Sanak2 sa palanta yth.
Mudah2an artikel berikut bermanfa'at bagi para Lansia (termasuk saya...hehe) 
dan calon Lansia
Salam
FMNS
L65bdg

Menjadi Tua Itu Pasti, Menjadi Tua yang Sehat Itu Pilihan
Oleh: Aditya Rangga Fandiarta | 15 July 2013 | 17:35 WIB

Pak tua, begitu kakek berusia 68 tahun itu sering disapa. Istrinya meninggal 
lebih dulu karena kecelakaan. Sebagian besar dari anak-anaknya sudah pergi 
merantau, kesehariannya hanya ditemani oleh Siti, putri bungsunya. Riwayat 
penyakit darah tinggi sudah lama diderita, pak tua memang malas untuk periksa 
tensinya di Puskesmas tiap bulan, obat darah tinggi yang diberikan juga sering 
lupa diminum. Akibat dari tabiatnya ini, sejak usia 40 tahun, tangan dan kaki 
kanan pak tua lumpuh karena serangan stroke.
Kesehariannya pak tua sering marah-marah ke Siti. Dengan kondisinya yang tidak 
prima lagi, pak tua memang mudah lapar akan perhatian. Kualitas hidupnya 
menurun, aktivitas pokok yang sederhana seperti mandi, memakai baju dan makan 
sendiri sampai harus dibantu.
Cuplikan cerita diatas menggambarkan realita buruk yang mungkin akan kita, 
orang tua kita atau saudara kita alami. 

Normalnya, masa tua 
secara alami akan kita lalui. Penuaan adalah proses penurunan dari berbagai 
fungsi tubuh secara bertahap dan berkelanjutan. Sebenarnya proses penuaan sudah 
terjadi saat kita kecil hanya saja manifestasi dari penuaan mulai terlihat 
rata-rata pada usia 30 tahun. Organisasi kesehatan dunia dan UU No 13 tahun 
1998 tentang kesejahteraan lansia, sama-sama sepakat bahwa titik awal memasuki 
lansia adalah 60 tahun.
Dunia mengalami penuaan cepat, pada tahun 2050 jumlah lansia di dunia sekitar  
2 miliar. Menurut riset kementrian kesehatan, pada tahun 2020 diperkirakan 
jumlah lansia di Indonesia akan meningkat menjadi 28,8 juta atau 11,34% dari 
total jumlah penduduk. Hal positifnya berarti usia harapan hidup meningkat 
sedangkan hal negatifnya berarti ancaman terhadap masalah kesehatan fisik dan 
psikologis lansia pun meningkat.

Sampai sekarang mekanisme perubahan muda menjadi tua masih misteri. Faktor 
genetik dan lingkungan berperan penting dalam proses penuaan. Salah satu teori 
tentang penuaan yang terkenal adalah teori radikal bebas. Ikatan molekul yang 
menyusun tubuh kita sangat kuat dan terstruktur. Radikal bebas membuat ikatan 
antar molekul penyusun tubuh menjadi lemah dan rusak. Radikal bebas itu bisa 
dihasilkan oleh tubuh sebagai hasil proses metabolisme normal, proses 
peradangan jaringan tubuh karena penyakit ataupun pengaruh dari lingkungan 
seperti radiasi sinar ultraviolet dan polusi udara.

Perubahan Fungsi Tubuh dan Permasalahannya
Proses penurunan fungsi tubuh terjadi pada seluruh sistem organ. Pada organ 
penglihatan terjadi penurunan ketajaman penglihatan (rabun), lensa mata keruh 
(katarak). Pada organ pendengaran, sel penghantar stimulus suara di telinga 
mulai berkurang sensitifitasnya akibatnya berkurang pula ketajaman 
pendengarannya. Pada jantung, pompa jantung menjadi tidak efektif akibatnya 
darah yang dipompa ke seluruh tubuh berkurang, hal ini akan diperparah jika 
sebelumnya memiliki riwayat penyakit jantung atau pembuluh darah. Pada 
paru-paru, jaringan elastik makin menurun akibatnya paru-paru terlalu 
mengembang sulit kembali ke ukuran semula, gerakan bulu-bulu getar pada cabang 
saluran nafas juga semakin melambat akibatnya jika ada benda asing maka usaha 
untuk mengeluarkannya juga akan terhambat, semua penurunan fungsi ini akan 
semakin parah jika saluran nafas sudah rusak oleh karena kebiasaan merokok saat 
usia muda. Gerakan usus besar juga semakin menurun akibatnya lansia sering 
mengalami konstipasi (sulit BAB). Otot dasar panggul juga semakin lemah 
akibatnya lansia sering mengalami inkontinensia (sulit menahan keinginan 
berkemih). Mulai terjadi pengeroposan tulang, kerusakan tulang rawan dan 
kekeringan cairan sendi akibatnya aktivitas lansia juga seringkali berkurang 
karena mobilitas semakin sulit, hal ini juga menyebabkan terganggunya 
keseimbangan gerak sehingga rentan terjatuh. 
Otak yang merupakan pusat berpikir dan emosi perlahan mengalami penurunan 
fungsi. Selain masalah fisik yang mengganggu, masalah emosi atau kejiwaan juga 
dialami lansia. Gejala penurunan fungsi kognitif atau bahasa awamnya pikun 
merupakan masalah kejiwaan yang sering dialami para lansia. Kepikunan ini bisa 
parah, sampai ada gangguan untuk memutuskan sesuatu, gangguan melakukan sesuatu 
dalam urutan, ganguan emosi dan perilaku seperti mudah marah, impulsif. Pada 
akhirnya kondisi ini akan mengganggu kehidupan sosial dan pekerjaannya. Dalam 
dunia medis kondisi ini disebut sebagai demensia. Masalah kejiwaan lain yang 
seringkali dialami para lansia adalah depresi. Gejala depresi pada lansia 
meliputi lemah hilang tenaga, sulit berkonsentrasi, gangguan tidur biasanya 
terbangun lebih awal atau sering terbangun saat tidur, nafsu makan berkurang 
atau keluhan tubuh lainnya seperti pegal-pegal, nyeri perut, nyeri kepala, 
pusing dan lainnya. Depresi pada lansia akan semakin parah jika sebelumnya 
sudah menderita penyakit kronis dan pada lansia yang hidup sendiri. Gejala 
fisik depresi pada lansia seringkali sulit dibedakan dengan gejala penyakit 
lainnya. Karena masalah kesehatannya banyak, seringkali lansia sering 
mengkonsumsi obat yang tidak sedikit jumlahnya (polifarmasi), akibatnya efek 
samping dan interaksi obat tersebut yang akhirnya makin mengganggu kesehatannya 
sendiri.

Kane & Ouslander merangkum masalah lansia menjadi “14 I geriatric giant” yang 
terdiri dari Immobility (imobilitas/kurang bergerak), Instability (gerakan 
tidak stabil), Incontinence (inkontinensia), Intellectual impairment (gangguan 
berpikir), Infection (infeksi), Impairment of hearing and vision (gangguan 
penglihatan dan pendengaran), Impaction (konstipasi), Isolation (terisolasi dan 
depresi), Inanition (masalah nutrisi), Impecunity (kemiskinan), Iatrogenics 
(iatrogenesis/masalah karena efek samping medis), Insomnia (insomnia), 
Immunodeficiency (imunitas turun), Impotence (impotensi). Semua masalah itu 
membuat lansia menjadi rapuh (frail elderly).

Menjadi Tua Yang Sehat (Healthy Aging)
Penuaan itu sebuah proses kehidupan, sudah sewajarnya proses ini terjadi. 
Proses penuaan yang sehat bukan berarti kondisi usia tua tanpa adanya penurunan 
fungsi tubuh, tapi lebih kepada proses adaptasi yang baik terhadap semua 
penurunan fungsi tubuh itu. Bryant LL pada jurnal yang berjudul In their own 
word : A model of healthy aging mengatakan penuaan yang sehat itu meliputi :
1. Peluang rendah terserang penyakit dan mengalami disabilitas
2. Fungsi kognitif dan fisik yang baik
3. Berperan aktif dalam kehidupan, memiliki hubungan interpersonal baik dan 
aktivitas yang produktif.

Hal ini sejalan dengan definisi sehat menurut organisasi kesehatan dunia yaitu 
keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang 
hidup produktif secara sosial dan ekonomis. 
Untuk menjadi tua yang sehat dan mandiri perlu persiapan dari segala aspek, 
baik fisik, mental dan sosial. Berikut tips yang bisa dilakukan.
1. Menjaga kesehatan fisik
Semua orang tentunya sepakat dengan pernyataan mencegah penyakit lebih baik 
daripada mengobati penyakit. Untuk menjaga kesehatan fisik dapat dimulai dengan 
memperbaiki gaya hidup yang meliputi perbaikan pola makan dan olah raga. 
Makanan harus dengan porsi dan komposisi yang sesuai yaitu mencukupi kebutuhan 
karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Makanlah dengan porsi sedikit 
tapi sering, setiap harinya ganti variasi makanan agar tidak bosan. Hindari 
makanan tinggi garam, tinggi lemak, tinggi gula. Makanan berserat seperti buah 
dan sayur tidak boleh lupa. Pastikan asupan cairan cukup. Makanan yang direbus 
atau dipanggang lebih mudah dicerna daripada makanan yang digoreng. Lumatkan 
makanan supaya lebih mudah ditelan. Tidak ada salahnya lansia konsultasi ke 
dokter gizi untuk mengetahui berapa porsi makanan yang sesuai dengan kebutuhan 
kalori perharinya, ingat masalah gizi pada lansia tidak hanya gizi kurang tapi 
bisa saja gizi lebih.
Jenis olah raga yang direkomendasikan untuk lansia menurut organisasi kesehatan 
dunia adalah aktivitas fisik rekreasi mengisi waktu luang seperti olah raga 
permainan atau hanya sekedar jalan cepat atau bersepeda. Buatlah jadwal porsi 
olahraga, setidaknya akumulasi 150 menit dalam seminggu untuk olahraga 
intensitas sedang atau 75 menit dalam seminggu untuk olah raga intensitas 
berat. Intensitas olah raga sangat bergantung pada kemampuan lansia, jangan 
terlalu memaksakan diri. Olah raga aerobik seperti joging, bersepeda sebaiknya 
dilakukan minimal 10 menit tiap harinya. Untuk lansia yang memiliki penyakit 
paru-paru,  jantung pembuluh darah, diabetes sebaiknya konsultasikan ke dokter 
sebelum berolahraga.
2. Mengendalikan stress
Memasuki usia tua, maksimalkan kesempatan lansia untuk menyalurkan hobi yang 
disenangi. Dengan kreativitas, beberapa hobi dapat dikembangkan untuk investasi 
hidup agar tidak bergantung pada keluarga. Biarkan mereka menikmati masa 
tuanya. Sarankan permainan yang melatih kognitif, seperti teka-teki silang atau 
permainan acak kata. Jika dihadapkan pada suatu masalah, cobalah bercerita ke 
keluarga atau teman dekat. Perubahan yang terjadi saat memasuki usia lanjut 
perlahan akan terjadi, jangan terlalu memikirkan hal yang sulit diubah, 
fokuskan padahal hal yang bisa diselesaikan dan dicegah, hadapi keterbatasan 
dengan optimis percaya diri.
3. Bangun supporting system
Supporting system disini meliputi peran keluarga, teman dekat, bahkan peran 
dokter keluarga untuk menyokong kehidupan lansia agar sehat dan produktif 
menjalani hidup. Tingkatkan hubungan interpersonal dengan keluarga dan teman 
dekat, hubungi mereka dan luangkan waktu bersama mereka, jika semua keluarga 
dekat jauh minimal dengan tetangga. Manusia adalah makhluk sosial, tidak 
mungkin bisa berdiri sendiri. Sebisa mungkin aktif dalam kegiatan sosial 
masyarakat di lingkungan, semakin banyak teman semakin tidak terasa kesepian. 
Ingat, kesendirian dan kondisi terisolasi merupakan faktor risiko masalah 
kesehatan jiwa lansia. Jangan ragu untuk mencari informasi kesehatan dari 
dokter untuk menambah pengetahuan.

Menjadi tua itu pasti, menjadi tua yang sehat adalah pilihan. Semua bisa 
memiliki kesempatan untuk menikmati masa tua yang sehat. Hal yang terpenting 
untuk mencapainya adalah mempersiapkannya, jagalah kesehatan saat masih muda, 
siapkan tabungan dan investasi untuk memenuhi kebutuhan finansial usia tua.

Aditya Rangga Fandiarta, dr.
Dokter Umum


Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke