Kalau ndak salah, dulu wakatu pembangunan jalam mangopoh tu sekitar akhir 80an, 
kontraktor dari Philipina juo malakukan kawin kontrak juo. Mungkin ado warga 
pasaman terutama pasaman barat yg bisa menjalehkan.
Jadi, fenomena kawin kontrak ko dima2 ado, terutama proyek2 raksasa. Mungkin 
para pakar bisa mancerahkan, takuiknyo awak mandanga lo dari urang banyak.
Dipuncak pun, wakatu ambo ado pelatihan, vila kami badakekan jo tampek mabesnyo 
para arab. Yo banyak blasteran disinan, jadih gagah2 anak2 nyo. 
Tapi kok diparatikan, faktor ekonomi juo nan mambuek mental jadi jebol, 
ditambah lo jo panyakik pamaleh. Kurang lo iman, lah cukuik syarat nyo 
mah.........dinagari awak untuang lai manang di iman ko

Salanjuiknyo, 

Bari maaf kok salah sampaikan ambo tentang kontraktor jalan di simpang ampek 
tempo dulu tu, tapi sakali lai kalau indak salah tantu batua.

Nanang, jkt

Sent from my iPad

On 22 Sep 2013, at 17:22, Ahmad Ridha <[email protected]> wrote:

> 2013/9/22 Zaid Dunil <[email protected]>
> 
>> Turis dari arabko ala jadi fenomena tersendiri pulo kini. Banyak harabtu nan 
>> tingga di daerah puncak (Jabar) dan berasimilasi jo penduduk setempat. Dek 
>> wanyo urang islam gampang ditarimo dek masyarakat. Tapi nan ambo indak abih 
>> pikia, soal caro urang arab tu menikahi urang urang pribumi setempat. Mereka 
>> banyak yang menikah dengan cara 'kawin kontrak'. Jangka waktunya ditetapkan 
>> , bisa 6 bulan , bisa setahun. Dan nikahnya dilakukan secara Islam. Setelah 
>> habis masa lakunya, kalau si arab masih ingin tinggal, kontraknya 
>> diperpanjang, kalau sudah waktunya dia pulang ke negerinya, dia pergi tanpa 
>> beban. Kontrak habis dan si isteri nampaknya juga menerima saja keadaan itu. 
>> Dan si istri mungkin pula menikah lagi dengan arab lainnya, dinikahkan 
>> secara Islam. Apo caro saromanko dibuliahkan di agamo awak. Buliah indak 
>> buliah dek agamo , mudah2an jaan sampai arab arab kelas nan bantuak itu 
>> manjadi turih lo lamo lamo ka kampuang awak.
>  
> Pak Zaid yang saya hormati,
> 
> Sepertinya kurang pas jika kita menggeneralisasi suku atau bangsa tertentu, 
> Pak. Terlebih dalam permasalahan kawin kontrak ini, benang merahnya bukanlah 
> suku atau bangsanya, tetapi lebih ke masalah pemahaman dan syahwat yang tidak 
> dimonopoli suku dan bangsa tertentu.
> 
> Masalah syahwat bukan masalah asing di negeri kita yang saya kira tidak perlu 
> dijelaskan lagi. Namun, saya cukup yakin bahwa dalam kasus prostitusi 
> konvensional para pelakunya sadar bahwa yang dilakukannya adalah kejelekan.
> 
> Masalah di area puncak memiliki aspek berbeda (dan hal ini menjadikannya 
> lebih berbahaya) adalah masalah pemahaman. Dengan sebutan nikah kontrak (atau 
> nikah mut'ah), praktik tersebut tidak dianggap kejelekan oleh pelakunya. 
> Bahkan dalam pemahaman mereka praktik tersebut dianggap pula sebagai ibadah. 
> Nah, pemahaman ini merupakan bagian dari agama Syi'ah (bukan agama Islam 
> karena Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa Sallam telah menyatakan haramnya 
> nikah mut'ah). Oleh sebab itu, yang perlu kita waspadai bukanlah turis Arab, 
> tetapi penyebar agama Syi'ah, baik dari Arab ataupun selainnya.
> 
> Allahu Ta'aala a'laam.
> 
> Wassalaam,
> -- 
> Abu 'Abdirrahman, Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
> (l. 1400 H/1980 M)
> -- 
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
> subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> --- 
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
> Google.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
> email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke