Jumat, 26 Juli 2013 02:50

BUKITTINGGI, HALUAN — Jelang Lebaran, jumlah gelan­dangan dan pengemis
(ge­peng) di Kota Bukittinggi diper­ki­rakan meningkat hingga 300 persen.
Jika pada hari biasa ada sekitar 30 pengemis, namun jelang lebaran
membengkak menjadi 90 orang. Usianyapun bervariasi, mulai anak-anak hingga
lanjut usia.

Dari pengamatan Haluan, beberapa persimpangan lampu merah yang biasanya tak
dijamah pengemis, kini mulai dihuni pengemis. Sementara pengemis di tempat
keramaian, seperti di kawasan Aur Kuning, Pasar Atas, Pasar Bawah dan yang
lainnya, kian menjamur. Mereka beraksi mulai siang, hingga menjelang waktu
berbuka puasa. Bahkan di tempat wisata seperti Jam Gadang, para pengemis
lembur sampai tengah malam.

Aksi para pengemis itu juga berbeda, seperti menggendong anak bawah lima
tahun (balita) untuk mengharap belas kasihan orang lain, menggandeng
orangtua lanjut usia, menggandeng orang cacat, hanya duduk-dudukan sambil
menadah tangan, bahkan ada yang terang-terangan pengemis meminta uang
dengan jumlah nominal tertentu, seperti meminta uang Rp1.000 hingga Rp2.000
per-orang.

Selain itu, tak jarang juga petugas penegak Perda memegoki rombongan
pengemis yang bersatu, sebelum berpencar ke wilayah target mereka
masing-masing. Bahkan, aksi pengemis juga semakin berani menggedor pintu,
dan melakukan aksinya dari rumah ke rumah.

Dari pengakuan sejumlah pengemis, rata-rata penghasilan mereka sekitar Rp80
ribu perhari diluar makan dan rokok. Jelang lebaran, penghasilan mereka
melejit, bisa menembus Rp300 ribu hingga Rp400 ribu perhari.

“Mereka tidak berasal dari Kota Bukittinggi, tapi berasal dari daerah
tetangga lainnya. Dari 21 pengemis yang pernah kami tangkap saat awal bulan
puasa lalu, mayoritas pengemis di Bukittinggi berasal dari Pasaman dan
Agam,” ujar Salman, Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Kota
Bukittinggi, Kamis (25/7).

Salman menduga para pengemis itu dikelola dan dimanfaatkan oleh orang
tertentu, untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau kelompok. Kecurigaan
itu didasari dari pengakuan para pengemis yang suka meminjam anak orang
lain, yang dimanfaatkan untuk membuat orang lain bersimpatik dan memberi
sumbangan.

Tak hanya itu, dari hasil interogasi petugas terhadap para pengemis yang
pernah ditangkap awal bulan puasa lalu, juga banyak ditemukan pengemis yang
tergolong cukup mampu, karena mereka memiliki rumah yang layak huni, punya
sawah dan punya kendaraan bermotor.

“Kepada masyarakat dihimbau tidak memberi sumbangan kepada pengemis yang
tidak diketahui latar belakangnya, karena bisa saja pengemis itu orang
mampu. Beberapa hari jelang lebaran kami akan menertibkan kembali para
pengemis itu, agar kegiatan mengemis tidak dijadikan profesi bagi mereka,”
jelas Salman. (h/wan)

http://harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=25153:pengemis-di-bukittinggi-meningkat-300-persen&catid=2:sumatera-barat&Itemid=71

-- 
*
*
*Wassalam

*
*Nofend St. Mudo
37th/Cikarang | Asa: Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok Selatan
Tweet: @nofend <http://twitter.com/#!/@nofend> | YM: rankmarola
*

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke