January 12, 2011 By 
Abu Dujanah 

kisahmuallaf.com – Dilahirkan dengan menyandang nama besar Maramis, kehidupan 
yang dilalui oleh Roger Maramis sangatlah 
unik dan penuh tantangan. Ia merupakan keponakan dari tokoh nasionalis 
Kristen asal Manado dan mantan menteri keuangan Republik 
Indonesia yang pertama, yaitu Alexander Andris Maramis atau biasa dikenal 
dengan Mr AA Maramis.
 
Ayahnya bernama Bernardus Maramis dan merupakan adik bungsu dari AA Maramis 
sementara ibunya bernama Lili Amelia. Seperti keluarga yang bermarga Maramis 
lainnya, Roger dilahirkan dalam lingkungan Kristen yang taat.
  Bahkan Ia menjadi seorang 
evangelis (penginjil) yang tugas utamanya melakukan kristenisasi dengan sasaran 
umat Islam.
  
Roger dilahirkan di Malang, 26 Juni 1964. Seperti keluarga Maramis lainnya, dia 
sangat taat menjalankan ibadah Kristen. Ia kemudian masuk sekolah teologi di 
Bandung. Lulus dari sekolah teologi, ia kemudian menjadi seorang penginjil. 
Tugasnya adalah masuk ke daerah-daerah di mana banyak umat Islam namun secara 
ekonomi kehidupan mereka melarat. Dengan berkedok membantu secara ekonomi, 
Roger kemudian melancarkan jurus-jurusnya sebagai penginjil.
 
Berbagai daerah di Indonesia pernah dimasukinya. Berkat usahanya, menurut 
pengakuannya, sekitar 99 orang Islam berhasil dikristenkannya. ”Dari tadinya 
melarat, saya bantu sampai kaya. Jadi mereka pun tidak berdaya ketika saya 
baptis,” ujarnya kepada Republika pekan lalu.
  Namun seiring dengan kegiatannya sebagi penginjil, Roger selalu merenung 
untuk mencari kebenaran hakiki. Ia pun sering bertanya-tanya kenapa hanya orang 
Islam yang dijadikan target kristenisasi. Ada apa dengan Islam. Dalam hati 
kecilnya, ia mengakui bahwa tindakannya melakukan kristenisasi adalah tindakan 
yang curang. ”Saya kemudian melakukan doa malam agar ditunjukkan mana yang 
benar apakah Bibel atau Alquran,” ujarnya menceritakan perenungan batinnya.
 
Pada fase perenungan itu, Roger mengaku dilanda kebingungan. ”Saya bingung, 
umat Kristen menuding umat Islam sebagai kafir. Begitu juga umat Islam menuding 
umat Kristen yang kafir,” katanya.
  Perenungan dan doanya kemudian menghasilkan sebuah pengalaman gaib pada suatu 
malam sekitar 1987-an. Antara sadar dan tidak, Roger melihat sebuah sinar masuk 
ke kamar tidurnya dan menerangi kamarnya dengan sangat terang dan belum pernah 
dialaminya seumur hidupnya.
Roger pun menceritakan bahwa dari kedua sinar tersebut muncul dua kitab yaitu 
Bibel dan Alquran. ”Namun sinar dari Alquran lebih terang dan akhirnya menutupi 
sinar yang keluar dari Bibel,” katanya. Ia kemudian bertanya-tanya apakah ini 
petunjuk dari Tuhan kepadanya atas pergolakan batin yang dialaminya saat itu.
  Kemudian secara ajaib, Alquran yang dilihatnya itu tiba-tiba terbuka pada 
surat Ali Imran ayat 19 yang berbunyi, ”Sesungguhnya agama yang paling mulia di 
sisi Allah adalah Islam”. ”Saya belum yakin apakah itu mimpi atau nyata,” 
katanya. Akhirnya dengan kesibukannya sebagai penginjil, pikirannya beralih 
dari pengalaman itu. Namun ia tidak lupa sama sekali dengan pengalamannya itu.
 
Lima tahun kemudian, tepatnya 8 September 1992, Roger mengaku mengalami lagi 
kejadian tersebut dengan alur yang hampir persis sama. Dan ketika terjaga, ia 
yakin bahwa itu merupakan hidayah dari Allah SWT. Akhirnya ia bertekad untuk 
meyakini Islam sebagai agama yang benar. ”Allah telah mendengar doa saya,” 
ujarnya.
 
Sejak saat itu, Roger mulai sering ke masjid untuk belajar tata cara shalat. 
Lama kelamaan ia menguasai cara melakukan shalat. Selama setahun kemudian, ia 
telah menjalankan ibadah shalat meskipun belum mengucapkan dua kalimat syahadat 
sebagai tanda memeluk Islam. ”Saya berpendapat waktu itu apabila telah shalat 
berarti telah Islam. Sebab kalimat syahadat terucap secara langsung ketika 
shalat,” ujarnya. Namun para ustadz di masjid tempat dirinya biasanya shalat, 
menganjurkannya untuk meresmikan masuknya ke dalam Islam dengan ikrar dua 
kalimat syahadat.
 
Alkisah, Roger pun menuruti anjuran para ustadz itu. Pada 25 September 1993, 
akhirnya Roger mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat di Masjid Cut Meutia, 
Menteng Raya, Jakarta Pusat, bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad 
SAW. Ikrarnya itu disaksikan sekitar dua ribu jamaah masjid dan dibimbing oleh 
Ustadz Abdul Aziz.
 
Sebenarnya, sebelum memeluk Islam, Roger sering berdialog dengan KH Abdullah 
Wasian, seorang ulama di Surabaya. Ia mengaku ingin mengajak ulama itu untuk 
pindah ke agama Kristen. Namun yang terjadi bukan sang kiai yang terpengaruh 
justru Rogerlah yang terpengaruh oleh argumen-argumen sang kiai. Dalam dialog 
mengenai kandungan Bibel dan Alquran, Roger mengaku selalu kalah argumen. 
”Akhirnya saya semakin akrab dengan beliau dan ingin mendalami Islam secara 
sunguh-sungguh,” ungkapnya.
 
Mengetahui dirinya masuk Islam, pihak keluarganya sangat berang. Bahkan ibunya 
sendiri sudah menganggapnya tidak ada dan tidak mau mengakui Roger sebagai 
anaknya. Sementara ayah kandungnya sudah meninggal pada 1980-an. Pihak gereja 
pun turun tangan dan membujuknya untuk kembali kepada agamanya dulu. Namun 
keyakinan Roger tidak berubah lagi.
  Meskipun keluarga tidak melakukan intimidasi secara fisik, secara psikologis 
Roger merasa ditekan. Lontaran-lontaran kekecewaan dari keluarganya memaksanya 
keluar dari rumahnya. Teman-teman dekatnya pun melakukan teror lisan dan fitnah 
bahwa setelah masuk Islam, dirinya tidak mendapat ketenangan.
  Sampai klimaksnya, Roger mengalami teror secara fisik dari pihak-pihak yang 
tidak senang dengan keputusannya masuk Islam awal tahun ini. Namun Roger enggan 
membesarkan kasus ini karena dikhawatirkan dapat menimbulkan kerusuhan berbau 
SARA.
 
Kini, Roger melakukan kegiatan dakwah selain sebagai 
penulis di Tabloid Jumat . Ia pun sedang menulis buku dengan judul Kilas Balik 
Tragedi Berdarah di Bumi Halmahera. Ia berharap bukunya itu dapat terbit tahun 
ini juga sebagai media dakwah.
 
Hari-harinya kini diisi dengan misi dakwah Islam agar kaum muslimin terhindar 
dari praktik-praktik yang dulu dijalankannya sebagai evangelis. ”Umat Islam 
harus bersatu dan benar-benar mengamalkan konsep ukhuwah Islamiyah,” ujarnya. 
”Jangan biarkan saudara kita melarat karena itu akan menjadi sasaran empuk 
pemurtadan!”
 
Setelah memeluk agama Islam, namanya pun diganti dengan Yusuf Syahbudin 
Maramis. Ia pun enggan dipanggil dengan Roger dan meminta kepada Republika 
memanggilnya Yusuf saja.

Catatan:  Mohon maaf, 
beberapa paragraf sudah saya pertukar-letakkan dan penyebutan nama Yusuf saya 
tempatkan pada paragraf penutup saja. (ZulTan)

Salam,
ZulTan, L, 52, Bogor

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke