November 10, 2010 By 
Abu Dujanah

kisahmuallaf.com – Tak banyak orang yang mengenal Aminah Assilmi. Ia adalah 
Presiden Internasional Union of Muslim Women yang telah meninggal dunia pada 6 
Maret 2010, dalam sebuah kecelakaan mobil di Newport, Tennesse, Amerika Serikat.
Perjalanannya menuju Islam cukup unik. Perjalanan yang patut dikenang. Semuanya 
berawal dari kesalahan kecil sebuah komputer. Mulanya, ia adalah seorang gadis 
jemaat Southern Baptist–aliran gereja Protestan terbesar di AS, seorang feminis 
radikal, dan 
jurnalis penyiaran.

Sewaktu muda, ia bukan gadis yang biasa-biasa saja, tapi cerdas dan unggul di 
sekolah sehingga mendapatkan beasiswa. Satu hari, sebuah kesalahan komputer 
terjadi. Siapa sangka, hal itu membawanya kepada misi sebagai seorang Kristen 
dan mengubah jalan hidupnya secara keseluruhan.

Tahun 1975 untuk pertama kali komputer dipergunakan untuk proses pra-registrasi 
di kampusnya. Sebenarnya, ia mendaftar ikut sebuah kelas dalam bidang terapi 
rekreasional, namun komputer mendatanya masuk dalam kelas teater. Kelas tidak 
bisa dibatalkan, karena sudah terlambat. Membatalkan kelas juga bukan pilihan, 
karena sebagai penerima beasiswa nilai F berarti bahaya.  Lantas, suaminya 
menyarankan agar Aminah menghadap dosen untuk mencari alternatif dalam kelas 
pertunjukan. Dan betapa terkejutnya ia, karena kelas dipenuhi dengan anak-anak 
Arab dan ‘para penunggang unta’. Tak sanggup, ia pun pulang ke rumah dan 
memutuskan untuk tidak masuk kelas lagi. Tidak mungkin baginya untuk berada di 
tengah-tengah orang Arab. ”Tidak mungkin saya duduk di kelas yang penuh dengan 
orang kafir!” ujarnya kala itu.

Suaminya coba menenangkannya dan mengatakan mungkin Tuhan punya suatu rencana 
dibalik kejadian itu. Selama dua hari Aminah mengurung diri untuk berpikir, 
hingga akhirnya ia berkesimpulan mungkin itu adalah petunjuk dari Tuhan, agar 
ia membimbing orang-orang Arab untuk memeluk Kristen. Jadilah ia memiliki misi 
yang harus ditunaikan. Di kelas ia terus mendiskusikan ajaran Kristen dengan 
teman-teman Arab-nya.

“Saya memulai dengan mengatakan bahwa mereka akan dibakar di neraka jika tidak 
menerima Yesus sebagai penyelamat. Mereka sangat sopan, tapi tidak pindah 
agama. Kemudian saya jelaskan betapa Yesus mencintai dan rela mati di tiang 
salib untuk menghapus dosa-dosa mereka.”

Tapi ajakannya tidak manjur. Teman-teman di kelasnya tak mau berpaling sehingga 
ia memutuskan untuk mempelajari alquran untuk menunjukkan bahwa Islam adalah 
agama yang salah dan Muhammad bukan seorang nabi. Ia pun melakukan penelitian 
selama satu setengah tahun dan membaca alquran hingga tamat.

Namun secara tidak sadar, ia perlahan berubah menjadi seseorang yang berbeda, 
dan suaminya memperhatikan hal itu. ”Saya berubah, sedikit, tapi cukup membuat 
dirinya terusik. Biasanya kami pergi ke bar tiap Jumat dan Sabtu atau ke pesta. 
Dan saya tidak lagi mau pergi. Saya menjadi lebih pendiam dan menjauh.”

Melihat perubahan yang terjadi, suaminya menyangka ia selingkuh, karena bagi 
pria itulah yang membuat seorang wanita berubah. Puncaknya, ia diminta untuk 
meninggalkan rumah dan tinggal di apartemen yang berbeda. Ia terus mempelajari 
Islam, sambil tetap menjadi seorang Kristen yang taat.

Hingga akhirnya, hidayah itu datang. Akhirnya pada 21 Mei 1977, jemaat gereja 
yang taat itu menyatakan, ”Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan 
Muhammad adalah utusan-Nya.”

Perjalanan setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, seperti halnya mualaf 
lain, bukanlah perkara yang mudah. Aminah kehilangan segala yang dicintainya. 
Ia kehilangan hampir seluruh temannya, karena dianggap tidak menyenangkan lagi. 
Ibunya tidak bisa menerima dan berharap itu hanyalah semangat membara yang akan 
segera padam. Saudara perempuannya yang ahli jiwa mengira ia gila. Ayahnya yang 
lemah lembut mengokang senjata dan siap untuk membunuhnya.
Tak lama kemudian ia pun mengenakan hijab. Pada hari yang sama ia kehilangan 
pekerjaannya.
Lengkap sudah. Ia hidup tanpa ayah, ibu, saudara, teman dan pekerjaan. Jika 
dulu ia hanya hidup terpisah dengan suami, kini perceraian di depan mata. Di 
pengadilan ia harus membuat keputusan pahit dalam hidupnya; melepaskan Islam 
dan tidak akan kehilangan hak asuh atas anaknya atau tetap memegang Islam dan 
harus meninggalkan anak-anak. 

”Itu adalah 20 menit yang paling menyakitkan dalam hidup saya,” kenangnya.
Bertambah pedih karena 
dokter telah memvonisnya tidak akan lagi bisa memiliki anak akibat komplikasi 
yang dideritanya. ”Saya berdoa melebihi dari yang biasanya. Saya tahu, tidak 
ada tempat yang lebih aman bagi anak-anak saya daripada berada di tangan Allah. 
Jika saya mengingkari-Nya, maka di masa depan tidak mungkin bagi saya 
menunjukkan kepada mereka betapa menakjubkannya berada dekat dengan Allah.” Ia 
pun memutuskan melepaskan anak-anaknya, sepasang putra-putri kecilnya.

Namun, Allah Maha Pengasih. Ia diberikan anugerah dengan kata-katanya yang 
indah sehingga membuat banyak orang tersentuh dan perilaku Islami-nya. Dia 
telah berubah menjadi orang yang berbeda, jauh lebih baik. Begitu baiknya 
sehingga keluarga, teman dan kerabat yang dulu memusuhinya, perlahan mulai 
menghargai pilihan hidupnya.

Dalam berbagai kesempatan ia mengirim kartu ucapan untuk mereka, yang ditulisi 
kalimat-kalimat bijak dari ayat Al-Quran atau hadist, tanpa menyebutkan 
sumbernya. Beberapa waktu kemudian ia pun menuai benih yang ditanam. Orang 
pertama yang menerima Islam adalah neneknya yang berusia lebih dari 100 tahun. 
Tak lama setelah masuk Islam sang nenek pun meninggal dunia.

”Pada hari ia mengucapkan syahadat, seluruh dosanya diampuni, dan amal-amal 
baiknya tetap dicatat. Sejenak setelah memeluk Islam ia meninggal dunia, saya 
tahu buku catatan amalnya berat di sisi kebaikan. Itu membuat saya dipenuhi 
suka cita!”
Selanjutnya yang menerima Islam adalah orang yang dulu ingin membunuhnya, ayah.
Keislaman sang ayah mengingatkan dirinya pada kisah Umar bin Khattab. Dua tahun 
setelah Aminah memeluk Islam, ibunya menelepon dan sangat menghargai 
keyakinannya yang baru. Dan ia berharap Aminah akan tetap memeluknya.

Beberapa tahun kemudian ibu meneleponnya lagi dan bertanya apa yang harus 
dilakukan seseorang jika ingin menjadi Muslim. Aminah menjawab bahwa ia harus 
percaya bahwa hanya ada satu Tuhan dan Muhammad adalah utusan-Nya. ”Kalau itu 
semua orang bodoh juga tahu. Tapi apa yang harus dilakukannya?” tanya ibunya 
lagi.

Dikatakan oleh Aminah, bahwa jika ibunya sudah percaya berarti ia sudah Muslim. 
Ibunya lantas berkata, ”OK, baiklah. Tapi jangan bilang-bilang ayahmu dulu,” 
pesan ibunya. Ibunya tidak tahu bahwa suaminya (ayah tiri Aminah) telah menjadi 
Muslim beberapa pekan sebelumnya. Dengan demikian mereka tinggal bersama selama 
beberapa tahun tanpa saling mengetahui bahwa pasangannya telah memeluk Islam.

Saudara perempuannya yang dulu berjuang memasukkan Aminah ke rumah sakit jiwa, 
akhirnya memeluk Islam. Putra Aminah beranjak dewasa. Memasuki usia 21 tahun ia 
menelepon sang ibu dan berkata ingin menjadi muslim.

Enam belas tahun setelah perceraian, mantan suaminya juga memeluk Islam. 
Katanya, selama enam belas tahun ia mengamati Aminah dan ingin agar putri 
mereka memeluk agama yang sama seperti ibunya. Pria itu datang menemui dan 
meminta maaf atas apa yang pernah dilakukannya. Ia adalah pria yang sangat baik 
dan Aminah telah memaafkannya sejak dulu.

Mungkin hadiah terbesar baginya adalah apa yang ia terima selanjutnya. Aminah 
menikah dengan orang lain, dan meskipun dokter telah menyatakan ia tidak bisa 
punya anak lagi, Allah ternyata menganugerahinya seorang putra yang rupawan. 
Jika Allah berkehendak memberikan rahmat kepada seseorang, maka siapa yang bisa 
mencegahnya? Maka putranya ia beri nama Barakah. Demikian seperti dilansir 
situs Republika Online.

Ia yang dulu kehilangan pekerjaan, kini menjadi Presiden Persatuan Wanita 
Muslim Internasional. Ia berhasil melobi Kantor Pos Amerika Serikat untuk 
membuat perangko Idul Fitri dan berjuang agar hari raya itu menjadi hari libur 
nasional AS. Pengorbanan yang yang dulu diberikan Aminah demi mempertahankan 
Islam seakan sudah terbalas.

”Kita semua pasti mati. Saya yakin bahwa kepedihan yang saya alami mengandung 
berkah.”

Aminah Assilmi kini telah tiada meninggalkan semua yang dikasihinya. Termasuk 
putranya yang dirawat di rumah sakit, akibat kecelakaan mobil dalam perjalanan 
pulang dari New York untuk mengabarkan pesan tentang Islam.
 

Salam,
ZulTan, L, 52, Bogor

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke