Dari Novel Tikam Samurai karangan Makmoer Hendrik, mungkin ado nan akrab jo 
novel ko dulu.

Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian-388-389

By tikamsamurai
  

http://tikamsamurai.wordpress.com/2012/09/10/dalam-kecamuk-perang-saudara-bagian-388-389/Dalam
 
Kecamuk Perang Saudara -bagian-388


Jika sudah bertemu dengan keluarganya, dengan anak-anaknya yang 
kecil-kecil, dia berniat mundur bersama pasukan Sadel Bereh yang memang 
masuk dari arah Gadut lewat Tembok. Tapi ternyata ketika dia sampai, 
pasukan Mobrig di bawah pimpinan Sadel Bereh telah mundur. Dia terkepung 
oleh pasukan APRI. Ingin melawan. Disuruh menyerah, tapi dia menembak. 
Sampai akhirnya dia tertembak mati. Begitu cerita yang saya dengar…”
”Bapak melihat mayatnya?”
”Tidak, tapi dua lelaki yang kemaren di kedai itu melihatnya. Mereka PRRI. 
Saya sudah mencoba melihat mayatnya di rumah sakit. Tapi tak bertemu. 
Terlalu banyak mayat. Bertimbun, bergelimpangan”.
Sepi sesaat.

”Nah Bungsu. Engkau telah mendengar bagaimana duduk perkaranya. Terserah 
padamu untuk menentukan langkah selanjutnya…”
Sepi lagi. Kari Basa bangkit. Karena di rumah itu tak ada orang lain, dia 
lalu pergi ke dapur, memasak air dan membuat kopi. Sambil minum kopi mereka 
bercerita tentang pengalaman masa lalu. Kari Basa menanyakan pengalaman si 
Bungsu di Jepang. Menanyai perkelahiannya dengan Saburo Matsuyama. Si 
Bungsu menceritakan seadanya. Pagi itu, atas saran Kari Basa, si Bungsu 
menukar pakaiannya. Pakaian gunting cina itu sudah dikenal oleh OPR sebagai 
yang membunuh teman mereka di Simpang Aur. Kari Basa membelikan dua stel 
pakaian di pasar atas. Membelikan perban untuk luka di kepalanya. Ketika 
Kari Basa pulang dari pasar dia membawa cerita tentang korban-korban yang 
berjatuhan malam tadi.

”Mereka dikuburkan di suatu tempat secara massal…”
”Satu kuburan bersama?”
”Ada dua atau tiga kuburan panjang. Di dalamnya berisi empat atau lima 
puluh mayat…”.
”Tak ada mayat yang disembahyangkan, dikafani atau dimandikan?”
”Dalam perang hal-hal begitu tak sempat difikirkan orang, Bungsu. Masih 
untung mayat itu dikebumikan. Kalau dilempar saja di Ngarai misalnya, siapa 
yang akan menuntut?”

Si Bungsu menarik nafas. Ada sesuatu yang terasa runtuh di relung hatinya. 
Alangkah ganasnya peperangan.
”Ya, perang ini memang ganas, Nak”
Ujar Kari Basa seperti bisa menerka jalan fikiran si Bungsu, dan tak ada 
seorangpun diantara kita yang mampu meramalkan, bila perang ini akan 
berakhir…”
”Tapi, saya dengar di Pekanbaru tak ada lagi peperangan…”
”Di kota itu memang tidak. Operasi di sana dilaksanakan pada tanggal 12 
Maret yang lalu. Dipimpin oleh Letkol Kaharuddin Nasution dan Letkol Udara 
Wiriadinata dengan mengerahkan pasukan RPKAD. Pekanbaru perlu mereka rebut 
dahulu, sebab di sana ada kilang minyak Caltex. Pemerintah tak mau kilang 
minyak itu menjadi sebab ikut campur tangannya pemerintah asing dalam 
urusan Indonesia. Lagipula dari seluruh daerah yang memberontak, maka di 
Sumatera Barat inilah yang berat. Pemerintah Pusat mengakui hal itu. Sebab 
di daerah ini berhimpun tokoh-tokoh militer dan tokoh politik yang tak 
dapat dianggap enteng. Baik di tingkat nasional maupun di tingkat 
internasional. Perang ini lambat laun memang akan berakhir, tapi korban 
akan jatuh sangat banyak sebelum tiba saatnya peluru terakhir ditembakkan…”

”Menurut bapak, adakah kemungkinan bagi PRRI untuk memenangkan peperangan 
ini?”
”Saya tak berani meramalkan. Tapi ada beberapa indikasi yang barangkali 
bisa diungkapkan. Pertama, dua daerah yang diharapkan menjadi daerah 
pendukung utama, yaitu Riau dan Tapanuli, kini telah dikuasai sepenuhnya 
oleh APRI. Artinya, Sumatera Barat kini berdiri sendiri, terkepung di 
tengah. Barangkali saja ada harapan untuk mendapatkan bantuan senjata dari 
Armada VII Amerika Serikat lewat Lautan Hindia. Tapi Lautan Hindia dan 
seluruh pantai barat kini sudah dikuasai APRI di bawah komando Ahmad Yani. 
Memang ada droping senjata, peralatan dan lain-lain dari Amerika lewat 
udara. Tapi banyak yang jatuh ke rimba belantara atau jatuh ke tangan APRI. 
Maka andalan utama PRRI kini adalah rakyat di desa-desa. Rakyat sebahagian 
besar memang simpati pada mereka.

Membantu mereka membelikan obat-obatan di kota. Membantu mereka dengan 
makanan. Rakyatlah tulang punggung mereka. Hanya sayangnya, di beberapa 
kampung sudah terdengar mereka menganiaya rakyat. Merampok, memperkosa, 
membakar rumah. Saya yakin perbuatan itu dilakukan bukan oleh tentara PRRI. 
Melainkan oleh segolongan orang yang katanya menggabung pada PRRI, tetapi 
justru mempergunakan kesempatan untuk melampiaskan dendam dan nafsunya 
saja. Banyak di antara mereka ini yang berasal bukan dari tentara. Misalnya 
dari preman, tukang angkat, tentara pelajar dan lain-lain. Memang tak semua 
mereka yang melakukan. Hanya beberapa pasukan kecil yang tak terkontrol. 
Namun bukankah orang-orang tua telah menyediakan pepatah ”karena nila 
setitik, rusak susu sebelanga”? Jika hal ini tak cepat disadari 
pimpinan-pimpinan PRRI, maka pelindung utama mereka, yaitu rakyat, justru 
akan marah pada mereka…”
Sepi lagi sesaat.

”Hari ini, kau pergilah kemana saja dalam kota ini, Bungsu. Maka kau akan 
mendengar isak tangis yang menyayat. Tangis dari isteri yang kehilangan 
suami. Tangis dari kanak-kanak yang kehilangan ayah. Tangis dari ibu-ibu 
yang kematian anak lelakinya dalam usia remaja. Yang mati dalam peperangan 
kemaren…”
”Tidak. Saya takkan kemana-mana…”
”Ya, sebaiknya engkau tak usah kemana-mana, anak muda. Saya khawatir pada 
keselamatanmu. Bukannya karena mencemaskan engkau ditangkap APRI, tapi saya 
cemas engkau tak tahan mendengar isak tangis orang-orang yang kehilangan 
itu…”

Dan sehari itu, si Bungsu memang tak keluar rumah. Dia duduk diam-diam di 
ruang tamu. Mendengarkan siaran radio PRRI yang menyiarkan bahwa malam 
kemaren mereka mendapat kemenangan besar ketika menyerang Bukittinggi. 
Banyak tentara APRI yang berhasil ditembak mati. Banyak senjata yang 
direbut. Pasukan PRRI baru meniggalkan kota setelah mereka berhasil 
mengumpulkan banyak bedil dan perlengkapan lainnya. Mereka meninggalkan 
kota tanpa ada perlawanan yang berarti. Sebaliknya, radio Pemerintah Pusat 
juga menyiarkan berita penyerangan malam tersebut. Disiarkan bahwa PRRI 
berusaha menyerang kota. Tapi berhasil dipukul. Malah ratusan anggotanya 
mati tertembak.
Puluhan dapat ditangkap dan ditawan. Banyak senjata PRRI yang ditinggalkan 
begitu saja tergeletak bersama ratusan mayat pemberontak. Si Bungsu hanya 
menarik nafas panjang mendengar siaran radio yang saling bertolak belakang 
itu. Padahal di kota, yang tersisa adalah isak tangis dan luka yang amat 
dalam di jantung sejarah.

Hari ke tiga si Bungsu di rumah Kari Basa tiba-tiba pintu diketuk. Ketika 
dibuka, tak ada kesempatan berbuat apa-apa. Empat orang tentara kelihatan 
tegak dalam pakaian loreng-loreng.
”Maaf, kami hanya melakukan pemeriksaan. Pagi tadi ada tentara terbunuh di 
pasar. Ditikam oleh seorang lelaki tak dikenal dengan pisau. Berapa orang 
yang tinggal di rumah ini?”
”Dua orang…”, jawab Kari Basa.
Tentara itu menatap tajam. Pangkatnya Sersan Kepala.
”Ini rumah pak Kari Basa bukan?”
”Ya. Sayalah Kari Basa…”
Tentara itu memberi hormat dengan sikap sempurna. ”Kami sudah diberi tahu 
tentang siapa bapak. Tapi maafkan, kami harus memeriksa kartu penduduk…”
Kari Basa mengeluarkan kartu penduduknya, kemudian memberikannya pada 
sersan itu. Si sersan mengamatinya. Kemudian mengembalikan kartu itu. Lalu 
matanya menatap pada si Bungsu yang tegak tak jauh dari ruangan tamu itu 
juga.

Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian-389

”Dia keluarga bapak?”…
”Ya, ponakan saya…”
Kari Basa sebenarnya ingin melindungi si Bungsu. Tapi jawabannya sebentar 
ini justru membuat perangkap pada anak muda itu. Sesuatu yang memang tak 
bisa diduga sebelumnya. Bahkan oleh Kari Basa sendiripun, meski dia adalah 
bekas perwira intelijen lan di zaman penjajahan Belanda dan zaman Jepang. 
Perangkap itu segera kelihatan ketika seersan itu minta izin melihat kartu 
penduduk si Bungsu. Si Bungsu memberikannya. Sersan itu meneliti. Kemudian 
tatapan matanya bergantian memandang si Bungsu dan Kari Basa. Kari Basa 
segera menyadari kekeliruannya.

”Maafkan saya, Pak Kari. Menurut data yang ada pada kami, Bapak tak punya 
ponakan. Bapak punya seorang anak gadis. Bernama Salma dan kini jadi isteri 
Overste Nurdin. Atase militer Malaya di Kota Singapura. Begitu bukan?”
Kari Basa tak bisa menjawab.
”Maaf, kami ingin membawa Saudara ini…”
”Tapi, bukankah dia punya kartu?”
”Ya, kartu Padang. Dia tak pernah melapor bila dia datang dan berapa lama 
ingin tinggal di kota ini…”.
”Tapi tak ada kewajiban begitu…”, ujar Kari Basa memprotes.
”Dalam suasana begini, kewajiban apapun bisa saja diadakan, Pak Kari…”
”Baiklah. Tapi saya akan ikut serta. Saya ingin bertemu dengan komandan 
saudara..”
”Siap, silakan Pak…”

Si Bungsu memang tak bisa berbuat lain di bawah ancaman ujung bedil itu. 
Dia mengikut saja ketika dibawa ke markas tentara. Kari Basa dibawa bertemu 
dengan Komandan RTP yang berkedudukan di kota itu. Tapi sang komandan 
sedang operasi keluar kota. Itulah malangnya bagi Bungsu. Dia harus tinggal 
di sel tahanan.
”Besok saya akan kemari. Saya harap engkau menjaga diri baik-baik…” ujar 
Kari Basa saat pamitan, ketika segala usaha tak bisa dia lakukan untuk 
membawa si Bungsu pulang.
”Engkau memerlukan senjata?” bisik Kari Basa cepat ketika pengawal 
lengah.Si Bungsu menggeleng.
”Tapi…”
”Saya benar-benar merasa aman di sini, Pak. Saya harap Bapak tak usah 
khawatir…”
”Tapi samuraimu tinggal di rumah….”
”Itulah justru yang menyebabkan perasaan saya benar-benar aman…”

Sudah agak malam barulah Kari Basa pulang ke rumahnya. Si Bungsu dimasukkan 
ke sebuah sel. Sel itu sebuah ruangan cukup lebar. Di dalamnya ada tiga 
lelaki. Yang seorang masih bisa dikenal. Rapi tapi pucat. Yang dua lagi 
sudah tak menentu. Darah kental kelihatan mengalir di sela bibirnya yang 
bengkak. Pipinya benjol-benjol. Rambutnya kusut masai. Yang seorang 
berpakaian kuning seperti polisi. Yang satu lagi berbaju hijau seperti 
tentara. Ketiga lelaki itu menatap padanya begitu dia masuk. Tak ada 
balai-balai. Yang ada hanya lantai yang dingin. Si Bungsu tertegun melihat 
ketiga orang itu.
”Assalamualaikum…” katanya perlahan.

Tak ada yang menjawab. Yang berpakaian masih agak rapi itu mencoba 
tersenyum. Namun senyumnya cepat berobah jadi mimik agak takut. Lalu 
menoleh ke arah lain. Sedangkan yang seorang lagi, yang bibirnya berdarah 
dan berbaju seperti polisi, tetap diam membisu. Yang berbaju tentara dan 
bibirnya juga berdarah, bengkak di sana-sini, hanya sekejap memandang. Lalu 
menoleh ke tempat lain. Ketiga mereka duduk di lantai, bersandar ke 
dinding. Yang berdarah dan bengkak-bengkak itu duduk di dinding yang 
menghadap ke pintu. Yang rapi di dinding sebelah kanan. Tempat yang masih 
kosong adalah dinding sebelah kiri pintu. Si Bungsu menuju dinding itu. 
Lalu duduk di lantai dan bersandar.

Kini dalam sel itu ada empat orang. Tiga orang bersandar di tiga sisi 
dinding. Sebuah dinding disandari oleh dua orang, yaitu yang bibirnya 
berdarah dan mukanya bengkak-bengkak. Yang memakai baju kuning seperti 
polisi dan baju hijau seperti tentara. Sisi lain disandari oleh yang rapi 
tapi berwajah pucat. Sisi satu lagi disandari si Bungsu. Dinding yang tidak 
disandari adalah sisi dimana terletak pintu masuk. Mereka yang ada dalam 
sel tahanan itu semua pada terdiam. Sama-sama membisu. Hari belum terlalu 
larut, tapi udara dingin sudah menusuk-nusuk. Tiba-tiba pintu terbuka. 
Seorang CPM berpangkat kopral masuk. Tegak di sisi pintu, memberi hormat 
dan kemudian masuk seorang Kapten CPM beserta seorang stafnya berpangkat 
sersan mayor. Keempat orang yang ada dalam tahanan menatap pada mereka.
”Berdiri!” perintah kopral itu.

Keempatnya berdiri. Si sersan membuka map di tangannya. Lalu menjelaskan 
pada si Kapten.
”Yang berbaju kuning bernama M. Bintara, penghubung pada pasukan Dahlan 
Jambek. Yang berbaju hijau bernama D, Inspektur polisi pada Batalyon Sadel 
Bereh. Ini yang berbaju lengan panjang adalah pedagang yang diduga 
mata-mata PRRI. Yang satu ini baru saja ditangkap siang tadi di rumah pak 
Kari Basa, di daerah Panorama. Punya kartu penduduk Padang, tapi mata-mata 
kita tak pernah melihat orang ini sebelumnya di kota….”
”Besok pagi suruh semuanya menghadap saya sebalum bertemu dengan komandan 
RTP.”
”Siap!”

Kemudian Kapten itu pergi. Kopral CPM tadi menutup pintu. Suasana di 
ruangan itu kembali sepi. Namun kini sekurang-kurangnya mereka sudah saling 
mengetahui orang-orang yang ada dalam ruangan tersebut. Kedua orang yang 
bengkak-bengkak itu sejenak menatap pada si Bungsu. Si Bungsu diam saja. 
Lelaki yang disebut sebagai pedagang merangkap mata-mata, yang masih rapi 
itu, tiba-tiba merogoh kantong. Mengeluarkan sebungkus rokok Double As. Dia 
bangkit, menuju pada dua orang yang bengkak-bengkak itu.
”Silahkan…,” katanya menawarkan rokok.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke