Oleh: Haluan Padang
sindikasi - Selasa, 11 Juni 2013 | 06:46 WIB

*INILAH.COM, Padang - Selain dari Ormas Islam, penolakan terhadap pendirian
Rumah Sakit Kristen Siloam juga datang dari mahasiswa.*

Penolakan dieskpresikan dengan berunjuk rasa di DPRD Kota Padang. Mereka
minta Walikota Padang mencabut izin pendirian rumah sakit yang dinilai
meresahkan masyarakat itu.

Puluhan mahasiswa berunjuk rasa ke DPRD Kota Padang, Senin (10/6/2013).
Mereka meminta Pemko Padang mencabut izin pendirian Rumah Sakit (RS)
Kristen Siloam dan sekaligus menolak rencana investasi Lippo Group lainnya
yang terdiri dari Sekolah Kristen Pelita Harapan, Mal dan Hotel. Sejumlah
anggota DPRD Padang juga menolak rencana investasi milik James T Riady
tersebut.

Mahasiswa yang berunjuk rasa itu berasal dari tiga kelompok, yakni dari
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Sumatera Barat, Persatuan
Pelajar Islam (PPI) dan Ikatan Keluarga Mahasiswa Minangkabau (IKMM).

Mereka diterima oleh Wakil Ketua DPRD Padang Afrizal, Wakil Ketua DPRD
Padang Masrul, Ketua F-Partai Golkar M Dinul Akbar, Ketua F- Partai
Demokrat Erison, Ketua DPC Partai Demokrat Kota Padang Januardi Sumka,
anggota F-Partai Demokrat Gustin Pramona dan anggota F-PKS Muharlion.

Mahasiswa pengunjuk rasa datang ke gedung wakil rakyat tersebut sekitar
pukul 10.00 WIB. Sebelum menyampaikan tuntutan, para mahasiswa memainkan
aksi teatrikal yang menceritakan tentang kegundahan mereka akan terjadinya
praktik kristenisasi dan diskriminasi di RS Kristen Siloam dan tiga unit
bisnis lainnya yang akan didirikan oleh Lippo Group di Jalan Khatib
Sulaiman Padang tersebut.

Perwakilan KAMMI Sumbar M Sabri mengatakan, mahasiswa menolak pendirian RS
Kristen Siloam, Sekolah Kristen Pelita Harapan dan dua unit bisnis milik
Lippo Group lainnya di Kota Padang, karena sejak dilakukan peletakan batu
pertama, Jumat 10 Mei 2013, proyek tersebut terus menjadi polemik di
kalangan Umat Islam. Umat islam melalui ormas-ormas Islam sangat khawatir
terhadap proyek misionaris dan kristenisasi yang berada di balik mega
proyek Lippo Group tersebut.

“Karena menimbulkan keresahan di masyarakat, maka kami menolak proyek ini.
Kami mendesak DPRD Kota Padang untuk meminta kepada Walikota Padang untuk
mencabut RS Kristen Siloam bersama dengan tiga investasi Lippo Group
lainnya,” kata Sabri.

Menurut M Sabri ada beberapa hal yang menyebabkan mahasiswa menolak
investasi Lippo Group di Padang dan meminta kepada Pemko Padang mencabut
izin pembangunan RS Kristen Siloam di Kota Padang.

Pertama, karena Pemko Padang tidak pernah berkoordinasi dengan DPRD Padang
sehubungan dengan rencana investasi besar-besaran Lippo Group di Padang.

“DPRD adalah wakil dari masyarakat Kota Padang, tapi tidak dianggap oleh
Pemko Padang,” katanya.

Kedua, karena hingga kini studi dan izin Analisis Dampak Lingkungan (Amdal)
super blok milik Lippo Group tersebut belum ada. Ketiga, karena James T
Riadi adalah penerus keluarga Muchtar Riadi yang selain sebagai pengusaha
sukses, juga adalah pendeta international yang berguru pada Pat Robertson
yang dikenal luas sebagai misioanaris international yang sempat mencela
orang Islam di tahun 2006.

Keempat, terkait dengan nama Siloam yang diambil dari kitab suci agama
Nasrani yang berarti air suci, ada juga yang mengartikan Siloam yang diutus
oleh Tuhan masyarakat Nasrani.

Hal ini, merupakan simbol-simbol agama nasrani. Jika diperhatikan logo
Lippo Group juga ada ular yang melingkari tiang dan ada merpati yang siap
menerkam.

Maksudnya dalam kitab suci Nasrani, ular adalah kecerdikan dan merpati
lambang ketulusan.

“Pembangunan RS Kristen Siloam dikhawatirkan dapat menggerus nilai-nilai
Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah di Ranah Minang.

Sehubungan dengan itu, KAMMI Sumbar, mendesak DPRD Kota Padang meminta
dengan tegas kepada Walikota Padang untuk mencabut izin pembangunan Super
Blok Siloam (RS Kristen Siloam) Sekolah Kristen Pelita Harapan, mal dan
Sekolah Kristen Pelita Harapan.

“Kemudian, meminta Lippo Group tidak meneruskan pembangunan Super Blok
Siloam untuk menghindari kerugian yang lebih besar. Kami juga mendukung
pemerintah daerah untuk terus mendorong pengusaha-pengusaha sukses
Minangkabau yang dirantau untuk berinvestasi di Ranah Minang,” ujarnya.

KAMMI dan dua kelompok mahasiswa lainnya, kata M Sabri, memberikan tenggang
waktu selama dua Minggu kepada DPRD Kota Padang dan Walikota Padang untuk
berembuk dan selanjutnya mencabut izin RS Kristen Siloam, Sekolah Kristen
Pelita Harapan, mal dan hotel milik Lippo Group.

Jika hal ini tidak dipenuhi, maka mahasiswa akan menurunkan massa yang
lebih banyak lagi. “Apalagi kami mendapat dukungan dari Majelis Ulama
Indonesia (MUI) Kota Padang dan MUI Sumatera Barat,” katanya.

Sementara itu, Uti salah seorang anggota KAMMI Sumbar mengatakan,
pemerintah harus memegang falsafah adat basandi syarak, syarak basandi
kitabullah (ABS BSK), karena daerah ini adalah Ranah Minang.

Sehubungan dengan itu pemerintah jangan mau memperjualbelikan Ranah Minang
demi investor yang tidak jelas latar belakangnya.

“Kami menolak pembangunan Lippo Group, karena pendiri Lippo Group adalah
pendeta international yang pernah terlibat pemurtadan. Sebagai, masyarakat
Ranah Minang seharusnya peka dengan persoalan ini, agar Kristenisasi tidak
lagi berkibar di Ranah Minang,” tegasnya.

Budi Saputra, aktivis KAMMI Sumbar lainnya mengingatkan agar 45 anggota
DPRD Padang tidak menjadi macan ompong terkait dengan derasnya penolakan
terhadap RS Kristen Siloam.

“Kalau menjadi macan ompong lebih baik dikandangkan saja,” kata Budi.

Menanggapi aspirasi mahasiswa tersebut, Wakil Ketua DPRD Kota Padang
Afrizal mengatakan, dia segera mengirimkan surat kepada Ketua DPRD Kota
Padang Zulherman untuk melakukan rapat kerja soal penolakan terhadap RS
Siloam melalui lintas Komisi I, III dan IV.

“Kami memberikan tenggat waktu 15 hari, kepada lintas komisi untuk membahas
soal RS Kristen Siloam ini. Bahkan, kami akan panggil Walikota Padang,
dinas terkait dan Lippo Group terkait RS Siloam,” kata kader golkar ini.

Semua anggota DPRD Kota Padang yang menyambut aksi mahasiswa ini sepakat
turut menolak rencana mega proyek milik Lippo Group tersebut. Sebagai bukti
menolak proyek Lippo Group di Kota Padang, maka sejumlah anggota DPRD Kota
Padang turut membubuhkan tanda tangan di spanduk putih yang dibawa
mahasiswa.

Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Kota Padang Erison mengatakan, kalau
memang terindikasi merusak akidah dan akhlak masyarakat muslim di Sumbar,
secara tegas Fraksi Demokrat menolak pembangunan proyek super blok milik
Lippo Karawci di Kota Padang. Sedangkan

anggota Fraksi PKS DPRD Kota Padang Muharlion mengapresiasi dan mendukung
KAMMI Sumbar, sehubungan dengan permintaan pencabutan izin RS Kristen
Siloam di Kota Padang dan pendirian tiga unit usaha lainnya.

“Ke depan, kami mengharapkan setiap investor yang menanamkan modalnya di
Kota Padang terlebih dahulu harus mempelajari agama, sosial dan budaya
masyarakat setempat,” katanya.

Sebelumnya sebanyak 16 Ormas Islam dan sejumlah cendikiawan muslim Sumatera
Barat menggelar rapat tentang penolakan RS Siloam di Kota Padang di
Sekretariat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat di Masjid Nurul
Iman Padang. Rapat tersebut langsung dihadiri oleh Ketua MUI Sumbar Prof Dr
H Syamsul Bahri Khatib.

Pantauan Haluan sejak peletakan batu pertama, Jumat (10/5/2013) silam oleh
Ketua DPD Irman Gusman, Menko Kesra Agung Laksono, Ketua Dewan Syuro PKS
Hilmi Aminuddin, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, mantan Menko Kesra Azwar
Anas, owner Lippo Group James T Riady, Presiden Lippo Group Theo Sambuaga
dan lainnya proyek ini tidak ada progres sama sekali.

Kuat dugaan proyek ini tidak ada kelanjutan karena derasnya penolakan dari
Ormas Islam Sumbar dan tokoh-tokoh masyarakat Minangkabau lainnya, baik di
kampung halaman maupun di rantau.

Di masyarakat arus penolakan juga semakin deras, begitu juga di kalangan
mahasiswa, baik di organisasi internal maupun eksternal kampus. Banyak yang
memprediksi investasi Lippo Group di Padang ini akan batal, seperti halnya
rencana pembangunan RS Kristen Immanuel di Kota Bukittinggi di tahun
1980-an silam. [gus]

*Salam dan Terima Kasih,*
*Dedi Suryadi*


_____________________________________________________________________________
                       *****    Sukses Seringkali Datang Pada Mereka Yang
Berani Bertindak Dan   *****
      ******Jarang Menghampiri Penakut Yang Tidak Berani Mengambil
Konsekuensi (Jawaharlal Nehru**)* *****
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
          "The Best Human Being Among of You is The Most Beneficial for The
Others" (Hadith by Bukhari)
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
****...."Kasihilah Yang Di Bumi, Maka Yang Di Langit Akan Mengasihimu...
".....*****
                  "Love What On Earth, Then What On Sky Will Love You ..."

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke