Struktur Pemerintahan Adat

Pucuk Adat/Daulat Rajo kenagarian Air Bangis yang berasal dari keturunan
raja-raja yang memerintah Air Bangis sejak dahulu kala, secara langsung
menjabat sebagai ketua KAN Air Bangis. Secara ekplisit dengan adanya Pucuk
Adat, Nagari Air Bangis termasuk kedalam stelsel adat Koto Piliang. Dimana
fungsi Pucuk Adat disini menjalankan fungsi pengukuhan/penetapan. Jika dalam
suatu rapat ninik mamak sudah melahirkan suatu kesepakatan, maka Pucuk Adat
kemudian menetapkan keputusan rapat tersebut. Apabila keputusan yang sudah
dikukuhkan tersebut ingin dirubah, maka haruslah dilakukan dalam suatu rapat
bersama pula. 

 

Keterangan:

A. Panghulu Nan Barampek Didalam

Penghulu Nan Barampek Didalam berfungsi sebagai kelompok pemikir dan
perencana pembangunan dalam Nagari Air Bangis yang setiap waktu berkewajiban
memberikan pertimbangan-pertimbangan kepada Pucuk Adat

 

1. Datuk Bandaharo : 

Datuk Bandaharo, diibaratkan sebagai cermin yang tak kunjung kabur, palito
nan tak kunjung lindok, arif bijaksana, pandangannya jauh kedepanyang
berharga dalam sidang Kerapatan Nagari. Dia bergelar Imam Sagalo Basa; Dalam
struktur Pemerintahan Modern sekarang ini, bisa diibaratkan : Perdana
menteri. 

2. Datuk Magek Tagarang : 

Datuk Magek Tagarang adalah Amban Paruik Peti Bagauang; nan mamacik anak
kunci nan tau di emas, perak, nan tau di beras/padi. Dalam struktur
pemerintahan modern sekarang ini diibaratkan seperti Mentri Keuangan.

3.Datuk Mudo :

Datuk Mudo bertugas sebagai pemberi penerangan dan memberikan penjelasan
dalam sidang kerapatan, kepada khalayak ramai, sehubungan dengan
kebijaksanaan yang telah diambil. Dalam Pemerintahan Modern diibaratkan
sebagai mentri Penerangan atau Protokoler.

4.Datuk Rajo Mau :

Datuk Rajo Mau bertugas mengatur dan menjaga keamanan dan ketertiban dalam
negeri. Seorang yang gagah dan pemberani yang dalam adat disebutkan-panateh
unak nan bajalin, panguduang batang tabulingkang. Dialah yang berhak memukul
tabuh larangan, untuk memberitahukan kepada umum tentang peristiwa-peristiwa
yang menyangkut dengan hal-hal yang khas yang terjadi. Seperti : Nagari
menghadapi serangan dari musuh, keadaan bahaya, keamanan yang terganggu dll.

 

Tiga Panghulu; Datuk Bandaharo, Datuk Magek Tagarang, dan Datuk Mudo adalah
yang datang dari Indra Pura sama-sama suku Melayu, yaitu suku dari Urang
Kayo Bungo Tanjung, dan masih tergolong keluarganya. Datuk Rajo Mau, dari
suku Sikumbang, berasal dari Tanah Darek. 

 

B.Panghulu Nan Barampek Di Lua

 

1.Datuk Rajo Sampono :

Datuk Rajo Sampono adalah yang dituakan didalam kelompok yang barampek
dilua, bergelar ANDIKO BASA. Dalam upacara adat yang khas didampingi oleh
dua orang Panghulu yaitu; Datuk Tan Malenggang, dan Datuk Tan Maliputi,
sebagai tali nan bapilin tigo, sehingga kedudukan sebagai yang dituakan
didalam nan barampek dilua itu semakin kokoh. Untuk Kanagarian Air Bangis
padanya diberikan daerah Pasar Satu. Menurut sejarah seorang Panghulu
bersuku Caniago berasal dari Pasaman (Parit Batu atau Simpang Empat
sekarang) yang bergelar Datuk Rajo Alam.

 

 

2.Datuk Rajo Amat :

Datuk Rajo Amat berasal dari Pariaman, suku Tanjung yang kalau diusut daerah
asalnya masih ada hubungan dengan Datuk Rajo Hitam seorang Ninik Mamak
/Panghulu Adat di Pasar Pariaman. Sebagai seorang yang berasal dari turunan
Panghulu, kepadanya diberikan wilayah untuk dikuasainya sebagai kepala
Pemerintahan yaitu Pasar Dua.

3.Datuk Rangkayo Basa :

Datuk Rangkayo Basa berasal dari Rao Mapattunggul, suku Mandailing, juga
seorang Panghulu dari kampung asalnya. Kepadanya diberikan Pasar Tiga,
sebagai wilayah yang harus dipimpinnya.

4.Datuk Rajo Todung :

Datuk Rajo Todung berasal dari Mandailing, marga/suku Lubis, yang di Air
Bangis ditukar dengan suku Mandailing. Kepadanya diberikan Pasar Empat,
sebagai wilayah untuk dipimpinnya sebagai Kepala Pemerintahan Wilayah itu.

 

Selanjutnya mengenai Panghulu yang lain, menurut sepanjang adat dapat
dijelaskan usulnya sebagai berikut :

1.Rangkayo Saramo ;

Rangkayo Saramo bersuku Caniago, berasal dari Simpang Garagahan Lubuk
Basung. Di kampung asal gelar persukuannya juga Rangkayo Saramo.

2.Rangkayo Mardeso ;

Rangkayo Mardeso, bersuku Jambak, berasal dari Tiku adalah turunan dari
seorang Panghulu Adat Tiku dengan gelar Rangkayo Basa.

3.Sidi Rajo ;

Sidi Rajo berasal dari Tanah Darek, diangkat jadi Panghulu karena termasuk
seorang yang cerdas dan banyak memberikan pandangan yang baik dan berharga
untuk pemerintahan Nagari.

4.Datuk Tan Malenggang ;

Datuk Tan Malenggang, bersuku Mandahiling, berasal dari Kuamang, Seberang
air, Rao Mapat Tunggul, termasuk keluarga dari Datuk rajo Kuamang, pucuk
adat ditempat tersebut.

5.Datuk Tan Maliputi

Datuk Tan Maliputi, berasal dari Bawan, antara Panti Lubuk Sikaping.

6.Rangkayo Saramo, Rangkayo Mardeso,

Rangkayo Saramo, Rangkayo Mardeso dahulunya tempat Sumando Rajo (Pucuk adat)
dan sesudah lahir anak-anak, yang pertama diberikan kedudukan sebagai
Panghulu dalam kaumnya bersama-sama dengan Sidi Rajo dinamakan Induak nan
Babariah dan dimasukkan ke dalam kelompok Nan Barampek di dalam.

7.Datuk Tan Malenggang dan Datuk Tan Maliputi

Datuk Tan Malenggang dan Datuk Tan Maliputi sebagai pendamping Datuk Rajo
Sampano dalam menghadapi pemerinahan sehari-hari, maupun dalam sidang-sidang
kerapatan Adat, berpangkat Panghulu dan menjadi ninik mamak dalam kaumnya.

 

Disamping itu juga termasuk anggota Kerapatan Adat Nagari (KAN) adalah Imam,
Khatib dan bilal yang akan memberikan fatwa-fatwa dalam bidang Agama Islam
baik di dalam maupun di luar Kerapatan Nagari.

a.Imam diambil dari keluarga Pucuk Adat.

b.Khatib diambil dari keluarga Datuk Rajo Sampono.

c.Bilal diambil dari kelurga Datuk Tan Malenggang.

 

Selain dari orang-orang yang tersebut di atas, Susunan Kerapatan Adat Nagari
(KAN) dilengkapi pula dengan dua orang Basa, yaitu:

1.Rajo Lenggang dari Patibubur sebagai yang dituakan dalam adat wilayah
tersebut. Dalam pelaksanaan tugasnya dibantu oleh dua orang penghulu yaitu:

1/. Dt. Rajo Manggadang, sebagai penghulu bukit

2/. Dt. Rajo Manguyang, sebagai penghulu lembah

2.Datuk Rajo Idin, dari Silawai bersama dengan orang tuo Silawai yang
daerahnya memegang urusan Adat.

 

Kalau Nagari Air Bangis diibaratkan sebagai ; SEEKOR BURUNG : maka Patibubuo
adalah sayap yang lebar, dan Silawai adalah Ekor yang rindang.

 

Pluralisme & Heterogenitas Nagari Air Bangis.

 

Nagari Air Bangis adalah nagari yang sangat plural dan heterogen. Tidak
hanya saat ini nagari air Bangis yang didatangi oleh pendatang. Tetapi sejak
dahulu kala nagari Air Bangis sudah merupakan pusat perdagangan sebagaimana
layaknya daerah-daerah pesisir pantai lainnya. Perkawinan penduduk asli
dengan pendatang kemudian melahirkan keturunan yang kemudian menetap di
Nagari Air Bangis. Meskipun demikian, dari data-data yang didapat dilapangan
semua pendatang secara sadar menundukkan diri kepada hukum adat Minangkabau.
Seperti marga Lubis yang kemudian menjadi Suku Mandahiling di Nagari Air
Bangis. Kemudian seiring dengan perjalanan waktu, keturunan-keturunan dari
pembauran masyarakat Air Bangis tersebut melebur diri kedalam tatanan adat
yang sangat unik sekali.

 

Keterbukaan Nagari Air Bangis terhadap pendatang tercermin dalam ketentuan
adat yang sudah berlaku sejak dulu sekali. Menurut Adat yang berlaku di
Nagari Air Bangis dikenal satu konsep yaitu :

"Dagang Darat Basandaran,

Dagang Laut batambatan"

Artinya, setiap anak dagang (pendatang) yang datang ke Nagari Air Bangis,
sudah ada tempat dimana ia akan berlindung ( tepatan), sehingga dengan
demikian tidak akan ada anak dagang yang akan terlantar. Asalkan dipenuhi
syarat-syarat yang ditentukan oleh tepatannya tersebut. Atau secara umum
disebutkan dengan istilah "Datang Tampak Muka, Pulang Tampak Punggung".

 

Dibawah ini dijelaskan penghulu/ninik mamak yang dibebankan tugas untuk
menampung anak dagang yang datang ke Nagari Air Bangis, berdasarkan asal
dari anak dagang tersebut.

 

NONINIK MAMAK/PENGHULU TEPATANDAERAH ASAL ANAK DAGANG

1Pucuk AdatPulau Sumatera kecuali yang berasal dari Minangkabau & Aceh

2Dt. BandaroBandar X/Kab. Pesisir Selatan

 

3Dt. Magek TagarangHanya untuk kaumnya

 

4Dt. MudoAceh

 

5Dt. Rajo MauHanya untuk kaumnya

 

6Dt. Rajo SamponoPasaman

 

7Dt. Rajo AmatTiku-Pariaman kecuali yang bersuku Jambak

 

8Dt. Rangkayo BasaRao, Mapat & Tunggul, kecuali yang bersal dari
kuamang-Seberang Air

9Dt. Rajo TodungMandahiling-Tapanuli Selatan

 

10Rangkayo SeramoHanya untuk kaumnya yang berasal dari Simpang Garagahan

11Rangkayo MardesoHanya untuk kaumnya bersuku Jambak dari Tiku-Pariaman

12Sidi RajoTanah Darek/Luhak Nan Tigo/Minangkabau pedalaman

 

13Dt. Tan MalenggangHanya untuk kaumnya yang datang dari Kuamang

 

14Dt. Tan MaliputiHanya untuk kaumnya

 

 

Bahkan dari keterangan yang didapat dilapangan, disebutkanlah bahwa salah
seorang nenek moyang salah satu kaum asli Air Bangis adalah seorang wanita
yang bersal dari daratan cina. Ketika terjadi kerusuhan dan peperangan di
daerah Singkuang, suatu daerah dekat Natal Kab. Madina Prop Sumatera Utara.
Raja Singkuang meminta bantuan kepada raja Air Bangis. Oleh raja Air Bangis
dikirimlah seorang panglima yang bernama Tan Pahlawan yang berasal dari
daerah Rao. Atas andil panglima ini, kerusuhan dan peperangan dapat
dimenangkan oleh raja Singkuang. Sebagai tanda terima kasih, maka di
berikanlah seorang perempuan cina yang bernama Lim Bin Shi untuk
diperistrinya. Keturunan ini kemudian berkembang dan menetap di daerah Air
Bangis.

 

KEARIFAN MASYARAKAT NELAYAN TRADISIONIL AIR BANGIS DALAM MENGELOLA SDA
KELAUTAN

 

III. 1. Sejarah Terbentuknya Komunitas Nelayan Air Bangis

 

Membicarakan sejarah terbentuknya komunitas nelayan Air Bangis, adalah
merupakan kesulitan tersendiri dan merupakan pekerjaan yang sangat tidak
mudah. Sebab belum ada satupun pemahaman yang sama ditingkat ahli dan tidak
ada satupun literatur yang membicarakan hal ini. Namun demikian jika
ditelusuri dari sejarah Minangkabau dan sejarah Air bangis sendiri, sedikit
banyak dapat kita simpulkan.

 

Daerah pesisir secara umum, tidak hanya Air Bangis sejak dahulu kala, adalah
merupakan daerah perdagangan yang sering kali di disinggahi oleh
pedagang-pedagang. Jika diperhatikan dari perkembangan penyebaran penduduk
di Air Bangis dalam sejarah nagari tersebut, maka secara eksplisit pada saat
pemerintahan Urang kayo Hitam, pusat kerajaan kemudian dipindahkan lebih
dekat kepantai. Istana raja kemudian dibangun di Bukit Limau Kaca. Artinya,
jauh sebelum kepindahan pusat kerajaan tersebut. Komunitas nelayan di Air
Bangis sudah lebih dulu terbentuk.

 

Seiring dengan perkembangan peradaban, perjalanan waktu dan perobahan
teknologi, terjadi juga perkembangan jenis-jenis alat tangkap. Terkhir,
ketika live in dilakukan, komunitas nelayan Air Bangis menggunakan alat-alat
tangkap sebagai berikut:

 

1.Bagan

 

Adalah kapal kayu dengan panjang ± 15 m dan lebar ± 3 m. Menggunakan mesin
disel yang biasa dipakai oleh truk Fuso yang telah dimodifikasi sedemikian
rupa. Pada sisi-sisi bagan terdapat kayu-kayu penyeimbang (cadik) yang
sekaligus merupakan tempat jaring di ikat. Penangkapan ikan dilakukan dengan
bantuan cahaya lampu yang ditempatkan disekeliling body bagan. Ketika
ikan-ikan sudah tertarik untuk mendekat, maka disaat itu jaring dijatuhkan.
Dewasa ini, alat pendeteksi ikan yang digunakan pada Bagan, sudah memakai
alat deteksi yang memakai gelombang elektronik (Sonar). Menurut keterangan
masyarakat, di Air Bangis saat ini terdapat ± 150 buah Bagan dimana harga
dari sebuah bagan adalah ± Rp. 100.000,-. Ikan-ikan hasil tangkapan ikan
biasanya dijual dalam keadaan hidup maupun dalam keadaan kering, setelah
diolah dipengeringan ikan.

 

Dalam beroperasi, Bagan sangat tergantung kepada musim. Di Air Bangis musim
penangkapan ikan tersebut dikenal atas dua musim yaitu musim kelam dan musim
terang. Hitungan musim kelam dan musim terang tersebut mengikuti arah rotasi
bulan. Artinya ketika bulan muncul pada beberapa waktu tertentu dan
cahayanya terang, maka Bagan tidak beroperasi. Karena alat bantu pengumpul
ikan berupa lampu-lampu, tidak akan berguna. Perhitungan waktu antara musim
kelam dan musim terang adalah mengikuti penanggalan bulan Arab. Secara garis
besarnya, dalam setiap bulan, musim gelap kira-kira 3 minggu dan musim
terang kira-kira 1 minggu (6 hari). Dalam pengetahuan nelayan Air Bangis,
secara umum musim terang dimana ada bulan purnama adalah sekitar tanggal 13,
14, 15, dan 16 setiap bulannya. Sedangkan musim gelap adalah mulai tanggal
18 sampai dengan tanggal 12 bulan depannya. Selama bulan kelamlah Bagan
dapat beroperasi. Sementara hari-hari dibulan terang, dimamfaatkan untuk
memperbaiki alat tangkap.

 

http://my.opera.com/andikosutanmancayo/blog/

 


No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition. 
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.21.4/1312 - Release Date: 04/03/2008
21:46
 

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian yg tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Agar dapat melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke