rakyat Sumbar Rommi 
Delviano, itu juga hadir Wakil Ketua I Asita Ian Hanafiah (PT Ero Tour), 
Sekretaris Febby Salam (PT Salam Leisure), Wakil Sekretaris Ridwan Tulus (PT 
Sumatra and Beyond), Seksi Product (tour) Alexandra (PT Anugrah Tour0, Humas 
dan Publikasi Yuliandre Darwis, serta seksi SDM Rita (PT Crystal Tour). Dari 
Padang Ekspres turut hadir, Pemimpin Umum/ Pemimpin Perusahaan Padang Ekspres H 
St Zaili Asril, Pemimpin Redaksi Oktaveri, serta jajaran redaksi lainnya.

Dalam diskusi ini, berbagai isu penting pariwisata dikupas tuntas termasuk 
belum adanya proteksi regulasi terhadap tour travel yang ada, hospitality atau 
keramahan masyarakat yang belum mendukung sektor ini, termasuk infrastruktur 
yang belum memadai sebagai pendukung objek pariwisata. Alexandra menyatakan, 
dalam pengemasan dan promosi wisata, Malaysia sepertinya belum terkalahkan. Hal 
ini dilihat dengan banyaknya spanduk atau stiker yang ada di penjuru pelosok 
negeri ini yang memperlihatkan Visit Malaysia-nya. "Sementara coba lihat apakah 
ada Visit Indonesia Year 2008 terpampang di sana? Sama sekali tidak ada," tegas 
Alexandra. Ke depan, pihak yang terkait didalamnya yaitu pemerintah, masyarakat 
dan stakeholders harus bersinergi walau diakui sinergi yang yang ada selama ini 
belum terjalin dengan maksimal seperti yang diharapkan. (***)

 
<http://us.rd.yahoo.com/evt=51734/*http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping>
  


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian yg tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Agar dapat melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke