Pemko dan DPRD Bukittinggi Terkesan Membiarkan Prostitusi Merajalela.
Benarkah ?
Senin, 10 Februari 2014 - 01:12:11 WIB

THEONEREDAXI,BUKITTINGGI -- Bisnis prostitusi makin merajalea di Kota
Bukittinggi. Sebagian besar masyarakat mulai gerah, namun pemko tak
bergeming.

Masyarakat menilai pemko tak bernyali memberantas biusnis haram
ini.Pembiaran ini membuat para pelaku memberanikan diri secara
terrang-terangan memjajakan bisnis mereka pada para wisatawan yang datang.

Berdasarkan informasi dan investigasi Theoneredaxi di lapangan, para
pelacur atau PSK ini berkeliaraan di seputar Kota Bukittinggi yang terkenal
dengan istilah kawasan "Gang Sempit" dan mentok alias gang buntu seperti
telah diberitakan emdia ini sebelumnya. Di lokasi tersebut terdapat 12
kamar yang terbuat dari papan yang pemiliknya salah seorang oknum warga.

Kemudian, masyarakat di sekitar lokasi tak ada yang berani mempersoalkan
tempat mesum  tersebut. Konon oknum pemilik mengancam kepada orang yang
mengusik bisnis "lendirnya" tersebut.

Tempat mesum lainnya, di beberapa hotel melati di kota itu juga seolah
tidak tersentuh. Beberapa hotel tersebut tidak bermanajemen syariah.
Pantauan di lapangan sejumlah warung tuak di Bukittinggi semakin marak
saja, sebut saja di kawasan Pasar Bawah (ada lima buah warung tuak), di
Kampung Cina (3 buah), dan di Jalan Kereta juga ada.

Ketua DPD Front Pembela Islam (FPI) Sumatera Barat, Muhammad Busyra ketika
dihubungi media ini menyatakan, pihaknya mengecam sikap Pemerintah Kota
Bukittinggi yang seolah tidak peduli terhadap semakin maraknya prostitusi.
Padahal, Kota Bukittinggi punya visi "Masyarakat Bukittinggi Cerdas, Sehat
dan Berekonomi Mapan dengan Dilandasi Nilai-Nilai Agama Dan Adat".

"Bagi FPI Sumbar, jika Pemerintah Bukittinggi tidak mau atau tidak mampu
melawan kemaksiatan dan kemungkaran, maka FPI siap berada di garda terdepan
menyelamatkan akhlak dan moral anak nagari Bukittinggi," tegas Buya
Muhammad Busyra.

Buya menjelaskan, anggota FPI pernah melakukan konfirmasi kepada Kepala
Satpol PP Bukittinggi, namun dirinya sangat kecewa menerima jawaban pihak
Satpol PP Bukittinggi itu yang mengatakan, tidak ada laporan dari RW/RT
setempat terkait lokasi-lokasi maksiat itu.

Yang anehnya lagi, kata Buya, ketika anggota FPI melaporkan kepada Wakil
Walikota Bukittinggi, jawaban yang diterimanya juga mengecewakan. "Kata
Wakil Wali Kota, dirinya sudah tahu di mana saja tempat maksiat di
Bukittinggi, tetapi yang penting sekarang adalah masalah pembenahan
ekonomi," kata Buya mengulangi jawaban Wawako Bukittinggi itu.

Sementara ketika dilaporkan ke Walikota Bukittingi, FPI mendapatkan
jawaban, kalau beliau berada di Jakarta dan berjanji akan menurunkan tim
untuk razia. "Tapi janji Walikota itu hanya tinggal janji dan yang akan
turun itu nihil," kata Buya dengan nada kecewa.

Padahal, masalah protitusi itu telah diatur oleh Peraturan Daerah Nomor 20
tahun 2003 tentang Penertiban, Penindakan Penyakit Masyarakat (Pekat).
"Yang anehnya lagi, DPRD sebagai yang membuat perda, juga tidak melakukan
pengawasan dan mempersoalkan masalah protitusi ini kepada pemerintah Kota
Bukittinggi.

Sebenarnya, kata Buya, hotel-hotel di Bukittinggi harus bermanajemen sesuai
dengan visi dan misi Pemerintah Kota, sehingga hotel tidak menerima orang
yang tidak berstatus suami istri tidur sekamar. "Kita masih menunggu sikap
tegas Walikota Bukittinggi dan komitmen beliau menjalankan visi dan misi
Bukittinggi itu," katanya.

Kesannya, tambah Buya, antara eksekutif dan legislatif telah berkompromi
untuk membiarkan saja Kota Bukittinggi dinodai oleh berkeliaraannya para
pelacur. "Menindaklanjuti hal ini, FPI akan datang ke DPRD Bukittinggi,
serta menemui beberapa tokoh masyarakat, ninik mamak dan alim ulama,"
tambahnya.

Maraknya prostitusi di Kota Bukittinggi, diduga karena adanya oknum
tertentu secara diam-diam menjadi beking para germo itu. "Dugaan ini karena
setelah ditangkap melalui razia, para pelacur itu dilepas lagi dan
disinyalir para pelacur itu memberi fee kepada oknum-oknum tersebut," ujar
Buya lagi, sembari menambahkan, kalau tak ada beking, mana mungkin para
germo berani mengancam. (indra)
- See more at:
http://m.theoneredaxi.com/berita-pemko-dan-dprd-bukittinggi-terkesan-membiarkan-prostitusi-merajalela-benarkah-.html#sthash.BdPeeDOe.maN7uA69.dpuf
Wassalaamu'alaikum WW

Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta),
17/8/1947, suku Mandahiliang, gala Bagindo
Gasan Gadang Pariaman - Tebingtinggi Deli -
Jakarta - Sterling, Virginia USA
------------------------------------------------------------

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke