Rabu, 17 Juli 2013 01:58

LIMAPULUH KOTA, HALUAN —  Sejumlah masyarakat Luak Limopuluah, pada
prinsipnya mendukung rencana pembangunan Bandara yang getol di wacanakan
Pemko Payakumbuh, bekerjasama dengan Pemkab Limapuluh Kota.

Malah untuk merealisasikan mimpi besar walikota itu, telah dilakukan
presentasi kepada sejumlah pihak terkait, di pusat dan bahkan sudah
menggelar rapat di tingkat Provinsi Sumbar.

Tapi, yang menimbulkan tanda tanya bagi masyarakat daerah ini, kegetolan
walikota untuk membangun bandara tersebut yang sudah banyak diekspos media
terbitan Sumbar, direncanakan pada areal hutan yang ada di Kubang Balambak,
Kecamatan Mungka, yang nota bene kawasan itu masuk ke Pemkab Limapuluh Kota.

Aktivis Peduli Nagari Luak Limopuluah, Yudilfan Habib dalam keterangannya
kepada Haluan, Selasa kemarin, menduga ada permainan di balik rencana
pembangunan bandara di Kubang Balambak tersebut. “Jangan-jangan rencana
pembangunan bandara itu untuk mengintai penebangan kayu semata. Alasannya,
meski sudah ada MoU antara Bupati Limapuluh Kota, Alis Marajo dengan
Walikota Payakumbuh, Riza Falepi, dikhawatirkan kesepakatan kerjasama
tersebut hanya untuk kepentingan tertentu seperti merambah hutan,“ sebutnya.

Menurut logikanya, pembangunan bandara tidak mungkin rampung selama dua
tahun. Sedangkan jabatan Bupati Alis Marajo periode 2010-2015 tinggal
sekitar 2 tahun lagi. “Kita khawatir rencana pembangunan hanya sekedar
untuk penebangan kayu saja. Setelah itu areal tersebut ditinggalkan
terbengkalai. Sebab sudah ada bukti program pembangunan yang dilakukan
pemkab yang diduga hanya sekedar untuk menguras kekayaan hutan saja.
Berkacalah pada program pembukaan jalan di Buluah Kasok menuju Lipek Kain,
yang dikerjakan investor PT Taisy Jaya. Setelah hutan dirambah, pembangunan
jalan tidak terealisasi,” ulas Habib.

Menurut dia, rencana pembangunan bandara di Kubang Balambak itu, pantas
diwaspadai masyarakat daerah ini. Seandainya program pembangunan bandara
itu, tidak mampu diwujudkan dalam rentang waktu dua tahun lagi kepemimpinan
Alis Marajo, sementara bupati yang baru nanti belum tentu mendukung
kegiatan pembangunan bandara tersebut, pekerjaan tersebut otomatis jadi
sia-sia.

Hal senada juga disampaikan pemuka masyarakat Kecamatan Guguk, Edlen
Syarkawi. Menurut dia, program pembangunan bandara yang akan dilak­sanakan
di Kubang Balambak tersebut, pantas dicurigai hanya untuk memburu proyek
semata. Apalagi, ada indikasi angek tadah pado galeh. Artinya, Pemko
Payakumbuh yang getol membangun bandara di kabupaten. Sedangkan untuk
persiapan program pembangunan bandara tersebut dinilai sudah banyak dana
daerah yang bersumber dari APBD yang dimanfaatkan untuk proses pengurusan
pembangunannya. Termasuk biaya presentasi sejumlah pejabat Pemko
Paya­kumbuh ke Jakarta serta rapat rapat di Provinsi Sumbar.

Dikatakan, seandainya rencana pembangunan bandara di Kubang Balambak gagal,
tentu biaya yang sudah terkuras itu terbuang percuma. Sebelum terlanjur
jauh, lebih baik dana yang ada digunakan untuk kepentingan masyarakat atau
membuat program yang lebih menguntungkan masyarakat banyak, dari pada
memperturutkan ambisi walikota dalam pembangunan bandara yang akan sulit
diwujudkan dalam rentang lima tahun kepemimpinannya.

Pendapat yang sama juga diungkapkan mantan anggota DPRD Limapuluh Kota, AA.
Dt. Karongkong Kayo. ”Dari pada menghamburkan uang untuk kepentingan
pembangunan bandara, lebih baik Pemkab Limapuluh Kota, mengalokasikan dana
untuk pembangunan ekonomi, memberantas pengangguran dan kemiskinan di
daerah ini,” saran pemuka masyarakat Andaleh itu.

Sementara itu Kepala Dinas Kehutanan dan Pertambangan Kabupaten Limapuluh
Kota, Khalid, ketika dikonfirmasi di kantornya sekaitan rencana pembangunan
bandara di Kubang Balambak, membenarkan adanya rencana tersebut. ”Saya
sudah mengikuti rapat satu kali di provinsi yang juga dihadiri pejabat
Pemko Payakumbuh. Namun setelah dipelajari dalam peta kawasan hutan
Limapuluh Kota, calon areal pembangunan bandara di Kubang Balambak
tersebut, berada pada areal putih. Artinya, kawasan hutan itu berstatus APL
(Areal Penggunaan Lain),” sebutnya.

“Kalau memang rencana pembangunan bandara di kawasan tersebut
direalisasikan, proses izinnya akan memakan waktu cukup panjang. Saat ini
Dinas Kehutanan dan Pertambangan Limapuluh Kota, baru sebatas mempelajari
titik kordinatnya, apakah ada ditemukan nanti di lokasi itu sebagai hutan
lindung,“ ulasnya. (h/zkf)

http://harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=24911:dikhawatirkan-kawasan-hutan-dibabat&catid=2:sumatera-barat&Itemid=71

-- 
*
*
*Wassalam

*
*Nofend St. Mudo
37th/Cikarang | Asa: Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok Selatan
Tweet: @nofend <http://twitter.com/#!/@nofend> | YM: rankmarola
*

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke