Assalamualaykum wr wb
Mamak-mamak, bundo-bundo, sarato sanak sapalanta RN..

Dek karano mamak-mamak, bundo, dan sanak Rina lah acok mambuek cerpen
disiko, ambo sata pulo ciek baraja bikin cerpen pulo...
Siapo tahu bisa jadi potensi nan bisa dikambangkan pulo hehee... Walaupun
carito iko mungkin labiah tapek disabuik sebagai curhat nan sabana tajadi
jo ambo, dan acok kito alami..

Kritik dan saran akan ambo tarimo sebagai sesuatu yang konstruktif....


*Awak Samo Awak (A.S.A)*

" Niang, lah jago Ajo, Niang..? sapaku agak keras dari atas motor kepada si
Uniang , istri pemilik taksi yang tinggal di deretan belakang rumahku. Si
Uniang yang pagi itu lagi menyapu teras rumahnya mendongakkan kepala, dan
sambil tersenyum dia membalas,
" Alun lai, ado apo tu ?" jawabnya sambil menghentikan kerjaannya menyapu
teras rumah, dan bergerak mendekati pagar rumahnya, ke arahku.
Sambil mematikan mesin sepeda motor, mengambil kunci, akupun menurunkan
kaki dan bergerak mendekatinya.

" Ambo jo keluarga ka ikuik acara PT. Bisa ndak Ajo ma-anta-an kami ? Kok
jo onda buruakko lah ndak tamuek lai " kata saya setelah agak dekat
dengannya.
" Bilo tu ? Cubo awak tanyo inyo dulu yo.." jawabnya
" Pagi ko, jam satangah tujuah " kata saya menegaskan waktu keberangkatan
kami.
" Ooo..Sabanta yo .." katanya. Ia pun bergerak kedalam rumah. Membangunkan
si Ajo sang suami, agaknya.

Beberapa saat, si Uniang sudah terlihat berjalan keluar, mendekat. Wajahnya
memasang senyum ramah, layaknya urang awak kalau lagi bertemu muka.
" Jadih katonyo Da. Beko jam satangah tujuah Ajo karumah ko " katanya
menyampaikan hasil pertemuan singkatnya dengan si Ajo dikamar tidur.

Entah si Ajo terganggu tidurnya atau tidak, saya tak tau. Yang penting saya
membutuhkan jasa taksi sekarang. Toh kalau dia tak mau, saya bisa mencari
yang lain.Saya pun menarik nafas lega. Tak perlu lagi berputar-putar
komplek atau ke jalan raya menyetop taksi di jalan untuk mengantarkan kami.
Sekarang sudah jam 6 pagi, tinggal setengah jam lagi untuk bersiap. Mandi,
sarapan, dan lain-lain.

" Oke lah Niang, tarimo kasih yo. Kok iyo lah pasti modeko, ambo ndak
paralu kaliliang mancari lai " ucap saya pada si Uniang. " Beko ambo tunggu
se dirumah" sambung saya.
" Iyo lah Da " katanya sambil menganggukan kepala. Saya pun pamit untuk
pulang dan berjalan menuju ke sepeda motor tua yang dengan setia masih
menunggu dipinggir jalan depan rumah si Uniang.

Jam setengah tujuh kurang, si Ajo sudah sampai didepan rumah. Kami pun
bersiap-siap untuk naik ketaksinya. Barang-barang keperluan untuk acara
Family Day nanti sudah siap dimasukkan kedalam bagasi. Paling ribut adalah
2 junior saya yang sudah ga sabaran. Bagi mereka, bukan acara Family Daynya
yang penting, melainkan bermain dipinggir lautnya. Mandi air laut, main
pasir, sambil mengejar-ngejar ikan-ikan kecil yang ada dipinggiran pantai,
dan menangkapi siput atau umang-umang, itulah yang paling mereka senangi.
Tak lupa juga anakku yang paling besar membawa pancingnya, karena sudah
hobinya juga memancing, sejak beberapa kali kubawa pergi memancing kemarin.
Ya, family day yang kami adakan dengan anggota perkumpulan kami saat ini
akan diadakan di pinggir laut, di tepi pantai sebuah resor yang cukup
terkenal di kota Batam.

Taksi si Ajo sudah mulai berjalan meninggalkan rumah kami. Aku duduk
didepan, disamping si Ajo yang menyetir mobil. Di sepanjang perjalanan
menuju PT, kami beberapa kali terlibat ota-ota ringan. Kadang kala kami
tertawa kecil kalau ada hal-hal yang lucu yang kami sampaikan.

Tak terasa taksi si Ajo sudah semakin mendekati PT tempatku bekerja, yang
menjadi tempat berkumpul kami. Dari PT itu, kami akan naik beberapa bus
wisata yang sudah kami carter menuju lokasi acara kami.  Jarak yang hanya
10 KM dari rumahku kami tempuh dalam 25 menit saja dengan laju yang santai.
Minggu pagi itu jalanan agak sepi, karena aktifitas masyarakat Batam yang
mayoritas karyawan swasta banyak yang libur.

Dan kami pun sampai. Istriku keluar lewat pintu samping kiri, diikuti kedua
anakku. Aku yang keluar dari pintu depan, langsung ke bagasi mengeluarkan
barang-barang bawaan kami. Setelah semua beres, saya pun mendekati si Ajo.
Sambil mengeluarkan dompet, saya bertanya,

" Bara Jo..?" Kataku padanya. Ia pun tersenyum.
" Bara ka Dedi agiah se lah " jawabnya.

Waduh !. Inilah yang sering bikin aku bingung. " Bara ka Dedi agiah " ini
membuatku bingung, karena kalau ngasih dikit, takut jadi ga enak. Kalo
kebanyakan, sayang juga hehe...
Aku memang jarang sekali bepergian dengan taksi atau kendaraan umum. Jadi
tidak mengetahui tarifnya yang pas. Ya sudah, aku perkirakan saja. Kemarin
pas ke bandara dengan taksi argometer, aku kena hampir 100 ribu. Jaraknya
sekitar 3 kali lipat dari yang sekarang. Ku keluarkan uang kertas biru
bertuliskan 50 ribu. Biarlah, kalau kebanyakan, dia pasti kasih kembalian,
pikirku.

" Iko Jo " kataku sambil menyodorkan uang kertas 50 ribu tersebut
kepadanya, yang masih duduk di kursi sopir. I pun menerimanya dan berujar,
"Ndeehh...ndak bao pitih ketek lo doh Ded -a....Jo a ka wak baliak-an ko-a
.." katanya lagi sambil tersenyum.

Hmmmm....
" Yo ndak ba-a doh Jo, baok selah " jawabku padanya. Tetap sambil tersenyum
juga. Itung-itung infak, pikirku. Tapi tadi dia bilang, tak ada kembalian.
Berarti seharusnya kurang dari itu. Syukurlah. Aku memang lebih senang
memberi lebih dari pada kurang, kalau tidak tau yang pasnya. Yah,
itung-itung infak, itulah prinsipku.

Begitulah kalau "awak samo awak ". Berbeda kalau dengan orang lain, yang
lebih tegas dalam menentukan sesuatu. Mungkin karena awak samo awak ini
ibarat satu keluarga, jadi tidak mau terlalu itung-itungan. Namun terus
terang, ini sering membuat ku bingung.

Dua minggu kemudian, aku ada acara lagi. Dan, aku kembali menggunakan jasa
si Ajo pemilik taksi.
Belajar dari kejadian sebelumnya, aku hanya menyerahkan 40 ribu saja. Entah
apa yang ada dalam pikiran si Ajo, aku tak tau. Namun dia tetap tersenyum
menerima uang dariku.
Aku juga tersenyum...hehee...

Lain cerita. Masih tentang Awak Samo Awak ( A.S.A ).
Teringat lagi, saat aku melakukan renovasi rumahku tahun lalu. Karena
bagian depan ku rombak habis, maka meteran listrik harus dipindah dari
tempat aslinya.Saat menanyakan kepada si Pak Cik, orang melayu yang baik
hati dan menjadi tukang bangunan langganan kami, dia menawarkan temannya
yang biasa mindahin meteran listrik itu. Dan temannya mengatakan, biayanya
200 ribu. 200 ribu buat mindahin aja..? Mahal juga pikirku.Tapi aku ingat
lagi, ada teman yang tinggal di blok belakang rumahku, orang Minang juga,
yang kerja di PLN bagian pelanggan. Dia juga biasa mindahin meteran listrik
tersebut.

Setelah aku mendatanginya dan bertanya berapa biaya mindahinya, dia
menjawab,
" Ah, awak samo awak ko ka bara bana nyo Ded. Bara ka Dedi agiah se lah "
katanya.
Itulah urang awak. Tak mau berterus terang didepan. Akhirnya, dengan
prinsip " dari pado lapeh ka urang, bia lah lapeh ka awak juo ", saya
putuskan menggunakan jasa teman urang awak ini.
Singkat kata, pekerjaan memindahkan meteran listrik itu pun selesai.

" Jadi, bara Wen..? " tanyaku pada si Wendri, temanku orang PLN itu. Dia
pun menjawab,
" Agiah se lah 250 ribu Ded. Sagitu biasonyo.."
Upss......250 ribu. Saya pikir, karena "awak samo awak" bisa lebih murah,
ternyata tidak juga, hehee...
Kalo dia bilang itu didepan, mungkin aku akan berpikir pake si Mas teman
Pak Cik tukang bangunan ku itu aja...
Tapi ya sudahlah, itung-itung infak...pikirku lagi..itung-itung bagi rejeki
sama kawan...

Tanpa menawar, kuserahkan uang 250 ribu padanya.
" Mokasih yo Wen.." tak lupa kusampaikan terima kasihku padanya. Dia
menerima duit dari tanganku sambil membalas ucapan terima kasihku dan
sekalian pamit mau pulang. Saat itu sudah sore dan hampir menjelang Maghrib.

Yah......Awak samo Awak.....pikirku...
Hehee...
..........................................................

Dedi
Batam, 36th

*Salam dan Terima Kasih,*
*Dedi Suryadi*


_____________________________________________________________________________
                       *****    Sukses Seringkali Datang Pada Mereka Yang
Berani Bertindak Dan   *****
      ******Jarang Menghampiri Penakut Yang Tidak Berani Mengambil
Konsekuensi (Jawaharlal Nehru**)* *****
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
          "The Best Human Being Among of You is The Most Beneficial for The
Others" (Hadith by Bukhari)
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
****...."Kasihilah Yang Di Bumi, Maka Yang Di Langit Akan Mengasihimu...
".....*****
                  "Love What On Earth, Then What On Sky Will Love You ..."

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke