Ass. w.w.
  Dinda Suryadi Yth
  Apakah benteng Marapalam (yang disebutkan berada di luhak 50 Kota) berbeda 
dengan Puncak Marapalam. 
  Ambo asal nagari Tanjuang Sungayang, yang berjarak lk 7 km dari puncak 
Marapalam. Penduduk sekitar puncak Marapalam menyebut lokasi tersebut sebagai 
puncak Pato (batas antara kecamatan Sungayang dengan kecamatam Lintau Buo). 
  Di puncak bukit Marapalam tersebut ada sebuat kuburan lama yang yang disemen 
dan masyarakat disekitar menyebutnya sebagai kuburan Kapitan Belanda (?)
  Mungkin ambo masih menyimpan foto 20 tahun yl. dari kuburan tsb.
  Sebagai catatan, ketika peristiwa PRRI th. 1958 - 1961 jalan antara nagari 
Tanjuang sampai ke puncak Marapalam merupakan benteng pertahanan batalyon 
Harimau Minang yang dipimpin oleh Kapten Badarudin untuk melindungi Lintau dari 
serangan tentara Pusat ke Lintau dari kota Batusangkar dan pertahanan ini tidak 
pernah tembus sekalipun juga. 
  Tentara Pusat memasuki Lintau dari lain yaitu dari arah Tigo Jangko. 
Sedangkan jalan lain untuk menuju Lintau ialah dari Situjuah (50 Kota)
   
  Abraham Ilyas (L 63)

"Nofend St. Mudo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
        v\:* {behavior:url(#default#VML);}  o\:* {behavior:url(#default#VML);}  
w\:* {behavior:url(#default#VML);}  .shape {behavior:url(#default#VML);}        
st1\:*{behavior:url(#default#ieooui) }                Kanda, iko nan kito 
bicarakan di akhir taun di RN, tapi sayang Artikel nan uda makasuik indak basuo.
  Barikuik dibawah nan uda kirim tadi...
   
      
---------------------------------
  
  From: Lies Suryadi [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: 03 Maret 2008 12:24
To: Nofend St. Mudo
Subject: genealogi AB-SBK

   
      Dinda Nofendri,
  Iko ciek lai tulisan buruak ambo. Kok lai ka baguno dek dunsanak kito di 
lapau rancak juo dipostiangkan. Tulisanko dimuek  di harian Padang Ekspres, 
Jumat, 28 Desember 2007.
   
  Lai sehat2 sae Dinda? Senoga lai andaknyo.
   
  Salam arek,
  Suryadi


     

   
  Dimuat di harian Padang Ekspres, Jumat, 28 Desember 2007
   
  POSISI GEOGRAFIS BENTENG MARAPALAM: CATATAN SINGKAT KE ARAH STUDI GENEALOGI 
ABS-SBK
   
  Suryadi
  Dosen & peneliti pada Department of Languages and Cultures of Southeast Asia 
and Oceania, Leiden University, the Netherlands   
  Munculnya kini euphoria ABS-SBK di Sumatera Barat, langsung atau tidak, tentu 
menimbulkan pertanyaan dalam masyarakat, terutama generasi muda, tentang 
sejarah pembentukan falsafah hidup kebanggaan orang Minang itu. Siapa yang 
merumuskan, bagaimana rumusannya, apakah rumusan itu tertulis atau lisan saja, 
tak ditemukan penjelasan yang komprehensif dalam buku sejarah. 
   
  Generasi Minangkabau kini tidak memperoleh warisan tertulis apapun mengenai 
falsafah ABS-SBK, "dasar negara" etnis Minangkabau itu. Akibatnya, muncul 
berbagai interpretasi dan implementasinya dalam masyarakat. Memang ada semacam 
'TOR' lisan ABS-SBK itu yang diciptakan oleh cerdik-pandai Minangkabau di zaman 
dulu: "syarak mandaki, adat manurun;  syarak mangato, adat mamakai; syarak 
babuhua mati, adat babuhua sentak; syarak balinduang, adat bapaneh; syarak 
basisampiang, adat 'batilanjang'". Akan tetapi 'TOR' yang penuh ciri kelisanan 
(orality) itu mungkin susah dipahami dan dijabarkan oleh generasi Minangkabau 
kini yang sudah tidak lagi paham bahasa Minangkabau ragam sastra yang penuh 
kata malereng itu. 
   
  Oleh karena itu kini muncul gagasan untuk menyusun kompilasi tertulis 
ABS-SBK. Ini antara lain dikemukakan oleh Dr. Saafroedin Bahar dalam Semiloka 
Inventarisasi dan Perlidungan Hak Masyarakat Hukum Adat di Universitas Andalas 
pada 19-21 Juli 2007. Ide di balik gagasan itu adalah agar generasi Minangkabau 
ke depan memiliki acuan tertulis ABS-BSK, sehingga implementasinya dalam 
kehidupan masyarakat tidak lagi bersifat manasuka (arbitrer).  
    
  Tulisan singkat ini tidak mendiskusikan gagasan penyusunan kompilasi ABS-SBK, 
tapi membicarakan sedikit sejarahnya. ABS-SBK otomatis mengingatkan kita kepada 
Piagam Bukit Marapalam (atau "Sumpah Sati Bukik Marapalam" dalam bahasa 
Minangkabau). Konon momen historis yang amat penting bagi etnis Minang itu 
terjadi tahun 1837, usai Perang Paderi. Tapi rujukannya kurang jelas juga. 
Kalau Piagam itu memang dituliskan, masih adakah tersimpan di satu perpustakaan 
atau koleksi pribadi di dunia ini? Mungkin ini tugas sejarawan kita untuk terus 
mencarinya. Atau mungkin juga "Piagam" itu hanya ikrar yang bersifat lisan saja.
   
  Yang kita ketahui hanyalah bahwa Piagam Bukit Marapalam lahir sebagai solusi 
untuk 'mempertautkan' kembali Minangkabau yang 'terbelah dua' akibat Perang 
Paderi. Kaum Adat dan Kaum Agama saling 'berangkulan', dan mencoba melupakan 
perbalahan di antara mereka yang telah berlangsung lebih dari 30 tahun. 
   
  Peristiwa bersejarah itu konon terjadi di puncak Bukit Marapalam, yang 
menurut beberapa sumber klasik adalah salah satu benteng Paderi di Luhak 50 
Kota. Untuk menentukan dimana persisnya lokasi benteng ini, ada cukup data 
sejarah yang dapat kita rujuk. Salah seorang yang pernah mengujungi Benteng 
(Fort) Marapalam adalah botanikus Belanda, Lodewijk Horner. Ia bersama 
rekannya, Solomon Müller, menjelajahi pulau Sumatera (1833-1838) untuk meneliti 
alam dan tumbuh-tumbuhan tropis Hindia Belanda. Di Sumatra's Weskust mereka 
menyisiri pantai Padang hingga Pariaman sebelum membelok ke Luhak Nan Tigo. 
Catatan ilmiah dan laporan perjalan L. Horner dan S. Müller  selama di Sumatera 
dapat dibaca dalam Reizen en onderzoekingen in Sumatra, gedaan op last der 
Nederlandsche Indische regering, tusschen de jaren 1833 en 1838  [Perjalanan 
dan Penelitian di Sumatera yang ditugaskan oleh Pemerintah Hindia Belanda, 
antara tahun 1833-1838] ('s-Gravenhage: Fuhri, 1855). Buku harian L. Horner
 selama perjalanannya di Sumatera kini tersimpan di Institut Herbarium Leiden, 
Belanda.
   
  L. Horner mengunjungi Fort Marapalam pada awal Maret 1838, kira-kira 8 bulan 
setelah benteng Paderi Bonjol berhasil direbut Belanda. Ia menulis: "Omtrent 
anderhalf tot twee uren van het fort Schenk [of Lintou] bereikt men de hoogte 
van den bergpas, links van welken het verlaten fort Marapalam nog ongeveer 60 
voeten hooger ligt. Het schijnt op de uiterste zandsteen hoogte te liggen; men 
ziet echter geen gesteente. Verder beneden gaat men over de Tampo, als eene 
kleine beek. De bergpas Marapalam 11 u. O': barometer 294'''52; thermometer 
180,8. Van deze hoogte geniet men een heerlijk uitzigt naar het westen. 
Noordelijk verheft zich de Sago nog bijna 3000 voeten hooger. Hij stond echter 
groottendeels in wolken. Zijne kloven zijn diep ingesneden en hij schijnt 
zijnen lava over den sangkar-steen uitgegoten te hebben" (L. Horner, "Reizen 
over Sumatra [1838]", Tijdschrift van Bataviaasch Genootschaap 10 
(1861):367).Terjemahan bebasnya: "Sekitar satu setengah sampai dua jam
 jauhnya dari Benteng Schenk [di Lintau] kita sampai setinggi puncak 
pelintasan. Kira-kira 60 kaki lebih tinggi di sebelah kiri puncak itu terletak 
Benteng Marapalam yang telah ditinggalkan.Ternyata letaknya di atas batuan 
pasir yang paling pinggir; namuan batuannya tidak kelihatan. Lantas lebih ke 
bawah kita melewati kali kecil bernama Tampo. Di puncak Benteng Marapalam itu 
pada jam 11 pagi: tekanan udara 294'''52; suhu 180,8. Dari ketinggian ini kita 
dapat menikmati pemandangan yang amat menyenangkan ke arah barat. Di sebelah 
utara menjulang Gunung Sago sampai hampir sekitar 3000 kaki lebih tinggi. Namun 
gunung itu sebagian besarnya diliputi awan. Lembahnya dalam bergores-gores dan 
ternyata laharnya disemburkan sampai menutupi sangkar-steen [Batusangkar?]." 
   
  Catatan lain yang lebih awal mengenai Fort Marapalam didapat dari laporan 
Kolonel A. T. Raaf. Ia dan anak buahnya melakukan inspeksi ke tempat itu pada 
tahun 1822, tak lama setelah Belanda memutuskan ikut campur tangan dalam Perang 
Paderi. Catatan Kolonel Raaf itu dirujuk oleh sejarawan militer Belanda, 
H.M.Lange: "Den 6den Mei [1822] werd de weg die over den Marapalam naar de 
vallei van Lintau voert door den OVERSTE RAAF verkend. Hij bevond dan men langs 
die zijde ook met groote zwarigheden zou te kampen hebben, wanneer de doortogt 
met geweld moest gebaand worden. Voor het geval echter dat die doortogt niet 
door de L Kota's zoude kunnen plaats hebben, hetgeen nader zou moeten blijken, 
werd de weg over den Marapalam toch verkieslijker geacht dan die over 
Ajer-betomba, langs welken men reeds te vergeefs had beproefd in de vallei van 
Lintau door te dringen. Deze verkenning gaf tot gene vijandelijkheden 
hoegenaamd aanleiding, hetgeen den Overste nog steeds de hoop deed
 voeden, dat de door hem voorgeslagen overeenkomst zou worden aangenomen." 
(H.M. Lange, Het Nederlandsch Oost-Indisch Leger ter Westkust van Sumatra 
(819-1845) ('S Hertogenbosch: Gebroeders Muller, 1852:I, 59-60).Terjemahan 
bebasnya sebagai berikut: "Pada 6 Mei [1822] jalan ke Lembah Lintau yang 
melintasi [Benteng] Marapalam diselidiki oleh Overste Raaf. Ia menemukan bahwa 
kita di sana juga dapat mengalami kesulitan besar kalau harus dipaksakan 
melewatinya. Namun, seandainya jalan melalui Lima Puluh Kota tidak dapat 
dilewati, yang belum tentu pasti, jalan melalui Marapalam dianggap lebih baik 
daripada jalan melalui Air Bertumbuk, karena ternyata jalan melalui daerah ini 
untuk dapat tembus sampai ke lembah Lintau telah dicoba dengan sia-sia. 
Penyelidikan ini hampir tidak mengakibatkan permusuhan apapun [dengan Kaum 
Paderi), dan hal ini masih tetap memberikan harapan kepada sang Overste bahwa 
persetujuan yang diusulkan olehnya akan diterima [Kaum Paderi]."
   
  Letak Benteng Marapalam juga dicatat dalam peta yang dibuat oleh Frans 
Junghuhn dalam nukunya Die Battalander auf Sumatra (Berlin: G. Reimer, 1847) (2 
jilid). Di dalam peta itu (lampiran) jelas sekali bahwa letak Benteng Marapalam 
tak jauh dari Batang Tampo, dekat Lintau. 
   
  Jadi, cukup jelas sekarang dimana letak Benteng Marapalam, tempat konsep 
ABS-SBK konon diikrarkan pada tahun 1837. Dari laporan Overste A.T. Raaf dan L. 
Horner di atas cukup jelas juga bahwa Marapalam adalah salah satu benteng 
Paderi di Luhak 50 kota, tetapi seusai perang benteng itu telah ditinggalkan. 
   
  Mudah-mudahan informasi ini bermanfaat bagi sejarawan kita yang berminat 
menulis sejarah dan genealogi ABS-SBK. Selanjutnya tentu perlu melakukan sigian 
akademik lebih dalam untuk mengetahui siapa (-siapa saja) tokoh yang menggagas 
dan mendeklarasikan Piagam Bukit Marapalam itu, yang kemudian melahirkan 
falsafah ABS-SBK. Juga harus diteliti lebih kanjut berbagai aspek yang terkait 
dengan pendeklarasian Piagam itu. Hasil penyelidikan itu tentu akan banyak 
manfaatnya bagi memperjelas banyak hal yang masih kabur seputar ABS-SBK yang 
dibangga (-bangga)kan orang Minang itu.
   



  No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.21.3/1307 - Release Date: 02/03/2008 
15:59

  

  No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.21.3/1307 - Release Date: 02/03/2008 
15:59




       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian yg tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Agar dapat melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke