Mula-mula terdengar siulan yang pelan mendayu-dayu membelai telinga yang mendengarkan, lalu tambah lama tambah tinggi bunyi siulan tersebut sehingga kemudian yang terdengar hanya seperti hembusan angin tajam dari mulut bocah itu tapi tidak ada bunyi yang keluar. Tabung yang ada di meja mulai bergetar mendengar siulan Aswin semakin lama semakin keras getarannya, dan mendadak terdengar suara buk...buk...buk seperti ada sesuatu yang membentur dinding tabung seiring dengan siulan yang tidak terdengar bunyinya oleh telinga manusia, tapi bagi ular tersebut merupakan siksaan yang menyakitkan di kepalanya sehingga tidak tahan sakit mereka membenturkan kepalanya ke dinding tabung.
Lalu Aswin menghentikan siulannya, dan segera membuka tabungnya untuk mengeluarkan kedua ular tersebut. Terlihat kedua ular itu lemas seperti tidak bertenaga, kepalanya terkulai jatuh di tangan Aswin, segera Aswin meniup kedua ular itu bergantian pelan-pelan dan lembut sekali. Tidak lama kedua ular itu bisa berdiri dengan tegak kembali dan memandang Aswin dengan mengeluarkan lidahnya seakan-akan menyampaikan salam. Aswin tetap meniup kedua ular itu sampai dia melihat kedua ular itu sudah bisa meliuk-liukan badannya kembali. ”Maaf , teman-teman, bukan aku hendak menyakiti kalian tapi ayah dan para paman ingin mengetahui apa sebabnya kalian tidak bakal menyakiti aku.” kata Aswin lembut kepada kedua ular itu. Dan anehnya kedua ular itu mengangguk-anggukan kepalanya kepada Aswin. Setelah itu dengan hati-hati Aswin memasukan kedua ular itu ke dalam tabungnya. Kemudian dia berpaling menatap kembali kepada ayah, bunda dan teman ayahnya. ”Begitu cara kakek Inal mengajari aku untuk menaklukan kedua ular itu. Siulan tadi membuat kedua ular itu kesakitan hebat di kepalanya dan lama-lama dia lemas karena tidak kuat menahan sakit, karena itu kakek bilang kalau kedua ularku ini nakal harus dibunyikan siulan seperti tadi jadi mereka tidak akan bisa berbuat macam-macam lagi.” ”Hmmm...mmmm..., apa kamu bisa mengajari paman siulan tadi?” ”Boleh saja, kata kakek Inal, jika memang ada orang yang mempunyai kemampuan untuk bersiul seperti aku, tidak masalah aku mengajarinya.” ”Benarkah, begitu kata kakek Inal?” ”Iya, paman Masnan.” "Apa kakek Inal tidak mengatakan yang lain lagi mengenai kamu mengajari siulan itu.” ”Kata kakek Inal, siulan itu hanya bisa dikeluarkan oleh hawa murni yang bersih dan kuat dari dalam diri orang tersebut, jika tidak mempunyai jangan coba-coba melakukannya malahan nanti bisa binasa karena kedua ular tersebut menjadi marah dan akan mengeluarkan racunnya.” ”Coba kamu ajarkan kepada paman, siapa tahu paman juga bisa seperti kamu.” ”Baiklah paman Masnan, tapi izinkan aku meletakkan tabung ini di tempat tidurku.” "Silahkan.” Aswin berjalan menuju tempat tidurnya dan mengambil sebuah kotak yang berlubang di sekitar badan kotak tersebut lalu menaruh tabung ular ke dalam kotak dan menutupnya. Lalu menutupi kotak tersebut dengan sebuah kain yang berwarna hitam dan meletakkannya di samping bantal kepalanya. Lalu segera dia berjalan menuju meja dan kursi yang ada di tengah ruang tidurnya, sementara dia mengurus sepasang ularnya itu, ayahnya mempersilahkan tamu-tamunya untuk duduk di kursi sekeliling meja yang ada di ruangan itu sambil menunggu Aswin. Aswin berjalan mendekati Bundanya, yang wajahnya masih terlihat sebentar pucat sebentar merah setiap matanya berbenturan dengan mata Kahar yang sedang sembunyi-sembunyi menatap dia dengan penuh kerinduan. Siti mengulurkan tangannya dan mengangkat Aswin untuk duduk di pangkuannya, biasanya diperlakukan seperti ini Aswin tidak menyukainya dan memprotes sang Bunda yang memperlakukannya seperti adik bayi, padahal dia sendiri masih di kategorikan balita. Tapi kali ini dia tidak protes bahkan dengan senangnya duduk di pangkuan sang bunda setelah sebelumnya mengusap wajah sang bunda dan mencium pipinya. Sitipun jadi senang dengan perlakuan Aswin dan mencium pipi montok Aswin. ”Bunda, Aswin janji tidak akan buat Bunda sedih dan menangis lagi serta akan menurut apa yang dikatakan Bunda.” terdengar Aswin berusaha menyakinkan sang bunda dengan janji dia sebelumnya. ”Iya, bunda tahu, anak Bunda mana mungkin ingkar janji, yang ingkar janji adalah tikus.” kata sang Bunda dengan tersenyum manis kepada Aswin. Terdengar helaan nafas seseorang, dan kemudian disusul terdengar tertawa ditahan dari sang ayah. Mereka segera menoleh memandang Wali Nagari Bumi dan teman-temannya. Terlihat sang ayah sedang menahan tawa memandang Kahar diikuti oleh kedua temannya yang tersenyum simpul melihat Kahar yang memerah mukanya salah tingkah. Dan Siti yang melihat itupun ikut-ikutan memerah pipinya karena malu, sengaja dia menyembunyikan mukannya di belakang kepala Aswin. Rupanya Kahar terpesona memandang senyum Siti sehingga tanpa terasa menghela nafas untuk melonggarkan dadanya yang terasa sesak Buru-buru Kahar bertanya kepada Aswin untuk menghilangkan malunya,” Aswin, kamu mau mengajarkan kami ilmu siulan tadi kan ?” ”Baiklah paman, kata kakek Inal jika tidak bisa jangan memaksakan diri karena bisa berakibat terganggunya hawa murni yang ada. Bila paman merasa darah bergolak kencang dan jantung terasa mau meledak segera hentikan siulannya, kalau tidak paman bisa terluka dalam. ” ”Hah, bisa sampai seperti itu?” kata Masnan tercengang. Bersambunggg……. No virus found in this outgoing message. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.21.3/1307 - Release Date: 02/03/2008 15:59 --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet. - Tuliskan Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting. - Hapus footer & bagian yg tidak perlu, jika melakukan reply. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi. - Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku. =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Agar dapat melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
