Tanggal 16 July 2013
Musriadi Musanif

DI TENGAH jeritan nelayan di sekeliling Danau Singkarak, Kabupaten Tanah
Datar, tiba-tiba kita disentakkan oleh sebuah berita yang dilansir Harian
Medan Bisnis beberapa waktu lalu, Danau Toba kini memproduksi 20 ton hingga
40 ton ikan bilih (mystacoleucus padangensis) dalam  sehari.

Habis sudah kebanggaan kita. Danau Singkarak yang dulu disebut-sebut
sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya ikan bilih satu-satunya di Asia,
kini sudah angkat tangan. Birokrat dan pakar perikanan di Sumbar yang dulu
kerap sesumbar, bahwa ikan bilih adalah aset dan kebanggaan Sumbar, terdiam
seribu bahasa. Sikap sok hebat mereka kini berkeping-keping.

Informasi tentang berkembangbiaknya ikan bilih Danau Toba, sebenarnya sudah
lama jadi perbincangan. Kabar tentang masuknya bilih toba ke kawasan
Singkarak untuk kemudian dipasarkan kepada konsumen atas nama Singkarak,
juga telah lama jadi pembicaraan. Bahkan, salah seorang walinagari kawasan
Singkarak menyebut, puluhan mobil jenis pick up setiap malam kerap
ditemukan sedang membongkar ikan bilih asal Danau Toba di pusat-pusat
pemasaran ikan bilih di Singkarak.

Kita memang sudah kalah. Habitat tempat tumbuh dan berkembangbiaknya ikan
bilih Singkarak sudah rusak. Cara tangkap dan alat yang digunakan oleh para
nelayan kita, berakibat buruk terhadap keberadaan ikan endemik Danau
Singkarak itu. Angkat tangan sekaligus angkat topi penuh hormat kita kepada
nelayan dan masyarakat di sekeliling Danau Toba yang telah sukses
mengembangkan bilih, sekaligus “mempermalukan” pakar dan birokrat perikanan
di Sumbar yang selama ini menyebut, ikan bilih hanya bisa hidup di Danau
Singkarak.

Menurut Jontor Simbolon, salah seorang nelayan di Pangururan Danau Toba,
ikan bilih justru dengan mudah dan cepat berkembang biak di sana. Dalam
usia tiga minggu, bilih toba sudah bertelur, tiga hari kemudian menetas dan
menghasilkan ikan bilih dalam ukuran melebihi bilih singkarak. “Setiap hari
saya keliling Samosir dan Danau Toba untuk membeli hasil tangkapan nelayan,
lalu kemudian saya pasarkan ke Medan, Sumbar dan Riau,” komentar Sidauruk,
warga Simanindo.

Dengan mengutip pendapat Kartamihardja dan Sarnita, seorang dosen peneliti
dari Universitas Sumatra Utara (USU) menyebut, pemindahan (introduksi) ikan
bilih ke Danau Toba dilakukan beberapa tahun lalu dalam rangka
mengantisipasi agar tidak punah.
Menurut penelitian itu, pola tingkah laku pemijahan ikan bilih dimanfaatkan
nelayan Danau Singkarak untuk menggunakan alat tangkap yang dipasang di
alahan di mana bilih berusaha untuk memijah di aliran sungai yang dibuatkan
alahan itu. Pola itu dilakukan terus-menerus dalam jangka waktu lama.
Kondisi demikian mengakibatkan bilih singkarak benar-benar berada dalam
ancaman kepunahan serius.

Selain dengan alahan yang berakibat terganggunya proses pemijahan, ancaman
kepunahan bilih singkarak juga dimungkinkan karena nelayan juga menangkap
dengan jaring insang dengan mata 0,75-1,0 inci, sehingga ikan bilih ukuran
kecil sekalipun, akan bisa ditangkap. Belum lagi penggunaan dinamit dan
sentrum. Semuanya berakibat terancam punahnya ikan-ikan endemik Singkarak.

Setelah melalui penelitian panjang, mencakup tingkah laku bilih di habitat
aslinya, yakni Danau Singkarak, aspek makanan dan kebiasaan makan,
pertumbuhan dan reproduksi, serta karakteristik habitat yang diperlukan,
baik habitat pemakanan maupun asuhan dan pemijahan, akhirnya kini bilih
singkarak benar-benar berkembang biak di Danau Toba.
Kita berharap, Pemkab Tanah Datar dan Pemkab Solok bisa proaktif dalam
memelihara lingkungan serta mengendalikan pola tangkap ikan di Danau
Singkarak. Jangan asik dengan kursi goyang saja. Mobil baru hilir mudik.
Ah..
Beberapa tahun mendatang, bilih hanya akan tinggal cerita dari kakek kepada
cucunya di sekeliling Singkarak.
Jangan sampai pula kisah “industri otak” Ranah Minang terulang pula di ikan
bilih. Dahulu orang yang ramai-ramai datang belajar ke sini, kini kita pula
yang ramai-ramai belajar ke negeri orang. Ha ha ha… tergelak saya. (*)

http://hariansinggalang.co.id/bilih-toba/

-- 
*
*
*Wassalam

*
*Nofend St. Mudo
37th/Cikarang | Asa: Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok Selatan
Tweet: @nofend <http://twitter.com/#!/@nofend> | YM: rankmarola
*

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke