Senyum juga adalah Sodaqoh kata Rasulullah 
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Zaid Dunil <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 18 Jul 2013 09:27:19 
To: Rantaunet<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [R@ntau-Net] KISAH SEBUAH SENYUM

Pak M. Amiroeddin  n a h

Ceritanya amat menyentuh, membuat mata berkaca kaca pula membacanya.  .
Mungkin hal itu pula menjadi salah satu alasan Allah mewajibkan kita umat
Islam untuk mengeluarkan zakat , sehingga orang orang yang tidak mampu
seperti dalam cerita ini bisa ditolong. Islam lebih konseptual dalam
mengatasi promblem kemiskinan seperti yang diceritakan kisah tersebut.

Wassalam
Dunil Zaid , 70 , Kampuang Ujuang Pandan Parak Karambia, Padang.


2013/7/18 <[email protected]>

> Kisah lama yg dikirim kembali bagi yg belum pernah membaca!
>
> KISAH SEBUAH SENYUM
>
> Kisah di bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari milis alumni Jerman,
> atau warga Indonesia yang bermukim atau pernah bermukim di sana. Demikian
> layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.
>
> Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah
> saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen
> sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang
> memilikinya. Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama
> "Smiling." Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan
> senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan
> reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan
> didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan
> selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir, tugas ini sangatlah
> mudah.
> Setelah menerima tugas tersebut, saya bergegas menemui suami saya dan anak
> bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi
> kerestoran McDonald's yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya
> sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya
> menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari
> tempat duduk yang masih kosong.
> Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap
> orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula
> antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.
> Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat
> mengapa mereka semua pada menyingkir? Saat berbalik itulah saya membaui
> suatu "bau badan kotor" yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang
> saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung,
> dan tidak mampu bergerak sama sekali.
> Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih
> pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang "tersenyum"
> kearah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga
> memancarkan kasih sayang. Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar
> saya dapat menerima 'kehadirannya' ditempat itu.
> Ia menyapa "Good day!" sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung
> beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan.
> Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya
> 'tugas' yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan
> tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya. Saya segera
> menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki
> dengan mata biru itu adalah "penolong"nya. Saya merasa sangat prihatin
> setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya
> bersama mereka, dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai didepan counter.
> Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya
> pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan.
> Lelaki bermata biru segera memesan "Kopi saja, satu cangkir Nona."
> Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh
> mereka (sudah menjadi aturan direstoran disini, jika ingin duduk di dalam
> restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan
> tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.
> Tiba2 saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku
> beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat
> duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang
> mengamati mereka.. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat
> itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti
> juga melihat semua 'tindakan' saya.
> Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk
> ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan
> minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan
> terpisah.
> Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada
> di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk
> suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan
> melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk
> beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan
> meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata
> biru itu, sambil saya berucap "makanan ini telah saya pesan untuk kalian
> berdua."
>
> Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai
> basah ber-kaca2 dan dia hanya mampu berkata "Terima kasih banyak, nyonya."
> Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata
> "Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada
> di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk
> menyampaikan makanan ini kepada kalian."
> Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk
> lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh
> kedua lelaki itu.
> Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan
> mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari
> tempat duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis
> saya sambil tersenyum dan berkata "Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan
> mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan
> 'keteduhan' bagi diriku dan anak-anakku! " Kami saling berpegangan tangan
> beberapa saat dan saat itu kami benar-benar bersyukur dan menyadari, bahwa
> hanya karena 'bisikanNYA' lah kami telah mampu memanfaatkan 'kesempatan'
> untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan.
>
> Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan
> meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu
> persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin 'berjabat tangan' dengan
> kami. Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan
> berucap "Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua
> yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya
> akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami."
> Saya hanya bisa berucap "terimakasih" sambil tersenyum. Sebelum beranjak
> meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu,
> dan seolah ada 'magnit' yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung
> menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu melambaikan tangannya kearah
> kami. Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya
> lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar-benar 'tindakan'
> yang tidak pernah terpikir oleh saya.
> Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa 'kasih sayang' Tuhan
> itu sangat HANGAT dan INDAH sekali!
> Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan 'cerita' ini
> ditangan saya. Saya menyerahkan 'paper' saya kepada dosen saya. Dan
> keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke
> depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, "Bolehkah saya membagikan
> ceritamu ini kepada yang lain?" dengan senang hati saya mengiyakan. Ketika
> akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan
> paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama
> cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya
> yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa
> yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya
> kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan
> belakang didekat saya diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan
> perasaan harunya.
> Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya
> dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya.
> "Tersenyumlah dengan 'HATImu', dan kau akan mengetahui betapa 'dahsyat'
> dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu."
> Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah 'menggunakan' diri saya untuk
> menyentuh orang-orang yang ada di McDonald's, suamiku, anakku, guruku, dan
> setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai
> mahasiswi. Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya
> dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu: "PENERIMAAN TANPA SYARAT."
> Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh
> para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai
> cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara MENCINTAI
> SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG KITA MILIKI, dan
> bukannya MENCINTAI HARTA-BENDA YANG BUKAN MILIK KITA, DENGAN MEMANFAATKAN
> SESAMA!
>
>
>
>
>
>
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
>   1. Email besar dari 200KB;
>   2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
>   3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari
> Grup Google.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
>
>
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.



-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke