Pantun Bukan Sembarang Pantun

02-03-2008

Membaca pantun memang menyenangkan, apalagi pantun merupakan seni yang sangat 
lekat dengan budaya Indonesia. Namun dewasa ini pantun hanya menjadi, tidak 
lebih dari sekedar permainan, yang membuat hati gembira.


Judul Buku       : Kebijakan dalam 1001 Pantun

Penulis              : John Gawa

Penerbit            : Buku Kompas

Cetakan           : Ketiga, November 2007

Tebal                : xx + 316 halaman

 

Gedung monas pusat Jakarta

Paling di atas bongkah emas

Harga diri kalau dijaga

Masyarakat hidupnya bebas (hlm 5)

 

Itulah sebait pantun yang bukan sembarang pantun yang diciptakan oleh seorang 
Flores, John Gawa. Hal tersebut merupakan salah satu upayanya untuk kembali 
membudayakan pantun yang sudah kurang populer di kalangan masyarakat Indonesia.

1001 pantun karya John Gawa ini adalah cetakan ketiga. Hasil cetak ulang ini 
ternyata tak lepas dari besarnya antusiasme masyarakat terhadap pantun, 
sehingga penulis merasa perlu untuk memperluas sasaran pembaca yang dapat 
menikmati karya sederhana ini. Namun, pada cetakan ketiga ini penulis tidak 
hanya memuat pantun-pantunnya, tapi ditambahkan dengan kumpulan pantun daerah 
Sumatra Utara yang diambil dari beberapa sumber penting dalam pustaka sastra 
Indonesia, dan terjemahan dari kata-kata sambutan kolega penulis.

Membaca pantun memang menyenangkan, apalagi pantun merupakan seni yang sangat 
lekat dengan budaya Indonesia. Namun dewasa ini pantun hanya menjadi, tidak 
lebih dari sekedar permainan, yang membuat hati gembira. Orang membuat pantun 
tdak seperti dulu lagi, di mana dalam isi sebuah pantun ada makna-makna 
tertentu. 

Nah, inilah yang ditawarkan John Gawa kepada pembaca. Ia tidak hanya 
menyuguhkan kata-kata puitis, tetapi juga sebuah kebijakan yang tersirat di 
dalam pantun tersebut, seperti pantun di bawah ini

Mengalir air turun ke dasar/hati sedih dan air mata/ Hidup lak-laki berat dan 
kasar/ hidup wanita menderita. 

Konsep sebuah pantun benar-benar dipedomani oleh penulis. Selain pantun karya 
penulis sendiri, ada pula pantun-pantun daerah dari Jawa, Minang, Sulawesi 
Tengah, dan Flores, serta terjemahannya dalam bahasa Inggris dan Indonesia. 
Sangat kaya sekali buku ini jadinya, penuh dengan penelitian dan data-data 
akurat. Rasanya benar-benar rugi bila tak membaca buku ini.

Pembacapun ingin pula menulis pantun, begini: Di bawah rimbun angin 
melantun-lantun/ pohon mengkudu masak buahnya/ Ini pantun bukan sembarang 
pantun/ baca dulu baru dapat hikmahnya. (Peresensi :  Iggoy  el Fitra)

 


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian yg tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Agar dapat melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke