2008/3/10 Muzirman -- <[EMAIL PROTECTED]>:

> Kalau ado, ambo  punyo usul ciek, dalam DIM (? lupo) pak Saaf mengatokan, 
> warga Minang beragama Islam bermashzb Syafei,
> iko konotasi nyo seluruh urang  Minang, bermazhab Sayfei,..bgmn kalau di 
> hapuskan kato Syafei ko.
>

Yang saya pahami dari poin Pak Saaf itu adalah bahwa kebanyakan orang
Minang (menganggap) bermadzhab Syafi'i. Saya katakan "menganggap"
karena saya cukup yakin bahwa kebanyakan orang Minang tidak
benar-benar mempelajari madzhab Syafi'i. Saya juga setuju jika
pernyataan itu dihilangkan karena bisa menimbulkan pemahaman seperti
yang dikatakan Pak Muzirman. Saya lebih setuju jika dikatakan bahwa
orang Minang beraqidah sebagaimana aqidah Imam yang empat itu.

Madzhab adalah alat yang berguna dalam mempelajari Islam namun jangan
sampai menjadi fanatik buta sehingga menolak pendapat lain yang lebih
sesuai dengan al-Qur'an dan as-Sunnah. Bagi orang awam tidak ada
kewajiban untuk berpegang pada satu madzhab saja karena Allah Ta'ala
berfirman (yang artinya):

"maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu
tidak mengetahui." (QS an-Nahl 16:43)

Tidak disebutkan bahwa kita harus bertanya ke orang dari satu madzhab
saja. Oleh karena itu, kebanyakan ulama berpendapat bahwa orang awam
tidak memiliki madzhab. Yang tidak boleh adalah sengaja
berpindah-pindah tempat bertanya untuk mencari-cari kemudahan, apalagi
memanfaatkan pendapat-pendapat aneh.

> ... atau sebaliknya. atau megatakan caro sanak beramal dmk indak cocok jo 
> kami/salah, etc. Inyo  jawak : caro kami beramal,
> Tuhan nan menentukan ndak angku do, di  teriMo ndak di terimo amal  KAMI.
>

Madzhab bukan berarti menghilangkan saling menasihati satu sama lain.
Para imam pun bisa untuk berdialog atau mengkritik sebagai bagian dari
amar ma'ruf nahyi munkar. Yang penting adalah metode dan tujuan dalam
dialog itu. Dialog mestinya bertujuan untuk mencari kebenaran, bukan
pembenaran.

Para imam sepakat dalam masalah-masalah aqidah yang penting dan inilah
yang paling penting. Mereka tidak memerintahkan para murid mereka
untuk fanatik buta pada pendapat mereka.

Beberapa pesan dari para imam:

Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata: "Apabila hadits itu shahih,
maka hadits itu adalah madzhabku."

Al-Imam Malik rahimahullah berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah
seorang manusia yang kadang salah dan kadang benar. Maka perhatikanlah
pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah, maka
ambillah. Dan setiap yang tidak sesuai dengan Al Kitab dan Sunnah,
maka tinggalkanlah."

Al-Imam asy-Syafi'i rahimahullah berkata: "Jika kalian mendapatkan di
dalam kitabku apa yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka berkatalah dengan sunnah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan tinggalkanlah apa yang
aku katakan."

Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata: "Barang siapa yang menolak hadits
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia telah
berada di tepi jurang kehancuran."

Ada sebuah contoh dialog yang patut kita teladani dalam penyampaian
dan penerimaan kritik yang baik:

Ibnu Wahab berkata, "Aku mendengar bahwa Malik ditanya tentang hukum
menyela-nyela jari di dalam berwudhu, lalu dia berkata, 'Tidak ada hal
itu pada manusia'. Maka aku meninggalkannya hingga manusia berkurang,
kemudian aku berkata kepadanya, 'Kami mempunyai sebuah sunnah di dalam
hal itu'. Maka Imam Malik berkata, 'Apakah itu?' Aku berkata, 'Al
Laits bin Saad dan Ibnu Lahi'ah dan Amr bin Al-Harits dari Yazid bin
Amr Al-Ma'afiri dari Abi Abdirrahman Al-Habli dari Al Mustaurid bin
Syidad Al-Qirasyi telah memberikan hadits kepada kami, ia berkata,
"Aku melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menggosok antara
jari-jemari beliau dengan kelingkingnya. " Maka Imam Malik berkata,
'Sesungguhnya hadist ini adalah hasan, aku mendengarnya baru kali
ini.' Kemudian aku mendengar beliau ditanya lagi tentang hal ini, lalu
beliau (Imam Malik) pun memerintahkan untuk menyela-nyela jari-jari."
(Muqaddimah Al-Jarhu wat Ta'dil, karya Ibnu Abi Hatim)

Billahit tawfiq.

Wassalaamu'alaykum,
-- 
Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian yg tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 

Daftarkan email anda pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Agar dapat melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke