Heran ambo, wartawan nya mungkin tingga di kiktinggi, Baa mangko kiktinggi sajo nan jadi bahan berita miring soal pengemis ko, kok indak Padang nan di amat i dan di tulih.
Ambo sajak tanggal 19 s/d malam tgl 25 Juli barado di Padang, mancaliak dengan mato kapalo surang hampia tiok simpang, tiok lampu merah ado tigo sampai ampek pasang pengemis buto, ado juo pengemis anak anak ado pengemis ibuk ibuk. Ado apo jo kiktinggi, mangko banyak bana tulisan miring soal kik tinggi ko, mulai soal parkir, soal wc, soal harago makanan, soal pelayanan, soal jumlah pengemis. Apo kiktinggi lah sabana hebat kini sahinggo paralu di pakaikan "Black Campaign" terhadap kemajuan ekonomi kiktinggi? E Dt Marajo nan Tuo ________________________________ Dari: Nofend St. Mudo <[email protected]> Kepada: RN - Palanta RantauNet <[email protected]> Dikirim: Jumat, 26 Juli 2013 10:03 Judul: [R@ntau-Net] Pengemis di Bukittinggi Meningkat 300 Persen Jumat, 26 Juli 2013 02:50 BUKITTINGGI, HALUAN — Jelang Lebaran, jumlah gelandangan dan pengemis (gepeng) di Kota Bukittinggi diperkirakan meningkat hingga 300 persen. Jika pada hari biasa ada sekitar 30 pengemis, namun jelang lebaran membengkak menjadi 90 orang. Usianyapun bervariasi, mulai anak-anak hingga lanjut usia. Dari pengamatan Haluan, beberapa persimpangan lampu merah yang biasanya tak dijamah pengemis, kini mulai dihuni pengemis. Sementara pengemis di tempat keramaian, seperti di kawasan Aur Kuning, Pasar Atas, Pasar Bawah dan yang lainnya, kian menjamur. Mereka beraksi mulai siang, hingga menjelang waktu berbuka puasa. Bahkan di tempat wisata seperti Jam Gadang, para pengemis lembur sampai tengah malam. Aksi para pengemis itu juga berbeda, seperti menggendong anak bawah lima tahun (balita) untuk mengharap belas kasihan orang lain, menggandeng orangtua lanjut usia, menggandeng orang cacat, hanya duduk-dudukan sambil menadah tangan, bahkan ada yang terang-terangan pengemis meminta uang dengan jumlah nominal tertentu, seperti meminta uang Rp1.000 hingga Rp2.000 per-orang. Selain itu, tak jarang juga petugas penegak Perda memegoki rombongan pengemis yang bersatu, sebelum berpencar ke wilayah target mereka masing-masing. Bahkan, aksi pengemis juga semakin berani menggedor pintu, dan melakukan aksinya dari rumah ke rumah. Dari pengakuan sejumlah pengemis, rata-rata penghasilan mereka sekitar Rp80 ribu perhari diluar makan dan rokok. Jelang lebaran, penghasilan mereka melejit, bisa menembus Rp300 ribu hingga Rp400 ribu perhari. “Mereka tidak berasal dari Kota Bukittinggi, tapi berasal dari daerah tetangga lainnya. Dari 21 pengemis yang pernah kami tangkap saat awal bulan puasa lalu, mayoritas pengemis di Bukittinggi berasal dari Pasaman dan Agam,” ujar Salman, Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Kota Bukittinggi, Kamis (25/7). Salman menduga para pengemis itu dikelola dan dimanfaatkan oleh orang tertentu, untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau kelompok. Kecurigaan itu didasari dari pengakuan para pengemis yang suka meminjam anak orang lain, yang dimanfaatkan untuk membuat orang lain bersimpatik dan memberi sumbangan. Tak hanya itu, dari hasil interogasi petugas terhadap para pengemis yang pernah ditangkap awal bulan puasa lalu, juga banyak ditemukan pengemis yang tergolong cukup mampu, karena mereka memiliki rumah yang layak huni, punya sawah dan punya kendaraan bermotor. “Kepada masyarakat dihimbau tidak memberi sumbangan kepada pengemis yang tidak diketahui latar belakangnya, karena bisa saja pengemis itu orang mampu. Beberapa hari jelang lebaran kami akan menertibkan kembali para pengemis itu, agar kegiatan mengemis tidak dijadikan profesi bagi mereka,” jelas Salman. (h/wan) http://harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=25153:pengemis-di-bukittinggi-meningkat-300-persen&catid=2:sumatera-barat&Itemid=71 -- Wassalam Nofend St. Mudo 37th/Cikarang | Asa: Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok Selatan Tweet: @nofend | YM: rankmarola -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
