Assalamu'alaikum wr.wb. Salah satu member RN pak Donasion Sikumbang berprofesi iko. http://garudamiliter.blogspot.com/2013/05/ondel-ondel-penata-logistik-pbb.html
“Memangnya semua tank dan mobil patroli pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa itu bisa digunakan kalau tak ada bensinnya? Memangnya prajurit tak akan kelaparan bila makanan dan minumannya tidak kami siapkan? Belum lagi gaji, uang saku, tiket and so on, and so on....” Luigi Pralangga mengungkapkan hal itu dengan penuh percaya diri di auditorium Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian, Sentul, Bogor, 8 Mei lalu. Di hadapannya, puluhan perwira TNI berbagai angkatan, juga perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi terkemuka, menyimak celotehannyadengan takzim. Tak terkecuali BrigadirJenderal Imam Edy Mulyono,Komandan Pusat Misi PemeliharaanPerdamaian. Dengan paparannya itu, Luigi ingin menegaskan, meski bukan anggota militer, kehadiran orang-orang seperti dirinya di lingkungan operasi pasukanperdamaian PBB di sejumlahtempat amat signifikan. Pria kelahiranJakarta, 29 April 1974, itu tergolongmanusia Indonesia nan langka karenamenjadi anggota staf bagian logistikPBB dan bertugas di beberapa negarayang dilanda konflik. Pada Agustus 2010, dia menjadi procurement officer United NationsAssistance Mission for Iraq diBagdad, Irak. Lalu dia bertugas diLiberia selama 6,5 tahun, Kuwait,dan dalam waktu dekat ini akanke Sudan. “Poin saya buat teman-temansekalian, banyak peluang lokerja di PBB. Tapi sejauh ini yangterbanyak dari Asia itu dari Filipina.Orang kita mah masih bisa dihitungjari,” ujarnya. Dengan berbagai pengalamannya itu, Luigi juga ingin membuka wawasan kalangan pengusaha di Tanah Air. Sebab, di balik setiap operasi pasukan PBB, berlangsung sebuah bisnis raksasa bernilai miliaran dolar Amerika Serikat. Sementara industri maju memasok peralatan militer dan alat komunikasi satelit, para pengusaha Indonesia sebetulnya amat berpeluangmenjadi pemasok air minum, beras,atau jenis kebutuhan primer lainnya. <http://2.bp.blogspot.com/-fzRKwm2aTn8/UaIkPSZ-clI/AAAAAAAAC3s/QWt_ZIo5BgY/s1600/harian.detik.20130526_Minggu6.jpg> *Luigi Pralangga Flicker* “Pasukan Pakistan yang bertugas di Libanon itu pernah menolak beras standar PBB. Mereka maunya beras basmati, yang aromanya mirip pandan. Pasukan kita juga bisa minta tempe dan tahu, biarada pengusaha nasional yang menjadipemasoknya. Silakan,” ujar Luigi. Syaratnya, ia kembali menegaskan, setiap perusahaan harus terdaftar, kredibel, transparan, dan punya keuangan yang mapan dalam jangka panjang.“Kalau semua dipenuhi, insya Allah enggakcuma jadi jago kandang,” ujarnya. Tentang kiprahnya di PBB, sarjana teknik sipil dari Institut Sains dan Teknologi Nasional itu berawal dari obsesinya pergi ke Kanada. Tapi kemudiandia terdampar di New York dan bekerjaserabutan, mulai menjadi pencucipiring, penjaga toko, pelayan restoran,hingga kemudian menjadi staf seorangdiplomat RI di markas PBB selama10 hari dengan honor US$ 100 perhari. Hal itu membawanya berkarierdi lingkungan PBB sejak 2003.“Gajinya tentu lumayan karena dalamdolar. Juga ada tunjangan lapangan dankebahayaan, yang besarnya dua kalilipat dari gaji pokok,” ujarnya. Finalis Abang-None Jakarta 1997 itu biasa menuangkan pengalaman eksklusifitu lewat blog. Dalam setiap tulisannya,dia selalu menyebut dirinya sebagaiondel-ondel dan biasa melontarkan kataumpatan ”kampret”. Tahun lalu kisah-kisahdi blognya itu dibukukan dengantajuk Ondel-ondel Nekat Keliling Dunia. <http://3.bp.blogspot.com/-cm6jKHG98FA/UaIkzCVhULI/AAAAAAAAC30/dOcMAsW8MVA/s1600/harian.detik.20130526_Minggu7.jpg> *Eno Thamrin (*kaos biru*) berserta rekan di Haiti * Selain Luigi, ada Endang Dwi Satriyani alian Eno Thamrin, yang bertugas selama empat tahun pada 2007-2011 di Haiti. Di bawah bendera PBB, perempuan kelahiran Kendari, 27 Mei, itu bertugas memberikan pelatihan menyusun administrasi keuangan institusi kepolisian di sana. “Sejak kudeta 2004, tugas keamanan dan pertahanan di sana ditangani oleh18-20 ribu polisi. Cuma, sistem keuangannyamanual, kebayang chaos-nya tiapkali gajian,” ujar Eno diiringi tawa. Ia menerima tugas ke Haiti setelah penugasan ke Sudan dan Pantai Gading tak dipenuhi lantaran tak mendapatkan izin dari orang tuanya. Ketika mengungkapkan dirinya akan menunaikan tugas ke Haiti, ada teman dan kerabatnya yang mengira dirinya akan berlibur. “Mereka mengira aku mau ke Tahiti (bekas jajahan Prancis di kawasan Pasifik). Padahal lokasi, kultur, situasi, dan kondisinya berbeda dengan Tahiti,” ujarnya. Selepas dari Tahiti, Oktober 2011 dia ke Afganistan. Tapi kali ini tidak di bawah bendera PBB, tapi menunaikan program USAID. Januari 2013, dia kembalike Tanah Air dan sekarang tengah mendampingiibunya yang sakit di Makassar.“Alhamdulillah, kondisinya sudah membaik,”ujarnya lewat telepon seluler.[SUDRAJAT/Harian detik] Hormat saya Muhammad Syahreza -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/ - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
