Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Sumbar dan PW Ai­syiah Sumbar TOLAK RS 
SILOAM

Sabtu, 01 Juni 2013
AISYIAH KEMBALIKAN BANTUAN LIPPO GROUP

PADANG,HALUAN — Pe­nolakan terhadap pendirian Rumah Sakit (RS) Siloam milik 
Lippo Group di Padang semakin deras. Setelah be­berapa Ormas Islam menolak 
proyek itu dan berikutnya dibarengi pula dengan surat terbuka tokoh Sumbar 
Moch­tar Naim yang juga menolak mentah-mentah RS Siloam, berikutnya giliran 
Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Sumbar dan PW Ai­syiah Sumbar yang 
mela­kukan hal sama.

Pimpinan Wilayah Ai­syiah (PWA) Sumbar bahkan mengembalikan lagi bantuan Rp50 
juta dari Group Lippo yang diberikan kepada Ai­syiah pada Peletakan Batu 
Pertama RS Siloam, Jumat (10/5) lalu di kasawan Jl Sudirman Padang. Alasan 
pengembalian, selain awalnya pihak Aisyiah tidak tahu bahwa bantuan tersebut 
dari Lippo Group, bantuan itu juga telah menimbulkan polemik dan keraguan di 
masyarakat yang pada akhirnya menjadikan status bantuan itu bersifat subhat.

Ketua Dewan Syuro DDII Sum­bar H Masfar Rasjid dan Ketua DDII Sumbar Ahmad 
Kosasih dalam relisnya yang dikirimkan secara resmi ke redaksi Haluan 
menyatakan dengan tegas menolak pendirian RS Siloam di Ranah Minang. Penolakan 
itu berdasarkan musyawarah pengurus DDII Sumbar yang dihadiri Majelis Syura, 
Majelis Pakar dan seluruh Pengurus Dewan Da’wah Sumbar, Minggu (26/5) lalu.

Alasan penolakan adalah; per­tama, James T. Riyadi adalah tokoh misionaris 
Kristen Internasional yang telah melanglang buana dalam kegiatan misionaris, 
seperti beru­saha membangun 100.000 sekolah misionaris Kristen, membangun 
gereja terbesar dan termegah di Asia Tenggara yang terletak di Jakarta. 
Termasuk juga seorang yang menjadi donatur dari Calon Presiden AS, Bill Clinton.

Kedua, kata “siloam” memiliki dua pengertian yaitu “utusan” dan nama sebuah 
kolam yang diyakini oleh umat Nashraniy sebagai sumber air suci dan pernah 
dipakai Nabi Isa as untuk pengobatan. Penggunaan nama ini mengingatkan kita 
supaya waspada terhadap upaya-upaya terselubung di balik pendirian Rumah sakit 
tersebut.

Ketiga, mengingatkan umat Islam Minangkabau akan “luka lama” yaitu kasus Rumah 
Sakit Baptis Emanuel di Bukittinggi yang telah ditolak di Bukittinggi sekitar 
tahun 1980-an dan dipindahkan ke Lampung. Namun peristiwa terse­but telah 
menyebabkan 9 orang Mahasiswa Islam di Bukittinggi dipenjarakan.

Keempat, RS Siloam merupakan salah satu bukti kapitalisasi di bidang kesehatan. 
Sebagaimana diketahui, kesehatan menyangkut hajat hidup orang banyak. Urusan 
kesehatan tidak diperbolehkan diserahkan kepada mekanisme pasar dan swasta. 
Harus meng­hindari terjadinya pengobatan menjadi barang mewah dan hanya 
kalangan atas saja yang berhak mendapatkan pengobatan yang layak. Hal ini 
menjadi celah bagi upaya pemurtadan umat Islam. Orang miskin yang beragama 
Islam, dikhawatirkan pengobatan gratis di rumah sakit Kristen dengan syarat 
berpindah agama.

Kelima, dengan latar belakang pemilik Lippo Group dan penamaan Rumah Sakit 
dengan nama “Siloam “dan track record Pemilik Lippo Group yang kental dengan 
agenda-agenda kristenisasi maka menjadi kekhawatiran dapat menodai filosofi di 
ranah minang, yaitu : Adaik Basandi Syara’ , Syara’ basandi Kitabullah.

Berikutnya DDII Sumbar men­desak; pertama Pemko Padang segera mencabut izin 
pendirian Rumah Sakit Siloam. Kedua, menga­jak seluruh elemen masyarakat 
menolak segala bentuk Proyek Lippo Group di ranah minang, untuk menjaga anak 
kemenakan kita dari bahaya kristenisasi.

PW Aisyiah Sumbar Juga Menolak

Ketua (PW) Ketua Aisyiyah Sumatera Barat Meiliarni Rusdi, mengembalikan 
pemberian Lippo Group untuk panti asuhan Aisyiyah sebesar Rp50 juta. Hal ini 
dikare­nakan, bantuan yang diterima terse­but bersifat meragukan (syubhat).

Diakatakan Meiliarni, di orga­nisasi Aisyiyah yang berada diba­wah nauangan 
Muhammadiyah ini, sesuatu bantuan yang bersifat syubhat, sebaiknya tidak 
diterima. Disebut syubhat, karena pemberian bantuan disertai ada kepentingan di 
belakanganya.

Dalam aturan di organisasi ini, bantuan tidak boleh mengikat. Artinya, ketika 
bantuan diberikan, memang sepenuhnya digunakan untuk kepentingan bantuan.

Terkait diberikannya bantuan bagi panti asuhan, menurut Mei­liarni, pada 
awalnya, pihaknya sama sekali tidak mengetahui siapa yang memberi bantuan.

“Pada waktu itu, walikota yang mengatakan kami mendapat ban­tuan. Karena 
walikota mengatakan, jadi turuti saja dulu, tanpa ada rasa kecurigaan 
sedikitpun,” jelas­nya, Jumat (3
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke