Pak Bakhtiar dan sanak-sanak sa palanta yth Terima kasih atas uraiannya yang memotivasi.
Perlu saya koreksi bahwa pertanyaan yang dijawab oleh pak Bakhtiar itu bukan dari saya, tapi dari sanak Syaff. Sebagai pelengkap uraian pak Bakhtiar tentang usaha pemerintah Malaysia memajukan negaranya, saya copas artikel berikut tentang perkembangan pembangunan di Nusajaya, sebuah kawasan perkotaan dan industri baru di Johor Baru. Salam Fashridjal M. Noor Sidin L65bdg Iskandar Malaysia didominasi investor asing Kamis, 16 Mei 2013 | 17:52 WIB Oleh: Tedy Gumilar Dibaca: 840 kali NUSAJAYA/MALAYSIA. Kawasan ekonomi unggulan yang dikembangkan Malaysia, yakni Iskandar Malaysia berhasil menarik minat investor asing untuk menanamkan modalnya. Total komitmen investasi sejak 2006 hingga Maret 2013 mencapai sebanyak RM 111,37 miliar. Nah, hingga Maret 2013 sebanyak 64% tercatat sebagai modal asing. Jumlahnya terus meningkat saban tahun. Pada tahun 2009, komposisi investor asing hanya 54%. "Investasi asing yang masuk ke Iskandar paling banyak dari Singapura," kata Izhar Hifnei Ismail, Special Officer to the Chief Executive Acting Head of Strategic Communications, Iskandar Regional Development Authority (IRDA). Minat yang tinggi muncul lantaran Singapura dengan Iskandar Malaysia yang berada di Johor Baru berjarak tempuh relatif singkat. Dari Changi Airport ke Nusajaya, salah satu flagship zone Iskandar Malaysia, bisa dicapai dalam 50 menit perjalanan. Sejak awal pemerintah Malaysia juga berkomitmen memberikan pelayanan maksimal kepada investor seperti kemudahan dalam proses perizinan. IRDA, kata Izhar, memiliki akses langsung ke pemangku kebijakan sehingga proyek bisa berjalan lebih cepat. Selain itu, kawasan ekonomi khusus ini juga dibangun secara terintegrasi, misalnya di Nusajaya yang dikembangkan oleh UEM Land Holdings Berhad. Flagship zone yang melingkupi lahan seluas 24.000 acre ini, mengintegrasikan berbagai klaster, yaitu klaster perindustrian dan logistik yang disebut Southern Industrial and Logistics Clusters (SiLC) seluas 1.300 acre. Selain perusahaan lokal, berbagai perusahaan asing juga mendirikan pabrik di sini, misalnya EIK, perusahaan yang mendesain dan memfabrikasi alat berat seperti eskavator amphibi. "Jarak ke pelabuhan hanya 30 menit dan memudahkan kami untuk mengekspor produk," kata Tang Chee Lang, Operation Director EIK Engineering Sdn. Bhd. Lantas ada Afiat Healthpark yang sudah diisi oleh Columbia Asia Hospital. Fasilitas hiburan dan wisata seperti Legoland dan Puteri Harbour Theme Park. Fasilitas pendidikan bertaraf internasional yang disebut Educity juga tersedia dan sudah beroperasi, misalnya Marlborough College dan University of Southampton. Sebagai kawasan hunian, terdapat Nusajaya Residence. "Tahun 2006 menjual rumah di Nusajaya susah sekali, karena masih sepi," kata Dato' Wan Abdullah Wan Ibrahim, CEO/ MD UEM Land Holdings Berhad. Tapi begitu berbagai fasilitas tersebut muncul, minat pun berdatangan. Kini sekitar 70% pembeli residensial di Nusajaya berstatus warga negara asing, dan 3% diantaranya warga Indonesia. Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! -----Original Message----- From: "Bakhtiar Muin" <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Tue, 26 Nov 2013 06:37:51 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Cc: <[email protected]> Subject: [R@ntau-Net] RE: Masalah Lippo Group/ Krisis percaya Diri Urang Minang. Assalamualaikum: FMN: Langkah apo tu nan paralu dicontoh ka Johor Bahru oleh Pemda Sumbar? Kalau lai ndak rahasio, agiahlah kami pencerahan. Apo kiro2 nan dilakukan Johor tu. Bukankah Johon Bahru bisa begitu (sarupo nan ado dalam alam pikiran bapak) karena adanya kebijakan mahathir yg jelas dan tegas. Bukan sarupo kebijakan reformasi di Indonesia yang jadi 'menghalal'kan segala cara." BM: Ambo Kutip saketek dari Wikipidia mengenai sejarah Johor: In the 18th century, the <http://en.wikipedia.org/wiki/Bugis> Bugis of <http://en.wikipedia.org/wiki/Sulawesi> Sulawesi and the <http://en.wikipedia.org/wiki/Minangkabau_people> Minangkabau of Sumatra controlled the political powers in the Johor-Riau Empire.[ <http://en.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Citation_needed> citation needed] However, in the early 19th century, Malay and Bugis rivalry commanded the scene. In 1819, the Johor-Riau Empire was divided up into the mainland Johor, controlled by the Temenggong, and the Sultanate of Riau-Lingga, controlled by the Bugis.[ <http://en.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Citation_needed> citation needed] In 1855, under the terms of a treaty between the British in Singapore and <http://en.wikipedia.org/wiki/Sultan_Ali_of_Johor> Sultan Ali of Johor, control of the state was formally ceded to Dato' Temenggong Daing Ibrahim, with the exception of the Kesang area ( <http://en.wikipedia.org/wiki/Muar_%28town%29> Muar), which was handed over in 1877. Temenggong Ibrahim opened up Bandar Tanjung Puteri (later to become Johor's present-day capital) in south Johor as a major town. Johor bangkit dengan spirit Islam: "Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sebelum kaum tsb merubah dirinya sendiri". Ada kesadaran dari kaum terpelajar Johor untuk membangun negeri. Kerja sama antara ummara dengan rakyatnya membangun ekonomi Johor, dalam waktu sekitar 10 tahun, Melayu Johor dengan spirit Islam bangkit. Luar biasa, mereka bangun usaha2 disegala bidang, sehingga rakyatnya makmur. Saat ini Johor dalam posisi bersaing dengan Singapura. Malaysia dimotori, kawan2 ambo dulu waktu sakola di Amerika Serikat. Di Amerika dulu, ado kelompok pengajian urang Indonesia dan urang Malaysia. Kami sering batamu dan batuka pikiran. Anwar Ibrahim dan kawan2 ambo bakunjuang ke Indonesia, zaman Habibie, wakil presiden, kito batamu di BPPT. Kemudian kami berkunjung juga ke Malaysia. Takajuik ambo maliek, tabulalak mato maliek, majunya perusahaan2 urang Melayu, dalam skala trilliunan. Waktu itu Chairul Tanjung, nan ikuik ka Kuala Lumpur, baru membangun usaha. Ado beda yg menyolok antaro kawan2 ambo di Malaysia dengan di Indonesia. DI Malaysia, kaum cendikiawannya membangun negeri, mensejahterakan rakyatnya, sedangkan di Indonesia segelintir elite membentuk kekuatan oligarki untuk memperkaya diri, menguasai Sumber Daya Alam, perkebunan, menjadikan penguasa korup jadi bonekanya. Ambo malu bana, samo kawan2 ambo dari Malaysia. Kawan2 ko, modal nol, mengurus proyek2 trilliunan dengan baik dari ummara, diurusnya dengan baik. Kawan dari Malaysia, curhat ka Ambo, kok pejabat2 Indonesia hidupnya sangat mewah, mobil2 milyaran, Kawan ambo iko sdh bakaliliang ka seluruh dunia, Amerika, Eropa, Jepang. Bakhtiar, katanya, kok Indonesia itu beda, mewahnya kehidupan pejabat dan pengusaha konco2 pejabat.Indak ado didunia ko, pejabat2 yg semewah di Indonesia, curhat kawan ambo dari Malaysia. Kawan ambo ko diberi proyek trilliunan sama Mahathir, tapi hidupnya sederhana sajo. Indonesia sekarang sudah ada harapan baru, perusahaan2 yg diurus dengan baik, menjadi perusahaan besar yg professional. Tadi malam di economic chalanging, ada 13 perusahaan dapat penghargaan dalam tiga belas bidang. Dalam Bidang kosmetik, adiak kanduang ambo Nurhayati yg dapat penghargaan. Kami anak yatim, jadi adiak ambo berusaha dari modal nol, sekarang menjadi perusahaan kosmetik terbesar di Indonesia, dengan pegawai lebih dari 4000 urang. Dalam waktu beberapa tahun kedepan menjadi perusahaan trilliunan, Insya Allah akan jadi perusahaan mendunia dalam masa yg akan datang. Jadi karajo urang Minang ado beberapa professi yg menonjol. 1. Mengatur negara 2. Menjadi pengusaha yg tangguh Jadi Raunet iko, seharusnya jadi dapua yg mengeluarkan gagasan2 bagaimana mengatur negara, dan bagaimana membangun jaringan bisnis, sehingga muncul pengusaha2 yang tangguh. Jadi urang Minang, harus percaya diri dalam menatap masa depan, hilangkan dalam pikiran manunggu investor, dan mengharapkan gratifikasi dari investor. Mulailah tanamkan percaya diri, mampu bersaing dalam dunia global. Percaya diri, mampu bersaing dalam segala bidang, Insya Allah ada jalannya. Suatu usaha yg diurus dengan baik, sdh merupakan sunnatullah, akan menjadi besar. Buat apa, capek kayo, ditangkap KPK, diakhirat masuk neraka. Salam BakhtiarM -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
