Senin, 20 May 2013 02:44

*PADANG, HALUAN — *Setelah* *be­berapa ketua dan pengurus ormas Islam di
Sumatera Barat menolak kehadiran atau pembangunan Rumah Sakit (RS) Siloam
milik Lippo Group di Kota Padang, berikutnya giliran Direktur RS Aisyiyah
Padang Dr H Handril Busudin SpS MHA yang meminta kepada pe­merintah daerah
untuk meninjau kembali pemberian izin pembangunan RS Siloam di Kota Padang.

Hal tersebut disampaikan Handril Busudin saat menggelar kegiatan Bakti
Sosial di Jalan Perjuangan III Tanjung Berok Kelurahan Kurao Pagang,
Keca­matan Nanggalo, Padang, Minggu (19/5). Alasan peninjauan ulang menurut
Hendril ada beberapa hal yang sangat subtantif, di antaranya soal jumlah RS
di Kota Padang yang sudah lebih dari cukup, persoalan kultur budaya dan
agama.

Menurut Handril Busudin se­jati­­nya rencana kehadiran RS Siloam di Kota
Padang juga mesti mendapat perhatian serius oleh perangkat adat dan alim
ulama di Padang dan Sumatera Barat pada umumnya. Karena RS Siloam di Padang
akan berefek sangat besar terhadap eksistensi Minang­kabau yang berfalsafah
*adat basan­di syara’ syara’ basandi kitabullah*. “Jangan hanya kehendak
politik dan investasi besar dapat meng­goyah­kan kehidupan bermasyarakat
Minangkabau yang berbudaya tinggi,” katanya.

Dikatakan berdasarkan data yang terhimpun, penduduk Kota Padang yang hanya
berjumlah sekitar  800 ribu jiwa dengan  jumlah rumah sakit pemerintah dan
swasta sebanyak 25 buah dan memiliki tempat tidur sekitar 1.500 unit, tidak
lagi sebanding.

Saat ini beberapa rumah sakit di Kota Padang ini, tingkat hunian­nya sangat
rendah sekitar 50-60 persen. Diperparah lagi dengan beberapa rumah sakit
swasta tingkat huniannya di bawah 50 persen.

“Untuk rumah sakit yang ada, sudah sangat kompetitif. Apalagi dengan
datangnya rumah sakit Siloam. Yang merupakan rumah sakit besar di
Indonesia, tentunya akan melum­puhkan rumah sakit lokal secara
perlahan-lahan,” katanya.

Selain itu, dia juga turut prihatin dan mencemaskan  tentang kekha­watiran
banyak pihak di daerah ini soal kehadiran RS Siloam di Ranah Minang
memiliki misi khusus yang bertentangan dengan kultur budaya dan agama yang
dianut masyarakat Minangkabau. Apalagi hal itu menimbulkan keresahan Umat
Islam di daerah ini.

Sementara itu pada Sabtu (18/5) sejumlah tokoh yang tergabung dalam Forum
Ormas Sumatera Barat juga menolak pembangunan RS Siloam di Padang.  Karena
diyakini akan merusak nilai adat dan agama masyarakat Minang­kabau yang
mayoritas Islam. Hal Ini terungkap dalam hasil Rapat LKAAM Sumbar bersama
21 Ormas Sumatra Barat, pada Sabtu (18/5) lalu di kantor LKAAM Sumbar.

Menurut Ketua Forum Walina­gari Sumatera Barat, Asraferi Sabri menilai
pembangunan RS Siloam akan berdampak terhadap kulture Sumbar yang
menjunjung tinggi nilai ABS SBK, “Kita orang minang ini mayoritas islam,
jika nantinya kita biarkan kaum nasrani masuk ke daerah yang menjunjung
nilai adat dan agama ini, takutnya akan menodai, orang minang,”katanya
kepada Wartawan.

Sementara itu Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minang­kabau (LKAAM) Sumbar
M Sayuti Dt Rajo Pangulu juga mengatakan LKAAM Sumbar bersama dengan Ormas
lainnya di Sumbar menolak pembangunan RS Siloam di Kota Padang. Dia juga
membantah LKAAM Sumbar mendapat ban­tuan dana Rp50 juta dari Lippo Group,
karena hingga saat ini dia selaku ketua tidak pernah diberi tahu apalagi
menerima bantuan Rp50 juta dari LIppo Group.

Ormas Islam yang sebelumnya juga menyatakan penolakan terse­but yakni,
Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau (MTKAAM) Sumbar, Paga Nagari
Sumbar, Tetua Adat, Hizbul Tahrir Indonesia (HTI) Sumbar, Libas Sumbar dan
lainnya. Mereka yang hadir dalam konferensi  pers itu antara lain Ketua
Majelis Tinggi MTKAAM Sumbar Irfianda Abidin, Ketua Paga Nagari Sumbar Ibnu
Aqil D Ghani, Tetua Adat Azwir Dt Rajo Malano, Fauzi dari HTI Sumbar, Ketua
Libas Sumbar Khairul Amri dan lainnya.

Sekda Kota Padang H Syafril Basir SH menilai tuduhan dan kecurigaan Ormas
Islam terhadap adanya agenda misionaris di balik mega proyek RS Silom yang
terin­tegrasi dengan hotel, mal dan sekolah tidaklah benar.

Syafril Basir mengatakan Lippo Group sudah banyak mem­bangun rumah sakit di
berbagai penjuru di Indonesia dan bisa dicek keab­sahannya. “Jika setelah
beroperasi terlihat ada kegiatan yang melen­ceng, kita akan segera cabut
izin­nya,” kata Syafril. *(h/cw-lex/cw-eni)*

*
*

*
http://harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=23546:rs-siloam-di-padang-perlu-ditinjau-ulang&catid=1:haluan-padang&Itemid=70
*

-- 
*
*
*Wassalam

*
*Nofend St. Mudo
36Th/Cikarang | Asa Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok Selatan
Tweet: @nofend <http://twitter.com/#!/@nofend> | YM: rankmarola
*

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke