Jepe ba anak ampek apo dek karano lague "mudiek Arau"nyo Cek Uniang? (Baranak 
ampek dinanti juo) he 3x.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: "JePedotCom" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 5 Sep 2013 07:44:56 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [R@ntau-Net] Cerita Ringan "Kuliner Balita"

Cerita Ringan "Kuliner Balita"


Dalam tugas kelapangan terutama ke desa-desa atau kampung-kampung  kadang juga 
saya amati ketika ibu dan anak-anak  (terutama Balita)  berkumpul di sebuah 
Puskesmas atau tempat "dadakan" (tidak permanen) para ibu-ibu  membawa 
balitanya apakah untuk imunisasi, timbang berat,kasih vitamin dan lain-lain 
yang berhubungan dengan kesehatan bayi.

Sedikit yang herannya saya, kenapa balita tsb lebih banyak dicekoki dengan 
bubur-bubur instan sebuah produk (bisa jadi ini pesan sponsor untuk produk 
makanan padat buat bayi yang beraneka ragam dan merek), sambil bercengkrama 
ibu-ibu  yang membawa balitanya biasa dikasih bubur instan produk tertentu 
dalam pemakiannya tentu sangat praktis dan "gak ribet" tinggal tuangkan dalam 
satu wadah lalu diseduh air panas maka makanan padat/bubur balita siap 
dikonsumsi.

Lalu saya amati alam sekitar kampung tersebut yang cukup tersedia dialam 
ikan-ikanan dan belut serta udang yang sekira sumber protein, vitamin dan 
bernilai gizi tinggi buat perkembangan tubuh dan otak balita, kenapa ibu2 yang 
punya balita ini tidak memanfaatkannya buat makanan padat/bubur ketika bayi 
mereka sudah mulai diberikan asupan makanan yang padat (usia 1-3 tahun) dalam 
bentuk bubur nasi tim atau sejenisnya ikan-ikanan dan belut tersebut.

Saya jadi ingat ke empat anak saya ketika balita, lebih cendrung mengasih 
makanan padat bubur tersebut berupa nasi tim yang dicampur dengan serpihan 
daging belut atau daging ikan segar baik sungai atau laut yang dihaluskan 
sedemikian rupa dengan sedkit memberikan sentuhan rasa "enak" alami seperti 
rebusan daun bawang dan seledri serta sayuran lain sebut saja wortel dan bayam, 
lalu diblender halus dengan nasi bubur. Jarang kami memberikan produk bubur 
instan buat balita, kalaupun ada hanya alasan praktis saja seperti dalam 
perjalanan.

Saya meyakini serpihan daging belut dan ikan-ikanan ini sangat bagus buat 
pertumbuhan otak dan perkembangan balita dan itu terbukti rasa-rasanya anak 
kami saat balita cukup sehat serta jarang sakit yang harus dibawa kedokter,  
kalau sudah berurusan dengan dokter saat balita sakit tentunya sudah berurusan 
dengan obat-obatan kimiawi (farmasi) sesuai sakit yang dideritanya dengan dosis 
tertentu yang ditetapkan oleh dokter melalui resep yang harus kita tebus di 
apotik.

Pengalaman saya dengan 4 orang anak saya saat balita ketika mulai makan padat 
berupa nasi tim baik yang sangat halus atau sudah sedikit padat (sesuai usia) 
disamping ASI itu bukan sesuatu yang sulit juga dimakan bagi balita, karena 
bagi balita tingkat rasa "enak dan tidak enak " belum  terlalu sensitif 
dibandingkan ketika sudah menginjak usia 5,6 atau 7 tahun yang sudah bisa 
bilang sebuah makanan/menu  "ini enak, ini gak enak".Ketika indra perasa balita 
sudah terbiasa dari awal semisal nasi tim serpihan daging belut maka 
selanjutnya sudah permanen dilidahnya artinya tidak ada lagi penolakan si 
balita dalam waktu tertentu setiap hari "dicekoki" kemulutnya bubur ini.

Nah kenapa di kampung-kampung  itu malah sepertinya merasa lebih "modern atau 
gengsi ?" memberikan makanan padat berupa bubur instan aneka merek atau karena 
sering mendapatkan gratis dari pihak sponsor yang dititipkan sama bidan-bidan  
desa yang berhubungan dengan kesehatan anak ? atau alasan lainnya dan atau 
pengetahuan serta wawasan ibu-ibu  muda dikampung yang punya balita sangat 
terbatas atas segala manfaat belut dan ikan buat pertumbuhan balitanya ?

Saya pikir perlu kiranya hal-hal seperti ini para penyuluh kesehatan dikampung 
lebih "mendoktrin" ibu-ibu yang punya balita untuk bisa memanfaatkan belut dan 
ikan yang tersedia melimpah di alam perkampungan ranah minang, kebanyakan yang 
saya lihat dan saksikan bahkan dikampung saya sendiri ibu-ibu muda yang punya 
balita lebih cendrung mengasih makanan padat balita dari produk-produk instan 
bermerek, kalaupun yang cukup tepat mereka lakukan dengan memberi sebuah pisang 
yang dikikis dengan sendok buat balitanya :-)

Belut sawah segar banyak, ikan tersedia, beras masih baru kenapa balitanya 
tidak dikasih ini,kebanyakan memang para ibu-ibu dikampung lebih memanjakan 
"selera yang berusia tua"  agar makannya "nendang"

Mestinya para ibu-ibu  muda di ranah minang yang punya balita juga 
memperhatikan asupan/makanan balitanya agar  "nendang" juga  dalam arti   si 
balita juga merasakan masakan kaya akan  asupan vitamin, protein dan gizi dari 
sumber ikan-ikanan dialam yang banyak tersedia.

Jepe
@Melak-Kutai Barat
28/8/2013
Wass-Jepe, L- 48 ThnPowered by Telkomsel BlackBerry®

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke