Pak Suryadi,
Luarr biasa, kisah hidupnyo, bilo2 bapak senggang nio ambo basilaturrahim, ambo 
di jakarta, nmr hp ambo; 0816373321, kalau lai di jkt, mhn kontak ambo, 
mudah2an bisa awak atur wakatu basuo.

Mokasih,
Salam,
Elthaf 

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: Sri Yansen Tanjung <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Mon, 27 Jan 2014 16:29:19 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [R@ntau-Net] OOT;Gagal jadi Dosen di Indonesia, Diterima di Belanda

Dunsanak,

sakilas carito Ajo Sur pai marantau di koran Padek ... 


http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=49486 

Gagal jadi Dosen di Indonesia, Diterima di Belanda

Suryadi, Pengajar dan Peneliti di Universiteit Leiden

 Padang Ekspres • Senin, 27/01/2014 11:05 WIB • Zikriniati ZN • 551 klik

*PRIA *itu adalah Suryadi. Jalan hidup pria kelahiran Ko­torajo, Sunur, 
Padangpariaman, 15 Februari 1965 lalu, terbilang unik.  Sedikit pun ia tak 
pernah menyangka akan menjadi pe­ngajar di Negara Belanda terse­but. 
Maklumlah, dia lahir dan dibesarkan di kampung kecil dengan orangtua 
sebagai petani.

 

Pengalaman hidup yang pe­nuh lika-liku, menjadikan ba­pak dua anak ini 
sebagai pria tang­guh yang tak kenal lelah. Setelah me­nyelesaikan studi di 
Sastra Daerah Unand, ia sempat men­jadi asisten dosen di alma­ma­ternya.

 

Namun, karena tak kunjung diangkat menjadi dosen tetap, ia mencoba 
peruntungan di Universitas Indonesia. Di tengah ketidakpastian menunggu 
diang­kat sebagai dosen tetap di UI, tahun 1998, lamarannya 
seba­gai pengajar di Universiteit Lei­den Belanda untuk penutur asli 
ba­­hasa Indonesia ternyata diterima.

 

“Waktu akan berangkat ke Belanda saya tulis surat kepada orangtua. Bahwa 
saya merantau jauh sekali. Jika terjadi apa-apa pada saya, saya berharap 
orang­tua mengikhlaskan saja,” ujarnya ke­pada Padang Ekspres di ruang 
Wa­wako Pariaman Genius Umar, Jumat (24/1) kemarin.

 

Kehadiran Suryadi di Paria­man saat itu memang ingin bersilaturahmi dengan 
pejabat Pemko Pariaman. Dia juga me­ng­usulkan tiga orang tokoh Pa­ria­man 
yang memiliki kiprah di tingkat nasional dan interna­sio­nal sebagai 
pahlawan nasional.

 

Kehadirannya di Belanda, sedikit berbeda dengan keba­nyakan mahasiswa 
Indonesia di Belanda lainnya. Jika mereka ke Belanda menjadi mahasiswa 
dengan memperoleh beasiswa, Suryadi justru ke Belanda untuk bekerja. Hasil 
kerja inilah yang menjadi modal untuk melan­jutkan pendidikan S-2 di Leiden 
Universitas. Kini, ia kandidat Phd di universitas tempat dia mengajar.

 

Pertama kali menginjakkan kaki di Leiden, Suryadi cukup shock dengan 
perbedaan cuaca dan budaya. Ketika musim pa­nas, sangat panas. Jika musim 
dingin, sangat dingin pula.

 

Begitu juga dengan kebu­dayaan. Awal-awalnya ia risih ketika musim panas, 
sebagian besar mahasiswanya berbikini ria di kelas yang dia ajar. Disiplin 
orang-orang Belanda juga me­nuntunnya lebih disiplin dalam berbagai hal. Ia 
juga mencicipi profesi sebagai tenaga freelancer di sejumlah kafe.

 

Sebagai pengajar, tentulah kemahirannya berbahasa Ing­gris dan bahasa 
Belanda ditun­tut menjadi kunci utama. Profesi yang ia tempati sekarang, 
dahu­lunya juga ditempati putra Pa­ria­man Dahlan Abdullah, seba­gai native 
speaker pertama Ba­ha­sa Indonesia di Belanda. Ke­mu­dian Dahlan digantikan 
Mu­ham­mad Zain (Ayah Harun Zain). Kehadirannya sebagai native spea­ker di 
Belanda seakan menjadi penyambung tradisi orang Paria­man sebagai native 
speaker di Negara Kincir Angin tersebut.

 

“Sebelumnya, jabatan yang saya tempati ini, ditempati orang Bali. Informasi 
yang saya dengar biasanya pemegang ja­ba­tan ini tak bertahan lama, paling 
satu atau dua tahun saja. Setelah itu diganti pihak universitas. Itulah 
makanya saat sudah sampai lima tahun di posisi itu, saya mulai berpikir 
akan diganti, tapi alhamdulillah sampai saat ini, saya masih dibutuhkan,” 
ujarnya.

 

Selain sebagai native spea­ker, Suryadi juga berkutat de­ngan naskah-naskah 
lama ten­tang Indonesia. Suryadi larut larut bersama naskah tua yang ia 
kaji di pojok perpustakaan di berbagai perguruan tinggi di Eropa. 

 

Hasil penelitian yang ia pu­blikasikan di sejumlah jurnal internasional 
banyak mendapat tanggapan. Kajiannya atas surat ra­ja-raja Buton, Bima, 
Gowa, dan Minangkabau, misalnya, di­ma­suk­kan dalam satu proyek (Ma­lay 
Concordance Project) yang ber­pusat di Australian Natio­nal University, 
Camberra, Australia.

 

Berkat penelitiannya atas naskah-naskah lama itu pula ia kerap diundang 
menjadi pema­kalah seminar di mancanegara. Suryadi bahkan dipercaya 
me­mim­pin satu proyek pernas­kahan yang didanai the British Library.

 

Menggeluti naskah lama atau buku-buku klasik menge­nai Nusantara ternyata 
memberi keasyikan tersendiri bagi Sur­yadi. Perpustakaan KITLV dan 
Universiteitsbibliotheek Leiden menjadi rumah kedua, tempat ia “bersemedi”, 
intens menekuni ribuan naskah tentang Indonesia yang pada zaman kolonial 
diangkut ke negeri Belanda.

 

“Kehadiran saya di Indonesia kali ini pun juga ada hubu­ngannya dengan 
naskah lama. Saya berhasil menemukan, me­nerjemahkan dan merekon­struksi 
catatan ulama Pariaman Syekh Daud Sunuri yang berju­dul Syair Rukun Haji di 
Leiden,” ujarnya.

 

Naskah itu merupakan salah satu isi dari buku Berhaji di Masa Silam dengan 
Editor Prof Henri ChambertLoir. Buku ini ber­isikan kisah-kisah perjalanan 
haji di masa silam. Dengan tebal buku 1.000 halaman ini akan di-launching di 
Jakarta dalam minggu ini.

 

Pada akhir pertemuan de­ngan Padang Ekspres, ia berpe­san kepada generasi 
muda, un­tuk tidak mengalah dengan kea­daan. Sebab, siapa pun me­miliki 
kesem­patan yang luas untuk menuntut ilmu ke negara mana pun. Tak harus 
anak-anak orang berpunya. Apalagi, saat ini ba­nyak beasiswa yang 
ditawarkan pemerintah ne­ga­ra Eropa. Ten­tu­nya dengan me­mi­liki 
persia­pan matang, ter­uta­ma mengua­sai Bahasa Inggris. *(***)*

[ Red/Administrator ]

Wassalam

Sri Yansen/lk/42/tanjuang/asa Painan

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke