Puasa Politik
Tanggal 24 July 2013
PARNI HADI

http://hariansinggalang.co.id/puasa-politik/

Namanya juga tahun politik, maka Ramadhan 2013 atau 1434 H ini juga sangat 
kental bernuansa politik. Harap maklum, pemilu untuk memilih anggota DPR, 
DPD dan DPRD kabupaten/kota akan berlangsung April tahun depan, yang akan 
disusul pilpres beberapa bulan kemudian.
Jadi, ya lumrah saja jika pada jalan-jalan di seluruh Indonesia banyak 
dipasang spanduk dan baliho berukuran besar, memuat gambar ketum partai, 
caleg dan capres dengan ucapan ‘Selamat Menjalankan Ibadah Puasa 1434 H’.
Mereka seperti bersaing dengan spanduk dan baliho yang dipasang Lembaga 
Amil Zakat (LAZ) yang berisi imbauan untuk membayar zakat.
Nuansa politik juga terasa kuat dalam buka puasa bersama di kediaman para 
politisi dan ketua lembaga negara/pemerintah serta kantor-kantor orpol, 
ormas dan orsos. 
Masing-masing calon berusaha menarik simpati anak buah atau pendukungnya. 
Di samping makan dan minum yang lezat dan mengenyangkan, tentu ada tausyiah 
Ramadhan dan shalat Magrib berjemaah.
Ada juga yang sampai shalat tarawih, walau banyak undangan yang memilih 
shalat tarawih di masjid atau rumah masing-masing. Tidak ketinggalan, dan 
bahkan ini yang paling penting, adalah liputan media massa.
Nanti, sekitar satu minggu menjelang Idul Fitri, spanduk dan baliho baru 
akan muncul dengan gambar tokoh-tokoh yang sama, tapi ucapannya berganti: 
Selamat Idul Fitri 1434 H, mohon maaaf lahir bathin. Tujuannya sama, kalau 
boleh terus terang bunyinya adalah: Pilihlah saya!
Apa memanfaatkan bulan puasa dan Idul Fitri untuk tujuan politik atau 
kampanye terselubung tidak boleh? Selama ini, tidak ada yang melarang. 
Mengapa? Karena, semua orang melakukannya. Tentu, ibadah puasa akan tinggi 
kwalitasnya, jika semua kegiatan dalam bulan Ramadhan ini diniatkan semata 
sebagai ibadah untuk memenuhi perintah Allah.
Kalau itu dilaksanakan, namanya bisa berpuasa tidak berpolitik. Bentuknya, 
berhenti atau mengurangi polemik dan intrik dengan tujuan untuk menjatuhkan 
lawan politik. Bisakah itu? Boleh dicoba, bagi yang mau.
Tunjuk Ajar Melayu
Banyak pedoman tentang bagaimana menjadi seorang pemimpin dan cara memilih 
pemimpin menurut ajaran tradisi budaya dan kearifan lokal, yang disusun 
dalam bentuk tembang, pantun dan petitah-petitih.
Satu di antaranya adalah Tunjuk Ajar Melayu tentang Pemimpin dalam bentuk 
pantun. Tunjuk ajar ini berisi buti-butir Budaya Melayu Riau yang dihimpun 
oleh budayawan Riau Tenas Effendy dan diterbitkan pada 2004 oleh Balai 
Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu di Yoyakarta.
Berikut adalah kutipan Tunjuk Ajar Melayu secara acak.
Bagaimana menjadi pemimpin? Menjadi pemimpin hendaklah rajin, mau bersusah 
payah tahan berlenjin/ menjadi pemimpin hendaklah pemurah, unjuk dan beri 
jangan berkira menjadi pemimpin hendaklah penyayang, besar dan kecil sama 
ditimang menjadi pemimpin hendaklah pengasih, miskin dan kaya jangan 
dipilih menjadi pemimpin hendaklah penyantun, yang muda dibimbing, yang tua 
dituntun menjadi pemimpin hendaklah ikhlas, berbuat baik tak harapkan balas 
menjadi pemimpin hendaklah terbuka, supaya hilang sak dan sangka.
Menjadi pemimpin baikan sangka, supaya jauh hasat dan fitnah menjadi 
pemimpin haruslah sabar, alam yang sempit menjadi lebar menjadi pemimpin 
berdada lapang, menghadapi masakah janganlah gamang.
Menjadi pemimpin bertanggungjawab, menunaikan tugas tahan mengidap menjadi 
pemimpin berhati teguh, memikul beban tanpa mengeluh menjadi pemimpin harus 
berani, membela kebenaran maulah mati menjadi pemimpin hemat dan cermat, 
sebarang tindakan dalam ingat.
Menjadi pemimpin berbaik budi, kepada masyarakat ia mengabdi. Menjadi 
pemimpin bersifat amanah, memelihara rakyat pantang berlengah.
Menjadi pemimpin teguh beriman, memohon petunjuk kepada Tuhan menjadi 
pemimpin taat dan takwa, tahu dirinya seorang hamba.
Menjadi pemimpin hendaklah tegas, supaya urusan tidak melengas. Menjadi 
pemimpin hidup sempurna, lahir dan batin sama setara di dunia elok di 
akhirat mulia, di situlah tegak tuah dan marwah.
Nampak jelas, konsep kepemimpinan profetik (kenabian), termaktub dalam 
butir-butir budaya Melayu Riau.
Bagaimana memilih pemimpin?
Orang-orang tua Melayu menegaskan, kalau memilih pemimpin, jangan memandang 
elok mukanya, tetapi pandang elok hatinya. Ungkapan lain mengatakan, bila 
hendak memilih pemimpin, pilih yang mulia budi pekertinya.
Selanjutnya dikatakan, memilih jangan karena suku, tetapi memilih karena 
laku. Ungkapan adat mengatakan:
Kalau hendak memilih pemimpin:
Jangan dipilih karena duitnya, jangan dipilih karena kayanya. Jangan 
dipilih karena sukunya, jangan dipilih karena pangkatnya pilihlah karena 
budinya, pilihlah karena lakunya.
Pilihlah karena budi bahasanya, pilihlah karena adilnya. Pilihlah karena 
benarnya, pilihlah karena taat setianya.
Pilihlah karena petuah dan amanahnya, pilihlah karena tenggang rasanya 
pilihlah karena tegur sapanya. Pilihlah karena ikhlas hatinya.
Pilihlah karena mulia ilmunya. Pilihlah karena tanggungjawabnya. Pilihlah 
karena iman takwanya. Pilihlah karena lapang dadanya. Pilihlah karena bijak 
akalnya. Pilihlah karena sifat tuanya. Pilihlah karena cergas rajinnya.
Semua petunjuk untuk memilih pemimpin di atas mengarah kepada sosok yang 
menyandang pribadi dan karakter kenabian. Jadi, terserah kita semua, siapa 
pemimpin kita yang akan datang. (*)

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke