Kanda, iko nan kito bicarakan di akhir taun di RN, tapi sayang Artikel nan
uda makasuik indak basuo.

Barikuik dibawah nan uda kirim tadi...

 

   _____  

From: Lies Suryadi [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: 03 Maret 2008 12:24
To: Nofend St. Mudo
Subject: genealogi AB-SBK

 

Dinda Nofendri,

Iko ciek lai tulisan buruak ambo. Kok lai ka baguno dek dunsanak kito di
lapau rancak juo dipostiangkan. Tulisanko dimuek  di harian Padang Ekspres,
Jumat, 28 Desember 2007.

 

Lai sehat2 sae Dinda? Senoga lai andaknyo.

 

Salam arek,

Suryadi

 

 

Dimuat di harian Padang Ekspres, Jumat, 28 Desember 2007

 

POSISI GEOGRAFIS BENTENG MARAPALAM: CATATAN SINGKAT KE ARAH STUDI GENEALOGI
ABS-SBK

 

Suryadi


Dosen & peneliti pada Department of Languages and Cultures of Southeast Asia
and Oceania, Leiden University, the Netherlands


 

Munculnya kini euphoria ABS-SBK di Sumatera Barat, langsung atau tidak,
tentu menimbulkan pertanyaan dalam masyarakat, terutama generasi muda,
tentang sejarah pembentukan falsafah hidup kebanggaan orang Minang itu.
Siapa yang merumuskan, bagaimana rumusannya, apakah rumusan itu tertulis
atau lisan saja, tak ditemukan penjelasan yang komprehensif dalam buku
sejarah. 

 

Generasi Minangkabau kini tidak memperoleh warisan tertulis apapun mengenai
falsafah ABS-SBK, "dasar negara" etnis Minangkabau itu. Akibatnya, muncul
berbagai interpretasi dan implementasinya dalam masyarakat. Memang ada
semacam 'TOR' lisan ABS-SBK itu yang diciptakan oleh cerdik-pandai
Minangkabau di zaman dulu: "syarak mandaki, adat manurun;  syarak mangato,
adat mamakai; syarak babuhua mati, adat babuhua sentak; syarak balinduang,
adat bapaneh; syarak basisampiang, adat 'batilanjang'". Akan tetapi 'TOR'
yang penuh ciri kelisanan (orality) itu mungkin susah dipahami dan
dijabarkan oleh generasi Minangkabau kini yang sudah tidak lagi paham bahasa
Minangkabau ragam sastra yang penuh kata malereng itu. 

 

Oleh karena itu kini muncul gagasan untuk menyusun kompilasi tertulis
ABS-SBK. Ini antara lain dikemukakan oleh Dr. Saafroedin Bahar dalam
Semiloka Inventarisasi dan Perlidungan Hak Masyarakat Hukum Adat di
Universitas Andalas pada 19-21 Juli 2007. Ide di balik gagasan itu adalah
agar generasi Minangkabau ke depan memiliki acuan tertulis ABS-BSK, sehingga
implementasinya dalam kehidupan masyarakat tidak lagi bersifat manasuka
(arbitrer).  

  

Tulisan singkat ini tidak mendiskusikan gagasan penyusunan kompilasi
ABS-SBK, tapi membicarakan sedikit sejarahnya. ABS-SBK otomatis mengingatkan
kita kepada Piagam Bukit Marapalam (atau "Sumpah Sati Bukik Marapalam" dalam
bahasa Minangkabau). Konon momen historis yang amat penting bagi etnis
Minang itu terjadi tahun 1837, usai Perang Paderi. Tapi rujukannya kurang
jelas juga. Kalau Piagam itu memang dituliskan, masih adakah tersimpan di
satu perpustakaan atau koleksi pribadi di dunia ini? Mungkin ini tugas
sejarawan kita untuk terus mencarinya. Atau mungkin juga "Piagam" itu hanya
ikrar yang bersifat lisan saja.

 

Yang kita ketahui hanyalah bahwa Piagam Bukit Marapalam lahir sebagai solusi
untuk 'mempertautkan' kembali Minangkabau yang 'terbelah dua' akibat Perang
Paderi. Kaum Adat dan Kaum Agama saling 'berangkulan', dan mencoba melupakan
perbalahan di antara mereka yang telah berlangsung lebih dari 30 tahun. 

 

Peristiwa bersejarah itu konon terjadi di puncak Bukit Marapalam, yang
menurut beberapa sumber klasik adalah salah satu benteng Paderi di Luhak 50
Kota. Untuk menentukan dimana persisnya lokasi benteng ini, ada cukup data
sejarah yang dapat kita rujuk. Salah seorang yang pernah mengujungi Benteng
(Fort) Marapalam adalah botanikus Belanda, Lodewijk Horner. Ia bersama
rekannya, Solomon Müller, menjelajahi pulau Sumatera (1833-1838) untuk
meneliti alam dan tumbuh-tumbuhan tropis Hindia Belanda. Di Sumatra's
Weskust mereka menyisiri pantai Padang hingga Pariaman sebelum membelok ke
Luhak Nan Tigo. Catatan ilmiah dan laporan perjalan L. Horner dan S. Müller
selama di Sumatera dapat dibaca dalam HYPERLINK
"http://asa2.pica.nl/DB=1/SET=1/TTL=2/CLK?IKT=4&TRM=Reizen"Reizen en
HYPERLINK
"http://asa2.pica.nl/DB=1/SET=1/TTL=2/CLK?IKT=4&TRM=onderzoekingen"onderzoek
ingen in HYPERLINK
"http://asa2.pica.nl/DB=1/SET=1/TTL=2/CLK?IKT=4&TRM=Sumatra"Sumatra,
HYPERLINK "http://asa2.pica.nl/DB=1/SET=1/TTL=2/CLK?IKT=4&TRM=gedaan"gedaan
op HYPERLINK "http://asa2.pica.nl/DB=1/SET=1/TTL=2/CLK?IKT=4&TRM=last"last
der HYPERLINK
"http://asa2.pica.nl/DB=1/SET=1/TTL=2/CLK?IKT=4&TRM=Nederlandsche"Nederlands
che HYPERLINK
"http://asa2.pica.nl/DB=1/SET=1/TTL=2/CLK?IKT=4&TRM=Indische"Indische
HYPERLINK
"http://asa2.pica.nl/DB=1/SET=1/TTL=2/CLK?IKT=4&TRM=regering"regering,
HYPERLINK
"http://asa2.pica.nl/DB=1/SET=1/TTL=2/CLK?IKT=4&TRM=tusschen"tusschen de
HYPERLINK "http://asa2.pica.nl/DB=1/SET=1/TTL=2/CLK?IKT=4&TRM=jaren"jaren
HYPERLINK "http://asa2.pica.nl/DB=1/SET=1/TTL=2/CLK?IKT=4&TRM=1833"1833 en
HYPERLINK "http://asa2.pica.nl/DB=1/SET=1/TTL=2/CLK?IKT=4&TRM=1838"1838
[Perjalanan dan Penelitian di Sumatera yang ditugaskan oleh Pemerintah
Hindia Belanda, antara tahun 1833-1838] ('HYPERLINK
"http://asa2.pica.nl/DB=1/SET=1/TTL=2/CLK?IKT=1018&TRM=s%2DGravenhage"s-Grav
enhage: HYPERLINK
"http://asa2.pica.nl/DB=1/SET=1/TTL=2/CLK?IKT=1018&TRM=Fuhri"Fuhri, 1855).
Buku harian L. Horner selama perjalanannya di Sumatera kini tersimpan di
Institut Herbarium Leiden, Belanda.

 

L. Horner mengunjungi Fort Marapalam pada awal Maret 1838, kira-kira 8 bulan
setelah benteng Paderi Bonjol berhasil direbut Belanda. Ia menulis: "Omtrent
anderhalf tot twee uren van het fort Schenk [of Lintou] bereikt men de
hoogte van den bergpas, links van welken het verlaten fort Marapalam nog
ongeveer 60 voeten hooger ligt. Het schijnt op de uiterste zandsteen hoogte
te liggen; men ziet echter geen gesteente. Verder beneden gaat men over de
Tampo, als eene kleine beek. De bergpas Marapalam 11 u. O': barometer
294'''52; thermometer 180,8. Van deze hoogte geniet men een heerlijk uitzigt
naar het westen. Noordelijk verheft zich de Sago nog bijna 3000 voeten
hooger. Hij stond echter groottendeels in wolken. Zijne kloven zijn diep
ingesneden en hij schijnt zijnen lava over den sangkar-steen uitgegoten te
hebben" (L. Horner, "Reizen over Sumatra [1838]", Tijdschrift van
Bataviaasch Genootschaap 10 (1861):367).Terjemahan bebasnya: "Sekitar satu
setengah sampai dua jam jauhnya dari Benteng Schenk [di Lintau] kita sampai
setinggi puncak pelintasan. Kira-kira 60 kaki lebih tinggi di sebelah kiri
puncak itu terletak Benteng Marapalam yang telah ditinggalkan.Ternyata
letaknya di atas batuan pasir yang paling pinggir; namuan batuannya tidak
kelihatan. Lantas lebih ke bawah kita melewati kali kecil bernama Tampo. Di
puncak Benteng Marapalam itu pada jam 11 pagi: tekanan udara 294'''52; suhu
180,8. Dari ketinggian ini kita dapat menikmati pemandangan yang amat
menyenangkan ke arah barat. Di sebelah utara menjulang Gunung Sago sampai
hampir sekitar 3000 kaki lebih tinggi. Namun gunung itu sebagian besarnya
diliputi awan. Lembahnya dalam bergores-gores dan ternyata laharnya
disemburkan sampai menutupi sangkar-steen [Batusangkar?]." 

 

Catatan lain yang lebih awal mengenai Fort Marapalam didapat dari laporan
Kolonel A. T. Raaf. Ia dan anak buahnya melakukan inspeksi ke tempat itu
pada tahun 1822, tak lama setelah Belanda memutuskan ikut campur tangan
dalam Perang Paderi. Catatan Kolonel Raaf itu dirujuk oleh sejarawan militer
Belanda, H.M.Lange: "Den 6den Mei [1822] werd de weg die over den Marapalam
naar de vallei van Lintau voert door den OVERSTE RAAF verkend. Hij bevond
dan men langs die zijde ook met groote zwarigheden zou te kampen hebben,
wanneer de doortogt met geweld moest gebaand worden. Voor het geval echter
dat die doortogt niet door de L Kota's zoude kunnen plaats hebben, hetgeen
nader zou moeten blijken, werd de weg over den Marapalam toch verkieslijker
geacht dan die over Ajer-betomba, langs welken men reeds te vergeefs had
beproefd in de vallei van Lintau door te dringen. Deze verkenning gaf tot
gene vijandelijkheden hoegenaamd aanleiding, hetgeen den Overste nog steeds
de hoop deed voeden, dat de door hem voorgeslagen overeenkomst zou worden
aangenomen." (H.M. Lange, Het Nederlandsch Oost-Indisch Leger ter Westkust
van Sumatra (819-1845) ('S Hertogenbosch: Gebroeders Muller, 1852:I,
59-60).Terjemahan bebasnya sebagai berikut: "Pada 6 Mei [1822] jalan ke
Lembah Lintau yang melintasi [Benteng] Marapalam diselidiki oleh Overste
Raaf. Ia menemukan bahwa kita di sana juga dapat mengalami kesulitan besar
kalau harus dipaksakan melewatinya. Namun, seandainya jalan melalui Lima
Puluh Kota tidak dapat dilewati, yang belum tentu pasti, jalan melalui
Marapalam dianggap lebih baik daripada jalan melalui Air Bertumbuk, karena
ternyata jalan melalui daerah ini untuk dapat tembus sampai ke lembah Lintau
telah dicoba dengan sia-sia. Penyelidikan ini hampir tidak mengakibatkan
permusuhan apapun [dengan Kaum Paderi), dan hal ini masih tetap memberikan
harapan kepada sang Overste bahwa persetujuan yang diusulkan olehnya akan
diterima [Kaum Paderi]."

 

Letak Benteng Marapalam juga dicatat dalam peta yang dibuat oleh Frans
Junghuhn dalam nukunya Die Battalander auf Sumatra (Berlin: G. Reimer, 1847)
(2 jilid). Di dalam peta itu (lampiran) jelas sekali bahwa letak Benteng
Marapalam tak jauh dari Batang Tampo, dekat Lintau. 

 

Jadi, cukup jelas sekarang dimana letak Benteng Marapalam, tempat konsep
ABS-SBK konon diikrarkan pada tahun 1837. Dari laporan Overste A.T. Raaf dan
L. Horner di atas cukup jelas juga bahwa Marapalam adalah salah satu benteng
Paderi di Luhak 50 kota, tetapi seusai perang benteng itu telah
ditinggalkan. 

 

Mudah-mudahan informasi ini bermanfaat bagi sejarawan kita yang berminat
menulis sejarah dan genealogi ABS-SBK. Selanjutnya tentu perlu melakukan
sigian akademik lebih dalam untuk mengetahui siapa (-siapa saja) tokoh yang
menggagas dan mendeklarasikan Piagam Bukit Marapalam itu, yang kemudian
melahirkan falsafah ABS-SBK. Juga harus diteliti lebih kanjut berbagai aspek
yang terkait dengan pendeklarasian Piagam itu. Hasil penyelidikan itu tentu
akan banyak manfaatnya bagi memperjelas banyak hal yang masih kabur seputar
ABS-SBK yang dibangga (-bangga)kan orang Minang itu.

 


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.21.3/1307 - Release Date: 02/03/2008
15:59



No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition. 
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.21.3/1307 - Release Date: 02/03/2008
15:59
 

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian yg tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Agar dapat melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke