ba a kok dak tabik lo salero mamak?
dek banyak minyak lo?atau lah batuka lo lidah mak dut dek lamo di rantau?
hehe..

st
kl

Pada Selasa, 03 September 2013, ajo duta<[email protected]> menulis:
> Namun orang yang peduli kesehatan sekarang mulai meninggalkan masakan
Minang yang penuh dengan minyak dan santan. RM Dapur Sunda sudah merebak
dimana-mana. Malah di Padang sekalipun.
> Tapi walaupun mancubo mangelak-ngelak masakan awak. Paling kurang
sakali-dua saminggu kangen juo basalero Minang.
> Hari tadi mangawani "induak bareh" ka Pasar Tanah Abang. Tantu pai
malapeh salero di lantai 8. Bakulilang mancari RMP, basuo jo RMP Simpang
Raya. Namonyo seperti terkenal. Tapi dicigok di etalase, kok kurang tabik
salero. Nampak juo SMS (sate mak Syukur). Tapi ambo kurang berminat.
Akhirnya mampir
> di RM Sunda ala pransmanan.
>
>
>
-----------------------------------------------------------------------------------------------
> Selamat 'Idulfitri 1434 H Mohon Maaf Lahir Bathin Atas Kesalahan
> dan Kekeliruan. Semoga Amal Ibadah Kita Diterima Allah SWT. Amin
> Wassalaamu'alaikum
> Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta),
> 17/8/1947, suku Mandahiliang, gala Bagindo
> Gasan Gadang Pariaman - Tebingtinggi Deli -
> Jakarta - Sterling, Virginia USA
> ------------------------------------------------------------
>
> 2013/9/3 St. eF Al Zain Sikumbang <[email protected]>
>
> DARI pelosok kampung di Sumatera Barat, warung minang menyebar bagai
organisme makhluk hidup. Warung-warung itu berbiak di mana saja, mulai dari
Jakarta sampai mancanegara. Setiap saat, "tambuah ciek lai" alias tambah
satu lagi.
>
> Tanah Minang seolah pindah ke jalur pantura, Jawa Barat. Begitulah kesan
yang kami tangkap ketika menyusuri jalur itu awal Agustus lalu. Betapa
tidak, mulai dari perempatan Tol Cikampek-Cikopo hingga Indramayu, lebih
dari seratus warung minang berdiri di sisi kiri dan kanan jalur tersebut.
>
> Warung-warung itu sebagian tampil amat dominan. Papan-papan namanya
besar-besar seolah hendak menenggelamkan warung jawa, sunda, atau cirebon
yang jumlahnya dari tahun ke tahun kian sedikit. Ukuran warungnya pun
tergolong raksasa. Tengoklah RM Taman Selera di Losarang, Indramayu, milik
Rusdi Safry (48) yang luasnya 4 hektar.
>
> Empat hektar? Ya, 4 hektar! Rusdi bahkan berencana membuat satu lagi
warung padang di dekat Pintu Tol Palimanan seluas 7 hektar. Alamak! Warung
minang tambuah ciek.
>
> Dengan luas 4 hektar, Taman Selera mirip Terminal Bus Lebak Bulus,
Jakarta Selatan. Kamis malam pukul 23.00, awal musim mudik Lebaran, puluhan
bus Sinar Jaya masuk-keluar area parkir rumah makan itu. Setiap mampir,
bus-bus memuntahkan puluhan penumpang.
>
> Rusdi mengatakan, setiap malam ada 400-an bus Sinar Jaya yang singgah di
warungnya. Pada musim mudik Lebaran, Agustus lalu, setiap bus terisi penuh
60 penumpang. Dengan begitu, Rusdi melayani sekitar 24.000 penumpang sehari
semalam. Setengah dari mereka atau 12.000 orang hampir pasti makan besar.
>
> KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO Sajian warung khas Kapau di Pasar Pabukoan,
Nagari Kapau, Agam, Sumatera Barat, Rabu (10/7/2013). Nagari Kapau menjadi
asal muasal warga pengusaha Warung Kapau yang tersebar luas di pelosok
Indonesia.
> Satu porsi nasi dan lauk di Taman Selera dibanderol rata-rata Rp 20.000.
Jadi, uang yang masuk dari penjualan nasi sebanyak 12.000 porsi setidaknya
Rp 240 juta sehari. Belum lagi pemasukan dari penjualan minuman, mi instan,
makanan ringan, rokok, hingga pemakaian toilet yang dibanderol Rp 2.000
untuk sekali buang air kecil.
>
> Rusdi adalah generasi kedua pengusaha warung minang asal Nagari Sumpur,
Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, yang menggarap jalur
pantura. Pelopornya bernama almarhum Edy Johniwar yang membuka RM Citra
Rasa di Indramayu awal tahun 1980-an ketika warung minang di kawasan itu
masih bisa dihitung jari. Ketika sukses, Edy membawa sejumlah warga Sumpur
untuk bergabung. Salah seorang di antaranya adalah Rusdi yang masih
terhitung keponakan Edy.
>
> Rusdi bekerja sekitar tiga tahun di Citra Rasa. Setelah itu, ia
memberanikan diri membuka warung minang sendiri tahun 1988. Ketika warung
itu sukses, ia membuka pintu lebar-lebar bagi warga sekampung yang ingin
bekerja di warungnya. ”Asal mau kerja silakan datang,” katanya.
>
> Saat ini ada 15-20 orang Sumpur yang bekerja di rumah makannya. Sisanya
sebanyak 180-an orang berasal dari Indramayu. Dulu, kata Rusdi, ada banyak
anak muda Sumpur yang bekerja di RM miliknya. Beberapa di antara mereka
memisahkan diri dan menjelma jadi juragan warung minang baru. Salah seorang
di antaranya adalah Nedy (42), yang kini berkibar di pantura dengan
Singgalang Jaya dan Alam Wisata.
>
> Rusdi mengatakan, sekarang ada 12 warung minang di jalur pantura yang
pemiliknya dari Nagari Sumpur, antara lain Rancak Minang, Minang Permai,
Sabana Minang, Sinar Minang A dan B, Pesona Minang, dan Permata Minang.
”Kami tak bersaing, justru saling menguatkan. Saya percaya setiap orang
punya rezeki sendiri,” ujar Rusdi.
>
> Begitulah, satu warung menetaskan sekian warung atau cabang baru. Jangan
kaget jika di pantura ada RM Mitra 1, 2, 3, 4; Siang Malam 1, 2; dan
Bagadang 1, 2, 3.
>
> Warung-warung nasi kapau di kawasan Pasar Senen, Jakarta, berbiak dengan
cara serupa. Andau, warga Nagari Kapau, Kota Bukittinggi, menceritakan,
pada tahun 1977, adiknya, Erni, membuka warung kapau di pasar itu. Setelah
usaha itu maju, Andau diajak bergabung. Tahun 1981, satu petak warung Erni
berbiak menjadi 14 petak. Beberapa di antaranya dikelola Andau.
>
> KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO Sajian warung khas Kapau di Pasar Pabukoan,
Nagari Kapau, Agam, Sumatera Barat, Rabu (10/7). Nagari Kapau menjadi asal
muasal warga pengusaha Warung Kapau yang tersebar luas di pelosok Indonesia.
> Beberapa tahun belakangan, muncul belasan warung nasi kapau lain di Pasar
Senen dan Kramat Raya. ”Tapi, warung kapau Kramat Raya yang dimiliki orang
asli Kapau cuma dua. Sisanya milik orang Jawa atau orang Minang dari nagari
lain yang pernah bekerja di warung nasi kapau,” kata Andau, yang
turun-temurun berdagang nasi mulai dari ayah, mertua, istri, ipar, kakak,
adik, anak
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat
lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari
Grup Google.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
>

-- 
*st. eF Al Zain Sikumbang
*
*Kuala Lumpur
*

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke