Pak Saf, Perubahan tak kan terjadi kalau kelompok yang di atas itu maunya adalah pelestarian dari sistem yang mereka anut selama ini, yakni, dalam kasus kita, tetap bertahan pada sistem feodalisme-aristokratik itu. Tetapi kalau mereka sendiri yang ingin merubahnya, dari feodalisme ke demokrasi egaliter, maka waktu yang diperlukan tidak perlu lama, seperti yang kita saksikan di Tiongkok, Korea, Jepang dan Vietnam dan Malaysia itu. Semua berubah dalam satu generasi yang sama. Untuk itu diperlukan tokoh pendobrak, seperti Mahatir di Malaysia itu. Di kita, sampai saat ini belum muncul tokoh pendobrak yang kita inginkan itu. MN
On Saturday, October 26, 2013 2:04 PM, Dr. Saafroedin Bahar <[email protected]> wrote: Pak Mochtar, saya garis bawahi pendapat Pak Mochtar bahwa diperlukan waktu panjang - berabad-abad - untuk mengubah sistem sosial budaya suatu masyarakat. Lantas, apa yang bisa kita lakukan ? Wassalam , SB. Sent from my iPad On 26 Okt 2013, at 12.01, Mochtar Naim <[email protected]> wrote: Sdr Marza Chaniago, >Masalah kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan memang sesuatu yang harus dihabisi. Menghabisi kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan itu memerlukan waktu dan energi sepanjang masa, bukan hanya bergenerasi tapi berabad. Bayangkan, sejak zaman Majapahit sampai sekarang ini masalah utama kita tetap saja adalah masalah kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan itu. Kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan itu kaitannya adalah pada sistem sosial dan budaya kita sendiri. Kita memelihara sistem sosial dan budaya yang sifatnya feodalistik-aristokratik yang membedakan kelompok sosial yang di atas, di tengah dan di bawah. Yang mengatur dan mengendalikan semua2 selalu adalah kelompok yang di atas yang berkuasa. Mereka dari semula bekerjasama dengan para konglomerat non-pri Cina yang menguasai ekonomi Indonesia ini dari hulu sampai ke muara, di darat, laut dan udara. Dari sanalah masuknya budaya gratifikasi alias suap itu. Kalau mau menghabisinya maka sistem itulah yang dirubah, dari feodalisme-aristokrasi ke demokrasi egaliter. Kita bisa belajar banyak dari Tiongkok, Korea, Jepang dan Vietnam dalam menghabiskan sistem feodal-aristokratik itu untuk menukarnya dengan sistem demokratis-egaloiter yang mendahulukan kepentingan rakyat di bawah. MN -- >. >* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain >wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ >* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. >=========================================================== >UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: >* DILARANG: >1. Email besar dari 200KB; >2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; >3. Email One Liner. >* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta >mengirimkan biodata! >* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting >* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply >* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti >subjeknya. >=========================================================== >Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: >http://groups.google.com/group/RantauNet/ >--- >Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup >Google. >Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim >email ke rantaunet+berhenti [email protected] . >Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
