OLEH IRWAN SETIAWAN, S.Pd

            Sejarah Perang Kamang, adalah sebuah kata-kata ringan yang
mudah disampaikan oleh siapapun, mulai dari orang kampung sampai ke kota,
orang terpelajar hingga buta aksara, tokoh terkenal sampai orang takpaham
apa-apa. Ketika masyarakat Kamang sendiri mulai terpelapas dari rasa
menghargai Perang Kamang itu pernah ada, terkadang kita disentakkkan oleh
berbagai informasi yang rancu dan aneh tentang Perang Kamang. Sebagai
penyegar ingatan kita tentang Perang Kamang maka ada baiknya kita kembali
membaca, memahami dan menilai sendiri tentang keberadaan dan nilai-nilai
patriotisme dari perang belasting tersebut. Karena ketika kita mulai lupa
dengan sejarah, maka ada kemungkinan *“jalan di anjak urang lalu, cupak di
tuka urang manggaleh”*

            Kamang kalau dilihat secara kesatuan administrative pada pada
tahun 1890-an bisa dilihat dari dua sudut : Kamang sebagai Kelarasan, yang
meliputi 4 (empat) nagari yaitu : KAMANG,   BANSA-PAUH  (yang disebut juga
Nagari Bukik),  SUAYAN dan SUNGAI BALANTIAK. Namun kalau kita kaji ke
perode Perang Paderi, khusus untuk kelarasan Kamang ini ternyata telah
disusun dan di strukturisasi oleh Tuanku Nan Renceh dan menempatkan pusat
kelarasan Kamang di Bagari Kamang Bukik (Bansa-Pauh) bahkan beliau
membentuk kesatuan dalam ikatan benteng Kamang yang membentang dari Kamang
Mudiak sampai ke Salo. Dan ini merupakan salah satu benteng kuat pertahanan
Paderi sebelum pindah ke Bonjol.

            Perang Kamang 1908 adalah perang terbuka yang meledak pada 15
Juni 1908 dan merupakan salah satu puncak dari kemelut suasana anti
penjajahan rakyat Sumatera Barat dalam menentang penjajahan Belanda. Di
sini akan terlihat gambaran nyata dari bentuk semangat dan pengorbanan
rakyat Kamang, baik kalangan adat, agama, cerdik pandai, pemuda/pemudi,
bahkan kaum ibu dalam melawan serta berusaha mengusir Belanda, yang dari
segi politis dapat dikatakan sebagai bukti sumbangan yang pernah mereka
tunjukkan kepada Bangsa Indonesia.

            Kesadaran anti ter­hadap penjajahan yang diyakini Bung
Hatta-pun diper­caya berawal dari peristiwa Perang Kamang tersebut, hal itu
dapat kita rujuk ketika sang proklamator melihat *“urang rantai”* yang
digiring Belanda lewat di de­pan rumah beliau, dan Inyiak beliau ber­kata: *“Tu
urang* *Kamang nan malawan Bu­lando”* (*Memoir Muhammad Hatta, 1979*). Paman
dari Bung Hatta pun pernah menceritakan kejadian Perang Kamang kepada
beliau sehingga di depan rumah beliau di Bukittinggi sering terlihat
penjagaan dan pemeriksaan terhadap masyarakat yang masuk dan keluar kota
Bukittinggi.

            Penyebab dari munculnya perlawanan masyarakat Kamang ialah
pelanggaran Belanda terhadap perjanjian Plakat Panjang yang dikeluarkannya
pada masa Perang Paderi, dimana salah satu isinya ialah “Pemerintah tidak
akan mengadakan pungutan-pungutan berupa pajak, hanya kepada rakyat
dianjurkan menanam kopi”. Sejak keluarnya Plakat Panjang masyarakat tidak
lagi dipungut pajak, namun di awal tahun 1908 masyarakat diminta menanam
kopi dan diperetengahan tahun tersebar kabar bahwa dari penanaman kopi itu
akan di pungut pajak (belasting).

            Akhirnya muncullah perlawanan dari rakyat, berbagai ketidak
senangan ditunjukkan. Khusus di Kamang para pemimpin mulai menyusun
kekuatan untuk melawan kehendak Belanda yang ingin menghisap darah
rakyatnya.  Rujukan utama dari masyarakat Kamang Mudiak mengenai Perang
Kamang ialah “Syair Perang Kamang” yang dikarang oleh Haji Ahmad Marzuki
putra dari Haji Abdul Manan. Kekuatan yang dihimpun saat itu dalam artian
kekuatan yang sangat sederhana dan sangat tradisional.

                Pergolakan perang Kamang di gerakkan oleh H. Abdul Manan
dimana beliau dikenal sebagai tokoh agama yang disegani, beliau adalah guru
agama yang didatangi dan di kunjungi oleh masyarakat sebagai tempat
bertanya dan belajar tentang agama baik dari kamang Mudik sekarang, Kamang
Hilir sekarang, Tilatang, Magek, Palupuh bahkan sampai dari Pasaman. Beliau
sama-sama pulang dari Mekkah tahun 1877 dengan H. Jabang (Syekh Janggut)
dari Pauah. Tokoh-tokoh penting yang belajar agama kepada H. Abdul Manan
diantaranya : Dt. Rajo Penghulu (Kamang Hilir sekarang), Dt. Parpatiah
(Magek), Datuak Rajo Kaluang (Tilatang). Mereka inilah yang menjadi
tokoh-tokoh sentral dalam perang Kamang. Sehingga bisa dikatakan bahwa
dalam perang Kamang yang terlibat adalah Alim Ulama / Tuanku, Niniak Mamak,
Cadiak Pandai-ahli strategi, bahkan melibatkan generasi muda-pemuda dan
para bundo kanduang.

            Westenenk juga menceritakan keadaannya di Kamang pada tanggal
15 sampai 16 juni 1908 ;

“*Dalam nota kilat saya tanggal 14 bulan ini saya melaporkan bahwa keadaan
di   Kamang dan di Magek sangat serius, tidak menguntungkan dan diharap
segera tindakan diambli. Dan saya mengusulkan menangkap para pengacau itu
dengan bantuan tiga patrol tentara. Kemudian setelah diadakan
penangkapan-penangkapan di tangah (Kampung Tangah-rumah H. Abdul Manan)
kita tunggu saja apa yang akan dikerjakan penduduk. Ditetapkan untuk
mengadakan penangkapan-penangkapan di malam hari dan berangkat ke sana
Senin mala pukul 9.30. Hari senin tanggal 15, Kepala laras Tilatang
mengatakan kepada saya bahwa H. Abdul manan dari Bangsa (Nagari Ilalang,
Laras Kamang) mempunyai 30-50 murid yang bersedia mati (pasukan berani mati
syahid). Mereka diberi jimat oleh haji tersebut. Selain itu dilaporkan juga
bahwa banyak pandai besi dari Koto Baru (Laras Salo) mendapat banyak
pesanan senjata tajam hingga tidak dapat memenuhi semuanya. Kepala Laras
Kamang mengingatkan rakyatnya bahwa kompeni akan datang hari senin (dia
mengerti bahwa kita segera akan bergerak). Sewaktu mau berangkat ke resepsi
di rumah residen saya dengar pula bahwa Haji Abdul Manan dengan kawan-kawan
dapat dianggap sebagai pusat pergerakan. Oleh karena itu saya merubah
rencana semula. Yakni saya ikut dengan patrol Bangsa Ilalang (rombongan
tengah), tidak jadi dengan yang ke Magek. Tapi saya ingin sekali mengurus
tangah, jadi dengan demikian mengambil 2 tempat yang sulit jarena saya
ingin berada sendiri di sana. Sumber : Nota Westenenk, ditulis di
Bukittinggi       tanggal 25 juni 1908 No. 1.1/28. *Kutipan dari makalah
Rusli Amran “Peristiwa Kamang”

Hari Senin pagi tanggal 15 Juni 1908, sebagai hari perlawanan paling hebat
di Sumatera Barat dalam menentang sistem blasting makin nyata, kedaan di
Kamang makin panas. Warga diminta oleh para pemimpin masyarakat Kamang
untuk tidak membayar pajak. Hari itu juga, J.Westennenk menghubungi
Gubernur Sumatera Barat Hecler untuk mohon petunjuk mengenai tindakan yang
harus diambil. Setelah Hecler menerima perintah Gubernur General Van
Heutez, maka diperintahkanlah untuk menyerbu Kamang. J.Westennenk lalu
mengumpulkan 160 orang pasukan pilihan yang kemudian dibagi menjadi 3
kelompok. Menjelang sore mereka segera bergerak dari Bukittinggi menuju
Kamang dari tiga jurusan:

1. Pasukan pertama yang terdiri dari 30 orang, masuk dari Gadut, Pincuran,
Kaluang, Simpang Manduang terus menuju Pauh, dipimpin oleh Letnat Itzig,
letnan Heine dan Cheiriek. Diperkirakan disana mereka mencari Syekh H.
Jabang (pimpinan II perang dari Pauah) yang merupakan orang penting dalam
perlawanan terhadap pajak.

2. Pasukan kedua, yang terdiri dari 80 orang serdadu dipimpin J.Westennenk
(Kontrolir Agam Tua), Kontrolir Dahler bersama Kapten Lutsz, Letnan Leroux,
Letnan Van Heulen, masuk melalui Guguk Bulek, Pakan kamih, Simpang 4
Suangai Tuak, berbelok di Kampung Jambu, Ladang Tibarau, Tapi dan terus ke
Kampung Tangah. Untuk menyergap H. Abdul Manan (pimpinan I perang dari
Kampuang Tangah). Pimpinan pasukan Belnada ini jam 23.00 wib (jam 11.00
malam mereka telah sampai di sekitar kampung tangah. Kedatangan mereka
diketahui para petugas ronda malam, yang merupakan bagian dari pasukan H.
Abdul Manan seperti Angku Rumah gadang, Angku Basa dan beberapa orang
pembantunya. Mereka mencari-cari keberadaan H. Abdul Manan mulai dari
kampung budi, terus ke kampung tangah namun tak menemukan H. Abdul Manan.
Belanda meyakini bahwa beliaulah pemipin perlawanan rakyat Kamang tersebut.

3. Sedangkan pasukan ketiga yang berkekuatan 50 orang serdadu di bawah
pimpinan Letnan Boldingh dan pembantu Letnan Schaap, masuk melewati daerah
Tanjung Alam, Kapau, Bukik Kuliriak, Magek, Pintu Koto. Untuk menyergap
para pimpinan dan tokoh penentang Blasting di daerah Kamang bagian hilir
seperti Dt. Rajo Penghulu, Kari Mudo.

Menurut catatan Buchari Nurdin, akhirnya sekitar pukul 02.30 dinihari,
tanah Kamang berubah menjadi front pertempuran hebat, antara pasukan
Belanda dengan pasukan rakyat. Rakyat dipimpin oleh H Abdul Manan, yang
sebelumnya, telah bersiap-siap menghadang kedatangan pasukan Belanda.
Sejumlah tokoh pejuang lainnya, yang juga telah siap dengan pasukan mereka
masing-masing. Seperti Haji Jabang dari Pauh, Pado Intan, Tuanku Parit,
Tuanku Pincuran, Dt Marajo Tapi, Dt Marajo Kalung, Dt Perpatih Pauh, Sutan
Bandaro Kaliru, pendekar wanita dari Bonjol Siti Maryam, Dt Rajo Penghulu
bersama istrinya, Siti Aisiyah,. Begitu juga pasukan rakyat yang berada di
Kamang Ilia. Dengan dipimpin Kari Mudo, Dt Perpatiah Magek, Dt Majo Indo di
Koto Tangah, Dt Simajo Nan Gamuk berusaha bahu membahu melawan pasukan
Belanda. Pertempuran sengit berakhir sudah. Pasukan Westenenk mundur menuju
Pauh sembari membawa tawanan Dt Perpatih. Pasukan rakyat memperoleh
kemenangan gemilang lantaran semangat dan koordinasi yang tinggi. Tentara
Belanda berhasil dibuat kucar kacir. Tetapi J.Westennek sempat meloloskan
diri dan minta bantuan ke Bukittinggi. Dan setelah mendapat bantuan dari
Padang Panjang, datanglah kembali pasukan Belanda, dan perang kedua inilah
yang membuat pasukan rakyat Kamang kalah dan banyak korban yang berjatuhan.
Angka korban yang simpangsiur diantaranya dapat dilihat di Koran-koran yang
terbit di Padang menyebut angka 250 orang rakyat Kamang tewas, Belanda
sendiri menyebut sekitar 90 orang atau lebih. H. Abdul Manan juga syahid
dalam pertempuran 15 Juni menjelang subuh 16 Juni itu.

Sebagai wujud penghargaan dan penghormatan bagi pejuang perang Kamang, dan
agar kita generasi muda tidak lupa dengan peritiwa bersejarah itu
makapemerintah melalui kunjungan Menko Keamanan dan Pertahanan Jendral
A.H.Nasution  meresmikan Makam yang terletak di dusun Kampung Budi Jorong
Pakan Sinayan, Nagari Kamang Mudik. diresmikan penggunaannya  sebagai
Komplek makam pahlawan ini diberi nama "Komplek Makam Pahlawan Perang
Kamang Haji Abdul manan" pada tanggal 15 Juni 1962. Didalamnya terdapat 21
pahlawan yang meninggal pada perang Kamang tahun 1908 M. Para pahlawan yang
dimakamkan di kompleks ini diantaranya : H. Abdul Manan, Kari bagindo*, *Haji
Musa (Kakak H.Abdul Manan), Kadir St. Bagindo*, *ML. Sinaro*, *LB. Mudo/LB
Kampua*, *Dt. Batudung, Udin/Idi*, *Suid Tk Parit panjang*, *Datuk N.
Tingap, Sanan PK. Basa*, *Dt. Nan Hijau*, *MI. Saulah*, *M. Pandeka
Mudo*, *Datuk
Pandeka Ade*, *Deman*, *Usman*, *St. Mantari*, *M. Intan Mudo*, *Lb. Sutan*,
*Kadir Bagindo.

            Selain yang di makam pahlawan ini, para pejuang perang kamang
lainnya ada juga yang di kebumikan oleh pihak keluarga di makam keluarga
atau pandam pakuburan suku-masing masing, sesuai dengan adat minangkabau
dan ada juga di makam pahlawan Kamang Hilir.

            Gambaran singkat ini tentu takkan bisa menggambarkan bagaimana
pengorbanan pejuang Perang Kamang saat itu, tapi setidaknya ini bisa member
pencerahan bagi masyarakat Sumatera Barat bahwa pernah ada perang yang
begitu heroic di daerah Kamang dengan melibatkan berbagai tokoh, berbagai
perang, dan beribu dampak yang dirasakan masyarakatnya. Sebagai penyimpul
bahasan ini untuk konteks ke kini an adalah : Persatuan Alim Ulama, Niniak
Mamak, dan Cadiak Pandai di sebuah nagari akan membuat kekuatan perjuangan
dan pembangunan nagari akan maksimal. Setiap tindakan dan usaha harus
didasari oleh niat karena Allah, karena itu akan menjadikan usaha kita
tersebut sebagai sebagai amal ibadah. Jangan melupakan kewajiban kita
sebagai seorang muslim untuk melaksanakan Ibadah dan amal baik. Karena itu
lah menjadi dasar atau pondasi kita untuk menghadapi tantangan masa depan
dan diramu dengan ilmu. Perjuangan menentang penjajahan, kezaliman, dan
ketidak adilan adalah sebuah keharusan, jadi kita sebagai gerenasi muda
harus memperlihatkan usaha dan tindakan untuk menentang kezaliman dan
penjajahan bahkan bentuk penjajahan di era modern seperti sekarang. Sebagai
penutup “Tiap nagari punya episode yang bisa dibanggakannya. Tapi episode
Kamang menjadi kebangaan Ranah Minang”. Jangan cabut Perang Kamang dari
akar sejarahnya, Karena itulah identitas kami orang Kamang”.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke