Bung Andiko, sangat menarik, rasanya perlu diterbitkan kembali. Saya kenal dengan Bung Makmur Hendrik secara pribadi. Sekarang beliau menetap di Pekanbaru.
Sent from my iPad On 8 Sep 2013, at 14:12, Andiko <[email protected]> wrote: > Dari Novel Tikam Samurai karangan Makmoer Hendrik, mungkin ado nan akrab jo > novel ko dulu. > > Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian-388-389 > > By tikamsamurai > > > http://tikamsamurai.wordpress.com/2012/09/10/dalam-kecamuk-perang-saudara-bagian-388-389/Dalam > Kecamuk Perang Saudara -bagian-388 > > > Jika sudah bertemu dengan keluarganya, dengan anak-anaknya yang kecil-kecil, > dia berniat mundur bersama pasukan Sadel Bereh yang memang masuk dari arah > Gadut lewat Tembok. Tapi ternyata ketika dia sampai, pasukan Mobrig di bawah > pimpinan Sadel Bereh telah mundur. Dia terkepung oleh pasukan APRI. Ingin > melawan. Disuruh menyerah, tapi dia menembak. Sampai akhirnya dia tertembak > mati. Begitu cerita yang saya dengar…” > ”Bapak melihat mayatnya?” > ”Tidak, tapi dua lelaki yang kemaren di kedai itu melihatnya. Mereka PRRI. > Saya sudah mencoba melihat mayatnya di rumah sakit. Tapi tak bertemu. Terlalu > banyak mayat. Bertimbun, bergelimpangan”. > Sepi sesaat. > > ”Nah Bungsu. Engkau telah mendengar bagaimana duduk perkaranya. Terserah > padamu untuk menentukan langkah selanjutnya…” > Sepi lagi. Kari Basa bangkit. Karena di rumah itu tak ada orang lain, dia > lalu pergi ke dapur, memasak air dan membuat kopi. Sambil minum kopi mereka > bercerita tentang pengalaman masa lalu. Kari Basa menanyakan pengalaman si > Bungsu di Jepang. Menanyai perkelahiannya dengan Saburo Matsuyama. Si Bungsu > menceritakan seadanya. Pagi itu, atas saran Kari Basa, si Bungsu menukar > pakaiannya. Pakaian gunting cina itu sudah dikenal oleh OPR sebagai yang > membunuh teman mereka di Simpang Aur. Kari Basa membelikan dua stel pakaian > di pasar atas. Membelikan perban untuk luka di kepalanya. Ketika Kari Basa > pulang dari pasar dia membawa cerita tentang korban-korban yang berjatuhan > malam tadi. > > ”Mereka dikuburkan di suatu tempat secara massal…” > ”Satu kuburan bersama?” > ”Ada dua atau tiga kuburan panjang. Di dalamnya berisi empat atau lima puluh > mayat…”. > ”Tak ada mayat yang disembahyangkan, dikafani atau dimandikan?” > ”Dalam perang hal-hal begitu tak sempat difikirkan orang, Bungsu. Masih > untung mayat itu dikebumikan. Kalau dilempar saja di Ngarai misalnya, siapa > yang akan menuntut?” > > Si Bungsu menarik nafas. Ada sesuatu yang terasa runtuh di relung hatinya. > Alangkah ganasnya peperangan. > ”Ya, perang ini memang ganas, Nak” > Ujar Kari Basa seperti bisa menerka jalan fikiran si Bungsu, dan tak ada > seorangpun diantara kita yang mampu meramalkan, bila perang ini akan > berakhir…” > ”Tapi, saya dengar di Pekanbaru tak ada lagi peperangan…” > ”Di kota itu memang tidak. Operasi di sana dilaksanakan pada tanggal 12 Maret > yang lalu. Dipimpin oleh Letkol Kaharuddin Nasution dan Letkol Udara > Wiriadinata dengan mengerahkan pasukan RPKAD. Pekanbaru perlu mereka rebut > dahulu, sebab di sana ada kilang minyak Caltex. Pemerintah tak mau kilang > minyak itu menjadi sebab ikut campur tangannya pemerintah asing dalam urusan > Indonesia. Lagipula dari seluruh daerah yang memberontak, maka di Sumatera > Barat inilah yang berat. Pemerintah Pusat mengakui hal itu. Sebab di daerah > ini berhimpun tokoh-tokoh militer dan tokoh politik yang tak dapat dianggap > enteng. Baik di tingkat nasional maupun di tingkat internasional. Perang ini > lambat laun memang akan berakhir, tapi korban akan jatuh sangat banyak > sebelum tiba saatnya peluru terakhir ditembakkan…” > > ”Menurut bapak, adakah kemungkinan bagi PRRI untuk memenangkan peperangan > ini?” > ”Saya tak berani meramalkan. Tapi ada beberapa indikasi yang barangkali bisa > diungkapkan. Pertama, dua daerah yang diharapkan menjadi daerah pendukung > utama, yaitu Riau dan Tapanuli, kini telah dikuasai sepenuhnya oleh APRI. > Artinya, Sumatera Barat kini berdiri sendiri, terkepung di tengah. Barangkali > saja ada harapan untuk mendapatkan bantuan senjata dari Armada VII Amerika > Serikat lewat Lautan Hindia. Tapi Lautan Hindia dan seluruh pantai barat kini > sudah dikuasai APRI di bawah komando Ahmad Yani. Memang ada droping senjata, > peralatan dan lain-lain dari Amerika lewat udara. Tapi banyak yang jatuh ke > rimba belantara atau jatuh ke tangan APRI. Maka andalan utama PRRI kini > adalah rakyat di desa-desa. Rakyat sebahagian besar memang simpati pada > mereka. > > Membantu mereka membelikan obat-obatan di kota. Membantu mereka dengan > makanan. Rakyatlah tulang punggung mereka. Hanya sayangnya, di beberapa > kampung sudah terdengar mereka menganiaya rakyat. Merampok, memperkosa, > membakar rumah. Saya yakin perbuatan itu dilakukan bukan oleh tentara PRRI. > Melainkan oleh segolongan orang yang katanya menggabung pada PRRI, tetapi > justru mempergunakan kesempatan untuk melampiaskan dendam dan nafsunya saja. > Banyak di antara mereka ini yang berasal bukan dari tentara. Misalnya dari > preman, tukang angkat, tentara pelajar dan lain-lain. Memang tak semua mereka > yang melakukan. Hanya beberapa pasukan kecil yang tak terkontrol. Namun > bukankah orang-orang tua telah menyediakan pepatah ”karena nila setitik, > rusak susu sebelanga”? Jika hal ini tak cepat disadari pimpinan-pimpinan > PRRI, maka pelindung utama mereka, yaitu rakyat, justru akan marah pada > mereka…” > Sepi lagi sesaat. > > ”Hari ini, kau pergilah kemana saja dalam kota ini, Bungsu. Maka kau akan > mendengar isak tangis yang menyayat. Tangis dari isteri yang kehilangan > suami. Tangis dari kanak-kanak yang kehilangan ayah. Tangis dari ibu-ibu yang > kematian anak lelakinya dalam usia remaja. Yang mati dalam peperangan > kemaren…” > ”Tidak. Saya takkan kemana-mana…” > ”Ya, sebaiknya engkau tak usah kemana-mana, anak muda. Saya khawatir pada > keselamatanmu. Bukannya karena mencemaskan engkau ditangkap APRI, tapi saya > cemas engkau tak tahan mendengar isak tangis orang-orang yang kehilangan itu…” > > Dan sehari itu, si Bungsu memang tak keluar rumah. Dia duduk diam-diam di > ruang tamu. Mendengarkan siaran radio PRRI yang menyiarkan bahwa malam > kemaren mereka mendapat kemenangan besar ketika menyerang Bukittinggi. Banyak > tentara APRI yang berhasil ditembak mati. Banyak senjata yang direbut. > Pasukan PRRI baru meniggalkan kota setelah mereka berhasil mengumpulkan > banyak bedil dan perlengkapan lainnya. Mereka meninggalkan kota tanpa ada > perlawanan yang berarti. Sebaliknya, radio Pemerintah Pusat juga menyiarkan > berita penyerangan malam tersebut. Disiarkan bahwa PRRI berusaha menyerang > kota. Tapi berhasil dipukul. Malah ratusan anggotanya mati tertembak. > Puluhan dapat ditangkap dan ditawan. Banyak senjata PRRI yang ditinggalkan > begitu saja tergeletak bersama ratusan mayat pemberontak. Si Bungsu hanya > menarik nafas panjang mendengar siaran radio yang saling bertolak belakang > itu. Padahal di kota, yang tersisa adalah isak tangis dan luka yang amat > dalam di jantung sejarah. > > Hari ke tiga si Bungsu di rumah Kari Basa tiba-tiba pintu diketuk. Ketika > dibuka, tak ada kesempatan berbuat apa-apa. Empat orang tentara kelihatan > tegak dalam pakaian loreng-loreng. > ”Maaf, kami hanya melakukan pemeriksaan. Pagi tadi ada tentara terbunuh di > pasar. Ditikam oleh seorang lelaki tak dikenal dengan pisau. Berapa orang > yang tinggal di rumah ini?” > ”Dua orang…”, jawab Kari Basa. > Tentara itu menatap tajam. Pangkatnya Sersan Kepala. > ”Ini rumah pak Kari Basa bukan?” > ”Ya. Sayalah Kari Basa…” > Tentara itu memberi hormat dengan sikap sempurna. ”Kami sudah diberi tahu > tentang siapa bapak. Tapi maafkan, kami harus memeriksa kartu penduduk…” > Kari Basa mengeluarkan kartu penduduknya, kemudian memberikannya pada sersan > itu. Si sersan mengamatinya. Kemudian mengembalikan kartu itu. Lalu matanya > menatap pada si Bungsu yang tegak tak jauh dari ruangan tamu itu juga. > > Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian-389 > > ”Dia keluarga bapak?”… > ”Ya, ponakan saya…” > Kari Basa sebenarnya ingin melindungi si Bungsu. Tapi jawabannya sebentar ini > justru membuat perangkap pada anak muda itu. Sesuatu yang memang tak bisa > diduga sebelumnya. Bahkan oleh Kari Basa sendiripun, meski dia adalah bekas > perwira intelijen lan di zaman penjajahan Belanda dan zaman Jepang. Perangkap > itu segera kelihatan ketika seersan itu minta izin melihat kartu penduduk si > Bungsu. Si Bungsu memberikannya. Sersan itu meneliti. Kemudian tatapan > matanya bergantian memandang si Bungsu dan Kari Basa. Kari Basa segera > menyadari kekeliruannya. > > ”Maafkan saya, Pak Kari. Menurut data yang ada pada kami, Bapak tak punya > ponakan. Bapak punya seorang anak gadis. Bernama Salma dan kini jadi isteri > Overste Nurdin. Atase militer Malaya di Kota Singapura. Begitu bukan?” > Kari Basa tak bisa menjawab. > ”Maaf, kami ingin membawa Saudara ini…” > ”Tapi, bukankah dia punya kartu?” > ”Ya, kartu Padang. Dia tak pernah melapor bila dia datang dan berapa lama > ingin tinggal di kota ini…”. > ”Tapi tak ada kewajiban begitu…”, ujar Kari Basa memprotes. > ”Dalam suasana begini, kewajiban apapun bisa saja diadakan, Pak Kari…” > ”Baiklah. Tapi saya akan ikut serta. Saya ingin bertemu dengan komandan > saudara..” > ”Siap, silakan Pak…” > > Si Bungsu memang tak bisa berbuat lain di bawah ancaman ujung bedil itu. Dia > mengikut saja ketika dibawa ke markas tentara. Kari Basa dibawa bertemu > dengan Komandan RTP yang berkedudukan di kota itu. Tapi sang komandan sedang > operasi keluar kota. Itulah malangnya bagi Bungsu. Dia harus tinggal di sel > tahanan. > ”Besok saya akan kemari. Saya harap engkau menjaga diri baik-baik…” ujar Kari > Basa saat pamitan, ketika segala usaha tak bisa dia lakukan untuk membawa si > Bungsu pulang. > ”Engkau memerlukan senjata?” bisik Kari Basa cepat ketika pengawal lengah.Si > Bungsu menggeleng. > ”Tapi…” > ”Saya benar-benar merasa aman di sini, Pak. Saya harap Bapak tak usah > khawatir…” > ”Tapi samuraimu tinggal di rumah….” > ”Itulah justru yang menyebabkan perasaan saya benar-benar aman…” > > Sudah agak malam barulah Kari Basa pulang ke rumahnya. Si Bungsu dimasukkan > ke sebuah sel. Sel itu sebuah ruangan cukup lebar. Di dalamnya ada tiga > lelaki. Yang seorang masih bisa dikenal. Rapi tapi pucat. Yang dua lagi sudah > tak menentu. Darah kental kelihatan mengalir di sela bibirnya yang bengkak. > Pipinya benjol-benjol. Rambutnya kusut masai. Yang seorang berpakaian kuning > seperti polisi. Yang satu lagi berbaju hijau seperti tentara. Ketiga lelaki > itu menatap padanya begitu dia masuk. Tak ada balai-balai. Yang ada hanya > lantai yang dingin. Si Bungsu tertegun melihat ketiga orang itu. > ”Assalamualaikum…” katanya perlahan. > > Tak ada yang menjawab. Yang berpakaian masih agak rapi itu mencoba tersenyum. > Namun senyumnya cepat berobah jadi mimik agak takut. Lalu menoleh ke arah > lain. Sedangkan yang seorang lagi, yang bibirnya berdarah dan berbaju seperti > polisi, tetap diam membisu. Yang berbaju tentara dan bibirnya juga berdarah, > bengkak di sana-sini, hanya sekejap memandang. Lalu menoleh ke tempat lain. > Ketiga mereka duduk di lantai, bersandar ke dinding. Yang berdarah dan > bengkak-bengkak itu duduk di dinding yang menghadap ke pintu. Yang rapi di > dinding sebelah kanan. Tempat yang masih kosong adalah dinding sebelah kiri > pintu. Si Bungsu menuju dinding itu. Lalu duduk di lantai dan bersandar. > > Kini dalam sel itu ada empat orang. Tiga orang bersandar di tiga sisi > dinding. Sebuah dinding disandari oleh dua orang, yaitu yang bibirnya > berdarah dan mukanya bengkak-bengkak. Yang memakai baju kuning seperti polisi > dan baju hijau seperti tentara. Sisi lain disandari oleh yang rapi tapi > berwajah pucat. Sisi satu lagi disandari si Bungsu. Dinding yang tidak > disandari adalah sisi dimana terletak pintu masuk. Mereka yang ada dalam sel > tahanan itu semua pada terdiam. Sama-sama membisu. Hari belum terlalu larut, > tapi udara dingin sudah menusuk-nusuk. Tiba-tiba pintu terbuka. Seorang CPM > berpangkat kopral masuk. Tegak di sisi pintu, memberi hormat dan kemudian > masuk seorang Kapten CPM beserta seorang stafnya berpangkat sersan mayor. > Keempat orang yang ada dalam tahanan menatap pada mereka. > ”Berdiri!” perintah kopral itu. > > Keempatnya berdiri. Si sersan membuka map di tangannya. Lalu menjelaskan pada > si Kapten. > ”Yang berbaju kuning bernama M. Bintara, penghubung pada pasukan Dahlan > Jambek. Yang berbaju hijau bernama D, Inspektur polisi pada Batalyon Sadel > Bereh. Ini yang berbaju lengan panjang adalah pedagang yang diduga mata-mata > PRRI. Yang satu ini baru saja ditangkap siang tadi di rumah pak Kari Basa, di > daerah Panorama. Punya kartu penduduk Padang, tapi mata-mata kita tak pernah > melihat orang ini sebelumnya di kota….” > ”Besok pagi suruh semuanya menghadap saya sebalum bertemu dengan komandan > RTP.” > ”Siap!” > > Kemudian Kapten itu pergi. Kopral CPM tadi menutup pintu. Suasana di ruangan > itu kembali sepi. Namun kini sekurang-kurangnya mereka sudah saling > mengetahui orang-orang yang ada dalam ruangan tersebut. Kedua orang yang > bengkak-bengkak itu sejenak menatap pada si Bungsu. Si Bungsu diam saja. > Lelaki yang disebut sebagai pedagang merangkap mata-mata, yang masih rapi > itu, tiba-tiba merogoh kantong. Mengeluarkan sebungkus rokok Double As. Dia > bangkit, menuju pada dua orang yang bengkak-bengkak itu. > ”Silahkan…,” katanya menawarkan rokok. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
