Bagus sekali dan betul2 menyentuh kisahnya Pak Roy,

Kisah Ini salah satu bukti nyata bahwa Allah itu Maha Rahman (Maha Pengasih) 
dan Maha Rahim (Maha Penyayan),dan sifat itu diberikannya Kepada Manusia2 yg 
DikehendakiNya,...,dari 99 sifat Allah itu,sesungguhnya Allah lebih menonjolkan 
sifat Rahman dan RahimNya ini,sehingga surat Al Fatihah pun dimulai dengan 
"Bismillahirrahmanirahim"...Sungguh2 Aku ini Maha Pengasih dan Maha Penyayang " 
Kata Allah..

Sehingga nyata sekali,kita pun insyaAllah masuk SyurgaNya Allah di kemudian 
hari,sesungguhnya adalah karena Rahman dan Rahim Allah lah sesungguhnya,bukan 
karena amalan ibadah kita yg sedikit di dunia ini sebetulnya...

Sekali lagi,terimakasih byk Pak Roy,atas kiriman kisah yang teramat menyentuh 
ini.

Wasalam,
Kurnia Chalik
 
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: [email protected]
Sender: [email protected]
Date: Thu, 18 Jul 2013 11:55:34 
To: R@ntau-net Email Group Rantaunet<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [R@ntau-Net] KISAH SEBUAH SENYUM

Senyum juga adalah Sodaqoh kata Rasulullah 
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Zaid Dunil <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 18 Jul 2013 09:27:19 
To: Rantaunet<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [R@ntau-Net] KISAH SEBUAH SENYUM

Pak M. Amiroeddin  n a h

Ceritanya amat menyentuh, membuat mata berkaca kaca pula membacanya.  .
Mungkin hal itu pula menjadi salah satu alasan Allah mewajibkan kita umat
Islam untuk mengeluarkan zakat , sehingga orang orang yang tidak mampu
seperti dalam cerita ini bisa ditolong. Islam lebih konseptual dalam
mengatasi promblem kemiskinan seperti yang diceritakan kisah tersebut.

Wassalam
Dunil Zaid , 70 , Kampuang Ujuang Pandan Parak Karambia, Padang.


2013/7/18 <[email protected]>

> Kisah lama yg dikirim kembali bagi yg belum pernah membaca!
>
> KISAH SEBUAH SENYUM
>
> Kisah di bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari milis alumni Jerman,
> atau warga Indonesia yang bermukim atau pernah bermukim di sana. Demikian
> layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.
>
> Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah
> saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen
> sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang
> memilikinya. Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama
> "Smiling." Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan
> senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan
> reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan
> didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan
> selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir, tugas ini sangatlah
> mudah.
> Setelah menerima tugas tersebut, saya bergegas menemui suami saya dan anak
> bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi
> kerestoran McDonald's yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya
> sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya
> menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari
> tempat duduk yang masih kosong.
> Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap
> orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula
> antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.
> Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat
> mengapa mereka semua pada menyingkir? Saat berbalik itulah saya membaui
> suatu "bau badan kotor" yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang
> saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung,
> dan tidak mampu bergerak sama sekali.
> Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih
> pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang "tersenyum"
> kearah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga
> memancarkan kasih sayang. Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar
> saya dapat menerima 'kehadirannya' ditempat itu.
> Ia menyapa "Good day!" sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung
> beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan.
> Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya
> 'tugas' yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan
> tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya. Saya segera
> menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki
> dengan mata biru itu adalah "penolong"nya. Saya merasa sangat prihatin
> setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya
> bersama mereka, dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai didepan counter.
> Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya
> pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan.
> Lelaki bermata biru segera memesan "Kopi saja, satu cangkir Nona."
> Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh
> mereka (sudah menjadi aturan direstoran disini, jika ingin duduk di dalam
> restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan
> tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.
> Tiba2 saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku
> beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat
> duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang
> mengamati mereka.. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat
> itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti
> juga melihat semua 'tindakan' saya.
> Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk
> ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan
> minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan
> terpisah.
> Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada
> di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk
> suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan
> melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk
> beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan
> meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata
> biru itu, sambil saya berucap "makanan ini telah saya pesan untuk kalian
> berdua."
>
> Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai
> basah ber-kaca2 dan dia hanya mampu berkata "Terima kasih banyak, nyonya."
> Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata
> "Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada
> di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk
> menyampaikan makanan ini kepada kalian."
> Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk
> lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh
> kedua lelaki itu.
> Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan
> mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari
> tempat duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis
> saya sambil tersenyum dan berkata "Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan
> mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan
> 'keteduhan' bagi diriku dan anak-anakku! " Kami saling berpegangan tangan
> beberapa saat dan saat itu kami benar-benar bersyukur dan menyadari, bahwa
> hanya karena 'bisikanNYA' lah kami telah mampu memanfaatkan 'kesempatan'
> untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan.
>
> Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan
> meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu
> persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin 'berjabat tangan' dengan
> kami. Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan
> berucap "Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua
> yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya
> akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami."
> Saya hanya bisa berucap "terimakasih" sambil tersenyum. Sebelum beranjak
> meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu,
> dan seolah ada 'magnit' yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung
> menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu melambaikan tangannya kearah
> kami. Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya
> lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar-benar 'tindakan'
> yang tidak pernah terpikir oleh saya.
> Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa 'kasih sayang' Tuhan
> itu sangat HANGAT dan INDAH sekali!
> Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan 'cerita' ini
> ditangan saya. Saya menyerahkan 'paper' saya kepada dosen saya. Dan
> keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke
> depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, "Bolehkah saya membagikan
> ceritamu ini kepada yang lain?" dengan senang hati saya mengiyakan. Ketika
> akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan
> paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama
> cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya
> yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa
> yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya
> kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan
> belakang didekat saya diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan
> perasaan harunya.
> Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya
> dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya.
> "Tersenyumlah dengan 'HATImu', dan kau akan mengetahui betapa 'dahsyat'
> dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu."
> Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah 'menggunakan' diri saya untuk
> menyentuh orang-orang yang ada di McDonald's, suamiku, anakku, guruku, dan
> setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai
> mahasiswi. Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya
> dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu: "PENERIMAAN TANPA SYARAT."
> Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh
> para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai
> cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara MENCINTAI
> SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG KITA MILIKI, dan
> bukannya MENCINTAI HARTA-BENDA YANG BUKAN MILIK KITA, DENGAN MEMANFAATKAN
> SESAMA!
>
>
>
>
>
>
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
>   1. Email besar dari 200KB;
>   2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
>   3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari
> Grup Google.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
>
>
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.



-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.



-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke