Terima kasih atas sharing caritonyo sanak Sri Yansen Tanjuang  tentang perjalan 
hidup Adjo Suryadi semoga bisa menjadi motivasi bagi anak kemanakan kita dalam 
mengarungi kehidupan untuk menggapai masa depan yang cemerlang .
Ambo merasa terharu dan bangga dengan beliauko yang mempunyai keinginan dan 
tekat yang luar biasa sehingga bisa menjadi motivator bagi generasi muda .

Kalau Adjo Suryadi punya waktu bisa berkunjung ka Pakanbaru-Riau dan kami akan 
hadirkan diacara PKDP sambil bersilaturrahim dan memberikan pesan2 kepada 
Generasi Muda Pariaman ( GEMPARS ) dan Warga Piaman maupun Rantaunet yang ado 
di Pekanbaru Riau .

Semoga akan muncul Suryadi – Suryadi yang lain yang lebih sukses lagi untuk 
masa yang kan datang …

Wassalam
Zainul Akhir Tanjuang, 51, Pku-Riau

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf 
Of Sri Yansen Tanjung
Sent: Tuesday, January 28, 2014 7:29 AM
To: [email protected]
Subject: [R@ntau-Net] OOT;Gagal jadi Dosen di Indonesia, Diterima di Belanda

Dunsanak,

sakilas carito Ajo Sur pai marantau di koran Padek ...


http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=49486


Gagal jadi Dosen di Indonesia, Diterima di Belanda

Suryadi, Pengajar dan Peneliti di Universiteit Leiden

[Image removed by sender.] Padang Ekspres • Senin, 27/01/2014 11:05 WIB • 
Zikriniati ZN • 551 klik

PRIA itu adalah Suryadi. Jalan hidup pria kelahiran Ko­torajo, Sunur, 
Padangpariaman, 15 Februari 1965 lalu, terbilang unik.  Sedikit pun ia tak 
pernah menyangka akan menjadi pe­ngajar di Negara Belanda terse­but. Maklumlah, 
dia lahir dan dibesarkan di kampung kecil dengan orangtua sebagai petani.



Pengalaman hidup yang pe­nuh lika-liku, menjadikan ba­pak dua anak ini sebagai 
pria tang­guh yang tak kenal lelah. Setelah me­nyelesaikan studi di Sastra 
Daerah Unand, ia sempat men­jadi asisten dosen di alma­ma­ternya.



Namun, karena tak kunjung diangkat menjadi dosen tetap, ia mencoba peruntungan 
di Universitas Indonesia. Di tengah ketidakpastian menunggu diang­kat sebagai 
dosen tetap di UI, tahun 1998, lamarannya seba­gai pengajar di Universiteit 
Lei­den Belanda untuk penutur asli ba­­hasa Indonesia ternyata diterima.



“Waktu akan berangkat ke Belanda saya tulis surat kepada orangtua. Bahwa saya 
merantau jauh sekali. Jika terjadi apa-apa pada saya, saya berharap orang­tua 
mengikhlaskan saja,” ujarnya ke­pada Padang Ekspres di ruang Wa­wako Pariaman 
Genius Umar, Jumat (24/1) kemarin.



Kehadiran Suryadi di Paria­man saat itu memang ingin bersilaturahmi dengan 
pejabat Pemko Pariaman. Dia juga me­ng­usulkan tiga orang tokoh Pa­ria­man yang 
memiliki kiprah di tingkat nasional dan interna­sio­nal sebagai pahlawan 
nasional.



Kehadirannya di Belanda, sedikit berbeda dengan keba­nyakan mahasiswa Indonesia 
di Belanda lainnya. Jika mereka ke Belanda menjadi mahasiswa dengan memperoleh 
beasiswa, Suryadi justru ke Belanda untuk bekerja. Hasil kerja inilah yang 
menjadi modal untuk melan­jutkan pendidikan S-2 di Leiden Universitas. Kini, ia 
kandidat Phd di universitas tempat dia mengajar.



Pertama kali menginjakkan kaki di Leiden, Suryadi cukup shock dengan perbedaan 
cuaca dan budaya. Ketika musim pa­nas, sangat panas. Jika musim dingin, sangat 
dingin pula.



Begitu juga dengan kebu­dayaan. Awal-awalnya ia risih ketika musim panas, 
sebagian besar mahasiswanya berbikini ria di kelas yang dia ajar. Disiplin 
orang-orang Belanda juga me­nuntunnya lebih disiplin dalam berbagai hal. Ia 
juga mencicipi profesi sebagai tenaga freelancer di sejumlah kafe.



Sebagai pengajar, tentulah kemahirannya berbahasa Ing­gris dan bahasa Belanda 
ditun­tut menjadi kunci utama. Profesi yang ia tempati sekarang, dahu­lunya 
juga ditempati putra Pa­ria­man Dahlan Abdullah, seba­gai native speaker 
pertama Ba­ha­sa Indonesia di Belanda. Ke­mu­dian Dahlan digantikan Mu­ham­mad 
Zain (Ayah Harun Zain). Kehadirannya sebagai native spea­ker di Belanda seakan 
menjadi penyambung tradisi orang Paria­man sebagai native speaker di Negara 
Kincir Angin tersebut.



“Sebelumnya, jabatan yang saya tempati ini, ditempati orang Bali. Informasi 
yang saya dengar biasanya pemegang ja­ba­tan ini tak bertahan lama, paling satu 
atau dua tahun saja. Setelah itu diganti pihak universitas. Itulah makanya saat 
sudah sampai lima tahun di posisi itu, saya mulai berpikir akan diganti, tapi 
alhamdulillah sampai saat ini, saya masih dibutuhkan,” ujarnya.



Selain sebagai native spea­ker, Suryadi juga berkutat de­ngan naskah-naskah 
lama ten­tang Indonesia. Suryadi larut larut bersama naskah tua yang ia kaji di 
pojok perpustakaan di berbagai perguruan tinggi di Eropa.



Hasil penelitian yang ia pu­blikasikan di sejumlah jurnal internasional banyak 
mendapat tanggapan. Kajiannya atas surat ra­ja-raja Buton, Bima, Gowa, dan 
Minangkabau, misalnya, di­ma­suk­kan dalam satu proyek (Ma­lay Concordance 
Project) yang ber­pusat di Australian Natio­nal University, Camberra, Australia.



Berkat penelitiannya atas naskah-naskah lama itu pula ia kerap diundang menjadi 
pema­kalah seminar di mancanegara. Suryadi bahkan dipercaya me­mim­pin satu 
proyek pernas­kahan yang didanai the British Library.



Menggeluti naskah lama atau buku-buku klasik menge­nai Nusantara ternyata 
memberi keasyikan tersendiri bagi Sur­yadi. Perpustakaan KITLV dan 
Universiteitsbibliotheek Leiden menjadi rumah kedua, tempat ia “bersemedi”, 
intens menekuni ribuan naskah tentang Indonesia yang pada zaman kolonial 
diangkut ke negeri Belanda.



“Kehadiran saya di Indonesia kali ini pun juga ada hubu­ngannya dengan naskah 
lama. Saya berhasil menemukan, me­nerjemahkan dan merekon­struksi catatan ulama 
Pariaman Syekh Daud Sunuri yang berju­dul Syair Rukun Haji di Leiden,” ujarnya.



Naskah itu merupakan salah satu isi dari buku Berhaji di Masa Silam dengan 
Editor Prof Henri ChambertLoir. Buku ini ber­isikan kisah-kisah perjalanan haji 
di masa silam. Dengan tebal buku 1.000 halaman ini akan di-launching di Jakarta 
dalam minggu ini.



Pada akhir pertemuan de­ngan Padang Ekspres, ia berpe­san kepada generasi muda, 
un­tuk tidak mengalah dengan kea­daan. Sebab, siapa pun me­miliki kesem­patan 
yang luas untuk menuntut ilmu ke negara mana pun. Tak harus anak-anak orang 
berpunya. Apalagi, saat ini ba­nyak beasiswa yang ditawarkan pemerintah 
ne­ga­ra Eropa. Ten­tu­nya dengan me­mi­liki persia­pan matang, ter­uta­ma 
mengua­sai Bahasa Inggris. (***)

[ Red/Administrator ]

Wassalam

Sri Yansen/lk/42/tanjuang/asa Painan
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

<<inline: image001.jpg>>

Kirim email ke