Onde Uni Evy, agar tradisi barosok indak dianggap sebagai 'asbabul wurud'
bagi term 'politik dagang sapi' dan menjadi stigma berkepanjangan, ada
baiknya disampaikan versi lain yang lebih bisa diverifikasi, misalnya dari
tulisan Dr. Alwi Shihab (mantan Menlu dan Menko Kesra), yang melacak bahwa
awal digunakannya istilah ini dalam lansekap politik Indonesia adalah pada
era Demokrasi Parlementer (1950-1959).

Menjelang setiap pembentukan kabinet, terjadi tawar menawar yang hiruk
antar pelbagai parpol yang menyodorkan "tali sapi" (nama kandidat tertentu
untuk menjadi menteri tertentu), namun tak membawa "sapi" (calon ybs).
Dalam proses "dagang sapi" ini, parpol tak hanya menyanjung setinggi langit
"tali sapi" yang mereka bawa, namun juga sambil merendahkan "tali sapi"
yang dibawa kelompok/partai lain.

Saat itu tidak ada (minimal belum terindikasi) ada 'money politic' (apalagi
ditautkan dengan tradisi barosok) yang bermain dalam proses jadi tidaknya
seorang calon menempati jabatan menteri. Semua tergantung keahlian
'pedagang sapi' dalam mempromosikan 'tali sapi' masing-masing, sehingga
proses pembentukan kabinet bisa berlangsung lama tersebab menjadi ajang
tarik-ulur berbagai kelompok. Selama periode 1950-1959 ini terjadi
pergantian kabinet sebanyak 17 kali, sehingga umur rata-rata kabinet hanya
... 8 bulan!

Politik dagang sapi dalam pembentukan kabinet ini, konon, begitu
menjengkelkan Soekarno, sehingga akhirnya saat membentuk kabinet Juanda,
Bung Karno membentuk sendiri kabinet tanpa campur tangan parpol.

Wassalam,

ANB
Cibubur


Pada Jumat, 10 Mei 2013, menulis:

> **
> Andiko,
>
> Dek samakin lamo dunia takambang, lambek laun kudian Tradisi Barosok ko
> lah tabang kalua Ranah. Lah di pagunoan urang untuak bapolitik. Istilah Iko
> lah lakek jadi namonyo " politik dagang sapi ".
>
> Makelar antar makelar pun jadi objek penyidikan KaPeKa. He..he :D
>
> Baa gak ati ?
>
> Salam,
>
> Bu Evy
> Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
> ------------------------------
> *From: * Andiko <[email protected] <javascript:_e({}, 'cvml',
> '[email protected]');>>
> *Sender: * [email protected] <javascript:_e({}, 'cvml',
> '[email protected]');>
> *Date: *Thu, 9 May 2013 19:35:28 -0700 (PDT)
> *To: *<[email protected] <javascript:_e({}, 'cvml',
> '[email protected]');>>
> *ReplyTo: * [email protected] <javascript:_e({}, 'cvml',
> '[email protected]');>
> *Subject: *[R@ntau-Net] Re: Pasar Ternak
>
> Barosok corao jua balinyo mak ngah, di bawah sedikit artikelnyo
>
> Tradisi Barosok yang Bikin Penasaran
> REP | 05 November 2011 | 01:55 Dibaca: 157    Komentar: 17    Nihil
> Hari raya kurban akan segera datang. Hawa-hawa nya sudah tercium dari
> sekarang. Hhhmmm … dimana-mana terendus aroma yang cukup kuat, apalagi
> kalau bukan aroma tubuh dan kotoran si emmooh dan si embek yang membuat
> perut jadi turun naik.
>
> Tiba-tiba saja pedagang hewan kurban mendadak muncul dimana-mana. Di
> pinggir-pinggir jalanan  ibukota pedagang hewan kurban menjamur bak
> cendawan di musim hujan ( lhaaa … emang sekarang lagi musim hujan kan ..
> hehe..).  Terlihat para calon pembeli mondar mandir untuk melihat-lihat
> hewan yang sesuai dengan keinginan mereka, diselingi tawar menawar harga
> dengan penjual secara terang-terangan. Para penjual pun berlomba menawarkan
> harga yang bersaing agar para pembeli berkenan membeli hewan ternak mereka.
>
> Lain di ibukota, lain juga di kampung halaman saya, di Sumatera Barat
> sana. Saya ingat dulu sewaktu saya masih SD, saya pernah di ajak oleh salah
> seorang Om (kakak laki-laki ibu saya)  saya ke sebuah pasar ternak di
> daerah Payakumbuh. Om kala itu hendak membeli seekor sapi untuk di
> kurbankan pada hari raya Idul Adha. Saya yang pertama kali di bawa ke pasar
> ternak tersebut begitu heran, kenapa orang-orang saling bersalaman di balik
> baju, sarung atau pun saputangan. Dan ternyata om saya juga melakukan hal
> yang serupa dengan salah seorang pedagang. Dalam perjalanan pulang saya pun
> menanyakan perihal yang membuat saya terheran sewaktu berada di pasar
> ternak tadi. Om menjelaskan bahwa itu di sebut dengan istilah ” barosok “.
>
> Barosok sudah menjadi tradisi jual beli di pasar ternak secara turun
> temurun di Sumatera Barat konon sejak zaman raja-raja Minangkabau dulu. Di
> sebut Barosok karena tawar menawar terjadi dengan cara berpegangan (lebih
> tepatnya berjabat) tangan di balik kain atau baju.  Barosok dalam bahasa
> Minang berarti dipegang dengan tangan. Tradisi ini cukup unik,  setelah
> pembeli merasa cocok dengan hewan yang akan dibelinya, maka tawar menawar
> pun terjadi dengan si penjual. Mereka tidak mengeluarkan suara saat tawar
> menawar harga, melainkan berjabat tangan di balik kain atau baju.
>
> Mereka tidak sekedar berjabat tangan saja, tetapi di balik kain tersebut
> jari-jari mereka ” bermain ” sebagai penanda naik turunnya harga.
> Masing-masing jari memiliki harga yang hanya bisa dimengerti oleh mereka
> berdua saja. Setelah di dapat kesepakatan harga, maka sapi atau kerbau
> boleh di bawa pulang oleh pembeli.
>
> Tradisi turun menurun yang masih berlangsung sampai sekarang ini memiliki
> beragam makna, di antaranya adalah, agar harga hewan di pasaran ternak
> tetap terjaga kerahasiaannya sehingga oknum-oknum berduit yang ingin
> mengacaukan harga tidak bisa berkutik lagi. Kemudian jika si penjual pintar
> bertransaksi, ia akan bisa memperoleh untung tanpa adanya tekanan dari
> pihak lain. Si pembeli pun akan dengan leluasa menjual kembali hewannya
> tersebut sesuai dengan harga yang diingikannya dan tentu akan mendapatkan
> untung yang lebih. Dan yang terpenting adalah tradisi ini mengajarkan kita
> bagaimana menjaga sebuah rahasia.
>
> Barosok, semoga menjadi tradisi unik negeri yang tak akan lekang oleh
> zaman.
>
>
> http://sosbud.kompasiana.com/2011/11/04/tradisi-barosok-yang-bikin-penasaran-409748.html
>
> Pada Jumat, 10 Mei 2013 7:12:30 UTC+7, sjamsir_sjarif menulis:
>
> Mungkinkah Pasar Ternak "Padang Siantah" dakek Situjuah nan paliang gadang
> di Sumatera Barat? Kini ka ado Pasar Ternak di Gunung Medan, mungkin ka
> labiah gadang.
>
> http://www.padangmedia.com/1-**Berita/81684-Gubernur-**
> Resmikan-Pasar-Ternak-Gunung-**Medan.html<http://www.padangmedia.com/1-Berita/81684-Gubernur-Resmikan-Pasar-Ternak-Gunung-Medan.html>
>
> Samantaro Peternakan jadi perhatian, baa lah kaba Simenthal Sumpu kini
> eeh?
>
> Salam,
> -- MakNgah
>
>  --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
> 1. E-mail besar dari 200KB;
> 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://rantaunet.word<http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/>
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
> 1. E-mail besar dari 200KB;
> 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari
> Grup Google.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke rantaunet+berhenti 
> [email protected]<javascript:_e({}, 'cvml', 
> '[email protected]');>.
> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
>
>
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke