https://www.youtube.com/watch?v=_sfXf8sn5Uk http://www.youtube.com/watch?v=lKNU6WALvoU -- Nyit
--- In [email protected], "Zubir Amin" <zubir.amin@...> wrote: > > 'Mabuk kepayang' di Piaman dikiaskan kpd anak Bujang nn tagilo-gilo kpd > seorang gadis remaja n sebaliknya, walaupun si gadis n si Bujang tu ndak > mambaleh perasaan satu sama linnya. > Kalau malam tabayang-bayang,kok > siang manjadi buah bibia .Sansailah badan si Bujang jo si Upiak. > JB,DtRJ,74th,Bonjer,Jakbar. > Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone > > -----Original Message----- > From: Akmal Nasery Basral <akmal@...> > Sender: [email protected] > Date: Fri, 10 May 2013 20:33:00 > To: [email protected]<[email protected]> > Reply-To: [email protected] > Subject: Mabuk kepayang ... Re: Politik Dagang Sapi .. Re: [R@ntau-Net] Pasar > Ternak > > Uni Evy, memang ada yang mengaitkan kata majemuk "mabuk kepayang" dengan > wilayah Kepahyang/Kapahiyangan di Kab. Rejang Lebong, Bengkulu, seperti uni > jelaskan. Tapi sesungguhnya itu kurang tepat. Banyak wilayah di Indonesia > yang jalannya berliku-liku dan lebih berat dari Kapahiyangan, yang membuat > orang mabuk (darat) ketika melewatinya. > > Istilah "mabuk kepayang" sesungguhnya berkaitan dengan kondisi seseorang > sehabis makan biji kepayang (Pangium edule) yang mengandung asam sianida > dalam konsentrasi tinggi, bahkan kerap digunakan sebagai racun mata panah. > > http://id.wikipedia.org/wiki/Kepayang > > Wassalam, > > ANB > Cibubur > > Pada Jumat, 10 Mei 2013, Evy Nizhamul menulis: > > > Oh begitu ya Akmal, > > > > Iyo pulo yo, kalau garah Uni jadi stigma ndak elok bagi tradisi barosok > > ko. > > Jujur, Uni iyo ndak tau asal muasal politik dagang sapi ko. Yang tidak > > lain adalah politik tawar menawar. Uni kiro iyo pulo harus basalaman > > dibaliak biliak untuk menggulirkan calon jadi. > > > > Samo pulo asal muasal istilah mabuak kapayang. Dari pengalaman traveling > > ke Bengkulu. Disana ada wilayah yang namanya " KAPAHIYANGAN". Jalannyo > > berliku-liku ada tanjakan dan turunan yang membuat penumpang mobil jadi > > mabuak. > > Kato Uni : " Oo.. iko nan dinamokan mabuak kapayang tuh yo ? ". Iyo sabana > > mabuak awak di bueknyo. > > > > Btw.., Meskipun politi dagang sapi dalam konteks landsekap demokrasi > > parlementer. Manga pulo tali sapi itu nan jadi simbolnyo ". Padahal nan > > dibawo adalah seorang kandidat nan lah dijamin kapasitas dan > > kapabilitasnyo. Bayangkan kalau model tali sapi ko, yang diirik (ditarik) > > adolah cingurnyo. Uni ndak tau apo istilah cingur do. Yang menggambarkan > > sapi ko mudah diatur tuannyo. > > > > He..he..,ini sekedar tambahan dari Uni. > > > > > > Wassalam, > > > > 3vy Nizhamul > > (Kawasan Puspiptek, Kota Tangerang Selatan) > > > > > > > > ------------------------------ > > *Dari:* Akmal Nasery Basral <akmal@... <javascript:_e({}, > > 'cvml', 'akmal@...');>> > > *Kepada:* "[email protected] <javascript:_e({}, 'cvml', > > '[email protected]');>" > > <[email protected]<javascript:_e({}, 'cvml', > > '[email protected]');>> > > > > *Dikirim:* Jumat, 10 Mei 2013 10:53 > > *Judul:* Politik Dagang Sapi .. Re: [R@ntau-Net] Pasar Ternak > > > > Onde Uni Evy, agar tradisi barosok indak dianggap sebagai 'asbabul wurud' > > bagi term 'politik dagang sapi' dan menjadi stigma berkepanjangan, ada > > baiknya disampaikan versi lain yang lebih bisa diverifikasi, misalnya dari > > tulisan Dr. Alwi Shihab (mantan Menlu dan Menko Kesra), yang melacak bahwa > > awal digunakannya istilah ini dalam lansekap politik Indonesia adalah pada > > era Demokrasi Parlementer (1950-1959). > > > > Menjelang setiap pembentukan kabinet, terjadi tawar menawar yang hiruk > > antar pelbagai parpol yang menyodorkan "tali sapi" (nama kandidat tertentu > > untuk menjadi menteri tertentu), namun tak membawa "sapi" (calon ybs). > > Dalam proses "dagang sapi" ini, parpol tak hanya menyanjung setinggi langit > > "tali sapi" yang mereka bawa, namun juga sambil merendahkan "tali sapi" > > yang dibawa kelompok/partai lain. > > > > Saat itu tidak ada (minimal belum terindikasi) ada 'money politic' > > (apalagi ditautkan dengan tradisi barosok) yang bermain dalam proses jadi > > tidaknya seorang calon menempati jabatan menteri. Semua tergantung keahlian > > 'pedagang sapi' dalam mempromosikan 'tali sapi' masing-masing, sehingga > > proses pembentukan kabinet bisa berlangsung lama tersebab menjadi ajang > > tarik-ulur berbagai kelompok. Selama periode 1950-1959 ini terjadi > > pergantian kabinet sebanyak 17 kali, sehingga umur rata-rata kabinet hanya > > ... 8 bulan! > > > > Politik dagang sapi dalam pembentukan kabinet ini, konon, begitu > > menjengkelkan Soekarno, sehingga akhirnya saat membentuk kabinet Juanda, > > Bung Karno membentuk sendiri kabinet tanpa campur tangan parpol. > > > > Wassalam, > > > > ANB > > Cibubur > > > > > > Pada Jumat, 10 Mei 2013, menulis: > > > > ** > > Andiko, > > > > Dek samakin lamo dunia takambang, lambek laun kudian Tradisi Barosok ko > > lah tabang kalua Ranah. Lah di pagunoan urang untuak bapolitik. Istilah Iko > > lah lakek jadi namonyo " politik dagang sapi ". > > > > Makelar antar makelar pun jadi objek penyidikan KaPeKa. He..he :D > > > > Baa gak ati ? > > > > Salam, > > > > Bu Evy > > Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone > > ------------------------------ > > *From: * Andiko <andi.ko.ko@...> > > *Sender: * [email protected] > > *Date: *Thu, 9 May 2013 19:35:28 -0700 (PDT) > > *To: *<[email protected]> > > *ReplyTo: * [email protected] > > *Subject: *[R@ntau-Net] Re: Pasar Ternak > > > > Barosok corao jua balinyo mak ngah, di bawah sedikit artikelnyo > > > > Tradisi Barosok yang Bikin Penasaran > > REP | 05 November 2011 | 01:55 Dibaca: 157 Komentar: 17 Nihil > > Hari raya kurban akan segera datang. Hawa-hawa nya sudah tercium dari > > sekarang. Hhhmmm … dimana-mana terendus aroma yang cukup kuat, apalagi > > kalau bukan aroma tubuh dan kotoran si emmooh dan si embek yang membuat > > perut jadi turun naik. > > > > Tiba-tiba saja pedagang hewan kurban mendadak muncul dimana-mana. Di > > pinggir-pinggir jalanan ibukota pedagang hewan kurban menjamur bak > > cendawan di musim hujan ( lhaaa … emang sekarang lagi musim hujan kan .. > > hehe..). Terlihat para calon pembeli mondar mandir untuk melihat-lihat > > hewan yang sesuai dengan keinginan mereka, diselingi tawar menawar harga > > dengan penjual secara terang-terangan. Para penjual pun berlomba menawarkan > > harga yang bersaing agar para pembeli berkenan membeli hewan ternak mereka. > > > > Lain di ibukota, lain juga di kampung halaman saya, di Sumatera Barat > > sana. Saya ingat dulu sewaktu saya masih SD, saya pernah di ajak oleh salah > > seorang Om (kakak laki-laki ibu saya) saya ke sebuah pasar ternak di > > daerah Payakumbuh. Om kala itu hendak membeli seekor sapi untuk di > > kurbankan pada hari raya Idul Adha. Saya yang pertama kali di bawa ke pasar > > ternak tersebut begitu heran, kenapa orang-orang saling bersalaman di balik > > baju, sarung atau pun saputangan. Dan ternyata om saya juga melakukan hal > > yang serupa dengan salah seorang pedagang. Dalam perjalanan pulang saya pun > > menanyakan perihal yang membuat saya terheran sewaktu berada di pasar > > ternak tadi. Om menjelaskan bahwa itu di sebut dengan istilah " barosok ". > > > > Barosok sudah menjadi tradisi jual beli di pasar ternak secara turun > > temurun di Sumatera Barat konon sejak zaman raja-raja Minangkabau dulu. Di > > sebut Barosok karena tawar menawar terjadi dengan cara berpegangan (lebih > > tepatnya berjabat) tangan di balik kain atau baju. Barosok dalam bahasa > > Minang berarti dipegang dengan tangan. Tradisi ini cukup -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/ - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
