*DARI* pelosok kampung di Sumatera Barat, warung minang menyebar bagai 
organisme makhluk hidup. Warung-warung itu berbiak di mana saja, mulai dari 
Jakarta sampai mancanegara. Setiap saat, "tambuah ciek lai" alias tambah 
satu lagi.

Tanah Minang seolah pindah ke jalur pantura, Jawa Barat. Begitulah kesan 
yang kami tangkap ketika menyusuri jalur itu awal Agustus lalu. Betapa 
tidak, mulai dari perempatan Tol Cikampek-Cikopo hingga Indramayu, lebih 
dari seratus warung minang berdiri di sisi kiri dan kanan jalur tersebut.

Warung-warung itu sebagian tampil amat dominan. Papan-papan namanya 
besar-besar seolah hendak menenggelamkan warung jawa, sunda, atau cirebon 
yang jumlahnya dari tahun ke tahun kian sedikit. Ukuran warungnya pun 
tergolong raksasa. Tengoklah RM Taman Selera di Losarang, Indramayu, milik 
Rusdi Safry (48) yang luasnya 4 hektar.

Empat hektar? Ya, 4 hektar! Rusdi bahkan berencana membuat satu lagi warung 
padang di dekat Pintu Tol Palimanan seluas 7 hektar. Alamak! Warung minang 
tambuah ciek.

Dengan luas 4 hektar, Taman Selera mirip Terminal Bus Lebak Bulus, Jakarta 
Selatan. Kamis malam pukul 23.00, awal musim mudik Lebaran, puluhan bus 
Sinar Jaya masuk-keluar area parkir rumah makan itu. Setiap mampir, bus-bus 
memuntahkan puluhan penumpang.

Rusdi mengatakan, setiap malam ada 400-an bus Sinar Jaya yang singgah di 
warungnya. Pada musim mudik Lebaran, Agustus lalu, setiap bus terisi penuh 
60 penumpang. Dengan begitu, Rusdi melayani sekitar 24.000 penumpang sehari 
semalam. Setengah dari mereka atau 12.000 orang hampir pasti makan besar.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO Sajian warung khas Kapau di Pasar Pabukoan, 
Nagari Kapau, Agam, Sumatera Barat, Rabu (10/7/2013). Nagari Kapau menjadi 
asal muasal warga pengusaha Warung Kapau yang tersebar luas di pelosok 
Indonesia.
Satu porsi nasi dan lauk di Taman Selera dibanderol rata-rata Rp 20.000. 
Jadi, uang yang masuk dari penjualan nasi sebanyak 12.000 porsi setidaknya 
Rp 240 juta sehari. Belum lagi pemasukan dari penjualan minuman, mi instan, 
makanan ringan, rokok, hingga pemakaian toilet yang dibanderol Rp 2.000 
untuk sekali buang air kecil.

Rusdi adalah generasi kedua pengusaha warung minang asal Nagari Sumpur, 
Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, yang menggarap jalur 
pantura. Pelopornya bernama almarhum Edy Johniwar yang membuka RM Citra 
Rasa di Indramayu awal tahun 1980-an ketika warung minang di kawasan itu 
masih bisa dihitung jari. Ketika sukses, Edy membawa sejumlah warga Sumpur 
untuk bergabung. Salah seorang di antaranya adalah Rusdi yang masih 
terhitung keponakan Edy.

Rusdi bekerja sekitar tiga tahun di Citra Rasa. Setelah itu, ia 
memberanikan diri membuka warung minang sendiri tahun 1988. Ketika warung 
itu sukses, ia membuka pintu lebar-lebar bagi warga sekampung yang ingin 
bekerja di warungnya. ”Asal mau kerja silakan datang,” katanya.

Saat ini ada 15-20 orang Sumpur yang bekerja di rumah makannya. Sisanya 
sebanyak 180-an orang berasal dari Indramayu. Dulu, kata Rusdi, ada banyak 
anak muda Sumpur yang bekerja di RM miliknya. Beberapa di antara mereka 
memisahkan diri dan menjelma jadi juragan warung minang baru. Salah seorang 
di antaranya adalah Nedy (42), yang kini berkibar di pantura dengan 
Singgalang Jaya dan Alam Wisata.

Rusdi mengatakan, sekarang ada 12 warung minang di jalur pantura yang 
pemiliknya dari Nagari Sumpur, antara lain Rancak Minang, Minang Permai, 
Sabana Minang, Sinar Minang A dan B, Pesona Minang, dan Permata Minang. 
”Kami tak bersaing, justru saling menguatkan. Saya percaya setiap orang 
punya rezeki sendiri,” ujar Rusdi.

Begitulah, satu warung menetaskan sekian warung atau cabang baru. Jangan 
kaget jika di pantura ada RM Mitra 1, 2, 3, 4; Siang Malam 1, 2; dan 
Bagadang 1, 2, 3.

Warung-warung nasi kapau di kawasan Pasar Senen, Jakarta, berbiak dengan 
cara serupa. Andau, warga Nagari Kapau, Kota Bukittinggi, menceritakan, 
pada tahun 1977, adiknya, Erni, membuka warung kapau di pasar itu. Setelah 
usaha itu maju, Andau diajak bergabung. Tahun 1981, satu petak warung Erni 
berbiak menjadi 14 petak. Beberapa di antaranya dikelola Andau.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO Sajian warung khas Kapau di Pasar Pabukoan, 
Nagari Kapau, Agam, Sumatera Barat, Rabu (10/7). Nagari Kapau menjadi asal 
muasal warga pengusaha Warung Kapau yang tersebar luas di pelosok Indonesia.
Beberapa tahun belakangan, muncul belasan warung nasi kapau lain di Pasar 
Senen dan Kramat Raya. ”Tapi, warung kapau Kramat Raya yang dimiliki orang 
asli Kapau cuma dua. Sisanya milik orang Jawa atau orang Minang dari nagari 
lain yang pernah bekerja di warung nasi kapau,” kata Andau, yang 
turun-temurun berdagang nasi mulai dari ayah, mertua, istri, ipar, kakak, 
adik, anak, hingga menantunya.

*Sistem bagi hasil*

Sistem kekerabatan memang jadi penopang perkembangbiakan warung minang. 
Namun, itu tidak berlaku lagi di jaringan Restoran Sederhana milik Haji 
Bustaman asal Lintau, Kabupaten Tanah Datar. Ia memilih sistem kemitraan 
untuk membiakkan restorannya. Asal punya uang beberapa miliar rupiah, Anda 
bisa memiliki cabang baru Restoran Sederhana.

Hasilnya, jaringan restoran yang bermula dari sebuah kedai kecil di 
Bendungan Hilir tahun 1970-an itu kini berbiak menjadi 100-an cabang di 
sejumlah daerah di Indonesia, Malaysia, dan Singapura. ”Investornya bukan 
hanya orang Minang, melainkan juga orang Batak, Jawa, Sunda. Sistemnya bagi 
hasil, bukan waralaba,” tutur Bustaman yang ”hanya” memiliki secara penuh 
enam dari sekitar 100 cabang Restoran Sederhana.

*Migrasi*

Sejak kapan warung minang menyebar begitu rupa? Sejumlah catatan 
menyebutkan, diaspora warung minang terjadi seiring migrasi besar-besaran 
orang Minang ke tanah rantau pada abad ke-20. Data sensus 1930 menyebutkan, 
penduduk Sumatera Barat yang tinggal di luar kampung halamannya ketika itu 
mencapai 211.000 orang yang tersebar di Jambi, Riau, Sumatera Timur, dan 
Malaysia. Migrasi meluas pasca-kemerdekaan Indonesia hingga ke kota-kota di 
Jawa.

Mereka berbondong-bondong datang ke Jakarta menumpang kapal-kapal dari 
Teluk Bayur, Padang. Banyak di antara mereka mengincar kedudukan di 
kementerian dan departemen pemerintah yang baru terbentuk, berdagang, atau 
menuntut ilmu (Mochtar Naim, 1984).

Lance Castle memperkirakan, tahun 1962, ada 60.000 orang Minang di Jakarta. 
Jumlah itu melonjak menjadi 154.000 orang berdasarkan sensus tahun 1990. 
Itu baru di Jakarta, belum di Botabek dan kota-kota lain.

Karena komunitas orang Minang bertambah banyak, muncul kebutuhan membuka 
warung minang. ”Awalnya, pelanggan warung minang itu orang Minang saja. 
Pemiliknya sudah pasti orang Minang sebab warung sekaligus jadi tempat 
menampung sesama perantau. Lama-kelamaan, warung minang berkembang seperti 
sekarang,” ujar sejarawan Muhammad Nur dari Universitas Andalas.

KOMPAS/RIZA FATHONI Suasana RM Padang Sederhana di kawasan Sunan Giri, 
Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (29/8/2013).
Sebagian rumah makan minang di luar negeri juga berkembang seiring 
membesarnya jumlah perantau Indonesia. Tengoklah Restoran Minang Indonesia 
milik Arfianto Wismar Bachtiar di Doha, Qatar. Awalnya, laki-laki asal 
Lintau itu datang ke Qatar untuk bekerja di perusahaan minyak tahun 2000. 
Selama di Qatar, istrinya sering memasak masakan minang. Tak disangka, 
mereka mendapat banyak order masakan dari keluarga Indonesia di Qatar dan 
KBRI.

Akhirnya, September 2006, ia memberanikan diri membuka restoran minang. 
Restoran itu terus berkembang dan tahun 2011, Arfianto membuka restoran 
kedua. Pelanggan restorannya 85 persen orang Indonesia dan sisanya orang 
asing.

Begitulah, bagai organisme makhluk hidup, warung minang bisa berbiak di 
mana saja. Sampai-sampai ada seloroh, ”Kalau di bulan ada orang Minang, 
mereka akan buka warung nasi di sana.” *(Budi Suwarna dan Indira 
Permanasari)  

sumber : 
http://travel.kompas.com/read/2013/09/03/1605015/Warung.Minang.Tambuah.Ciek.?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Ktswp


Wassalam,


St. eF Al Zain Sikumbang
Kuala Lumpur
*

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke