Huh!  Jantungku berdebar acak.  Seperti debar yang pernah singgah di liang 
dadaku, saat menerima sepucuk surat pendek dalam amplop putih berhiaskan 
sekuntum tulip di sisinya dari gadis peserta oliampiade matematika itu.  Gadis 
yang pernah dinobatkan sebagai ratu semasa kami diospek dulu.

"Aku tidak bisa hadir di kelas untuk seminggu ini. Nanti pinjam catatanmu ya... 
 tulisanmu rapi.  Aku ke Jakarta bergabung dengan anak-anak dari seluruh 
propinsi. Salam MPRS."

Belakangan baru kupaham salam yang tak lazim itu.  Salam manis penuh rasa 
sayang.  Alamak...
Itulah penanda hari jadi kami.

"Hah!  Untung saja bukan salam DPRS;  dengki penuh rasa sirik," pikirku lega.

Debar itulah yang kembali menggedor-gedor dinding dadaku, saat dinda 
membilang-bilang namaku dalam cerpen itu. Hehe...

Salut, salut, dengan kegigihan Dinda Ifah.  Saya sependapat dengan Pak 
Damanhuri, ops Bung Damhuri, kelak Ifah akan jadi cerpenis cetar membahana.  
Siapa nyana bisa seperti nenek Alice Mundro yang menerima gelondongan uang 
tunai Rp 14 miliar atas cerpen-cerpennya.

Benar adanya, "konflik" adalah roh sebuah kisah.  Sangat setuju.  
"Pertentangan" selalu menarik kuping banyak orang. Konflik bagai BBM bagi 
sebuah mobil. 

Namun, jika ada mobil berjalan bukan karena BBM, ia akan menjadi berbeda; unik 
tapi menarik.  Itulah yang saya rasakan dari kisah di bawah ini.  Kisah tuna 
konflik.  Hanya karena "sebuah" kata, ya satu kata saja, mendadak mengubah 
paradigma pembaca.

[Maaf, BUKAN bacaan untuk anak]

Sebuah rumah mungil di pinggiran timur Jakarta. Sebuah pagi berjalan 
sebagaimana lazimnya. Asti berkubang dalam banyak pekerjaan rumah. Arnando, 
seperti biasa, berkutat merampungkan lukisan di studionya.

Daster Asti tak mampu menutup seluruh kulit putih bersihnya. Tapi, daster itu 
tetap bisa menyembunyikan banyak tahi lalat di tempat-tempat tertutup. Hanya 
Arnando yang tahu persis letak-letaknya.

Rambut lebat Asti dibiarkan memanjang menjuntai di punggungnya hingga nyaris ke 
pinggul. Hidungnya yang tak mancung kerap mengundang godaan Arnando.

”Tak apa-apa hidungmu pesek. Lebih baik berhidung pesek tapi dengan dua bukit 
mancung dan terurus di bawahnya,” kata Arnando sambil menyentuh lembut salah 
satu bukit yang menjulang di dada Asti, pada sebuah pagi yang lain.

”Lebih baik daripada apa…?” sela Asti merajuk.

”Ya…, lebih baik daripada berhidung mancung dengan dua bukit pesek tak terurus 
di bawahnya.”

Arnando tergelak. Asti hanya tersenyum. Senyum tertahan. Adegan tersipu seperti 
inilah yang sangat disukai Arnando. Karena itu, ia gemar menggoda Asti terutama 
pada setiap pagi yang jadi milik mereka.

Kadang-kadang Arnando berpikir bahwa mereka memang ditakdirkan sebagai pasangan 
yang saling melengkapi. Tergelak dan tersipu. Keliaran seorang penyerang dan 
kelembutan sang penenang. Keberingasan seorang pemburu dan kepasrahan korban 
buruan.

Asti adalah perempuan bersahaja. Selalu nrimo. Dalam banyak hal ia bahkan 
cenderung naif. Yang pasti, ia sungguh rajin mengerjakan setiap pekerjaan yang 
tersedia di rumah. Tak ada bagian rumah yang tak terjamah olehnya. Setiap hari. 
Sepanjang minggu. Sepanjang tahun.

Arnando membayangkan. Seperti itulah ibunya dulu selagi muda bekerja di rumah 
masa kecilnya di Yogyakarta. Menyelesaikan semua pekerjaan rumah dengan 
tertata. Mengurus suami, ayah Arnando, yang lumayan banyak urusan. Dan mendidik 
enam orang anak laki-laki yang sungguh susah diatur. Tanpa pernah mengeluh. 
Satu kali pun.

Asti pun tak banyak menuntut. Menyangkut materi, permintaannya selalu 
sederhana. Minta daster baru. Minta dicarikan sepatu tali yang lebih kuat. 
Ketika butuh tas, ia tak minta tas kulit mahal, tapi tas dari plastik atau 
kulit imitasi, asal cukup kuat untuk bepergian. Benda sedikit berharga yang 
pernah dimintanya adalah radio-tape untuk di kamar. Pernah ia minta dibelikan 
gelang emas 10 gram. Itu pun dimintanya dengan tersipu. Bukannya dipakai dan 
dipamerkan, Asti malah menyembunyikan gelang itu di dalam laci lemarinya yang 
selalu terkunci.

Untuk banyak alasan, yang tentu saja disetujui Arnando, Asti memang tak pernah 
memamerkan berlebihan barang-barang berharga pemberian Arnando. Ia menyimpan 
dengan rapi barang-barang itu serapi menyimpan cintanya untuk satu-satunya 
lelaki yang pernah menjamah tubuhnya itu.

Arnando adalah burung hantu yang setia hinggap di dahan yang sama di tiap 
malam. Lelaki rumahan. Inilah pula yang disukai Asti. Arnando selalu tersedia 
baginya. Setiap saat.

Dengan Arnando yang selalu tersedia, Asti tak pernah merasa tertimbun dalam 
tumpukan pekerjaan. Baginya, hari-hari di rumah adalah saat-saat menyenangkan. 
Ia tak merasa terpenjara. Ia merasa seperti berdiam di sebuah istana.

Melukis adalah satu-satunya pekerjaan yang Arnando lakukan. Ia menghabiskan 
sebagian besar hari-harinya di studio. Hidupnya seperti lalu lintas di antara 
studionya yang berantakan, ruang makan, dan tempat tidur.

Uang memang kadang-kadang jadi persoalan. Arnando tak punya penghasilan rutin 
seperti orang kantoran. Ia sendiri tak pernah mau mengurus keuangan. Ia tak 
terlalu peduli apakah uang mereka sedang melimpah atau mereka sedang bangkrut. 
Untunglah, di rumah ia tak pernah mendapat keluhan-keluhan berarti soal uang.

Untunglah pula, Arnando termasuk produktif. Berpameran setidaknya dua kali 
setiap setahun. Satu pameran tunggal dan satu lagi bersama koleganya, satu atau 
beberapa pelukis lain. Dari penjualan lukisan di setiap pameran itulah ia 
mendapatkan uang yang lumayan. Setidaknya, cukup untuk hidup bersahaja 
sepanjang tahun.

Belakangan, ketika lukisannya mulai dilirik kolektor, kadang-kadang uang datang 
sendiri bersama para pemburu lukisannya. Ketika namanya makin banyak disebut 
oleh para kurator dan peresensi seni rupa, ia sendiri jadi makin tak yakin 
apakah yang diburu lukisannya atau guratan tegas namanya, ”Arnando Mahoni”, di 
sudut kanan atau kiri bawah tiap lukisan itu.

Arnando merasa hidupnya lebih dari cukup. Memiliki sebuah rumah mungil di 
pinggiran Jakarta adalah sebuah kemewahan. Terlebih-lebih, buat Asti, ternyata 
rumah mungil itu adalah sebuah istana besar yang megah.

Bisa mengatur sendiri hidupnya, tanpa terikat oleh jam kerja atau jadwal-jadwal 
rutin lain, adalah kemewahan lain milik Arnando. Ia merasa hidupnya sudah 
selesai dengan dua kemewahan yang sudah digenggamnya itu.

Pagi ini, Arnando masih berkutat dengan lukisan yang tak juga usai itu. Lukisan 
1 x 1 meter yang kelihatannya akan dicengkeram warna biru muram.

”Nggak sarapan dulu?”

Tiba-tiba suara Asti menyereruput punggung telinganya. Dua bilah tangan putih 
melingkari pinggang Arnando. Asti merapatkan badannya di punggung Arnando. 
Wangi-pagi-hari tubuh berkeringat Asti yang khas membuat Arnando segera 
berbalik.

Asti dan Arnando saling merapat dalam balutan ”pakaian dinas pagi” 
masing-masing. Asti dalam dasternya. Arnando dengan kaus oblong dan sarungnya. 
Keduanya seperti sepasang merpati yang saling mencari pagutan di tengah puncak 
musim kawin.

Seperti pada pagi-pagi lainnya, setelah sebuah ciuman panjang yang tak 
terputus, mereka beringsut dari studio menuju kamar di sebelahnya. Tanpa banyak 
bicara. Pada pagi yang masih belia, Asti dan Arnando bercinta. Seperti pada 
hampir setiap pagi lainnya. Kecuali pada akhir pekan atau liburan. Tentu saja.

Ketukan di pintu itulah yang akhirnya membangunkan Asti dan Arnando dari letih 
yang nyaris melelapkan. Jumlah dan nada ketukan itu sudah memberi tahu keduanya 
siapa yang datang pagi itu.

Asti dengan sigap membereskan tempat tidurnya. Lalu, menyelinap keluar kamar 
sambil meninggalkan senyum penuh arti untuk Arnando. Semacam terima kasih yang 
tak terucap untuk tiap kenikmatan yang baru saja mereka reguk. Sosoknya hilang 
ditelan daun pintu, melangkah sedikit tergesa ke pintu depan.

Arnando mengenakan sarung sekenanya. Lalu, kembali ke studio di sisi kamar itu.

Sepi menyergap sesaat hingga pecah oleh suara kesibukan Asti di dapur. Rupanya, 
Asti sudah melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.

Samar-samar, Arnando mendengar langkah yang sudah sangat dikenalnya. ”Mas, 
berkas-berkasku tertinggal. Selalu saja begini kalo aku terburu-buru. Ini aku 
belikan sarapan kesukaanmu….” Suara lembut Ratih terdengar persis di punggung 
Arnando.

”Makasih sayang.” Arnando mengambil kotak makanan dari tangan Ratih dan 
membiarkan perempuan itu segera berbalik pergi setelah mencium bibirnya 
sekelebatan.

”Aku langsung buru-buru balik ke kantor lagi ya… Love you!” Suara Ratih dan 
tubuh rampingnya berkelebat. Lalu menghilang.

”Love you too…”

Pagi sudah tak lagi belia ketika Arnando mendengar suara mesin cuci mulai 
dinyalakan Asti. Sementara ia masih mematung, berdiri di depan sang calon 
lukisan biru muram yang tak juga usai.

Pagi masih belum beranjak, ketika suara mobil Ratih mulai terdengar. Lalu, 
melamat makin menjauh. Arnando tahu persis, suara mobil istrinya itu akan 
kembali datang kala malam bertandang kelak.

Cerpen KOMPAS, 25 Mei 2008
Cinta Pada Sebuah Pagi
Oleh Eep Saefullah Fatah

Maaf, jika tidak pada tempatnya.


Salam,
ZulTan, L, 53, Bogor

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke