Bapak/Ibu, sahabat semuanya...

Subhanallah, ternyata masih banyak "mutiara2" yang bertebaran di
Nusantara ini, yang perlu diasah dalam bentuk kepedulian bersama....
Sama halnya dengan coach Indra Syafri yang menemukan para mutiara
dalam team sepakbola U-19, yang saat ini dipersiapkan tuk PIALA ASIA
2014.

Insya ALLAH kalo korupsi bisa diminimalisir secara sistematis,
kebangkitan Indonesia semakin cepat. Kita butuh juga "Indra Syafri"
dalam bidang pendidikan ini. Smoga banyak instansi/perusahaan ataupun
pribadi2 yang mau menjadi ortu angkat dalam mencapai cita cita
mereka..

Laskar pelangi, bangkit lah..............



====

Demi Biaya Sekolah, Desi Berjualan Slondok hingga Jadi Kuli Bangunan

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Desi Priharyana (17), siswa kelas 1 SMKN 2
Jetis, terbilang pekerja keras. Di tengah keterbatasan ekonomi
keluarga, dia ikut bekerja demi membantu biaya sekolah dan kehidupan
keluarga. Desi melakukan pekerjaan apa saja yang penting halal, mulai
berjualan slondok hingga menjadi buruh bangunan.

Rabu (22/1/2014) pagi, warga Dusun Taino, Desa Pendowoharjo, Kecamatan
Sleman, ini berangkat sekolah dengan mengayuh sepeda dengan krombong
hijau di jok belakang. Krombong itu berisi bungkusan-bungkusan
slondok. Derasnya air hujan pagi itu tidak pernah menyurutkan niat
pelajar kelas 1 SMKN 2 Jetis jurusan Teknik Konstruksi Batu dan Beton
ini untuk terus mengayuh sepedanya sejauh 12 kilometer menuju
sekolahnya di SMKN 2 Jetis, Kota Yogyakarta.

Desi harus berjualan slondok di sepanjang jalan yang dilewatinya
ketika berangkat dan pulang sekolah. Tak pernah sekalipun mulutnya
mengucapkan kata mengeluh atau malu demi memenuhi biaya sekolah dan
kebutuhan hidup keluarganya.

"Kenapa harus malu, toh apa yang saya lakukan ini tidak melanggar
hukum," terang Desi saat ditemui di sekolahnya, SMKN 2 Jetis, Kota
Yogyakarta, Rabu (22/1/2014) siang.

Desi mengaku sudah berjualan slondok sejak di bangku kelas 3 SMP.
Sebelumnya, ia pernah beternak bebek, berjualan telor, tahu, dan
tempe. Bahkan, dia juga pernah menjadi buruh bangunan.

"Asal halal dan tidak merugikan orang lain, pekerjaan apa pun saya
lakukan untuk bertahan hidup dan biayai sekolah," ucapnya.

Desi tidak bisa bertahan lama menjadi peternak bebek dan buruh
bangunan karena terbentur dengan jadwal sekolah. Akhirnya, dia
memutuskan untuk menekuni bisnis makanan slondok. Selain modalnya
kecil, dia juga memiliki saudara yang siap memasok slondok.

"Modalnya dari ternak bebek. Awal beli slondok dengan uang 50.000.
Sekarang modal saya sudah lumayan, ya sekitar 1 jutaan," katanya.

Setiap hari Desi bisa membawa sekitar 25 bungkus slondok di dalam
krombong-nya. Per hari rata-rata Desi mampu menjual 10-25 bungkus
slondok. Untuk satu bungkus slondok dijual Rp 7.000.

"Pembelinya ya orang-orang yang ada di pinggir jalan. Selain itu,
guru-guru serta teman-teman sekolah. Satu bulan keuntungan bersih dari
jualan slondok bisa sekitar Rp 200.000," kata Desi.

Uang hasil penjualan slondok tersebut, menurutnya, digunakan untuk
biaya hidup sehari-hari dan biaya sekolah ia dan adik perempuannya.
Sisanya ditabung untuk biaya rencana kuliah.

"Setiap hari, adik selalu saya kasih uang saku Rp 10.000. Ya, untuk
uang transpor dan sekadar jajan," katanya.

Sejak ibunya meninggal pada tahun 2000, kini Desi hidup bersama ayah
dan seorang adiknya, Rini Dwi Lestari (15). Dulu, kata Desi, kehidupan
keluarga bergantung kepada ayahnya yang bekerja sebagai buruh
bangunan. Namun, setelah ibunya meninggal dan tawaran kerja untuk
ayahnya berkurang, mau tidak mau sebagai anak pertama Desi harus ikut
membantu perekonomian keluarga.

"Selama hidup, saya tidak pernah meminta apa pun kepada orangtua,
kecuali doa restu mereka," katanya.
http://regional.kompas.com/read/2014/01/22/1641414/Demi.Biaya.Sekolah.Desi.Berjualan.Slondok.hingga.Jadi.Kuli.Bangunan

====================

Meski Berjualan Slondok, Desi Tak Pernah Telat ke Sekolah

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Meski harus menjual "slondok" berkeliling dan
menjaga toko sembako setiap malam, tak pernah sekalipun Desi
Priharyana (17) terlambat masuk sekolah. Bahkan setiap harinya Desi
sampai ke sekolah lebih pagi dibandingkan siswa-siswa lain yang
mengendarai sepeda motor.

Hal itu diungkapkan Dasiman, satpam SMKN 2 Jetis. Menurut Dasiman,
meski mengendarai sepeda dari rumah menuju sekolah ditambah harus
berjualan di sepanjang jalan, sejak masa orientasi siswa (MOS) sampai
saat ini, Desi tidak pernah terlambat masuk sekolah.

"Setiap jam 7 tepat, gerbang sekolah pasti langsung digembok. Tapi
meski naik sepeda dan jarak rumahnya jauh, dia (Desi) tidak pernah
terlambat," katanya.

Dasiman menceritakan, sejak awal mendaftar masuk ke SMKN 2 Jetis, Desi
sudah terlihat berbeda dengan siswa-siswa baru lainnya. Niat untuk
bisa diterima di SMKN 2 Jetis sungguh besar, bahkan dalam sehari, Desi
harus bolak-balik naik sepeda dari sekolah ke warnet untuk mengisi
pendaftaran online sebab ada kesalahan pengisian yang harus segera
diperbaiki.

"Beberapa kali dia (Desi) bolak-balik naik sepeda karena salah mengisi
pendaftaran, mungkin belum paham soal online. Sifatnya juga baik,
setelah paham, langsung membantu siswa baru lainnya yang tidak paham,
ya diantar sampai warnet, padahal belum kenal," katanya.

Baru masuk SMK sudah berjualan

Rekan Dasiman, Wahyudi, yang juga satpam SMKN 2 Jetis, menambahkan,
saat menjalani MOS, Desi sudah pergi ke sekolah mengendarai sepeda
lengkap dengan krombong berisi slondok. Bahkan Desi sempat menjual
keresek berwarna kepada teman-temanya yang saat itu menjadi salah satu
barang yang harus dibawa oleh setiap siswa baru.

"Memang beda, semangatnya luar biasa untuk membantu keluarga. Dia itu
selalu tersenyum dan tidak pernah mengeluh," ucapnya.

Wahyudi mengungkapkan, di sekolah Desi menjual makanan slondok ke
teman-teman dan guru-guru. Bahkan Desi sempat menaruh slondoknya di
ruang guru lengkap dengan stoples uang. Jadi siapa yang mengambil,
langsung memasukkan uangnya ke stoples. Namun, karena ada kebijakan
tidak boleh berjualan di ruang guru, akhirnya Desi berjualan di depan
sekolah.

"Saya sebenarnya tidak enak menegur Desi, tapi itu peraturannya. Sebab
saat pedagang jajanan boleh masuk ruang guru, banyak barang yang
hilang," paparnya.

Menurutnya, sampai saat ini slondok yang dijual Desi banyak diminati
oleh siswa, karyawan, maupun guru-guru. Bahkan kalau Desi tidak
berjualan, ada beberapa guru dan karyawan yang menanyakan.
http://regional.kompas.com/read/2014/01/22/2321054/Meski.Berjualan.Slondok.Desi.Tak.Pernah.Telat.ke.Sekolah

-- 
Wassalammu'alaikum wr. wb
Aryandi, 40th+, ciledug, tangerang
*Tingkatkan Integritas Diri, Jalin Silahturrahim, Mari Bersinergi, Ayo
Jemput Rezeki, Bantu Anak Negeri**  *

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke