MUI Sumatera Barat telah menandatangani kesepakatan bersama dengan ormas-ormas Islam untuk menolak pembangunan Rumah Sakit (RS) Siloam yang akan dibangun di Jalan Khatib Sulaiman, Kota Padang.
Ketua Bidang Fatwa MUI Sumatera Barat, Gusrizal Gazahar mengatakan, “MUI sudah membuat pernyataan tertulis dan hari Senin kemarin sudah ditandatangani oleh dua puluhan ormas Islam.” Ia melanjutkan nantinya pernyataan tertulis itu akan disampaikan kepada pemerintah Kota Padang dan kepada berbagai pihak yang terkait dengan masalah tersebut. Sebagaimana diketahui, pembangunan RS. Siloam menimbulkan keresahan di tengah masyarakat Sumatera Barat. Pasalnya, mega proyek senilai 1,3 triliun rupiah tersebut dilatarbelakangi oleh tokoh misionaris internasional, James T Riady. Rencananya, pembangunan RS. Siloam tersebut akan terintegrasi dengan pembangunan sarana pendidikan, hotel, dan pusat perdagangan bertaraf internasioanal di atas area sekitar 1,5 hektar. Gusrizal menilai, meski mega proyek ini bisa mengurangi pengangguran di Sumbar, akan tetapi menyelesaikan urusan pengangguran tanpa mempedulikan ancaman terhadap aqidah berarti berfikir secara sekuler dan bertolak belakang dengan nilai agama Islam yang dianut oleh masyarakat Minangkabau. Kemudian ia mempertanyakan mengenai tidak adanya pengusaha muslim yang mau berinvestasi di Padang. Apakah karena berinvestasi di Padang tidak menguntungkan. “Kalau memang hitung-hitungannya demikian, kenapa Lippo mau?” tutur Gusrizal. Ia menambahkan bahwa proyek pembangunan rumah sakit dan juga sarana pendidikan tersebut notabenenya bersentuhan dengan masyarakat. Dan hal tersebut sangat berpeluang untuk dibidik menjadi misi kristenisasi. Gusrizal juga mengatakan bahwa Rumah Sakit di Kota Padang sudah cukup banyak. Solusinya kalau mau berinvestasi bisa saja dananya dialihfungsikan untuk pengembangan rumah sakit yang sudah ada atau juga bisa dengan menawarkan kepada pengusaha muslim. “Kalau memang Padang mau investasi, tawarkan kepada pengusaha muslim kalau perlu kepada perantau,” ujarnya. Ia juga menekankan akan terus berusaha agar pembangunan mega proyek tersebut dibatalkan. “MUI bersama dengan Ormas-ormas Islam telah merapatkan barisan untuk berjuang melindungi umat Islam dari berbagai usaha perusakan aqidah.” Gusrizal juga menyatakan bahwa tidak ada tawar menawar mengenai masalah ini karena ini sangat terkait dengan masalah akidah. “Sikap MUI Sumbar sudah jelas adalah MENOLAK,” tuturnya. Jika pernyataan tersebut tersebut tidak digubris oleh pemerintah, MUI akan mengabulkan permintaan berbagai ormas Islam untuk turun ke jalan. “Kalau perlu MUI akan menyetujui keinginan ormas-ormas Islam untuk turun ke jalan,” pungkasnya sumber: http://bit.ly/14FzQla -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/ - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
