Oh begitu  ya Akmal,

Iyo pulo yo, kalau garah Uni jadi stigma ndak elok bagi tradisi barosok ko. 
Jujur,  Uni iyo  ndak tau asal muasal politik dagang sapi ko. Yang tidak lain 
adalah politik tawar menawar. Uni kiro iyo pulo harus basalaman dibaliak biliak 
untuk menggulirkan calon jadi.

Samo pulo asal muasal istilah mabuak kapayang. Dari pengalaman traveling ke 
Bengkulu. Disana ada wilayah yang namanya " KAPAHIYANGAN". Jalannyo 
berliku-liku ada tanjakan dan turunan yang membuat penumpang mobil jadi mabuak. 
Kato Uni : " Oo.. iko nan dinamokan mabuak kapayang tuh yo ? ". Iyo sabana 
mabuak awak di bueknyo. 

Btw.., Meskipun politi dagang sapi dalam konteks landsekap demokrasi 
parlementer. Manga pulo tali sapi itu nan jadi simbolnyo ". Padahal nan dibawo 
adalah seorang kandidat nan lah dijamin kapasitas dan kapabilitasnyo. Bayangkan 
kalau model tali sapi ko, yang diirik (ditarik) adolah cingurnyo. Uni ndak tau 
apo istilah cingur do. Yang menggambarkan sapi ko mudah diatur tuannyo.

He..he..,ini sekedar tambahan dari Uni. 


Wassalam,
 
3vy Nizhamul
(Kawasan Puspiptek, Kota Tangerang Selatan)





________________________________
 Dari: Akmal Nasery Basral <[email protected]>
Kepada: "[email protected]" <[email protected]> 
Dikirim: Jumat, 10 Mei 2013 10:53
Judul: Politik Dagang Sapi .. Re: [R@ntau-Net] Pasar Ternak
 


Onde Uni Evy, agar tradisi barosok indak dianggap sebagai 'asbabul wurud' bagi 
term 'politik dagang sapi' dan menjadi stigma berkepanjangan, ada baiknya 
disampaikan versi lain yang lebih bisa diverifikasi, misalnya dari tulisan Dr. 
Alwi Shihab (mantan Menlu dan Menko Kesra), yang melacak bahwa awal 
digunakannya istilah ini dalam lansekap politik Indonesia adalah pada era 
Demokrasi Parlementer (1950-1959).

Menjelang setiap pembentukan kabinet, terjadi tawar menawar yang hiruk antar 
pelbagai parpol yang menyodorkan "tali sapi" (nama kandidat tertentu untuk 
menjadi menteri tertentu), namun tak membawa "sapi" (calon ybs). Dalam proses 
"dagang sapi" ini, parpol tak hanya menyanjung setinggi langit "tali sapi" yang 
mereka bawa, namun juga sambil merendahkan "tali sapi" yang dibawa 
kelompok/partai lain.



Saat itu tidak ada (minimal belum terindikasi) ada 'money politic' (apalagi 
ditautkan dengan tradisi barosok) yang bermain dalam proses jadi tidaknya 
seorang calon menempati jabatan menteri. Semua tergantung keahlian 'pedagang 
sapi' dalam mempromosikan 'tali sapi' masing-masing, sehingga proses 
pembentukan kabinet bisa berlangsung lama tersebab menjadi ajang tarik-ulur 
berbagai kelompok. Selama periode 1950-1959 ini terjadi pergantian kabinet 
sebanyak 17 kali, sehingga umur rata-rata kabinet hanya ... 8 bulan! 

Politik dagang sapi dalam pembentukan kabinet ini, konon, begitu menjengkelkan 
Soekarno, sehingga akhirnya saat membentuk kabinet Juanda, Bung Karno membentuk 
sendiri kabinet tanpa campur tangan parpol.

Wassalam,

ANB
Cibubur



Pada Jumat, 10 Mei 2013,  menulis:

Andiko,
>
>Dek samakin lamo dunia takambang,  lambek laun kudian Tradisi Barosok ko lah 
>tabang kalua Ranah. Lah di pagunoan urang untuak bapolitik. Istilah Iko lah 
>lakek jadi namonyo " politik dagang sapi ". 
>
>Makelar antar makelar pun jadi objek penyidikan KaPeKa. He..he :D 
>
>Baa gak ati ?
>
>Salam,
>
>Bu Evy
>
>Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
>________________________________
>
>From:  Andiko <[email protected]> 
>Sender:  [email protected] 
>Date: Thu, 9 May 2013 19:35:28 -0700 (PDT)
>To: <[email protected]>
>ReplyTo:  [email protected] 
>Subject: [R@ntau-Net] Re: Pasar Ternak
>
>Barosok corao jua balinyo mak ngah, di bawah sedikit artikelnyo
>
>
>Tradisi Barosok yang Bikin Penasaran
>REP | 05 November 2011 | 01:55 Dibaca: 157    Komentar: 17    Nihil
>Hari raya kurban akan segera datang. Hawa-hawa nya sudah tercium dari 
>sekarang. Hhhmmm … dimana-mana terendus aroma yang cukup kuat, apalagi kalau 
>bukan aroma tubuh dan kotoran si emmooh dan si embek yang membuat perut jadi 
>turun naik.
>
>
>Tiba-tiba saja pedagang hewan kurban mendadak muncul dimana-mana. Di 
>pinggir-pinggir jalanan  ibukota pedagang hewan kurban menjamur bak cendawan 
>di musim hujan ( lhaaa … emang sekarang lagi musim hujan kan .. hehe..).  
>Terlihat para calon pembeli mondar mandir untuk melihat-lihat hewan yang 
>sesuai dengan keinginan mereka, diselingi tawar menawar harga dengan penjual 
>secara terang-terangan. Para penjual pun berlomba menawarkan harga yang 
>bersaing agar para pembeli berkenan membeli hewan ternak mereka.
>
>
>Lain di ibukota, lain juga di kampung halaman saya, di Sumatera Barat sana. 
>Saya ingat dulu sewaktu saya masih SD, saya pernah di ajak oleh salah seorang 
>Om (kakak laki-laki ibu saya)  saya ke sebuah pasar ternak di daerah 
>Payakumbuh. Om kala itu hendak membeli seekor sapi untuk di kurbankan pada 
>hari raya Idul Adha. Saya yang pertama kali di bawa ke pasar ternak tersebut 
>begitu heran, kenapa orang-orang saling bersalaman di balik baju, sarung atau 
>pun saputangan. Dan ternyata om saya juga melakukan hal yang serupa dengan 
>salah seorang pedagang. Dalam perjalanan pulang saya pun menanyakan perihal 
>yang membuat saya terheran sewaktu berada di pasar ternak tadi. Om menjelaskan 
>bahwa itu di sebut dengan istilah ” barosok “.
>
>
>Barosok sudah menjadi tradisi jual beli di pasar ternak secara turun temurun 
>di Sumatera Barat konon sejak zaman raja-raja Minangkabau dulu. Di sebut 
>Barosok karena tawar menawar terjadi dengan cara berpegangan (lebih tepatnya 
>berjabat) tangan di balik kain atau baju.  Barosok dalam bahasa Minang berarti 
>dipegang dengan tangan. Tradisi ini cukup unik,  setelah pembeli merasa cocok 
>dengan hewan yang akan dibelinya, maka tawar menawar pun terjadi dengan si 
>penjual. Mereka tidak mengeluarkan suara saat tawar menawar harga, melainkan 
>berjabat tangan di balik kain atau baju.
>
>
>Mereka tidak sekedar berjabat tangan saja, tetapi di balik kain tersebut 
>jari-jari mereka ” bermain ” sebagai penanda naik turunnya harga. 
>Masing-masing jari memiliki harga yang hanya bisa dimengerti oleh mereka 
>berdua saja. Setelah di dapat kesepakatan harga, maka sapi atau kerbau boleh 
>di bawa pulang oleh pembeli.
>
>
>Tradisi turun menurun yang masih berlangsung sampai sekarang ini memiliki 
>beragam makna, di antaranya adalah, agar harga hewan di pasaran ternak tetap 
>terjaga kerahasiaannya sehingga oknum-oknum berduit yang ingin mengacaukan 
>harga tidak bisa berkutik lagi. Kemudian jika si penjual pintar bertransaksi, 
>ia akan bisa memperoleh untung tanpa adanya tekanan dari pihak lain. Si 
>pembeli pun akan dengan leluasa menjual kembali hewannya tersebut sesuai 
>dengan harga yang diingikannya dan tentu akan mendapatkan untung yang lebih. 
>Dan yang terpenting adalah tradisi ini mengajarkan kita bagaimana menjaga 
>sebuah rahasia.
>
>
>Barosok, semoga menjadi tradisi unik negeri yang tak akan lekang oleh zaman.
>
>
>http://sosbud.kompasiana.com/2011/11/04/tradisi-barosok-yang-bikin-penasaran-409748.html
>
>Pada Jumat, 10 Mei 2013 7:12:30 UTC+7, sjamsir_sjarif  menulis:
>Mungkinkah Pasar Ternak "Padang Siantah" dakek Situjuah nan paliang gadang di 
>Sumatera Barat? Kini ka ado Pasar Ternak di Gunung Medan, mungkin ka labiah 
>gadang. 
>>
>>http://www.padangmedia.com/1-Berita/81684-Gubernur-Resmikan-Pasar-Ternak-Gunung-Medan.html
>> 
>>
>>Samantaro Peternakan jadi perhatian, baa lah kaba Simenthal Sumpu kini eeh? 
>>
>>Salam, 
>>-- MakNgah 
>>
>>
-- 
>.
>* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
>wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
>* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>===========================================================
>UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
>- DILARANG:
>1. E-mail besar dari 200KB;
>2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
>3. One Liner.
>- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
>http://rantaunet.word
-- 
>.
>* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
>wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
>* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>===========================================================
>UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
>- DILARANG:
>1. E-mail besar dari 200KB;
>2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
>3. One Liner.
>- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
>http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
>- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
>subjeknya.
>===========================================================
>Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
>http://groups.google.com/group/RantauNet/
>--- 
>Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
>Google.
>Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
>email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
>Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
> 
> 
>
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke