DaMal

Mama Fatma adalah Fatma Pasha, yg mana diceritakan msh keturunan Kara
Mustafa Pasha....

Adegan lagi seru film habis....basambuang...jd terkesan seperti sinetron....

Kasihan mamaku antri jam 4 dpt jam 7 terkantuk2 jadinya....akhirnya...minta
beliin novelnya....

Renny.Bintara
Sesekali menikung dari topik serius dan berat di Palanta ko, ambo ingin
sharing saketek pengalaman ambo kemarin seharian jo induak bareh dan
anak-anak di akhia pakan.

Satalah pekan lalu kami manonton "Sokola Rimba" dari buku (non-fiksi) bajua
samo karya Butet Manurung (versi Inggris bajudua "The Jungle School") yang
pernah masuk ke dalam Suku Kubu di Jambi dan mengajar anak-anak di sana,
pekan ini ado duo film Indonesia nan rancak, yakni "99 Cahaya di Langit
Eropa" dan "Soekarno". Timeline di social media agak lebih heboh dengan
"Soekarno" dek karano pado saat premiere hari Kamih kapatang, kalua pulo
keputusan Pengadilan Niaga untuk menghentikan peredaran film tu sabagai
akibat "cakak" Rachmawati dengan Hanung Bramantyo, sang sutradara. (Aa
problem utamo mereka silakan dibrowse, banyak linknyo).

Tapi ambo mamiliah maajak anak-anak ambo manonton "99 Cahaya" yang berasal
dari buku berjudul sama karya Hanum Rais & Rangga Almahendra. Iko buku
cukuik laris meski ambo alun sampek mambaco pulo. Nan ambo tahu cumo
sapotong data: Hanum Rais adolah putri Amien Rais.

Masuak bioskop, ambo caliek katigo wajah putri ambo indak talalu
basumangek. "Mereka pikir seperti Ketika Cinta Bertasbih," bisiak istri
ambo. KCB bukan berarti indak rancak, tapi memang kurang bisa dikunyah oleh
anak SD-SMP.

1/
Adegan pertama dibuka. Sepotong wajah Wina, Austria, dengan segala
kesibukan yang memerangkap Hanum (juga namanya sebagai tokoh film) yang
sedang di kota itu mengikuti suaminya Rangga, kandidate doktor. Gambar
tajam. Indah. "Picturesque" kalau meminjam istilah para penggemar kartu pos
romantis.

Lalu adegan pindah di sebuah kelas dengan guru perempuan (berbahasa Jerman)
menjelaskan tentang salah satu fase kehadiran tentara Turki di bumi Eropa.
Anak-anak mendengarkan, seorang anak lelaki bule yang jahil langsung
mengolok-olok Ayse, bocah perempuan asal Turki yang berhijab. Ayse balas
menunjuk teman (lelaki) lainnya yang mengenakan kupluk, macam penyanyi hip
hop, "kalau dia boleh pakai itu, kenapa saya tidak?" katanya dengan suara
kekanak-kanakan yang lantang.

Baru beberapa menit itu saja suasana Eropa sudah hadir jauh lebih kuat
dibandingkan dalam film "Ainun & Habibie" karena para pemain "lokal"
(berbahasa Jerman) tampil dengan porsi lebih intens.

Ayse punya seorang ibu bernama Fatma Khan, perempuan muda cantik khas Turki
yang ingin bekerja tapi selalu ditolak. Dan secara kebetulan, Hanum pernah
melihat penolakan terhadap Fatma terjadi di depan matanya. Setelah Hanum
dan Fatma berkenalan, di sebuah tempat kursus bahasa Jerman, Hanum bertanya
apa yang menyebabkan Fatma sulit mendapat kerja padahal dia pintar? Fatma
tersenyum sambil menunjuk hijabnya, "mungkin karena ini." Hanum terpana.
Dia sendiri tak berhijab.

Sementara Rangga, suami Hanum, punya masalahnya sendiri di kampus
(berkaitan dengan jadwal konsultasi dengan Profesor pembimbing yang selalu
tabrakan dengan waktu shalat Jumat, kesulitan mendapatkan makanan halal,
atau harus shalat di ruangan kampus berbarengan dengan mahasiswa Buddha
yang sedang membakar shio), sisi lain cerita yang bergerak paralel adalah
kesibukan baru Hanum bersama Fatma, yang makin sering jalan bersama.

Satu ketika saat mereka minum kopi di sebuah cafe bersama Ayse, Hanum
mendengar dua lelaki pirang di dekatnya meledek Turki, dan Islam, melalui
croissant yang mereka makan. Hanum yang marah ingin langsung menegur, tapi
Fatma menenangkan. "Jangan. Saya punya cara lain untuk mengatasi soal ini.
Kamu harus pelajari soal seperti ini," katanya seraya memanggil pelayan.
(Untuk tidak menganggu pengalaman menonton yang lain, elemen kejutan dari
adegan ini tak akan ambo ceritakan. Tapi indah sekali. Hanum tercengang
melihat ide Fatma. Dan ambo rasa, penonton yang belum membaca buku aslinya
pun, akan tercengang seperti ambo juga). Kelak, cara itu juga dilakukan
Hanum terhadap tetangga apartemennya, juga seorang lelaki bule, yang sering
menunjukkan rasa tidak senangnya terhadap kehadiran Hanum dan Rangga.

Hanum semakin jauh masuk ke dalam lingkaran pertemanan Fatma dan
kawan-kawannya, yang ternyata mendedikasikan diri mereka untuk menjadi
"duta Islam" yang ramah bagi lingkungan. Slogan mereka, "Be the best muslim
agent. Spread the peace", dll. Dan mereka tak hanya bicara, juga
membuktikannya.

Dari Fatma barulah Hanum tahu, bahwa di Wina ada beberapa tempat bersejarah
yang merupakan warisan kebesaran peradaban Islam. Mereka mengunjungi itu
satu persatu. Dari Fatma pula Hanum mendapat informasi, bahwa segala
informasi itu berasal dari Marion Latimer, seorang ilmuwan Prancis, mualaf,
yang bekerja di Arab World Institute.

Kelak menjelang pengujung film, Hanum bisa bertemu dengan Marion di Paris,
dan peneliti itu mengajaknya ke Museum Louvre. Di tengah pengunjung yang
berdesakan melihat lukisan Mona Lisa, Marion malah mengajak Hanum ke tempat
lain. "Ada lukisan yang lebih bagus yang harus kau lihat," katanya sambil
mengajak Hanum ke sebuah dinding yang memanjang lukisan seniman Italia
Ugolino di Nerio berjudul "The Virgin & The Child". Pada lukisan itu Bunda
Maria menggendong anaknya yang masih bayi. Hijab yang dipakainya menjuntai.
"Coba perhatikan tulisan di bagian dalam hijab itu," ujar Marion.

Hanum mengikuti saran Marion, dan merasa agak mengenal bentuk huruf seperti
lidi itu, meski tak paham betul. "Itu huruf Pseudo Kufic," papar Marion.
"Coba perhatikan lagi. Sebenarnya itu adalah tulisan Laa Ilaaha Illallah.
Kamu bisa lihat sekarang?"

Hanum tersentak. (Dan saya kira, begitu juga penonton yang belum membaca
bukunya seperti ambo. Istri ambo berbisik lagi. "Nggak apa-apa ya dialognya
seterus terang itu? Apa nggak SARA?" keceknyo. Ambo jawek pendek. "Buktinya
sudah lulus sensor. Dan ini pasti bukan imajinasi, ada risetnya."

Fakta lain yang disodorkan Marion yang membuat Hanum tercengang adalah
ketika mereka berada di atas Arc de Triomphe, melihat jalan itu satu garis
lurus sampai ke ... (Nah, bagian ko sabaiaknyo juo disimpan sebagai
surprise bagi penonton, agar indak spoiler).

Singkek carito, ending kisah film juo ado twist nan mambuek haro. Dengan
gambar-gambar indah, dan dialog yang mengalir lancar, film "99 Cahaya" ko
jauh labiah bagus dari nan ambo bayangkan sabalun manonton. Dek sabaok itu
ambo rekomendasikan untuk ditonton oleh adidunsanak Palanta, basamo
keluarga.

Ado beberapa adegan nan sangek menyentuh hati, sampai indak taraso mato
ambo pun basah.

2/
Pulang nonton, kami sakaluarga shalat Maghrib di Masjid Darussalam Kota
Wisata, lanjut mandanga kuliah Maghrib sampai Isya. Ustad nan mambao materi
adolah Ust. Taqiyuddin Lc.
Ambo indak akan mambahas materi nan inyo sampaikan, melainkan sebuah
percakapan pendek antaro ambo dan liau, nan tajadi manjalang iqamat shalat
Isya.

Dek karano baitu turun dari kursi baliau duduak di samping ambo bana, ambo
batanyo. "Di mana ustad tinggal?"

Inyo manjawek, "Saya di Kampung Sawah, Pak. Kalau bapak pernah dengar ada
Gereja di mana jemaatnya pakai songkok dan kerudung, ya di sini. Karena ini
mungkin satu-satunya tempat di mana ada Betawi asli yang menganut agama
Kristen. Bayangkan di daerah yang tidak terlalu besar itu ada 12 gereja,"
katanya. "Saya tinggal di Islamic Center di sana bersama kawan-kawan untuk
terus berdakwah."

Kampung Sawah ko memang sajak lamo dikenal sebagai "enclave" nan unik,
tampek ado komunitas Betawi beragama Kristen dan Katolik. Dulu ambo hanyo
mandanga sajo, tapi sajak pindah ka Cibubur dek karano paralu tahu
"jalan-jalan tikus" ambo acok eksplorasi berbagai jalan, dan satu kutiko
iyo takajuik pulo mancaliek di pemukiman khas Betawi ado gereja nan bahkan
alah barusio labiah dari satu abad bagai.

Untuk gambaran labiah jauah tantang Kampung Sawah bisa dibaco di siko:
http://sunardian.blogspot.com/2012/08/kampung-sawah-tentang-betawi-yang.html

Jadi samantaro di film "99 Cahaya" ado minoritas muslim nan barusaho eksis
di tengah masyarakat non-muslim, indak jauah bana dari rumah ambo ado
minoritas non-muslim (dan Betawi pulo) nan iduik badampingan jo sanak
sudaro Betawi lainnyo nan muslim.

3/
Pulang shalat Isya, ambo maajak diskusi anak-anak sambil makan malam,
tarutamo tentang film "99 Cahaya" dari sisi  4 pemeran padusi (Hanum, Fatma
Khan, Asye, dan Marion Latimer), bagaimana perubahan karakter dan porsi
pengadeganan mereka sesuai plot film.

Mereka tanyato sangaik suko dengan film ko (babedo jo respon awal mereka
nan memang indak basumangek), bahkan sampai si bungsu Mayla (7 tahun)
sampai panjang komentarnyo tentang Ayse.

Tapi satu kesimpulan nan anak-anak sampaikan adolah berkait dengan adegan
caro Fatma menghadapi orang-orang nan alergi, bahkan menunjukkan sikap
kebencian terbuka terhadap Islam. "Pasti susah sekali punya kemampuan
seperti Fatma yang bisa tetap tersenyum dalam memberi, bahkan kepada orang
yang membenci dia," kecek anak ambo no duo, Aura (11 tahun).

Wass,

ANB
45, Cibubur
(Bukan humas "99 Cahaya", tapi senang mempromosikan film indah ini).

PS: Kamis pekan ini, 19 Desember, akan premiere salah satu film Indonesia
yang paling layak dinanti sepanjang tahun: "Tenggelamnya Kapal van der
Wijck" dari roman legendaris Buya Hamka.


 --
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke