Lae Jaha yang baik,
semalam koneksi internet saya terganggu cukup lama. Jawaban saya tak
langsung terkirim seperti biasa. Dan begitu terkirim, terpotong pula. Tidak
tuntas, menggantung. Jadi saya posting ulang pagi ini.

Salam,

ANB

Reposting -----

Lae Jaha,
saya kira kita harus sangat hati-hati, cermat serta proporsional dalam
membaca konteks kodifikasi Al Qur'an di era Khalifah Utsman bin Affan r.a.
(23-35 H/644-656 M) agar tidak terjebak dalam nuansa menuduh beliau
seolah-olah otoriter dalam menentukan bentuk Qur'an yang dipilih, dan
membakar sisanya seakan-akan tanpa pertimbangan matang, termasuk dengan
memusnahkan Mushaf Ali bin Abi Thalib. Sebab, Ali r.a. sendiri mengatakan,
"Kalau Utsman tidak melakukannya (memilih satu qiraah sebagai model
standar), maka aku sendiri akan melakukannya." (HR Abu Daud).

Mari kita lihat dulu profil singkat Abu Amr (nama panggilan Ustman bin
Affan r.a.) yang merupakan  1 dari 10 Sahabat yang dijamin Rasulullah
langsung masuk surga. Beberapa kelebihan Abu Amr adalah:

1. Beliau mendapat gelar "Dzun-Nurain" (Pemilik Dua Cahaya) karena menikah
dengan dua putri Nabi, yakni Ruqayyah dan Ummu Kaltsum (setelah Ruqayya
wafat). Bahkan ketika Ummu Kaltsum wafat pula, Rasul bersabda kepada para
sahabat, "Nikahkanlah anak-anak perempuan kalian dengan Ustman. Andaikata
aku memiliki anak perempuan ketiga, maka akan kunikahkan anak perempuanku
itu dengannya dan tidaklah aku menikahkannya, kecuali ada wahyu dari
Allah." (HR Ath-Thabarani dari Ishmah bin Malik).

Seperti apa perilaku Abu Amr sampai Rasulullah begitu percaya padanya? Nabi
bersabda, "Utsman adalah salah seorang sahabatku yang perilakunya sangat
mirip denganku." (HR Ibnu Asakir dari Abu Hurairah).

Kesimpulan: akhlak dan kualitas keislaman Utsman bin Affan sangat tinggi
sehingga Rasulullah sangat percaya untuk menikahkan anak-anak perempuan
beliau dengannya. Tak ada sahabat Nabi lain yang memiliki keistimewaan
seperti ini.

2. Utsman bukanlah khalifah pertama yang melakukan pengumpulan mushaf.
Inisiatif pertama dilakukan oleh Abu Bakar r.a. dengan bantuan Zaid bin
Tsabit (sekretaris andalan Rasulullah semasa hidup). Setelah terkumpul, Abu
Bakar wafat (hanya dua tahun memerintah), lalu mushaf disimpan oleh
Khalifah Umar bin Khattab. Ketika Umar wafat, mushaf itu disimpan oleh
putri beliau Hafsah binti Umar, salah seorang istri Nabi yang juga
penghafal Qur'an.

Saat itu banyak versi mushaf di tangan para sahabat. Ada Mushaf Ibnu
Mas'ud, Mushaf Ubay bin Ka'ab, Mushaf Ali bin Abi Thalib, dll, dengan
beberapa perbedaan susunan penulisan. Misalnya untuk Mushaf Ibnu Mas'ud
hanya terdiri dari 111 surat atau lebih pendek 3 surat dari Mushaf Utsmani
yang digunakan sekarang (tanpa Al Fatihah, Al Falaq, An Nas). Jadi surat
pertama adalah Al Baqarah. Ada pun Mushaf Ali susunannya sesuai dengan
kronologi turunnya ayat, dimulai dari surat-surat Makkiyah (yang ayatnya
pendek-pendek) dan berakhir dengan ayat-ayat Madaniyah yang lebih panjang.
Sementara Mushaf Ubay bin Ka'ab beda lagi, justru lebih panjang dengan
tambahan 2 surat yang tak ada pada mushaf lain (yakni "Al Hafd" dan "Al
Khal"), sehingga berjumlah 116 surat.

Selain perbedaan susunan mushaf, untuk ayat-ayat yang sama pun terjadi
perbedaan cara membaca yang dikenal dengan "tujuh cara pembacaan" (qiraah
sab'ah), yang mengacu pada perbedaan dialek-dialek suku Arab waktu itu. Dan
semua ini dibenarkan Nabi saw. Tak ada pertengkaran Sahabat soal mana cara
membaca yang lebih benar.

Namun pada era Utsman, ketika wilayah kekhalifahan terus berkembang, banyak
mualaf baru yang bukan saja tak pernah bertemu Rasul, bahkan juga menimba
ilmu langsung dari para Sahabat, karena sebaran lokasi yang begitu
luas. Akibatnya, di lapangan mereka terkaget-kaget mendengar ada cara
membaca Qur'an yang berbeda dengan yang diajarkan kepada mereka (meski
masih dalam Qiraah Sab'ah). Muncullah penilaian bahwa cara membaca mereka
yang paling benar, yang lain salah, bahkan saling mengkafirkan terhadap
cara membaca yang berbeda.

Para pejabat kekhalifahan Utsman khawatir melihat hal ini, sehingga mereka
mengusulkan kepada Amirul Mukminin agar mengambil kebijakan yang bisa
membuat perpecahan di kalangan muslim bisa tambah parah karena perbedaan
qiraah ini. Misalnya di daerah Kufah, Irak, yang berpegang pada Mushaf Ibnu
Mas'ud dengan penduduk di daerah Syams (kini meliputi Syria, Lebanon,
Yordania, Palestina) yang berpegang pada Mushaf Al-Miqdad bin al-Aswad.

Dari situlah Khalifah Utsman membentuk sebuah lajnah (panitia) terdiri dari
12 orang (6 Sahabat Muhajirin, 6 Sahabat Anshar) dengan Zaid bin Tsabit
sebagai ketua. Utsman sendiri tidak ikut dalam kepanitiaan, meski beliau
adalah salah seorang penulis wahyu ketika Rasul hidup. Diputuskan bahwa
akan dipilih satu qiraah yang akan menjadi standar pembacaan.

Untuk menjaga kehatian-hatian, tim Zaid bin Tsabit menggunakan Mushaf Abu
Bakar yang disimpan Hafsah sebagai acuan, meski membuka kesempatan bagi
setiap muslim yang memiliki catatan mushaf tertentu untuk melaporkan
versinya - dengan persyaratan yang ketat. Proses Ini didukung oleh sebagian
besar Sahabat, meski pada awalnya ada juga yang menolak seperti Ibnu
Mas'ud, namun belakangan beliau pun setuju dengan upaya Khalifah. Tim Zaid
menyepakati qiraah yang dipakai adalah berdasarkan bahasa Arab Quraisy.

Ketika Mushaf baru hasil kodifikasi ini selesai ditulis, Khalifah Utsman
mengumpulkan lagi para Sahabat. Mereka pun bermusyawarah dan sepakat agar
mushaf-mushaf lainnya dibakar.  Ini misalnya tercatat dalam "Fathul Bari"
sbb:

Al-Baihaqi dan lainnya meriwayatkannya dari hadits Muhammad bin Aban -suami
saudara perempuan Husain- dari ‘Alqamah bin martsad berkata, “Aku mendengar
al-’Aizar bin Huraits berkata, ‘Aku mendengar Suwaid bin Ghaflah berkata,
'ALI (BIN ABI THALIB) rodhiyallahu 'anhu (note: huruf kapital nama Ali dari
saya -- ANB) berkata, ‘Wahai hadirin sekalian! Janganlah kalian berlebihan
dalam mensikapi Utsman, kalian katakan ia telah membakar mushaf-mushaf. *Demi
Allah dia tidak membakarnya melainkan di hadapan sekumpulan sahabat
Muhammad. Jikalau aku yang ditugaskan, tentunya akan aku lakukan
sebagaimana yang telah dia lakukan*‘.”(al-Hafizh Ibnu Hajar telah
menshahihkan sanadnya di dalam Fathul Bari, 9/18).

Kalau Lae Jaha menanyakan "Apakah Allah memberinya hak untuk menentukan
mana Al Qur'an yang akan Allah jaga sepanjang jaman?", menurut saya dengan
proses seperti yang dilakukan Utsman bin Affan r.a., dan dengan
menyandarkan pada penilaian Nabi semasa hidup beliau terhadap Utsman, saya
berpendapat, "Ya, Allah memberinya hak untuk itu, karena dia adalah
Khalifah yang dibaiat seluruh muslim, termasuk para Sahabat lain yang masih
hidup saat itu dan termasuk Ahli Badar yang sudah dijamin masuk surga
seperti Abdurrahman bin Auf atau Abu Ubaidah Al Jarrah."

Perbedaan motif pengumpulan dan penulisan ulang mushaf di era Abu Bakar dan
Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhuma adalah di jaman Abu Bakar karena
mulai banyaknya sahabat Hafiz yang gugur di medan perang (terutama Perang
Yamamah), sehingga perlu dibuat sebuah mushaf induk, meski tidak
diperbanyak dan didistribusikan kepada umum oleh Abu Bakar. Sementara di
era Utsman bin Affan, motifnya untuk menghindari perpecahan di kalangan
muslim yang merasa qiraah yang mereka gunakan adalah yang paling benar, dan
qiraah lain sesat.

Upaya-upaya untuk mempertanyakan legitimasi usaha kodifikasi Mushaf
Utsmani, apalagi dengan memfokuskan hanya pada Mushaf Ali bin Abi Thalib
sebagai "korban pembakaran", itulah yang justru berbahaya karena:

(1) Tak pernah ada riwayat bahwa Ali bin Abi Thalib menolak upaya Utsman
(entah kalau menurut literatur Syiah), dan

(2) Upaya seperti ini sangat kental bernuansa Syiah -- yang memang membenci
para Sahabat nabi, terutama tiga Khalifa Rasyidin pertama -- selain juga
merupakan motif para orientalis untuk menunjukkan bahwa upaya kodifikasi
mushaf Utsmani sebagai bagian dari kanonisasi kitab suci yang lebih
otoriter dibandingkan sejarah keragaman Injil yang empat.

Wallahua'lam bish shawab.

Wassalam,

ANB,
45, Cibubur




> Pada Selasa, 30 Juli 2013, Jaha Nababan menulis:
>
>> Uda Akmal dan sanak sapalanta,
>>
>> Detil saya sudah lupa karena ini diskusi dengan teman yang sedang PhD
>> tentang study sejarah agama (kalau tidak salah) di Harvard, sewaktu kami di
>> Boston dulu. Dia dibimbing langsung dengan orang-orang yang juga pernah
>> menjadi pembimbing Salman Rushdie. Kemungkinan besar referensi yang dipakai
>> sama. Tetapi setahu saya dia mencoba mengambil perspektif yang berbeda.
>>
>> Yang saya ingat, itu memang di antara An Najm, ayat 19 dan 20. Di mana
>> kalau tidak salah ayat yang dihilangkan itu adalah Rasulullah sempat
>> terbetik di dalam hatinya menerima tawaran "berbagi Tuhan" dengan
>> saudara-saudaranya dari Kafir Quraisy. Allah marah kepadanya sehingga
>> Rasulullah menyadari dan memohonkan ampun lalu Allah mengabulkannya.
>>
>> Secara terpisah, saya pernah menghadiri pengajian yang ceramahnya berisi
>> bahwa para rasul mencapai kesempurnaannya melalui sebuah kesalahan tertipu
>> Iblis untuk dapat membedakan yang haq dan yang bathil. dengan mengalami
>> yang Haq dan yang Bathil. Contoh yang diberikan pada waktu itu salah
>> satunya adalah Nabi Yunus AS. yang meninggalkan kaumnya padahal Allah tidak
>> memerintahkannya sehingga ia ditelan Ikan Paus dan dikembalikan Allah
>> kepada kaumnya. Referensi ayatnya pada pengajian tsb. adalah sbb
>>
>> Al Anaam 112
>>
>> Dan demikianlah kami jadikan tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu
>> syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian
>> mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang
>> indah untuk menipu manusia. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka
>> tidak mengerjakannya. Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka adakan.
>> Teman di Harvard tersebut, mengacu pada manuscrip-manuscrip yang dimiliki
>> Harvard yang ia tidak sebutkan. Menurutnya dalam catatan sejarah, selama
>> 200 tahun setelah Rasulullah meninggal banyak hadits yang shahih dan qudsi
>> dibakar karena mendukung ayat yang hilang tersebut.
>>
>> Teman lain yang studi di PhD di Hartford kebetulan riset PhD-nya tentang
>> literature selama 200 tahun tersebut. Dia tidak spesifik bilang tentang
>> hadits2 pendukung ayat yang hilang. Tetapi dia bilang kenapa dia tertarik
>> pada literature tua itu pertama saat ini lebih banyak senang mempelajari
>> literature Islam kontemporer sementara yang classic ahlinya sudah pada
>> emeritus. Kedua, masa 200 tahun setelah Rasulullah wafat itu seperti Dark
>> Ages banyak para hafidz meninggal karena tua atau mati syahid dalam perang.
>> Literature yang terbakar karena perang atau karena perbedaan pendapat.
>>
>> Menurut hemat saya dari hasil diskusi-diskusi diberbagai tempat dengan
>> beberapa nara sumber. Saya berkesimpulan, sangatlah mungkin bahwa ada ayat2
>> yang dihilangkan. Mengapa pula Usman memusnahkan semua kecuali satu? Apakah
>> tidak mungkin salah satu yang dibakar adalah versinya Ali? Atau versi ayat
>> yang hilang tersebut. Apakah Allah memberinya hak untuk menentukan mana Al
>> Quran yang akan Allah jaga sepanjang jaman.
>>
>> Saya tetap percaya mushaf yang kita pegang hari ini berdasarkan
>> pilihannya Usman. Bagi saya info tambahan bahwa bahkan Rasulullah pun
>> pernah dibohongi Iblis adalah informasi penting buat saya utk tetap
>> berpegangan bahwa saya yang dhaif ini pasti lebih mudah dibohongi. Pada
>> saat2 saya mengalaminya saya yakin akan ada pertolongan bila saya meminta
>> seperti yang Rasulullah contohkan dalam tidak hanya pada ayat yang hilang
>> tersebut, tapi juga ayat2 yang lain sehingga Rasulullah dengan teguh
>> berkata Lakumdinukumwaliyadin.
>>
>> Saya menggunakan mushaf ini untuk mencari cara menghidupkan Al Quran
>> dalam diri yang In Syaa Allah lebih dijamin oleh Allah hingga akhir jaman
>> walau saya tahu berat untuk mencari dan mempertahankannya bila kemudian
>> hari saya mendapatkannya. Saya percaya Allah menjaga Al Quran meski semua
>> hafidz terbunuh dalam perang, semua Al Quran. Hanya Islam yang punya
>> sejarah muncul orang2 hafal Al Quran meski tidak belajar secara formal.
>> Saya tidak pernah mendengar ada penghafal Injil, Veda, dll. apalagi yang
>> tiba2 hafal Injil, Veda dll. secara tiba2.
>>
>> Terhadap literatur2 teman2 tersebut bagi saya urutannya tentu lebih
>> rendah dari Al Quran, Sunnah Rasul dan Hadits. Hanya saja sejarah tidak
>> sesempurna yang selama ini kita terima di bangku sekolah ada banyak
>> kekerasan yang menghancurkan literatur. Jadi dengan apabila semua literatur
>> yang ada tidak mampu membuat kita sepaham, saya mahfum dan maklum. Jangan
>> sampai kita menjadi penyebab peperangan yang tidak perlu dan mengakibatkan
>> lebih banyak lagi literatur terbakar.
>>
>> Uda Akmal, ditunggu penjelasan tentang Al Quran dalam diri dan di luar
>> diri. Semoga bisa melengkapi atau paling tidak jika kita berbeda pendapat
>> menambah library saya :)
>>
>> Rgds,
>> Jaha Nababan
>> Jatiasih, L40, Suku Jambak
>>
>>
>>
>>
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke