Ass ww Bu Evy dan sanak sapalanta n. a . h Re : Diatas langit masih ada langit. Kita memang sering melihat seseorang dar penampilannya. Dan tidak jarang penampilan itu menipu kita , walaupun orang yang bersangkutan tidak punya niat untuk ‘menipu’ kita dengan penampilannya itu. Membaca kisah Bu Evy ini saya ingat akan seseorang yang penampilannya sehari hari amat sederhana , sehinga sering orang tidak menyangka kalau beliau itu orang penting.
Mungkin diantara kita ada yang pernah mengenal Bpk Gandhi, mantan Dirjen DJPKN , Dep Keu , Ketua BPKP dan terakhir beliau adalah anggota BPK RI. Penampilan beliau itu begitu sederhana, bahkan sikapnya terlalu ramah kalau dikaitkan dengan jabatan dan pangkatnya yang begitu tinggi. Beliau tinggal di Ciputat dan kebetukan rumahnya memang pekarangannya luas. Di hari libur beliau sering membersihkan sendiri pekarangan nya itu , menyapu , memangkas rumput dan sebagainya. Dalam melaksanakan pekerjaan itu penampilannya tidak beda dengan tukang kebun biasa, Suatu hari ada seseorang bertamu kepada beliau, dan tamu itu belum kenal sama pak Gandhi. Dari luar pekarangan, orang itu pun memanggil ‘ tukang kebun’ it sambil melampaian tangan supaya ‘tukang kebun ‘ itu datang kepadanya. Pak Gandhi pun datang menemuinya dan terjadilah dialog antara Tamu (T) dengan pak Gandhi (G) : T : Mang , Bapak ada ? G : Bapak lagi keluar pak.. T : Sudah lama perginya ? G ; iya sudah lama pak T : Kira kira pulangnya jam berapa ya mang ? G : Ndak tentu pak .. T : Nggak pasti ya mang, bagaiman ya.. G : Biasanya bapak lebih suka menerima tamu di kantor T ; Iya deh Mang , saya ke kantornya aja deh Pak Gandhi itu kalau berbicara dengan orang selalu sopan , sedikit merendah , jauh dari sikap angkuh dan gaya itu hampir kepada semua orang. Besoknya si tamu itu bertemu beliau di kantor , alangkah kagetnya dia karena ‘tukang kebun’ kemaren yang dipanggil nya ’mamang ‘ itu ternyata pak Gandhi sendiri. Tapi beliau itu orangnya luwes dan cepat dapat mencairkan suasana sehingga si tamu tidak merasa dipermainkan. Beliau sudah berpulang ke Rahmatullah sekitar 5 tahun y. l. Wassalam Dunil Zaid , 70 , Kampung Ujuangg Pandan Parak Kerambil , Padang. 2013/7/10 Evy Nizhamul <[email protected]> > ` Diatas Langit Masih Ada langit ` > > Pagi-pagi anggota kerabatku disibukkan dengan kegiatan perapihan diri, > dandan dan sarapan pagi. Anakku yang akan melaksanakan ijab kabul sebentar > lagi, sudah berdandan rapi. Tepat jam 07.00 seluruh anggota kerabat > berkumpul dalam warna busana senada. Sebelum berangkat anakku bersalaman > dan mohon doa restu pada Oom dan tantenya serta kakak-kakak sepupunya. > Setelah usai acara sesi foto, rombongan bersiap-siap naik ke mobil yang > sudah disediakan. Tak jauh dari kami berfoto bareng, tampak olehku sebuah > mobil sedan hitam. Sedan mengkilat dan beberapa buket bunga dilekatkan pada > badan sedan itu.**** > Wakil besan yang menjemput kami, mempersilahkan anakku bersama diriku dan > suami menaiki mobil itu. Seorang sopir membukakan pintu mobil dan berkata : > **** > > “ Mari pak dan bu..”, silahkan naik. Sebuah senyum ramah terlihat dari > wajahnya. Akupun bagai tersanjung, turut merasakan diri sebagai orang > tua “ Raja Sehari “. **** > > “ Hemm baik pak.., aku membalas ajakan sopir itu sekenanya. Akupun naik > dan duduk seanggun mungkin berdampingan dengan suami. Aku berkata dalam > hati bercampur bangga. > “ Hemmm….asyik juga mobilnya, ketika aku mendapati rasa nyaman dalam mobil > itu. > “ ckk cckkk… hebat benar si besanku ini, decak kagumku. **** > > Mobil raja sehari beserta ibu surinya berjalan perlahan paling depan dari > seluruh rombongan. Dibelakangnya berturut-turut mobil para kerabat menuju > tempat acara akad nikah. **** > Dalam perjalanan, pak sopir menyapa kami dengan ramah. Ia bercerita > panjang lebar tentang kesalahan dan ketidak tahuannya, sebelum ia tiba di > Hotel menjemput kami. Dari ceritanya ia telah menunggu sejak jam 05.30, > sesuai dengan arahan panitia CPW. Setelah sekian lama menunggu hingga > tiba waktu keberangkatan, barulah ia menyadari bahwa ia berada bukan di > hotel tempat kami menginap. > Bagilu kala itu, peduli apa dengan alasan keterlambatannya. Bukankah, > hal seperti ini sudah biasa dilakukan oleh para sopir, agar mereka tidak > ditegur oleh calon penumpangnya. Aku asyik masuk dalam kebanggaanku > sebagai se orang Ibu Suri, disaat detik – detik anak nya menjadi raja > sehari, tanpa mempedulikan ocehan sang sopir ini.. > Tiap sebentar dia mengutak utik perangkat mobil yang tengah disopirinya > itu. Ia menyetel lagu-lagu dari radio mobil. Setelah itu tangannya sibuk > mencari kenyamanan dalam mobil kami. Tiap sebentar ia menengok kami untuk > meyakinkan dirinya bahwa kami nyaman dalam mobil itu. Ia benar-benar > memperlakukan kami perumpang terhormatnya. Dalam hati, aku berucap :**** > > “ Hemm. Jika seperti ini pelayanan seorang sopir mobil sewaan, aku yakin > dia dapat acungan jempol dari pelanggannya “.**** > Ia benar benar tengah melaksanakan prinsip “ kepuasan pelanggan adalah > segala galanya. “ Waduh, jangan – jangan ia juga paham dengan customer > satisfaction, ucapku dalam hati.**** > Saya merenung dalam perjalanan itu. Dari mana besan saya mendapatkan > mobil sewaan dengan sopir seperti ini ?. Apakah kota Gresik yang kecil ini > – juga menyediakan pelayanan mobil penganten? Hebat. benar benar hebat, > tak kalah dengan orang Jakarta. Jujur aku memang merasa surprise dengan > kondisi ini. Ketika aku tak pernah membayangkan sedemikian detail, > persiapan yang dilaksanakan oleh keluarga besan kami.**** > Tiba-tiba sopir ini membuyarkan lamunanku. Dalam perjalanan itu, dengan > ramahnya, sambil memegang knop Ac, sang sopir bertanya kepada kami**** > “ Maaf lho Pak – Bu. Apakah AC nya cukup dingin…?. Kota Gresik ini luar > biasa panasnya.**** > “ Hemmmm. Saya manggut mangut tanggung tanda meng-iyakan. Tanpa berniat > beramah tamah, saya pun berkata : > “ Ya kota ini memang panas. Tapi Lumayan kok .. AC nya dingin.**** > “ Alhamdulillah…., katanya menunjukkan kepuasannya.**** > Ia melanjutkan pertanyaannya pada kami : “ Bagaimana kota Jakarta..Bu… > Apakah juga sama ?.**** > Sedikit acuh, aku menjawab : “ Ya sama saja. Tidak ada bedanya.**** > Bagiku kala itu, dari pada beramah tamah dengan seorang sopir, tentu > lebih penting memantau kelancaran iringan rombongan kerabat kami yang > berada dibelakang kami. Itu pula yang dilakukan oleh suamiku dalam > perjalanan itu, Tiap sebentar ia menelpon dan memantau posisi rombongan. > **** > “ Pak Sopir, jangan kencang kencang ya bawa mobilnya. Nanti rombongan kami > tidak bisa beriringan, kata saya padanya dengan tegas.**** > “ Oh ya baik bu, Mohon maaf ya bu. Kalo pelayanan saya ndak baik…. Maklum > saya belum biasa melayani tamu. Dengan takzim sambil membungkukkan > badannya berulang ulang, dengan bahasa tubuhnya ia meyakinkan kami bahwa > ia adalah sopir yang kurang sempurna.**** > “ Heemmmm ya…. Imbuh saya. Aku saat itu, bagaikan *seekor jerapah yang > sedang berada di singgasana. Tak siap merunduk kepada seekor semut yang > sedang menghadap jerapah.***** > * > * > Ketika iringan mobil penganten memasuki halaman gedung, aku mengatur sang > sopir, agar ia mancari posisi parkir mobil secara sempurna. Maksudnya agar > orang orang yang menyambut si Raja sehari bersama Ibu Surinya dapat tertata > rapih. Sang sopir melaksanakan arahan saya secara baik. Berkali – kali ia > menunjukkan kepatuhannya sebagai sopir atas perintah majikannya. **** > “ Baik ..bu. baik..bu….."**** > Nah, setelah semua sempurna dimata saya, maka saya bersiap siap turun dari > mobil itu. Saat berpisah turun dai mobil itu, sang sopir menyampaikan rasa > takzim dan rasa hormatnya kepada kami, serta permohonan atas ketidak > sempurnaannya.**** > “ Maaf lho Bu. Kalo pelayanan saya ndak sempurna. Saya belum biasa > melayani penumpang bu, katanya. Sepertinya ia merasa ada saja kesalahan > pada dirinya.**** > “ Oh..ya… ndak apa apa pak. Saya juga mengucapkan terima kasih…Akhirnya > saya berpisah dengan pak sopir itu.**** > > SELANG SEMINGGU KEMUDIAN, putera saya yang sudah jadi penganten itu, > berkata : “ Ma…. Pak Bambang. Baik sekali ya…ma.**** > “ Pak Bambang yang mana …???, tanya saya ringan.**** > “ Itu..tuh. Pemilik mobil penganten, yang menjemput kita saat acara Akad > nikah di kota Gresik**** > “ Haah…. Yang menyopiri mobil penganten ? “ Dia pemilik mobil pengantin ? > “ Dia yang berkali – kali minta maaf atas keterlambatannya ?**** > “ Dia yang selalu merasa kurang sempurna saat memberi pelayanannya ???*** > * > “ Dia yang memberikan perhatian secara detail, agar penumpang puas saat > menaiki mobil itu….?????**** > “ Dia adalah Pemilik mobil….????**** > Demikian pertanyaan bertubi – tubi, aku sampaikan kepada anakku**** > > “ Iya benar. Dialah pemilik mobilnya. Masih ada mobil camry dan berbagai > merek yang lain di garasinya. Dia itu orang yang sangat baik. Tidak pernah > perhitungan. Dia yang selalu merespon permintaan bantuan. Dia lah > mensponsori pendukung Persebaya dengan bonek bonek Surabaya, baik > bantuan bus atau kendaraan lain yang dia berikan secara gratis. > Kalangan masyarakat, menyebut dirinya dengan panggilan Pak Suporter.**** > > “ Ya… Allah. Bbetapa malunya diriku ini. Tatkala membayangkan kepongahanku > saat naik mobilnya.**** > Dengan sedikit keangkuhanku itu, aku tak sadar telah berlaku sombong > dihadapannya. Bukan tidak mungkin ia berkata dalam hatinya ia mengatai > diriku :**** > “ Hemmmm… betapa angkuhnya dirimu Bu…. Nih liat aku, seangkuh-angkuhnya > dirimu, sebenarnya akupun bisa lebih angkuh, bilamana mana aku tak punya > kekayaan hati “. **** > Barangkali itulah terbaca olehku dari dalam hatinya, ketika saya merasa > tak ramah kepadanya. > Dalam prilaku kita, terkadang secara tak sadar, kita sering salah > menafsirkan orang lain dalam kebersahajaan—kesederhanaannya. Padahal > ketika merasa diatas puncak kebanggaan atau mungkin kesombongan kita, > ternyata diatas langit masih ada langit. **** > > Asytagfirullah > > > > dikutip dari : Buku Mozaik ~ keping keping kehidupan, Pustaka Padusi, 1 > Maret 2013. > > Selamat menjalani ibadah puasa > > > Salam > > > 3vy Nizhamul > (Kawasan Puspiptek, Kota Tangerang Selatan) > > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari > Grup Google. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . > Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. > > > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
