Suhanallah, Allahummaghfirlaha warhamha waakrim nuzulaha wawasi'madkhalaha 
birahmatika Ya Arhamarrahimin........

Kalau seseorang telah mendapatkan hidayah dan telah memahami islam yang 
sesungguhnya maka ia akan melakukan jihad untuk izzul islam walmuslimin dimana 
dia berada karena itu adalah suatu kewajiban yg tidak boleh ditinggalkan.

Tetapi sangat diherankan kenapa banyak orang orang islam justru melakukan 
sebaliknya tidak berusaha menegakkan izzul isalam walmuslimin itu, 
na'uzubillahi minzalik,

Afrijon Ponggok
Katik Basa Batuah
LL, Pisang, Batipuah, Tanah Datar, 

Dikirim dari iPhone saya

Pada 14 Jul 2013, pukul 10:53, "ZulTan" <[email protected]> menulis:

> 
> November 10, 2010 By 
> Abu Dujanah
> 
> kisahmuallaf.com – Tak banyak orang yang mengenal Aminah Assilmi. Ia adalah 
> Presiden Internasional Union of Muslim Women yang telah meninggal dunia pada 
> 6 Maret 2010, dalam sebuah kecelakaan mobil di Newport, Tennesse, Amerika 
> Serikat.
> Perjalanannya menuju Islam cukup unik. Perjalanan yang patut dikenang. 
> Semuanya berawal dari kesalahan kecil sebuah komputer. Mulanya, ia adalah 
> seorang gadis jemaat Southern Baptist–aliran gereja Protestan terbesar di AS, 
> seorang feminis radikal, dan 
> jurnalis penyiaran.
> 
> Sewaktu muda, ia bukan gadis yang biasa-biasa saja, tapi cerdas dan unggul di 
> sekolah sehingga mendapatkan beasiswa. Satu hari, sebuah kesalahan komputer 
> terjadi. Siapa sangka, hal itu membawanya kepada misi sebagai seorang Kristen 
> dan mengubah jalan hidupnya secara keseluruhan.
> 
> Tahun 1975 untuk pertama kali komputer dipergunakan untuk proses 
> pra-registrasi di kampusnya. Sebenarnya, ia mendaftar ikut sebuah kelas dalam 
> bidang terapi rekreasional, namun komputer mendatanya masuk dalam kelas 
> teater. Kelas tidak bisa dibatalkan, karena sudah terlambat. Membatalkan 
> kelas juga bukan pilihan, karena sebagai penerima beasiswa nilai F berarti 
> bahaya.  Lantas, suaminya menyarankan agar Aminah menghadap dosen untuk 
> mencari alternatif dalam kelas pertunjukan. Dan betapa terkejutnya ia, karena 
> kelas dipenuhi dengan anak-anak Arab dan ‘para penunggang unta’. Tak sanggup, 
> ia pun pulang ke rumah dan memutuskan untuk tidak masuk kelas lagi. Tidak 
> mungkin baginya untuk berada di tengah-tengah orang Arab. ”Tidak mungkin saya 
> duduk di kelas yang penuh dengan orang kafir!” ujarnya kala itu.
> 
> Suaminya coba menenangkannya dan mengatakan mungkin Tuhan punya suatu rencana 
> dibalik kejadian itu. Selama dua hari Aminah mengurung diri untuk berpikir, 
> hingga akhirnya ia berkesimpulan mungkin itu adalah petunjuk dari Tuhan, agar 
> ia membimbing orang-orang Arab untuk memeluk Kristen. Jadilah ia memiliki 
> misi yang harus ditunaikan. Di kelas ia terus mendiskusikan ajaran Kristen 
> dengan teman-teman Arab-nya.
> 
> “Saya memulai dengan mengatakan bahwa mereka akan dibakar di neraka jika 
> tidak menerima Yesus sebagai penyelamat. Mereka sangat sopan, tapi tidak 
> pindah agama. Kemudian saya jelaskan betapa Yesus mencintai dan rela mati di 
> tiang salib untuk menghapus dosa-dosa mereka.”
> 
> Tapi ajakannya tidak manjur. Teman-teman di kelasnya tak mau berpaling 
> sehingga ia memutuskan untuk mempelajari alquran untuk menunjukkan bahwa 
> Islam adalah agama yang salah dan Muhammad bukan seorang nabi. Ia pun 
> melakukan penelitian selama satu setengah tahun dan membaca alquran hingga 
> tamat.
> 
> Namun secara tidak sadar, ia perlahan berubah menjadi seseorang yang berbeda, 
> dan suaminya memperhatikan hal itu. ”Saya berubah, sedikit, tapi cukup 
> membuat dirinya terusik. Biasanya kami pergi ke bar tiap Jumat dan Sabtu atau 
> ke pesta. Dan saya tidak lagi mau pergi. Saya menjadi lebih pendiam dan 
> menjauh.”
> 
> Melihat perubahan yang terjadi, suaminya menyangka ia selingkuh, karena bagi 
> pria itulah yang membuat seorang wanita berubah. Puncaknya, ia diminta untuk 
> meninggalkan rumah dan tinggal di apartemen yang berbeda. Ia terus 
> mempelajari Islam, sambil tetap menjadi seorang Kristen yang taat.
> 
> Hingga akhirnya, hidayah itu datang. Akhirnya pada 21 Mei 1977, jemaat gereja 
> yang taat itu menyatakan, ”Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah 
> dan Muhammad adalah utusan-Nya.”
> 
> Perjalanan setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, seperti halnya mualaf 
> lain, bukanlah perkara yang mudah. Aminah kehilangan segala yang dicintainya. 
> Ia kehilangan hampir seluruh temannya, karena dianggap tidak menyenangkan 
> lagi. Ibunya tidak bisa menerima dan berharap itu hanyalah semangat membara 
> yang akan segera padam. Saudara perempuannya yang ahli jiwa mengira ia gila. 
> Ayahnya yang lemah lembut mengokang senjata dan siap untuk membunuhnya.
> Tak lama kemudian ia pun mengenakan hijab. Pada hari yang sama ia kehilangan 
> pekerjaannya.
> Lengkap sudah. Ia hidup tanpa ayah, ibu, saudara, teman dan pekerjaan. Jika 
> dulu ia hanya hidup terpisah dengan suami, kini perceraian di depan mata. Di 
> pengadilan ia harus membuat keputusan pahit dalam hidupnya; melepaskan Islam 
> dan tidak akan kehilangan hak asuh atas anaknya atau tetap memegang Islam dan 
> harus meninggalkan anak-anak. 
> 
> ”Itu adalah 20 menit yang paling menyakitkan dalam hidup saya,” kenangnya.
> Bertambah pedih karena 
> dokter telah memvonisnya tidak akan lagi bisa memiliki anak akibat komplikasi 
> yang dideritanya. ”Saya berdoa melebihi dari yang biasanya. Saya tahu, tidak 
> ada tempat yang lebih aman bagi anak-anak saya daripada berada di tangan 
> Allah. Jika saya mengingkari-Nya, maka di masa depan tidak mungkin bagi saya 
> menunjukkan kepada mereka betapa menakjubkannya berada dekat dengan Allah.” 
> Ia pun memutuskan melepaskan anak-anaknya, sepasang putra-putri kecilnya.
> 
> Namun, Allah Maha Pengasih. Ia diberikan anugerah dengan kata-katanya yang 
> indah sehingga membuat banyak orang tersentuh dan perilaku Islami-nya. Dia 
> telah berubah menjadi orang yang berbeda, jauh lebih baik. Begitu baiknya 
> sehingga keluarga, teman dan kerabat yang dulu memusuhinya, perlahan mulai 
> menghargai pilihan hidupnya.
> 
> Dalam berbagai kesempatan ia mengirim kartu ucapan untuk mereka, yang 
> ditulisi kalimat-kalimat bijak dari ayat Al-Quran atau hadist, tanpa 
> menyebutkan sumbernya. Beberapa waktu kemudian ia pun menuai benih yang 
> ditanam. Orang pertama yang menerima Islam adalah neneknya yang berusia lebih 
> dari 100 tahun. Tak lama setelah masuk Islam sang nenek pun meninggal dunia.
> 
> ”Pada hari ia mengucapkan syahadat, seluruh dosanya diampuni, dan amal-amal 
> baiknya tetap dicatat. Sejenak setelah memeluk Islam ia meninggal dunia, saya 
> tahu buku catatan amalnya berat di sisi kebaikan. Itu membuat saya dipenuhi 
> suka cita!”
> Selanjutnya yang menerima Islam adalah orang yang dulu ingin membunuhnya, 
> ayah.
> Keislaman sang ayah mengingatkan dirinya pada kisah Umar bin Khattab. Dua 
> tahun setelah Aminah memeluk Islam, ibunya menelepon dan sangat menghargai 
> keyakinannya yang baru. Dan ia berharap Aminah akan tetap memeluknya.
> 
> Beberapa tahun kemudian ibu meneleponnya lagi dan bertanya apa yang harus 
> dilakukan seseorang jika ingin menjadi Muslim. Aminah menjawab bahwa ia harus 
> percaya bahwa hanya ada satu Tuhan dan Muhammad adalah utusan-Nya. ”Kalau itu 
> semua orang bodoh juga tahu. Tapi apa yang harus dilakukannya?” tanya ibunya 
> lagi.
> 
> Dikatakan oleh Aminah, bahwa jika ibunya sudah percaya berarti ia sudah 
> Muslim. Ibunya lantas berkata, ”OK, baiklah. Tapi jangan bilang-bilang ayahmu 
> dulu,” pesan ibunya. Ibunya tidak tahu bahwa suaminya (ayah tiri Aminah) 
> telah menjadi Muslim beberapa pekan sebelumnya. Dengan demikian mereka 
> tinggal bersama selama beberapa tahun tanpa saling mengetahui bahwa 
> pasangannya telah memeluk Islam.
> 
> Saudara perempuannya yang dulu berjuang memasukkan Aminah ke rumah sakit 
> jiwa, akhirnya memeluk Islam. Putra Aminah beranjak dewasa. Memasuki usia 21 
> tahun ia menelepon sang ibu dan berkata ingin menjadi muslim.
> 
> Enam belas tahun setelah perceraian, mantan suaminya juga memeluk Islam. 
> Katanya, selama enam belas tahun ia mengamati Aminah dan ingin agar putri 
> mereka memeluk agama yang sama seperti ibunya. Pria itu datang menemui dan 
> meminta maaf atas apa yang pernah dilakukannya. Ia adalah pria yang sangat 
> baik dan Aminah telah memaafkannya sejak dulu.
> 
> Mungkin hadiah terbesar baginya adalah apa yang ia terima selanjutnya. Aminah 
> menikah dengan orang lain, dan meskipun dokter telah menyatakan ia tidak bisa 
> punya anak lagi, Allah ternyata menganugerahinya seorang putra yang rupawan. 
> Jika Allah berkehendak memberikan rahmat kepada seseorang, maka siapa yang 
> bisa mencegahnya? Maka putranya ia beri nama Barakah. Demikian seperti 
> dilansir situs Republika Online.
> 
> Ia yang dulu kehilangan pekerjaan, kini menjadi Presiden Persatuan Wanita 
> Muslim Internasional. Ia berhasil melobi Kantor Pos Amerika Serikat untuk 
> membuat perangko Idul Fitri dan berjuang agar hari raya itu menjadi hari 
> libur nasional AS. Pengorbanan yang yang dulu diberikan Aminah demi 
> mempertahankan Islam seakan sudah terbalas.
> 
> ”Kita semua pasti mati. Saya yakin bahwa kepedihan yang saya alami mengandung 
> berkah.”
> 
> Aminah Assilmi kini telah tiada meninggalkan semua yang dikasihinya. Termasuk 
> putranya yang dirawat di rumah sakit, akibat kecelakaan mobil dalam 
> perjalanan pulang dari New York untuk mengabarkan pesan tentang Islam.
>  
> 
> Salam,
> ZulTan, L, 52, Bogor
> 
> -- 
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
>  1. Email besar dari 200KB;
>  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
>  3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
> subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> --- 
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
> Google.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
> email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
> 
> 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke