Dia merasa siulan ini merupakan sebuah ilmu tenaga dalam untuk mengatur pernafasan seseorang sehingga bisa mengeluarkan siulan seperti yang dilakukan Aswin dan yang bisa digunakan untuk menekan lawan yang mempunyai ilmu seperti Ilmu Lawa Tabang (kelelawar Terbang) dan ilmu Ikan Lacuik (Ikan Pecut) yang mengandalkan kekuatan suara yang menusuk gendang telinga untuk membuyarkan kosentrasi dan menekan musuh.
”Iya, paman, bagaimana ? apa kita mulai sekarang ?” Terlihat kelima orang dewasa itu menganggukkan kepalanya tanda setuju untuk mulai pengajaran ilmu tersebut. Jika ada orang yang lewat melihat keadaan ini pasti dia bisa terpingkal-pingkal tertawa melihat lima orang dewasa yang mempunyai ilmu yang hebat tapi menerima ajaran bagaimana bersiul dari seorang bocah berusia lima tahun. Tapi bagi yang mengerti pasti akan mau mengikuti pelajaran ini karena merupakan sebuah ilmu yang sangat berguna buat mereka. ”Baiklah paman, kita mulai, pertama paman pejamkan mata rasakan hawa yang ada di dalam tubuh paman, setelah itu pelan-pelan hawa itu ditarik ke arah paru-paru, buatlah paru-paru paman terasa mengembang karena hawa itu mengisi paru-paru paman. Terus kembalikan lagi hawa itu ke perut, lakukan itu sebanyak 3 kali setelah itu kumpulkan hawa murni tersebut kembali ke paru-paru biarkan sesaat lalu mulailah menghembuskan udara keluar dari mulut, pelan-pelan lalu naik terus nada siulannya sampai hembusan udara yang terjadi karena hawa murni yang keluar membentuk siulan.” sambil menjelaskan Aswin mempraktekkan kata-katanya. Mereka melakukan sesuai petunjuk Aswin, mula-mula semuanya lancar sampai pada ketiga kali menarik nafas ke paru-paru, tiba-tiba mulai Siti merasakan dadanya terasa sesak dan pemandangan matanya terasa gelap, cepat-cepat dia mengembalikan hawa murni ke perut dan pelan-pelan membuyarkan hawa murni itu. Dia tahu dia tidak bisa meneruskannya karena dia merasa paru-parunya seakan-akan membengkak kesakitan seperti hendak meledak makanya buru-buru dia mengikuti saran Aswin untuk tidak memaksakan diri. Lalu Basri mulai merasakan hal yang sama ketika hawa murni itu didiamkan sesaat pada paru-paru sebelum dihembuskan keluar dalam bentuk siulan. Segera dia merasakan pergolakan darahnya seakan-akan bergerak dengan derasnya mengaliri seluruh tubuhnya dan itu terasa menghantam jantungnya terus menerus sehingga sakitnya bukan kepalang dan segera dia menghentikan penyaluran hawa murni ke paru-parunya. Kahar, Masnan dan Bumi masih bisa bertahan, kemudian giliran Bumi yang merasa matanya berkunang-kunang dan gelombang mual yang terus menerus membuat dadanya berdenyut sakit sekali. Seperti kedua temannya, diapun menarik kembali hawa murninya. Setelah beberapa saat mulai Kahar dan Masnan memajukan mulutnya untuk bersiul mengikuti Aswin, mula-mula terasa biasa saja karena pelan-pelan mereka melakukannya, lalu ketika nadanya semakin cepat dan tinggi, segera terlihat di wajah Kahar dan Masnan keringat deras turun dan muka mereka menjadi merah seolah-olah mereka berada di ruangan yang sangat panas sekali. Kedua tubuh mereka mulai bergetar, Kahar yang tenaga dalamnya lebih baik setingkat dari Masnan kelihatan getarannya tidak sehebat getaran tubuh Masnan. Akhirnya Masnan tidak sanggup melanjutkannya dan segera melakukan penarikan kembali tenaga dalamnya dan mulai mengatur kembali hawa murninya supaya tidak buyar dan semua organ tubuhnya yang terasa sakit, sedikit sedikit dan pelan-pelan dialiri hawa murni itu untuk mengurangi rasa sakit yang dialaminya tadi. Kaharpun mengalami hal yang sama tapi dia bisa mencapai nada tertinggi yang masih terdengar bunyi siulannya tapi begitu memasuki area siulan itu tidak bisa didengar oleh manusia, dia mulai kepayahan dan cepat dia tarik kembali hawa murninya, kalau tidak jantung dan paru-parunya akan meledak karena pergolakan di dalam tubuhnya sangat kuat sekali. Sedangkan Aswin tetap dengan santainya bersiul seperti tidak mengalami apapun. Lalu dia berhenti bersiul dan memandang heran kepada kelima orang tersebut kenapa tiba-tiba bisa berhenti bersiul. Tanyanya,” Ayah, Bunda dan Paman, kenapa berhenti bersiulnya ? Katanya mau mempelajari ilmu siulku ?” ”Aswin, kami tidak bisa melakukan siulan seperti kamu, Benar yang dikatakan kakek Inal, kami merasa dada sesak dan jantung berdebar dengan kencangnya.” ”Masak ayah merasakan seperti itu, kenapa aku tidak ?” kata Aswin bingung. ”Aswin, kakek Inal ada bilang apa lagi tidak ke kamu mengenai ilmu siulan ini ?” tanya Masnan penasaran. Aswin berusaha mengingat-ingat apa yang telah dikatakan kakek Inal mengenai ilmu siulan ini. Tiba-tiba dia teringat,” Oh yah paman, aku lupa mengatakan, kakek Inal bilang ilmu ini tidak akan bisa dipelajari oleh orang yang sudah bisa menggunakan hawa murni tubuhnya untuk menerapkan ilmu silatnya. Kalau dia tetap melakukannya maka semua tenaga dalam yang dia miliki akan musnah akibat hawa murninya yang membuyar dari dalam tubuh.” Kaget bukan kepalang semua yang mendengarnya, mereka juga heran kenapa hanya sebuah ilmu siulan tapi bisa mempengaruhi seperti itu. Saking penasaran Masnan kembali bertanya,” Apa ada lagi tidak yang dikatakan oleh kakek Inal itu kepada kamu, Aswin ?” Aswin berusaha mengingat apa ada lagi yang dikatakan kakek Inal kepadanya mengenai siulan ini, dia menggeleng-gelengkan kepalanya merasa tidak ada lagi perkataan kakek Inal mengenai masalah ini. ”Paman, seingat aku tidak ada lagi yang dikatakan kakek Inal.” kata Aswin dengan kening berkerut. ”Hmmm...mmm... aku rasa siulan itu merupakan sebuah ilmu tenaga dalam yang punya ciri khas tersendiri dan tidak bisa bercampur dengan tenaga dalam lain aliran.” ”Aku juga pikir begitu, Masnan, masak cuma bersiul saja harus menggerakkan hawa murni segala.” kata wali Bumi. ”Siapakah gerangan kakek Inal itu, menurut Uda Basri ?” kata Kahar. ”Aku juga belum bisa menerka siapa gerangan dia, jika melihat cara dia mengajari Aswin sepertinya dia mengetahui bahwa siapapun yang melihat bagaimana Aswin menangani ular itu pasti ingin mempelajarinya juga, karena itu dia bisa mengatakan kepada Aswin untuk tidak masalah mengajarkan siulan itu bahkan bisa menebak apa yang terjadi pada kita.” ”Uda Bumi, apa uda mengenal kakek Inal ini ? Karena kata Aswin, dia sering datang ke rumah uda, tapi sepertinya uda tidak pernah tahu akan hal ini ?” ”Ini juga mengherankan bagiku, Masnan, selama ini aku tidak pernah merasa ada orang yang datang ke rumahku tapi aku tidak mengenalnya !” ”Aswin, kapan biasanya kakek Inal datang menjengukmu ?” ”Tidak tentu ayah, kadang pagi sekali, kadang siang, kadang sore, pernah juga malam.” ”Waktu beliau datang, apa ayah atau bunda ada di rumah, sayang.” tanya Siti penasaran. ”Ada Bunda, seperti kemarin siang waktu kakek datang, kan aku pamitan sama bunda mau pergi main di luar. Apa Bunda tidak melihat beliau yang berdiri di belakangku ?” Bersambunggg……… No virus found in this outgoing message. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.21.3/1307 - Release Date: 02/03/2008 15:59 --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet. - Tuliskan Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting. - Hapus footer & bagian yg tidak perlu, jika melakukan reply. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi. - Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku. =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Agar dapat melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
