Ps. Iko Sejarah PRRI di Padek nan ka Tigo terlewatkan kapatang.

===============================================

 


Sabtu, 08 Maret 2008 


Oleh : Syafri Segeh Sutan Rajo Pangeran, Wartawan Senior di Sumatera Barat
PADA tanggal 30 Nopember 1957 terjadilah suatu peristiwa di Jakarta dengan
apa yang dikenal kemudian sebagai “Peristiwa Ciniki 2.Malam tanggal 30
Nopember itu, Presiden Sukarno menghadiri pesta ulang tahun sebuah sekolah
di Cikini dimana putra dan putrinya bersekolah. Waktu akan pulang malam itu
sekelompok anak-anak muda yang bertempat tinggal di asrama dekat sekolah itu
yang diketahui sebagai anggota Gerakan Anti Komunis Jakarta (GAK)
melemparkan granat kearah mobil Sukarno.

Sukarno dan putra-putrinya selamat,akan tetapi dipihak lain terdapat korban
jatuh meninggal dunia sekitar 9 orang dan sekitar 100 orang lainnya
luka-luka berat.Korban yang terbanyak adalah murid-murid sekolah itu.
Menanggapi  peristiwa Cikini itu,Perdana Menteri Juanda mengatakan kepada
Duta Besar Amerika Serikat di Jakarta Allison, bahwa usaha pembunuhan
tersebut (t erhadap Sukarno) yang dikenal dengan “Peristiwa
Cikini”membatalkan pendekatan-pendekatan rekonsiliasi yang direncanakan
sebelumnya terhadap Dewan Banteng. Dengan pernyataan Juanda itu,maka usul
kompromi Ahmad Husein untuk menyelesaikan  konflik Dewan Banteng dan
Pemerintah Pusat jadi sirna. Ahmad Husein mengusulkan agar dibentuk suatu
dalam suatu wadah Dewan Nasional dan diisi oleh wakil dari daerah-daerah.
Dewan Nasional itu kemudian dibentuk oleh Sukarno, akan tetapi isinya orang-
orang dekatnya saja.

Sesudah peristiwa Cikini itu, Sukarno meninggalkan Indonesia untuk selama 6
minggu beristirahat ke luar negeri seperti ke Eropa dan Asia. Peristiwa
Cikini dibesar-besarkan oleh surat kabar surat kabar PKI seperti Harian
Rakyat, Warta Bhakti, Bintang Timur dan Harian Pemuda. Sejumlah tokoh-tokoh
politik dari partai Masyumi dikait-kaitkan dengan Peristiwa Cikini
itu.Mereka  kemudian diteror dan diancam akan ditangkap dan ditahan dengan
tuduhan korupsi. Rumah Mohd. Rum sampai-sampai dikepung, tetapi Mohd.Rum dan
keluarganya selamat. Akibatnya, para politisi dari partai Masyumi merasa
tidak aman lagi tinggal di Jakarta. Satu demi satu mereka berangsur-angsur
hijrah ke Padang,seperti Syafruddin Prawira Negara,Mohd.Natsir dan
Burhanuddin Harahap. S

yafruddin Prawira  negara waktu itu menjadi Direktur Bank Indonesia. Prof,
Sumitro Joyohadikusumo bukan politisi dari partai Masyumi melainkan dari
Partai Sosialis Indonesia (PSI), akan tetapi Sumitro kemudian hijrah pula ke
Padang,akan tetapi dia lebih banyak bolak balik keluar negeri, seperti ke
Singapura, Amerika Serikat dan  negara-negara lain yang anti Komunis.
Akhirnya semua politisi baik dari tokoh militer, dari Masyumi dan PSI (
Sumitro) berkumpul di Padang. Gagasan untuk melawan Sukarno yang dituduh
condong kepada PKI itu semakin kuat kerika para tokoh-tokoh militer dan
politisi sipil itu mengadakan rapat rahasia di Sungai Dareh pada tanggal 9
Januari 1958. Rapat rahasia di Sungai Dareh itu diadakan dalam dua
putaran.Pada putaran pertama rapat rahasia itu hanya dihadiri oleh
tokoh-tokoh militer saja,kecuali Prof. Sumitro, ikut dalam rapat itu. 

Rapat putaran ke dua, baru diadakan rapat gabungan antara tokoh-tokoh
militer dengan politisi sipil. Tidak banyak yang diketahui orang dari rapat
Sungai Dareh itu, kecuali terbetik berita, bawha Simbolon akan mendirikan
negara Sumatera. Berkenaan dengan issu negara Sumatera itu,Perdana Menteri
Juanda memberi penjelasan dihadapan sidang DPR pada tanggal 3 Pebruari 1958.
Perdana Menteri Juanda mensinyalir, bahwa dalam bulan Desember 1957 dan
Januari 1958 terdengar lagi berita-berita tentang adanya usaha-usaha untuk
memproklamirkan berdirinya Negara Sumatera. Ada pula berita-berita tentang
pembentukan Pemerintah Pusat baru Republik Indonesia yang berkedudukan di
Sumatera oleh karena Pemerintah di Jakarta tidak dianggap sah.

Menurut Juanda, untuk mencek kebenaran berita-berita itu pada tanggal 26
Januari 1958 Kepala Kepolisian Negara Sukamto mengunjungi Sumatera Barat.
Setelah kunjungannya ke Sumatera Barat yang mengadakan pertemuan dengan
pimpinan Kepolisian Sumatera Tengah tidak dapat diperoleh
keterangan-keterangan yang lebih jelas mengenai persoalan Sumatera itu. Pada
tanggal 6 Pebruari 1958, Ahmad Husein membantah adanya gagasan mendirikan
negara Sumatera itu melalui RRI Bukittinggi. Yang dapat diketahui kemudian
dari rapat rahasia Sungai Dareh itu adalah penyempurnaan susunan pengurus
Dewan Perjuangan. 

Semula hanya terdiri dari empat orang yaitu :Letkol. Ahmad Husein, Panglima
KDMST, sebagai Ketua, Kol. HVN Sumual, Panglima TT VII Wirabuana di
Sulawesi, anggota, Kol.Maludin Simbolon tadinya  Panglima TT.I Bukit Barisan
di Medan, anggota, dan Letkol.Barlian, Panglima TT II Sriwijaya di
Palembang.Penyempurnaan  susunan Dewan Perjuangan itu adalah sebagai
berikut: Ketua,Letkol, Ahmad Husein, Panglima KDMST, Sekjen Kol. Dahlan
Jambek, anggota-anggota: Kol. Mayor Anwar Umar, Mohd. Natsir, Mr. Syafruddin
Prawiranegara, Burhanuddin Harahap, Sumitro Hadikusumo,Mayor Nainggolan,
Mayor Nawawi, AN Nusyirwan dan Amelz.

Walaupun issue pendirian negara Sumatera itu dibantah pada tanggal 6
Pebruari 1958 oleh Ketua Dewan Perjuangan Ahmad Husein namun Vence Sumual
dan Simbolon ditugaskan mencari senjata ke luar negeri. Mereka berangkat
menuju Singapura, Disamping itu Sumitro yang mempunyai jalur khusus dengan
CIA (Central Intellegence Agancy) Amerika Serikat berangkat pula ke
Singapura dan terus ke Amerika. Simbolon pertama kalinya berhubungan dengan
agen CIA adalah setelah dia bersama anak buahnya melarikan diri ke Sumatera
Barat . Ia mengirim seorang kurir ke CIA di Jakarta dengan pesan,bahwa dia
membutuhkan keuangan guna membiayai pasukannya dan ingin bertemu dengan
seorang CIA.

Menurut Dean Almy, wakil CIA di Konsulat Amerika Serikat di Medan pesan
Simbolon itu diteruskan kepadanya dengan perintah untuk pergi ke Bukittinggi
bertemu dengan Simbolon, setelah memperoleh keterangan dari Simbolon tentang
situasi waktu itu Dean Almy menyerahkan uang dalam bentuk uang dolar AS
kepada Simbolon sebesar USD 50.000.Ini terjadi di awal bulan Oktober 1957.
Sekitar bulan Desember 1957 Dean Almy diperintahkan pergi ke Singapura untuk
bertemu dengan Simbolon yang telah tiba disana dengan kapal laut menempuh
rute penyeludupan di Kepulauan Riau. Berdasarkan perintah dari Markas Besar
CIA,”kami menjanjikan kepada Simbolon senjata-senjata dan minta supaya
beberapa orang perwiranya dapat dilatih dalam bidang komunikasi agar kami
dapat memelihara hubungan “kata Dean Almy. Menurut Dean Almy, “tidak  lama
sesudah itu senjata-senjata  untuk 8.000 orang dikirim ke Sumatera Tengah”.
(***)

 

http://www.padangekspres.co.id/content/view/180/61/


No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG. 
Version: 7.5.518 / Virus Database: 269.21.7/1322 - Release Date: 09/03/2008
12:17
 

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian yg tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Agar dapat melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke