<http://www.facebook.com/l/CAQFKKgoAAQEPve00TjMUkRtLGLnptgu1gMs42liWZ_krcw/www.voa-islam.com/news/indonesiana/2013/05/26/24803/pengamat-zionis-fatin-ajang-pencarian-bakat-program-yahudi/>Pengamat
Zionis: Fatin, Ajang Pencarian Bakat & Program
Yahudi<http://www.facebook.com/l/-AQEls7JAAQH58W93890Wb3_wMI-88R6wMgfcL2jhKDdNUA/www.voa-islam.com/news/indonesiana/2013/05/26/24803/pengamat-zionis-fatin-ajang-pencarian-bakat-program-yahudi/>
www.voa-islam.com<http://www.facebook.com/l/-AQEls7JAAQH58W93890Wb3_wMI-88R6wMgfcL2jhKDdNUA/www.voa-islam.com/news/indonesiana/2013/05/26/24803/pengamat-zionis-fatin-ajang-pencarian-bakat-program-yahudi/>
Ajang pencarian bakat sebenarnya tidal lepas dari program Yahudi. Mereka
sadar cara paling ampuh mel...
***

*Pengamat Zionis: Fatin, Ajang Pencarian Bakat & Program Yahudi*

*JAKARTA (voa-islam.com) *- Ajang pencarian bakat sebenarnya tidal lepas
dari program Yahudi. Mereka sadar cara paling ampuh melumpuhkan para pemuda
muslim adalah menjauhkan mereka dari gaya hidup Islam dan mendekatkan
mereka pada hedonism dan hiburan. Demikian dikatakan Pengamat Gerakan
Zionisme  Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi melalui email yang dikirim ke
voa-islam.

Pizaro yang juga Sekjen Jurnalis Islam Bersatu (JITU) ini mengutip
pernyataan Gleed Stones mantan Perdana Menteri Inggris. Dia
mengatakan: *“Percuma
kita memerangi umat Islam, dan tidak akan mampu menguasainya selama di dada
pemuda-pemuda Islam ini bertengger Al-Qur’an. Tugas kita sekarang adalah
mencabut Al-Qur’an di hati-hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai
mereka. Minuman keras dan musik lebih menghancurkan ummat Muhammad daripada
seribu meriam, oleh karena itu, tanamkanlah dalam hati mereka rasa cinta
terhadap materi dan seks.”*

Maka cara ampuh yang mereka lakukan adalah mempromosikan ajang pencarian
bakat ke negeri-negeri muslim. Indonesian Idol seperti kita ketahui dibawa
ke negeri ini oleh perusahaan hiburan Amerika bernama Fremantle Media.
Fremantle Media adalah perusahaan yang dimiliki oleh seorang kapitalis
Yahudi, Rupert Murdoch.

Lebih lanjut Pizaro menjelaskan, kini prototype ajang pencarian bakat
menjamur dengan bentuk beragam, termasuk X Factors. Sama seperti American
Idol, X Factor dibentuk oleh Simon Cowell dan diproduksi Fremantle Media.
Simon Cowell sendiri berlatar belakang Yahudi dengan ibu seorang Kristiani.
Dan dua sejoli antara Simon Cowell dan Rupert Murdoch adalah para creator
yang sangat gigih mengkreasi acara pencarian bakat yang kemudian disebar ke
negara-negara muslim.

“Di luar negeri sana, acara X Factor tidak banyak direspon oleh umat
muslim, karena mereka tahu siapa dalang di balik acara ini. Meski ada
kontestan muslim seperti Yousseph Slimani pada acara The X Factors tahun
2005 di Inggris, tapi respon muslim Inggris tidak seperti di Indonesia.
Karena mereka tahu, acara seperti X Factors tidak akan pernah bisa
menaikkan harkat dan martabat muslim di Inggris. Hasilnya, Yousseph Slimani
hanya sampai babak perempat final.”

Beda Inggris, beda Indonesia. Meski Indonesia adalah negara mayoritas
muslim, ketidakpedean justru menghinggapi diri kita, dengan menyebut
kemenangan Fatin adalah kemenangan seorang muslim. Ucapan ini sangat
memprihatinkan, jika kita mau menyadari siapa perintis aacara ini.

“Dari dulu saya sudah mencium itu terjadi dalam keikutsertaan Fatin. Tidak
lama Fatin tampil, Bruno Mars langsung memberikan dukungan. Bruno memberi
dukungan bukan sekedar suara Fatin, tapi lebih dari itu karena Fatin
berjilbab. Bruno ini penyanyi yang menyuarakan atheisme lewat lagunya It
Will Rain,” kata Pizaro.

Maka itu dengan kemenangan Fatin tentu kita khawatir ada semacam pembenaran
bagi kaum muslimah berbondong-bondong membanjiri ajang pencarian bakat
seperti ini. Tubuh dan wajah mereka menjadi santapan 250 juta bangsa
Indonesia. Mereka meliuk-liuk dan bersaut-saut hanya demi ribuan SMS.
Muslimah-muslimah kita nanti memiliki dalih masuk ke gelanggang yang
sebenarnya jebakan Yahudi ini dengan satu kalimat: ‘Tidak masalah selama
kami berjilbab’

Maka menarik kita cermati perkataan Muhammad Quthb, “Seorang anak yang
rusak masih bisa menjadi baik asal ia pernah mendapatkan pengasuhan seorang
ibu yang baik. Sebaliknya, seorang ibu yang rusak akhlaknya, hanya akan
melahirkan generasi yang rusak pula akhlaknya. Itulah mengapa yang
dihancurkan pertama kali oleh Yahudi adalah wanita.” *[desastian]*

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke