Alhamdulillah

Buku yang hadir ditangah kito berkat kesabaran dan kegigihan Mak AI.

 

Ambo barusan mambaco nan ado di nagari.org dan ambo ijin kutipkan saketek
isi buku ko.

 

Sebagai salah surang tokoh PRRI juo turuik jadi pendiri milis ko, mudah2an
Mak Ngah sehat salalu dan bisa manyimak baliak uraian mutiara sejarah nan
pernah baliau bagi utk kito disiko. Mudah2an ado tukuak tambahannyo baiak
dari Mak Ngah atau dari urang tuo lainnyo.

 

Wassalam

Rina, 36, Batam, nak rang Bukik

 

 

Perjalanan panjang di sekitar Solok
oleh: Sjamsir Sjarif (Mak Ngah)

Radius lingkaran jarum jam keliling Solok yang MakNgah jalani bulan
September 1958 itu telah melebihi jarak Solok - Muaro Paneh maupun jarak
Solok - Panyakalan.
Muaro Paneh waktu itu memang telah agak panas dalam suasana perang dan itu
perlu MakNgah jauhi.

Lingkaran perjalanan Solok bulan September 1958, merupakan salah satu
lingkaran kecil dari lingkaran besar dan belok-belok kerak keling antara 13
April 1958 sampai Juli 1961.
Dari total milieage, mungkin tapak kaki MakNgah yang melatah bumi kampung
halaman yang terpanjang di antara para pejalan waktu itu.

Panjang ceritanya, rasanya takkan terpenuhi permintaan Rangkayo Rina untuk
menuliskan seluruhnya.
Bagaimana cara membeberkan cerita radius lingkaran Solok yang MakNgah
jalani.
Kalau ya nama nama nagari, tolong simakkan dan telusuri lingkaran jarum jam
itu.
Saya mulai dari Rawang, sesudah merayap dan merangkak dari Padang Gantiang
melintasi Bukit Batu Palano.

Sulik Aia.
Melapor dan diterima sebagai tamu Wali Nagari.
Malamnyo membari ceramah di mesjid Sulik Aia.
Suatu Ceramah yang sukses dihadiri oleh ratusan orang kampuang yang sangat
ramai.

Tanjuang Balik.
Kami melapor kepada wali Nagari dan Camat.
Menjadi tamu dari kawan lama, seorang pegawai dari Kantor Gubernur di
Bukittinggi yang bernama engku Dt. Tumanggung.
Kesempatan itu digunakan untuk istirahat dan maota dengan kawan lama.
Perlu istirahat, karena sebelum muncul di Sulik Aia MakNgah, datang dari
Bonjol melaksanakan perintah dari surat tugas dari Pak Imam.
Berangkat dari Tanjuang Balik dan berjalan terus ke nagari Katialo, Labuah
Panjang, dan ke Sibarambang.
Pemandangan indah yang tidak kan terlupakan seumur hidup.

Dalam perjalanan mengelilingi kabupaten Solok arah jarum jam itu MakNgah
bertemu dengan Rivai Marlaut di Gantuang Ciri di tempat ijoknya.
Di sana kami maota semalam suntuk, karena MakNgah senang sekali membaca
tulisan tulisan beliau di harian Haluan th. 1950.

Baru baru ini MakNgah chek out buku Dr. Haslinda buah tangan Rivai Marlaut
dari perpustakaan Univeristy of California, tapi tidak berupa buku, hanya
computer file.
Sayang, tidak bisa dibaca karena filenya telah rusak.
Selama perjalanan panjang ini, MakNgah hanya berdua dengan Ridwan Asky yang
ketika tulisan ini dibuat, beliau telah meninggal.

Kami diantar dan dibimbing oleh orang orang ronda.
Orang orang ronda pendamping ini dipercayai sebagai kawan pembimbing
sekaligus panunjuk jalan dan tak jarang berpantun dan bercerita kisah kisah
lokal.
Sesampai di tempat tujuan, orang ronda akan kembali lagi ke kampungnya.
MakNgah tak pernah membayar upah kepada mereka.
Mereka itu bertugas membantu perjuangan dengan sukarela.

Dari Kajai, ke Lumindai, ke Indudua, ke Pianggu.
Dari Pianggu turun melintas jalan raya di Sungai Lasi, lalu melalui lembah
sempit menuju Sawah Liek dan Sigumantan.

Berjalan panjang mudik ke nagari Supayang, akhirnya sampai ke Sirukam.
Di Sirukam Mak Ngah melapor kepada Bupati PRRI kabupaten Solok Buya H.
Darwis Taram, yang saat itu beliau merangkap sebagai Resident PRRI Sumatera
Barat.

MakNgah berdua manjadi tamu dengan keramahan yang tiada terhingga.
Bukan saja karena kami memperlihatkan Surat Tugas dari Pak Imam, tapi karena
MakNgah memberi tahu bahwa MakNgah telah mengenal beliau waktu masih muda
sekali.
Ketika itu beliau menjadi Kepala Laras Ampek Angkek-Tilatang di Biaro tahun
1940.
Ketika itu MakNgah berusia kurang dari 6 tahun melihat beliau berbicara
melalui telepon dari Biaro ke Bukittinggi.
Itulah telepon yang MakNgah lihat dan perhatikan seseorang berbicara dengan
kesungguhan hati.

Dari Sirukam bermaksud akan terus mancari menemui Letkol Ahmad Husein di
selatan, namun tanyata masih ada tujuh lapis bukit lagi yang akan ditempuh.
Setelah berpisah dan diberkati selamat jalan oleh Buya H. Darwis Taram, kami
terus masuk rimba sebelah timur Kubang nan Duo, berbelok ke nagari Batu
Bajanjang menunggu hari malam untuak melintas jalan menuju ke Aia Angek di
Lereng Gunung Talang.

Kami tiba di kantor camat Kecamatan Gunuang Talang di Aie Angek.
Walaupun nama nagarinya Aia Angek, tapi diginnya alahurabbi, betul betul
beku tubuh dibuatnya bila pagi telah datang.

Di Aia Angek kami menjadi tamu kecamatan Gunung Talang.
Sesudah briefing tibalah masanyo MakNgah dan Ridwan untuk memberi ceramah di
mesjid Talang.
Dalam suasana malam yang sangat mencengkam, tapi masih bisa dikumpulkan
banyak orang.
Ketika sedang memberi ceramah, MakNgah menerima selembar surat kecil, berita
singkat, tentara Pusat yang mencium kegiatan itu telah berada kira-kira duo
kilo dari mesjid.

Pertemuan dibubarkan, para pengunjung pulang dengan diam-diam dan waspada.
MakNgah dan Ridwan dibawa lari oleh orang Ronda pada malam itu dan di
sembunyikan di suatu dangau Santo di Batu Kuali jauh di lereng Gunuang
Talang.

Dangau Santo
Dari Dangau Santo di Batu Kuali itulah MakNgah dapat manyaksikan perang
penghadangan konvoi tentara Pusat di jalan raya Solok Padang antara Talang
dan Aia Sirah.
Pertempuran jarak dekat yang diakhiri dengan pembakaran rumah-ramah Gadang
yang MakNgah saksikan dari tempat persembunyian.
Api mengepul bergejolak, rasanya dekat sekali di hadapan MakNgah yang masih
terbayang sampai kini.

Pasukan PRRI menjunjung korban kawan kawannyo dengan tandu masih jelas
terbayang.
Meremang bulu kuduk, jangan jangan pertempuran akan meluas ke tempat MakNgah
bersembunyi.
Lupa MakNgah apa nama kampuang yang dibakar itu.

Kalau engku Muchlis di Muaro Paneh yang berumur teenage waktu itu, atau
mungkin urang-urang setempat bisa mengingat nama kampung dan rumah-rumah
gadang yang dibakar saat itu.
Kalau tidak salah namanya mungkin Kubu.
Tolong diverifikasi dan diberi tahu MakNgah untuk catatan.
Demikianlah dahulu kisah perjalanan lingkaran Solok.
Kalau ada umur sama panjang, kalau ingatan masih terbuka maka MakNgah
lanjutkan cerita perjalanan ini nantinya.

Santa Cruz, California 28 Februari 2011

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke