Sanak2 sapalanta yth
Sadiah ati awak mambaco parasaian dunsanak saagamo di Uighur, Cina
Salam
FMNS
L65bdg

Muslim Uighur Dipaksa Makan Selama Ramadan  
TEMPO.CO, Xinjiang - Muslim Uighur di Cina tak tenang menjalankan ibadah puasa 
selama bulan Ramadan. Menurut juru bicara World Uighur Congress, Dilxadi 
Rexiti, para pejabat pemerintah berulang kali masuk ke rumah-rumah warga Uighur 
untuk memaksa mereka makan dan minum pada siang hari selama bulan Ramadan.

Laporan lain dari Uighur American Association (UAA) menyatakan pemilik restoran 
di Hotan wajib buka selama Ramadan. "Bahkan, jika ditutup karena sedang 
melakukan perbaikan, mereka didenda," demikian laporan UAA. 

Selain itu, Karamay Daily melaporkan, akses kaum muslim masuk ke masjid 
dibatasi. Rexiti menyatakan, pengajian sepenuhnya dilarang dan tempat-tempat 
ibadah diawasi ketat, terutama di utara Kota Karamay.

Pegawai pemerintah, dosen, dan mahasiswa juga didenda jika berpuasa. Menurut 
laporan tahunan USCIRF, banyak muslim Uighur dipenjara karena terlibat dalam 
kegiatan keagamaan. "Diluncurkan atas nama stabilitas dan keamanan, Beijing 
melakukan penindasan terstruktur terhadap muslim Uighur, termasuk penargetan 
pertemuan pribadi yang damai untuk studi agama dan ibadah," kata Katrina Lantos 
Swett, Ketua Komisi Amerika Serikat tentang Kebebasan Beragama Internasional 
(USCIRF), seperti dikutip oleh The Muslim Village pada Senin. 

"Pembatasan agama yang sangat agresif sangat mengganggu bagi kehidupan muslim 
Uighur," kata Presiden UAA Alim Seytoff. Ia menyatakan, pengawasan ketat justru 
akan semakin memancing kemarahan rakyat Uighur. "Kekerasan bisa meletus lagi 
karena tindakan represif yang sistematis."

Pengamat Cina di Singapura memperingatkan situasi di Xinjiang lebih dari 
masalah keamanan lokal. "Cina perlu mengelola minoritas dengan lebih baik," 
kata Ronan Gunaratna, Kepala Pusat Internasional untuk Penelitian Kekerasan 
Politik dan Terorisme Singapura.

Pengawasan ketat Cina atas Uighur, kata ahli lain, hanya akan membawa Cina 
memasuki "lingkaran setan" yang hanya menciptakan lebih banyak kebencian. 
Langkah-langkah ini benar-benar mengancam gejolak yang berpotensi pecah 
sewaktu-waktu, baik di tingkat regional bahkan nasional. 

"Cina bisa meledak di mana saja, tapi Xinjiang berada di barisan depan," kata 
Kerry Brown, Direktur Pusat Studi Cina di Universitas Sydney.

Etnis Uighur adalah minoritas berbahasa Turki dengan delapan juta warga di 
wilayah Xinjiang barat laut. Xinjiang, kerap disebut Turkestan Timur, menjadi 
otonom sejak tahun 1955, namun terus menjadi subyek tindakan keras aparat 
keamanan Cina. 

Kelompok-kelompok HAM menuduh pihak berwenang Cina bersikap represif terhadap 
muslim Uighur di Xinjiang atas nama pencegahan terorisme. Muslim menuduh 
pemerintah berusaha memberangus jutaan etnis Han di wilayah mereka dengan 
tujuan akhir melenyapkan identitas dan budaya. (Baca lengkap: Ramadan di Tempo)


Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke